• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAN KASUS"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

48 

PEMBAHASAN KASUS

4.1. Deskripsi Kasus

Hujan turun rintik-rintik, Ibu Wendy Soeweno selaku direktur pemasaran Blitzmegaplex mengemudikan mobilnya memasuki halaman parkir kantor. Dia berjalan menuju meja kerjanya dan bersiap menghadiri rapat dengan tim pemasaran Blitzmegaplex. Hari itu, dua hari sebelum rapat dengan dewan komisaris dan jajaran direksi, di ruang rapat yang berlokasi di Patra Kuningan, tim pemasaran blitzmegaplex yang dipimpin oleh Ibu Wendy Soeweno telah menyiapkan data-data baik internal perusahaan maupun eksternal untuk menentukan strategi mereka selanjutnya.

Rapat yang diiringi sayup suara hujan itu berlangsung serius tetapi santai. Tim pemasaran Blitzmegaplex saling mengutarakan pendapat masing-masing, berdebat dan berargumen, apa yang harus dilakukan perusahaan setelah melaporan 21 Cineplex ke KPPU ? Apakah keputusan itu merupakan tindakan yang tepat dalam menghadapi kompetitor utama Blitzmegaplex ? Bagaimana strategi mereka selanjutnya dalam menghadapi serangan balik dari 21 Cineplex ? Tak kalah penting juga kompetitor lain baik secara langsung maupun tidak langsung yang turut mempengaruhi eksistensi Blitzmegaplex dalam industri layar lebar di Indonesia.

(2)

4.1.1. Sejarah Industri Layar Lebar di Indonesia

Bioskop pada masa Hindia Belanda disebut gambar idoep. Bangsa Indonesia sudah dapat menyaksikan pertunjukan ini pada tanggal 5 Desember 1900, tepatnya 5 tahun sejak pertunjukan film pertama di Paris pada tahun 1895. Pada masa itu berlaku juga pemisahan tempat duduk berdasarkan kelas sosial , yaitu kelas 1 untuk warga asli Belanda, kelas 2 untuk warga Timur jauh (Tionghoa, Jepang, India, Arab tidak termasuk), kelas 3 warga campuran Indonesia-Belanda, dan kelas 4 warga pribumi. Pada tahun 1920, bioskop di Hindia Belanda belum diputar dalam gedung bioskop tetapi dalam bangunan rumah biasa dan peralatan pendukung seadanya. Baru pada tahun 1920-1936, gedung bioskop dibangun dengan memperhatikan struktur dan unsur-unsur lainnya didukung dengan peralatan yang lebih memenuhi standard kualitas. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop.

Pada masa penjajahan jepang, segala kegiatan publik yang tidak mendukung propaganda Jepang sulit untuk dilakukan. Peredaran film-film di Indonesia diawasi ketat. Pada masa ini, pemerintah Jepang menetapkan standar harga karcis bioskop yang sangat mahal dan hanya bisa dijangkau oleh orang-orang kaya. Harga karcis bioskop dari kelas terendah sekalipun setara dengan harga resmi 1 kg beras pembagian pemerintah yang ditetapkan 10 sen. Apalagi film-film yang dipertunjukkan adalah film propaganda yang sama sekali tidak mengandung nilai hiburan. Akhirnya jumlah bioskop di masa pendudukan Jepang merosot tajam. Jika pada tahun 1942 terdapat sekitar 300 gedung bioskop yang

(3)

tersebar di wilayah Indonesia, hanya dalam waktu 3 tahun yaitu tahun 1945, jumlah bioskop hanya tersisa 52 gedung , terdiri dari : 12 di Surabaya, 6 di Malang, 4 di Surakarta, 3 di Jogjakarta, 7 di Semarang, 7 di Bandung, dan 13 di Jakarta.

Jumlah bioskop pada era Soekarno di Indonesia pada masa ini kurang begitu jelas karena data yang tidak lengkap. Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Mr.Latief dalam suatu musyawarah OPS (Organisasi Pengusaha Sejenis) di tahun 1962 pernah menyatakan jumlah bioskop di Indonesia tahun 1960 berjumlah 890 dan menurun menjadi 800 pada tahun 1962. Sedangkan informasi lain yang bersumber dari data Konferensi Kerja OPS Bioskop Seluruh Indonesia tanggal 17-18 April 1968 di Tawangmangu mencatat jumlah 350 bioskop pada tahun 1967 dan 450 bioskop pada tahun 1968.

Di Indonesia awal Orde Baru dianggap sebagai masa yang menawarkan kemajuan perbioskopan, baik dalam jumlah produksi film nasional maupun bentuk dan sarana tempat pertunjukan. Kemajuan ini memuncak pada tahun 1990-an. Pada dasawarsa itu produksi film nasional 112 judul. Sementara sejak tahun 1987 bioskop dengan konsep sinepleks (gedung bioskop dengan lebih dari satu layar) semakin marak. Sinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, tetapi juga menerobos kota kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan masa bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada "bioskop depan". Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai

(4)

puncak kejayaan yaitu 3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306 layar.

