21 CINEPLEX HARI INI
4.1.7.3. Pendapat Konsumen yang Membandingkan Layanan XXI dan Blitzmegaplex
Berikut ini adalah hasil persentase dari kuisioner yang diadakan oleh salah satu anggota aktif forum terbesar di Indonesia, Kaskus, mengenai kebiasaan menonton anggota kaskus yang lain :
GAMBAR 4.19.
HASIL POLLING BIOSKOP FAVORIT FORUM KASKUS Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=911895
Berikut ini adalah hasil persentase dari kuisioner yang diadakan oleh salah satu anggota aktif forum Kafe Gaul, mengenai kebiasaan menonton anggota kaskus yang lain :
GAMBAR 4.20.
HASIL POLLING BIOSKOP FAVORIT FORUM KAFE GAUL Sumber : http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=194767
Berikut ini adalah beberapa kutipan langsung yang dikemukan oleh pelanggan melalui blog pribadi maupun forum yang membandingkan 21 Cineplex dan Blitzmegaplex setelah merasakan pengalaman menonton di kedua bioskop tersebut.
Adelays' WEBlog.htm August 13, 2009...10:31 pm
“Sedikitnya, lima poin komparasi antara Blitz Megaplex VS Cinema XXI yang saya bandingkan. Tentu saja, ini hanyalah perbandingan awam saya. Anggaplah ini Voice of Customer. Lima komparasi ini saya pilih, karena saya anggap cukup mewakili keingintahuan saya . 1.Staffing
Staf Blitz Megaplex terlihat lebih casual dan fleksibel dibandingkan Cinema XXI. Mereka menggunakan T-Shirt dan tanda pengenal yang digantungkan di leher. Sementara XXI kelihatan lebih formil dengan pakaian serba hitam dengan name tag yang disematkan di dada. Sejauh pengamatan saya, staf penjual tiket Cinema XXI selalu wanita, sedangkan Blitz ada pria dan juga wanita. Selain itu staf Blitzmegaplex sangat helpfull, tak jarang saya perhatikan staf Blitzmegaflex sangat perduli terhadap penonton yang membutuhkan bantuan.
Untuk urusan staffing ini, saya menyukai pelayanan Blitz. Skor : 1 – 0 untuk Blitzmegaplex .
2. Tiket
Tiket Blitz Megaplex berupa lembaran kertas tipis, seperti struk kertas
thermal ATM. Berbeda dengan XXI, berupa kertas yang lebih keras,
sehingga mudah untuk dikenali. Hampir sempat tertukar dengan karcis parkir ketika hendak menunjukkan tiket tersebut kepada petugas, saya lebih memilih tiket XXI memiliki keunggulan dibandingkan competitornya Blitz Megaplex.
Skor: 1 – 1 3. Sekuriti
Untuk memasuki area Blitz, sebenarnya saya bisa memahami security Blitz megaplex yang sangat protected dengan memeriksa tas setiap pengunjung seperti ketika hendak memasuki Mall. Namun, kebalikan dari Staffing diatas, saya lebih menyukai fleksiblity security Cinema XXI.
Skor : 2-1 untuk XXI 4. Posisi duduk penonton
Ruang kaki duduk penonton di Blitz Megaplex yang lapang, menyebabkan kaki penonton bisa lebih santai. Selain itu, jajaran kursi tempat duduk yang semi melingkar, membuat penonton yang duduk disamping kiri dan kanan tidak perlu merasa pegal karena selalu mengarahkan kepala mereka ke layar yang merupakan pusat perhatian penonton.
Skor : 2-2
5. Kursi Penonton
Kursi penonton XXI ternyata lebih empuk dan lebar, sehingga menonton disini jauh lebih nyaman dan tahan lama jika dibandingkan
dengan Blitz yang kursinya agak keras. Duduk berlama-lama menyaksikan film di kursi yang agak keras menjadikan saya kurang nyaman di Blitzmegaplex
Skor: 3-2 untuk XXI
Setiap orang, tentu boleh punya pendapat yang berbeda. Betul kan…?”
Remi says:
Fri, 28.11.08 at 03:55 am “Blitz VS 21???