Indonesia memasuki era millenium baru ditandai dengan pergerakan kembali produksi film nasional, antara lain didukung dengan teknologi digital yang kemudian ditransfer ke seleloid. Masa-masa ini menjadi era kebebasan berkreasi dalam perfilman, namun masa di mana industri perfilman tidak memiliki pijakan atau sebuah sistem yang mendukung. Bioskop-bioskop sudah banyak yang bangkrut, dari yang semula sekitar 4000 layar sekarang tinggal sekitar 400 layar. Hal ini diakibatkan oleh merosotnya produksi film lokal dan rendahnya minat masyarakat untuk menonton bioskop karena munculnya stasiun-stasiun televisi swasta.

Produksi film Indonesia memang terus meningkat, namun fasilitas untuk penayangannya justru terasa tidak memadai. Pasar film Indonesia hanya di Jakarta dan beberapa kota besar, tanpa ada alternatif lain, kecuali pasar dalam bentuk penayangan di televisi dan peredaran untuk home intertainment (VCD/DVD) . Selain bioskop-bioskop terlanjur telah banyak yang bangkrut, di masa ini tidak ada lagi jaringan peredaran dan pemasaran seperti 1970-an, di mana ada PERFIN (Pusat Peredaran Film) yang mengatur masalah peredaran. Juga tidak seperti masa itu, di mana dengan banyak bioskop di berbagai daerah, memunculkan distributor-distributor untuk sejumlah kawasan edar, sehingga film tidak hanya bertumpu pada jaringan bioskop tertentu.

(5)

TABEL 4.1

DAFTAR JUMLAH LAYAR BIOSKOP DARI 1936 -2008 Tahun Jumlah Bioskop Jumlah Layar

1936 227 227 1942 300 300 1945 52 52 1960 890 890 1962 800 800 1967 350 350 1968 450 450 1987 - 2.306 1990 2600 2.853 2002 264 676 2007 483 959 2008 ‐  644

Source : dari berbagai sumber

4.1.2. Latar Belakang Industri Layar Lebar di Indonesia

4.1.2.1. Organisasi-Organisasi yang Terlibat Dalam Industri Layar Lebar di Indonesia

Berbagai organisasi di bidang perfilman sejak masa sebelum Indonesia merdeka muncul dan menghilang atau berganti nama sesuai tuntutan jaman. Mereka memiliki berbagai kepentingan, baik kepentingan golongan atau anggotanya, maupun kepentingan kemajuan perfilman Indonesia. Beberapa organisasi yang telah memiliki sejarah cukup panjang antara lain :

(6)

a. Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N)

Dimulai dengan nama Dewan Film Indonesia (1956), kemudian disebut Dewan Film Nasional (1979). Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) berdiri di Jakarta pada tanggal 30 Maret 1992, bersamaan dengan mulai berlakunya Undang-Undang Perfilman Nomor 8 Tahun 1992 Tentang Perfilman. Kehadiran BP2N diharapkan dapat berperan sebagai tangki pemikir dibidang perfilman nasional serta bersama Pemerintah melaksanakan pengembangan perfilman nasional sesuai amanat Undang-Undang. Berikut ini adalah visi misi BP2N seperti yang tercantum dalam situs resmi mereka :

Visi : untuk menumbuhkan dan mengembangkan film nasional sebagai produk industri kebudayaan yang bertumpu pada pemberdayaan masyarakat dalam keanekaragaman nilai-nilai kebangsaan.

Misi : menumbuhkan dan mengembangkan perfilman nasional sebagai industri yang mengandung nilai-nilai budaya; memberdayakan seluruh komponen perfilman nasional agar mampu menciptakan film nasional yang memberdayakan masyarakat pada umumnya dalam menciptakan pembangunan watak dan kepribadian bangsa; memantapkan dan mengembangkan nilai-nilai keragaman budaya bangsa dan mempromosikan nilai-nilai tersebut dalam percaturan internasional.

(7)

b. Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI)

Nederlands Indische Bioscoopen Bond (NIBB) didirikan pada tahun 1936 untuk mengimbangi Indische Film dan Exploitasi Bioskop (PERFEXBI) di Yogyakarta, DJakarta Bioskop Bond (DBB) Jakarta, Lombok Bioskop Bond (LBB) Mataram, Palembang Bioskop Bond (PBB) Palembang dll. Pada tanggal 10 April 1955 didirikan Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (PPBSI) untuk menyatukan semua organisasi perbioskopan yang ada di segenap nusantara. Untuk mengindahkan Peraturan Pemerintah No. 19/tahun/1961, PPBSI berganti nama menjadi Organisasi Perusahaan Sejenis (OPS) Bioskop Swasta. Pada Musyawarah Besar tahun 1992 berganti menjadi Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), yang akronimnya tetap GPBSI.

c. Festival Film Indonesia (FFI)

Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973. Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru

(8)

diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, diberikan juga penghargaan Piala Vidia untuk film televisi. Pada tahun 1966 mulai diberikan Piala Citra kepada pemenang penghargaan. Dalam tradisi FFI, Citra kemudian dijadikan nama piala sebagai simbol supremasi prestasi tertinggi untuk bidang perfilman. Berikut ini adalah gambar beberapa desain Piala Citra :

GAMBAR 4.1. PIALA CITRA Source : wikipedia

4.1.2.2. Undang-Undang Perfilman dan Distribusi Film di Indonesia Sebagai suatu negara hukum, perfilman di Indonesia terkait industri bioskop di dalamnya juga berlandaskan atas hukum yang telah diatur oleh pemerintah. Pada tahun 2009, RUU Perfilman yang mengatur berbagai hal tentang perfilman termasuk di dalamnya distribusi film, kuota film impor, kuota film lokal, maupun sensor film akhirnya diresmikan menjadi UU No.33 tahun 2009 tentang perfilman yang merupakan perbaikan dari UU no.8 tahun 1992 tentang pefilman. Meski demikian undang-undang perfilman yang baru ini pun menuai protes dari

(9)

kalangan masyarakat film dan dinilai bisa mengakibatkan menurunnya kualitas film produksi lokal. Menurut masyarakat film, banyaknya jumlah film dengan kualitas di bawah standar tersebut dapat menyebabkan penonton jenuh yang pada akhirnya akan meninggalkan bioskop sama seperti era tahun 1992 dan berujung pada matinya industri bioskop itu sendiri.

Untuk mengatur regulasi kompetisi, selain ada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang difasilitasi pemerintah, ada juga organisasi independen seperti Monopoly Watch yang bermarkas di Amerika. Pada tahun 2003, Monopoly Watch pernah melaporkan 21 Cineplex ke KPPU dengan tuduhan praktik monopoli. Kasus ini akhirnya membuat beberapa komisaris memecah kepemilikan saham di beberapa perusahaan namun membebaskan 21 dari tuduhan monopoli. Berikutnya tahun 2009, giliran Blitzmegaplex yang melaporkan 21 Cineplex ke KPPU dengan tuduhan yang sama.

4.1.2.3. Para Pemain Industri Layar Lebar di Indonesia a. Perusahaan-perusahaan Distributor Film

• PT Camila Internusa Film

PT Camila Internusa adalah importir film-film Hollywood untuk Indonesia. Pada era orde baru, tata niaga impor film Mandarin dikuasai oleh Prananto (pengusaha kapal dari Semarang), yang

(10)

mengharuskan para importir film Mandarin yang sudah ada agar mengimpor film melalui perusahaannya dan membayar fee kepadanya. Kemudian, posisi Prananto ini digeser oleh kakak beradik Benny Suherman dan Bambang Sutrisno melalui perusahaannya PT Sejahtera Film (Perusahaan Importir Khusus Film Mandarin). Bersama Sudwikatmono, mereka bertiga memasang bendera baru dengan nama PT Suptan Film. Pada perkembangannya, para importir film tersebut, termasuk importir film non mandarin seperti film Amerika-Eropa dan India berasosiasi dengan nama Asosiasi Importir Film (AIF). Penyatuan ini berdampak besar bagi bisnis bioskop dan film nasional karena AIF membangun kekuatan besar dalam bisnis yang terintegrasi, yaitu impor film, distribusi film, dan bioskop.

• Jive Entertainment

Jive entertainment adalah distributor film independent terdepan di Indonesia yang mempersembahkan berita-berita dan informasi kepada masyarakat umum tentang cerita-cerita paling menghibur dan paling original dari para pembuat film – pembuat film paling inovatif di dunia. Dalam websitenya, Jive menyajikan berita-berita, sinopsis, trailer maupun kuis tentang film yang sedang diputar oleh Blitzmegaplex.

(11)

b. Perusahaan-perusahaan Produser Film • Miles Production

Miles Production didirikan pada tahun 1996 oleh Mira Lesmana, seorang lulusan Institut Kesenian Jakarta yang juga putri musisi Indonesia Jack Lesmana. Perusahaan ini memproduksi film-film main-stream dengan kualitas cinematografi dan jalan cerita yang baik. Beberapa produknya sempat menjadi box office dan mempelopori kebangkitan film nasional di era Millenium ke-3. Film-film itu antara lain karya Riri Riza, seorang sutradara muda berbakat yang telah menelurkan karya seperti Petualangan Sherina (2000), Ada Apa dengan Cinta (2000) yang sukses menyedot lebih dari 1,6 juta penonton, Eliana-Eliana (2002), Rumah ke Tujuh (2003), Soe Hok Gie (2005), Laskar Pelangi (2009), 3 hari Untuk selamanya, dll. Meskipun Eliana-Eliana kurang mendapat sambutan di tanah air, namun film yang dibintangi Rachel Maryam ini sukses menyabet penghargaan untuk kategori Best Young Cinema dan Best Critics Cinema di ajang Festival Film Internasional Singapura pada April 2002 dan meraih predikat Special Mention untuk kategori penghargaan Dragons and Tigers for Young Cinemadi ajang Festival Film Internasional Vancouver di Kanada, Oktober 2002. Miles juga sempat memproduksi serial Anak Seribu Pulau sebuah program televisi sepanjang 14 episode

(12)

pada 1997. Selain itu Film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel dengan judul sama, karya Andrea Hirata juga menjadi film fenomenal tahun 2009.