Bedanya cuma 1 kok, yang satunya masih junior, en yang satunya lagi udah senior. hehehe.
Tapi yg gue amatin selama ini sih, ternyata kehadiran si-Blitz emang udah cukup bikin si-21 keki banget en jadi ngeluarin modal banyak buat ngedandanin ruangan2 si-21 supaya bisa jadi kinclong kayak sekarang, udah gitu, NOMATNYA udah gak hari senin lagi, tapi jadi 5 hari! senin sampe jumat. buat gue sih lumayan banget.
Soal arsitektur ato layout ato design ruangan ato apalah itu namanya, menurut gue sih tergantung selera masing2 ya. kalo elo mau yang gaul en lebih modern, yang pasti elo datengin aja si-Blitz, tapi kalo elo mau suasana yang lebih klasik, si-21 juga punya kok, tuh yang simbolnya XXI.
oiya, soal komitmen dan layanan, gue akuin si-Blitz lebih unggul! soalnya kenapa? gue en temen gue (berdua aja) pernah coba mau nonton film yang diputer si-21, yang menurut gue tuh film gak ada mutunya alias gak worthed banget kalo di-tonton (menurut gue loh ya…) en waktu itu total penontonnya cuma ada 5 orang. en sorry to say, cewek penjaga karcis minta maaf kalo film gak bisa diputer, karena penontonnya harus minimal berjumlah 10 orang. yaaa, gue en temen gue sih gak papa, toh duit gue dibalikin en gue juga gak niat nonton tuh film! tapi kalo si-Blitz BEDA!!! gue coba nonton film kira2 bulan Awal Oktober taon ini (2008) di Blitz Grand Indonesia. en lo tau gue en temen gue mau nonton apa? RIEN SI PEMBUNUH BERANTAI!!! hahaha… dan yang lebih kocak lagi, tuh film yang nonton cuma gue sama temen gue doang, alias berdua. tapi apa? si-Blitz tetep ajah muterin tuh film! gue sama temen gue selama didalem serasa punya bioskop sendiri tau gak sih lo! hahahaha…. buat yang satu ini, si-Blitz gue acungin 2 jempol deh! kalo si-21, gak bakal kali ya… rugi bandar bo’! hehehe…
the last but not least, semua tergantung elo (tergantung isi kantong elo juga sih..) hehehe.. kalo kantong lo lagi agak tebel, lo dateng aja ke si-Blitz, jangan lupa juga cobain SATIN or VELVET CLASSnya, gak usah tanggung2 kalo elo butuh yang namanya kualitas. Tapi, kalo isi kantong lo pas-pasan, gak ada salahnya elo balik lagi ke tempat tongkrongan elo dulu alias si-21, lebih murah dengan sound system yang yaaa lumayan lah. kalo gue sih, XXI jadi alternatifnya.”
nDa says:
Sun, 26.04.09 at 07:02 pm
“hei……. lo pada lupa ya 21 itu pelopor perfilman dan perbioskopan di indonesia pastinya pangsa pasar lebih berat ke 21… walau lo pada blg blitz inovativ, tp ga jarang jg orang2 pd blg ” blitz? waduh tempat duduknya itu loh!!! pegel bu…. ga nyaman nontonya!! pelayanan mereka bgus, okelah tp percuma jg klo plg nonton lo hrus manggil tkang pijet… hehe.. oia ngomong2 tentang pelayanan lo dah coba nonton di “the Premiere” blm? the prmiere tu VIPnya 21. harganya seratus rb aj,, tp
gw puas,, scara slain keramahan karyawan, ddlam bioskopnya ada selimut, trus kursinya jg bs buat
tiduran. klo kt org betawi “reclaining seat” wow gw suka bgt nonton dsana…selain knyamanan nonton, mba2
sm mas2nya ramah2 bgt,, makananya jg enak.. popcornnya mang udah khas ya,,, ditambuah nasi gorengnya enak.. patut di coba sm lo2 pde. minumnya blended green tea. uwh mantab bu,, blitz memang beda, pelayananya anak muda dan fresh bgt, tp klo gw fkir2 para pencinta film ga hanya anak muda, oma opa gw jg suka.. intinya the premiere bisa masuk ke semua kalangan.. slamat mencoba guys,,, gw yakin lo pada suka dan pgn balik lg..”