• Kalyana Shira

Kalyana Shira Film adalah perusahaan film independen yang didirikan pada awal tahun 2000 di Jakarta, Indonesia. Afi Shamara dan Nia Dinata adalah pendiri perusahaan ini. Kalyana Shira Film memproduksi sebuah film epik semi kolosal berjudul Ca-bau-kan (The Courtesan), yang diangkat dari novel laris karya Remy Sylado. Film itu menjadi debut Kalyana dengan tim produksinya.

Ca-bau-kan adalah film Indonesia pertama setelah masa reformasi

yang berpusar pada komunitas Tionghoa di Indonesia. Selanjutnya, Kalyana banyak meluncurkan film-film yang berhasil menyabet berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa diantarnya adalah “Biola Tak Berdawai” (atau The Stringless Violin) tahun 2003, “Arisan!” (atau The

Gathering) tahun 2003, “Janji Joni” (atau Joni’s Promise) tahun 2005, “Berbagi Suami” (atau Love For Share atau Partage Ton Mari) tahun 2006. Kalyana juga telah memproduksi beberapa program TV programs. Program yang terakhir adalah “Ajang Ajeng”, sebuah reality show yang diproduksi untuk MTV pada 2004.

(13)

• Multivision Plus

PT Tripar Multivision Plus atau Multivision Plus adalah sebuah perusahaan produksi film Indonesia yang didirikan tahun 1990 di Jakarta setelah munculnya TVRI Jawa Barat. Multivision didirikan oleh Raam Punjabi. Raam mendirikan Multivision pada tahun 1990 di Jakarta. Produksi pertama Multivison adalah serial sinetron komedi Burung Camar, Seputih Merpati dan Mutiara

Cinta yang diproduksi pada tahun 1991. Film layar lebar produksi

Multivision antara lain Belahan Jiwa, Kuntilanak, Kawin Kontrak, dan sebagainya. Multivision Plus lebih berfokus memproduksi film-film komersial daripada film-film festival.

Selain produser-produser lokal, beberapa produser film Hollywood seperti Warner Brothers, 21th Century, Paramount, Disney, dan sebagainya juga menganggap Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial berdasarkan jumlah penduduknya.

c. Pengusaha Bioskop

Selain 21 Cineplex dan Blitzmegaplex, industri layar lebar di Indonesia juga memiliki banyak pemain kecil yang jumlah bioskopnya hanya terletak di satu atau dua kota terutama kota seperti Jakarta atau Bandung. Selain itu juga tersebar bioskop-bioskop kecil yang dikelola

(14)

oleh pengusaha daerah terutama untuk kota-kota kecil baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Beberapa bioskop besar di Jakarta yang tidak termasuk dalam jaringan Cineplex 21 atau Blitzmegaplex antara lain :

• PT Multiplex Media (MPX)

PT Multiplex Media yang merupakan perusahaan pemilik Bioskop Multiplex Grande di Jakarta, termasuk salah satu perusahaan baru yang mengembangkan bisnisnya di bidang pemutaran film. MPX Grande Boutique Cinema didirikan pada tahun 2002 adalah sebuah bioskop dengan konsep boutique dan merupakan sebuah First Class Cinema dengan suasana serba cozy. Design teater yang artistik dan futuristik didukung oleh lobby yang luas dan nyaman MPX Grande menawarkan experience tersendiri dalam menikmati film-film layar lebar. Berikut ini adalah gambar yang menampilkan kemewahan bioskop MPX :

(15)

GAMBAR 4.2. INTERIOR MPX Sumber : http://www.mpx.co.id

Keunggulan MPX menurut manajemennya adalah : Vision (“wow” affect dari interior design), smell (aromatherapy), taste (food & drinks), sound (latar belakang musik dan sound system), dan touch (cinema seats).

• Surya M2

Bioskop yang didirikan dalam Mangga Dua Square, suatu kawasan pecinan di Jakarta dan memutar film-film Mandarin serta box office. Gambar di bawah ini merupakan iklan promosi yang menampilkan interior Surya M2 dengan desain minimalis modern yang nyaman :

(16)

  GAMBAR 4.3

GAMBAR INTERIOR SURYA M2 TAHUN 2007 Sumber : http://agungsedayu.com

Iklan di atas menyebutkan bahwa Surya M2 menghadirkan film-film Mandarin dan juga film-film-film-film Barat. Hal ini terkait dengan

target market Surya M2 yang merupakan warga keturunan

Tionghoa peranakan. Pemilihan lokasi Surya M2 juga berada di daerah pecinan di Jakarta yaitu Mangga Dua.

4.1.2.4. Kondisi Pasar dalam Industri Layar Lebar di Indonesia a. Pertumbuhan Pasar

Indonesia mulai mengalami perkembangan stabilitas politik ke arah yang lebih baik sejak pemerintahan Abdurahman Wahid (Gusdur) pasca era reformasi. Kondisi ini menyebabkan perusahaan-perusahaan

(17)

yang gulung tikar mulai bangkit kembali dan beberapa investor asing berani menanamkan modal di Indonesia. Pada tabel di bawah ini terlihat bahwa industry revenue terus mengalami kenaikan sejak tahun 2004.

TABEL 4.2.

STATISTIK KUNCI INDUSTRI LAYAR LEBAR DI INDONESIA

Key Statistik 2003 2004 2005 2006 2007 Industry Revenue 107,942 104,367 131,689 158,085 169,151 Rp. Billion Employment 109,600 101,200 85,700 81,000 85,400 Units Exports 2,856 3,457 6,481 6,521 7,820 Rp. Billion Imports 10,926 10,899 25,482 30,419 35,880 Rp. Billion Total Wages 1,425 1,316 1,114 1,010 1,109 Rp. Billion Domestic Demand 116,012 111,809 150,690 181, 983 197,211 Rp. Billion Source: http://www.disb2b.com/front/industryreport.php?klui=K96212

Pada tahun 2004, Indonesia berada di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakil Presiden Jusuf Kalla. Meski terjadi penurunan jumlah tenaga kerja tetapi tidak diiringi dengan penurunan jumlah gaji yang signifikan. Permintaan domestik yang terus meningkat menyebabkan jumlah import naik hingga lebih dari dua kali lipat dan jumlah eksport naik hampir dua kali lipat pada tahun

(18)

2005. Berikut ini adalah tabel jumlah layar bioskop 21 Cineplex, Blitzmegaplex, dan bioskop di luar jaringan kedua perusahaan tersebut :

TABEL 4.3.

PERBANDINGAN JUMLAH LAYAR BIOSKOP PERIODE APRIL 2008 Bioskop Jumlah Layar Persentase Jakarta % Luar Jakarta % 21 Cineplex 186 70% 293 77% 74 % Blitzmegaplex 29 11% 9 2% 6 % Lainnya 49 19% 78 21% 20 % TOTAL 264 100% 380 100% 100%

Source : dari berbagai sumber

Tabel di atas menunjukkan bahwa 21 Cineplex mendominasi pasar seluruh Indonesia hingga lebih dari 50% yaitu 74% dengan total 379 layar. Sedangkan di wilayah Jakarta, 21 Cineplex mendominasi pasar hingga 70% dengan jumlah 186 layar yang terdiri dari Cinema 21, Cinema XXI, dan The Premiere. Jumlah ini terpaut jauh dengan Blitzmegaplex yang memiliki persentase jumlah layar 6% di seluruh Indonesia dan 11% untuk wilayah Jakarta. Bioskop lain merupakan bioskop yang dikelola bukan oleh jaringan besar memiliki persentase jumlah layar 20% di seluruh Indonesia dan 19% di Jakarta.

(19)

b. Produk Pengganti

Tidak terkendalinya penyebaran DVD/VCD bajakan di Indonesia menjadi salah satu pemicu matinya produksi film lokal pada pertengahan era 1990an. Hal ini disebabkan oleh tingginya harga tiket bioskop sehingga masyarakat lebih memilih menonton di rumah dengan budget murah meriah, apalagi kemajuan teknologi audio visual khususnya home entertainment semakin pesat dan dapat dijangkau sampai masyarakat kelas menengah. Karena perusahaan bioskop merasa kurang penonton, akhirnya mereka benar-benar menyeleksi film yang sekiranya mampu menghasilkan banyak pemasukan. Film-film lokal yang menurut mereka kurang menghasilkan tidak bisa ditayangkan dan hal ini memicu kelesuan produksi film nasional. Bioskop yang tidak mampu menutup biaya operasional terpaksa gulung tikar. Suatu survey yang dilakukan harian Kompas pada bulan Desember 20071 menyatakan bahwa 62% dari 1358 orang yang disurvey lebih menyukai menonton film di rumah, sedangkan hanya 12,4% masih pergi ke bioskop dan 60% mengatakan mereka sudah tidak pergi ke bioskop lebih dari satu tahun.

Selain Video Disc, yang termasuk home entertainment lainnya adalah permainan elektronik atau sering disebut game. Untuk memainkan game dibutuhkan perangkat seperti PC (Personal       

1

 Hermawan, Ary. 2008. “Distribution Seen as Main Obstacle to Film Industry Growth”, The Jakarta Post, 29 Maret 2008 

(20)

Computer), konsol game (nintendo, Playstation, Xbox, NDS, PSP, Sega saturn, dsb). Selain game yang dimainkan secara perorangan, ada pula game online, yaitu game yang dimainkan dengan perangkat seperti PC atau konsol dengan dukungan koneksi internet. Game online ini memungkinkan pemain game (gamer) untuk memainkan game yang mereka sukai sambil berinteraksi dengan gamer lain lewat dunia cyber sehingga dapat juga berfungsi sebagai komunitas sosial.

Kota besar yang memiliki fasilitas bioskop biasanya juga memiliki sarana hiburan lain seperti mall, restaurant, club, maupun tempat karaoke. Tempat-tempat hiburan ini juga menawarkan banyak alternatif yang dapat menjadi subtitusi bagi industri bioskop.

Berikut ini adalah tabel harga barang subtitusi yang dapat memenuhi kebutuhan calon konsumer akan hiburan :

TABEL 4.4.