4.1.8. Dilema Blitzmegaplex
Sejak Blitzmegaplex berdiri pada tahun 2006, media Indonesia tak henti membandingkan dengan 21 Cineplex. Tak jarang juga media mengaitkan reaksi agresif 21 Cineplex terhadap pembenahan dalam bioskop mereka terkait kehadiran Blitzmegaplex. Betapa tidak, selama ini kemunculan kompetitor seperti MPX misalnya tidak menimbulkan respon berarti dari 21 Cineplex. Sementara itu sebagai
perusahaan muda, Blitzmegaplex terus berupaya mengembangkan diri dengan berbagai inovasi. Hal ini didukung dengan industri perfilman yang angka produksinya terus merangkak naik sejak tahun 2005. Blitzmegaplex sebagai perusahaan bioskop di Indonesia juga tak ingin ketinggalan dalam animo kebangkitan film nasional dan berusaha menambah terus pemutaran film lokal setiap tahunnya, meski Blitzmegaplex juga menerapkan standar kualitas film yang akan diputar. Ironisnya, jumlah film yang diputar di Blitzmegaplex tak sebanding dengan angka produksi film nasional. Bahkan beberapa judul film lokal yang menjadi box office ternyata tidak ditayangkan di Blitzmegaplex, suatu hal yang menurut beberapa pihak aneh mengingat Blitzmegaplex sering mengadakan festival film Indie karya anak bangsa. Beberapa desas-desus bermunculan seiring fenomena ini. Ada yang mengatakan standar Blitzmegaplex terlalu tinggi untuk film lokal yang kualitasnya kurang, ada yang mengatakan bahwa pemutaran film lokal yang terlalu banyak dapat mempengaruhi buruknya positioning Blitzmegaplex sebagai bioskop untuk kalangan menengah ke atas, dan ada pula yang mengatakan bahwa kejadian ini merupakan ulah 21 Cineplex sebagai imbas persaingan bisnis.
Pada tanggal 5 Juni 2009, Blitzmegaplex menuduh 21 cineplex melanggar Undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha. Kasus ini mencuat setelah beberapa produser film Indonesia tidak mau menayangkan filmnya di Blitz (Kuntilanak, Denias, ayat-ayat cinta, dan beberapa film lainnya). Blitzmegaplex mendapatkan informasi bahwa 21 Cineplex menolak menayangkan film-film produser tersebut terutama yang berbau horor bila harga
HTM di Blitzmegaplex lebih murah. Mereka hanya mau menayangkan bila harga HTMnya sama dengan 21. Ancaman ini jelas menyudutkan produser film karena jumlah bioskop 21 jauh lebih banyak daripada Blitzmegaplex sehingga mau tidak mau produser film tersebut menolak bekerja sama dengan Blitzmegaplex agar film mereka dapat diputar di jaringan yang lebih luas. Manajemen Blitzmegaplex merasa perlu melaporkan 21 Cineplex karena sudah menemui jalan buntu.
Dalam kondisi kompetisi industri bioskop di Indonesia yang demikian, Blitzmegaplex melihat bahwa perusahaan harus menyeimbangkan orientasi terhadap kompetitor dan pelanggan. Apa langkah terbaik yang dapat ditempuh Blitzmegaplex untuk dapat mencapai tujuan ini ? Selain itu, sebagai perusahaan yang baru berdiri selama tiga tahun, Blitzmegaplex telah menghadapi reaksi keras dari pemimpin pasar yang telah berdiri selama lebih dari dua puluh tahun. Mengingat sumber daya yang dimiliki 21 Cineplex sangat besar, bukan tidak mungkin ke depannya Blitzmegaplex akan menghadapi kondisi yang tidak diinginkan lagi. Bagaimana langkah Blitzmegaplex selanjutnya menghadapi kondisi persaingan bisnis yang seperti ini ?