DAFTAR HARGA BARANG SUBTITUSI PERIODE 2009

No.  Jenis Barang  Range Harga  

1  Portable TV Rp. 700.000,00 – Rp. 2.000.000,00  2  TV 14” – 32” Rp. 700.000,00 – Rp. 5.000.000,00  3  TV Plasma / LCD > Rp.  5.000.000,‐  4  Player (DVD/VCD/Blueray) +    Rp. 500.000,00 –Rp. 3.000.000,00  5  Speaker Home Teater +    Rp. 1.500.000,00 –Rp. 5.000.000,00  6  Sony Playstation 2 +    Rp. 1.300.000,00 7  Sony PSP  +    Rp. 2.300.000,00 8  Nintendi Wii +    Rp. 2.800.000,00

(21)

9  Nintendo DS +    Rp. 1.500.000,00 10   Xbox 360  +    Rp. 4.200.000,00 11  DVD game (original) +    Rp. 200.000,00 – Rp. 400.000,00  12  DVD game (bajakan) +    Rp. 6.000,00 13  DVD film (original) +    Rp. 100.000,00 – Rp. 200.000,00  14  DVD film (bajakan) +    Rp. 5000,00 – Rp. 7000,00  15  1 set PC untuk gaming +    Rp. 7.000.000,00 16  Tiket Masuk Club +    Rp. 100.000,00 – Rp. 200.000,00  17  Restaurant kelas A +    Rp. 50.000,00 – Rp. 500.000,00  18  Restaurant kelas B +    Rp. 20.000,00 – Rp. 150.000,00  19  Karaoke  +    Rp. 90.000,‐ / jam 20  Langganan TV Berbayar +    Rp. 200.000,‐ (harga paket standard) 21  Berlangganan Internet +    Rp. 100.000,‐ s/d Rp. 1.000.000,‐ / bln

Source : dari berbagai sumber

Pada tabel harga produk pengganti di atas, terlihat bahwa biaya yang harus dikeluarkan konsumen relatif lebih rendah daripada biaya menonton bioskop sehingga target pasar akan memiliki lebih banyak pertimbangan untuk menonton bioskop atau tidak.

4.1.3. 21 Cineplex

4.1.3.1. Sejarah Berdirinya 21 Cineplex

Pada tahun 1980an sampai 1990an, industri bioskop di Indonesia mengalami perkembangan pesat ditandai dengan banyaknya jumlah bioskop yang mencapai lebih dari 2000 gedung. Pada masa ini jaringan bioskop 21 turut menyemarakkan industri bioskop Indonesia dan

(22)

memasuki pasar dengan konsep sinema kompleks (cineplex) yakni konsep gedung bioskop dengan beberapa layar. Apabila konsep bioskop sebelumnya satu gedung hanya memiliki satu layar dengan kapasitas tempat duduk yang banyak, bioskop 21 menawarkan jumlah layar dua atau lebih dengan kapasitas tempat duduk yang lebih sedikit untuk masing-masing layar. Kelebihan konsep ini adalah satu bioskop dapat memutar lebih dari satu film setiap harinya sehingga penonton mendapatkan lebih banyak pilihan.

21 Cineplex berada di bawah naungan PT Nusantara Sejahtera Raya dan lebih dikenal sebagai jaringan bioskop 21. PT Nusantera Sejahtera Raya tergabung dalam Subentra Grup yang didirikan oleh Benny Suherman bersama dua rekannya, Sudwikatmono dan Bambang Sutrisno. Pada masa awal berdiri, bioskop 21 menawarkan pengalaman menonton bioskop yang berbeda dibandingkan bioskop lainnya. Selain konsep cineplex yang menyajikan beberapa judul film sekaligus, 21 juga menawarkan fasilitas tempat duduk yang nyaman, ruangan yang dilengkapi dengan Air Conditioner (AC), sistem tata suara dolby atau THX, kualitas gambar yang jernih, serta suasana lobby yang bersih dan nyaman. Selain dukungan modal yang kuat, competitive advantage inilah yang membuat 21 berhasil merebut hati konsumer sehingga jaringan bioskop ini mampu bertahan menghadapi krisis yang melanda industri bioskop pada pertengahan tahun 1990an. Pada masa itu, televisi-televisi

(23)

swasta mulai bermunculan dengan berbagai program tontonan yang menarik, pembajakan film dengan media Video Disc (VCD) juga merebut perhatian penonton karena kini mereka dapat menyaksikan film di rumah dengan budget sekitar 5000 sampai 6000 rupiah per keping, jauh lebih murah bila dibandingkan dengan harga tiket bioskop yang berkisar antara 7.000 sampai 15.000 per orang. Kondisi ini menyebabkan banyak pengusaha bioskop terpaksa gulung tikar karena penjualan karcis tidak mampu menutupi biaya operasional sehari-hari sehingga pada tahun 2002 jumlah bioskop di Indonesia tinggal 264 gedung saja. Merosotnya jumlah bioskop di Indonesia ini secara otomatis membuat bioskop 21 menjadi pemimpin pasar dengan jumlah layar hampir 70% dari keseluruhan jumlah layar di Indonesia.

4.1.3.2. Brand-Brand di Bawah Bendera 21 Cineplex

Pada perkembangannya, industri film di Indonesia mengalami pasang naik sejak tahun 2002. Hal ini ditandai dengan kehadiran film-film karya sineas muda yang berkualitas dan berhasil meraih berbagai penghargaan. Minat penonton untuk menonton di bioskop kembali lagi, karena itu pada tahun 2004 bioskop 21 berinisiatif menghadirkan Cinema XXI dan The Premiere sebagai bioskop premium dengan harga tiket di atas rata-rata. Manajemen bioskop 21 merasa perlu mengadakan peningkatan performa agar tetap bisa memenangkan hati konsumen sama

(24)

seperti tahun-tahun sebelumnya, terlebih karena pada tahun 2006 Blitzmegaplex hadir sebagai penantang pasar dalam indutri layar lebar di Indonesia. Berikut ini adalah merk-merk (brand) yang berada di bawah jaringan 21 Cineplex :

a. Cinema 21

Cinema 21 merupakan merk yang pertama kali digunakan oleh 21 Cineplex pada era tahun 1980an. Pada masa itu, manajemen melihat bahwa budaya Amerika sedang menjadi budaya pop di Indonesia sehingga logo yang digunakan oleh bioskop 21 didominasi oleh warna merah dan biru dengan motif bintang, sekilas logo ini menyerupai bendera Amerika. Manajemen berharap identitas korporat ini bisa merepresentasikan bioskop 21 sebagai bioskop yang modern dan

up-to-date.

 

GAMBAR 4.4. LOGO CINEMA 21 Sumber : wikipedia

Cinema 21 memiliki jaringan bioskop terbanyak yang tersebar di seluruh Nusantara. Di Jakarta Cinema 21 berjumlah 22 gedung dengan 88 layar, sebagian besar berada dalam gedung mall atau pusat perbelanjaan. Berikut ini adalah tabel data jumlah layar Cinema 21 di Jakarta :

(25)

TABEL 4.5.

JUMLAH LAYAR CINEMA 21 DI JAKARTA PERIODE 2009

No.  Nama Bioskop Jumlah 

Layar  1  ARION 21        3 2  ATRIUM 21     4 3  BINTARO 21       5 4  BLOK M 21       6 5  BLOK M SQUARE 21      6 6  BUARAN 21       4 7  CIBUBUR 21      4 8  CIJANTUNG 21     4 9  CILANDAK 21      4 10  CITRA 21      4 11  DAAN MOGOT 21     3 12  GADING 21     4 13  GAJAH MADA 21    2 14  HOLLYWOOD KC 21       5 15  KALIBATA 21     5 16  LA PIAZZA 21       4 17  SEMANGGI 21    3 18  SETIABUDI 21        4 19  SLIPI JAYA 21          4 20  SUNTER       4 21  TAMINI     3 22  TIM          3   TOTAL 88  Source : http://www.21cineplex.com

Cinema 21 menyediakan jumlah layar yang berbeda-beda untuk setiap mall atau gedung bioskopnya tergantung dari luas lokasi, kerja sama dengan pihak mall, maupun potensi pasar. Jumlah layar Cinema 21 yang paling sedikit adalah 2 layar dan terbanyak adalah enam layar. Cinema 21 memberlakukan harga tiket bervariasi dan jenis film yang diputar sesuai dengan lokasi dan target yang dituju. Fasilitas lain yang

(26)

Cinema 21 tawarkan adalah tata suara Dolby Digital. Berikut ini adalah daftar harga tiket Cinema 21 di Jakarta periode 2009 :

TABEL 4.6.

DAFTAR HARGA TIKET BIOSKOP 21 DI JAKARTA PERIODE JUNI 2009 Nama Bioskop Nomat (Senin‐ Kamis)  Jumat HTM   Sabtu‐Minggu  / Hari Libur  ARION 21         Rp. 15.000, Rp. 20.000,‐ Rp. 20.000,‐  ATRIUM 21      Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  BINTARO 21       Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  BLOK M 21       Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  BLOK M SQUARE 21    Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 20.000,‐  BUARAN 21        Rp. 10.000,‐ Rp. 10.000,‐ Rp. 15.000,‐  CIBUBUR 21      Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  CIJANTUNG 21     Rp. 15.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐  CILANDAK 21      Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐  CITRA 21       Rp. 20.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  DAAN MOGOT 21     Rp. 15.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐  GADING 21      Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 20.000,‐  GAJAH MADA 21   Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 20.000,‐  HOLLYWOOD KC 21     Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  KALIBATA 21     Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 20.000,‐  LA PIAZZA 21       Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  SEMANGGI 21    Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  SETIABUDI 21       Rp 15.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐  SLIPI JAYA 21          Rp 15.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐  SUNTER 21  Rp. 15.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 15.000,‐  TAMINI  21   Rp. 15.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐  TIM  21      Rp. 10.000,‐ Rp. 15.000,‐ Rp. 15.000,‐  Source : http://www.21cineplex.com

Cinema 21 berusaha memberikan harga tiket yang terjangkau bagi penonton bioskop dengan memberlakukan hari nonton hemat (nomat). Di beberapa Cinema 21, hari nomat jatuh pada hari Senin sampai kamis, dan di beberapa tempat yang lain jatuh pada hari Senin sampai Jumat. Pada hari nomat ini, Harga Tiket Masuk (HTM) lebih murah 25% - 75% daripada HTM pada akhir pekan. Dengan adanya hari

(27)

nonton hemat ini, bioskop 21 berharap minat masyarakat untuk menonton bioskop meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai bioskop yang mengadopsi konsep cineplex, Cinema 21 juga dapat menayangkan beberapa judul film sekaligus dalam sehari. Berikut ini adalah contoh jadwal tayang Cinema 21 untuk enam judul film yang diputar sebanyak lima sampai enam kali sehari :

TABEL 4.7.

JADWAL TAYANG STUDIO 21 PLANET HOLLYWOOD KARTIKA CHANDRA

Studio Show 1 Show 2 Show 3 Show 4 Show 5  Show 6 Judul 1  1  13:00 14:50 16:40 18:30 20:20  22:10 Judul 2  2  13:15 15:25 17:35 19:45 21:55  ‐‐:‐‐  Judul 3  3  13:00 15:10 17:20 19:30 21:40  ‐‐:‐‐  Judul 4  4  12:45 14:35 16:25 18:15 20:05  21:55 Judul 5  5  13:45 15:45 17:45 19:45 21:45  ‐‐:‐‐  Source : http://www.21cineplex.com

Cinema 21 menayangkan satu judul untuk satu studio per harinya dengan tujuan agar penonton memiliki lebih banyak pilihan waktu jika ingin menonton suatu film. Jam tayang film tersebut tergantung pada durasi film yang biasanya berkisar antara 90 sampai 120 menit.

b. Cinema XXI

Setelah bertahun-tahun setia dengan merk Cinema 21 sebagai pemimpin pasar, akhirnya manajemen 21 Cineplex merasa bahwa budaya pop di Indonesia sudah banyak berubah. Bila logo 21 yang

(28)

digunakan pada tahun 1980an saat itu dapat mempresentasikan kesan modern, kini tidak lagi. Meski logo tersebut sudah memiliki brand

share dan mind share yang kuat dalam benak konsumen, tapi di era

milenium ini logo tersebut mulai terkesan retro. Dalam dunia desain modern awal abad ke 21, kesan modern dipresentasikan oleh desain yang minimalis. Melihat kondisi ini, maka lahirlah Cinema XXI sebagai bentuk peningkatan (upgrade) dari Cinema 21. Manajemen 21 Cineplex ingin menonjolkan kesan modern dan kelas atas ini melalui desain logo yang lebih elegan dengan perpaduan warna coklat emas dan huruf serif tegak, berbeda dengan desain Cinema 21 yang lebih

colorful dan memberi kesan ramai ceria.

 

GAMBAR 4.5. LOGO CINEMA XXI Sumber : wikipedia

Aplikasi identitas korporat ini juga dapat dilihat dari warna coklat hangat yang mendominasi interior Cinema XXI serta penataan interior yang minimalis, modern dan elegan. Untuk lebih memanjakan pelanggan, Cinema XXI juga menyediakan sofa yang lebih lebar dan nyaman dibandingkan Cinema 21, sistem tata suara Dolby dan THX, serta fasilitas-fasilitas penunjang lain seperti lounge. Berikut ini adalah contoh foto-foto interior Cinema XXI :

(29)

GAMBAR 4.6. INTERIOR STUDIO CINEMA XXI Sumber : skyscrapercity.com

21 Cineplex pertama kali mendirikan Cinema XXI di EX Plaza pada tahun 2004 dan memiliki sertifikat tata suara THX untuk semua studionya. Tahun berikutnya, 21 Cineplex mulai melakukan perombakan pada beberapa Cinema 21 yang terletak dalam mall-mall kelas atas menjadi Cinema XXI seperti Anggrek XXI, Gading XXI, Plaza Senayan XXI, Pondok Indah XXI, dan sebagainya. Cinema XXI menetapkan HTM lebih mahal dibandingkan Cinema 21 dengan mempertimbangkan segala fasilitas yang disediakan sehingga harga yang dibayarkan oleh konsumen sebanding dengan kenyamanan yang akan didapatkan. Berikut ini adalah daftar harga tiket Cinema XXI di Jakarta periode 2009 :

(30)

TABEL 4.8.

DAFTAR HARGA TIKET BIOSKOP 21 DI JAKARTA PERIODE JUNI 2009 Nama Bioskop  Nomat (Senin‐Kamis)  Jumat HTM   Sabtu‐Minggu /  Hari Libur  ANGGREK XXI       Rp. 20.000,‐   Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐    ARTHA GADING XXI   Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐    DJAKARTA XXI     Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  EMPORIUM PLUIT  XXI     Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐  GADING XXI     Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐  Gading XXI ( 3D) Rp 25.000,‐ Rp. 35.000,‐ Rp 50.000,‐  METROPOLE XXI          Rp. 20.000,‐   Rp. 20.000,‐   Rp. 25.000,‐  PEJATEN VILLAGE XXI     Rp. 20.000,‐   Rp. 20.000,‐   Rp. 25.000,‐  PLATINUM XXI     Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  PLAZA INDONESIA  XXI        Rp. 15.000,‐ Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐  PLAZA INDONESIA  XXI      3D  Rp 25.000,‐ Rp. 35.000,‐ Rp. 50.000,‐  PLAZA SENAYAN XXI      Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐ Rp. 50.000,‐  PLAZA SENAYAN XXI     3D  Rp. 35.000,‐ Rp. 50.000,‐ Rp 70.000,‐  PLUIT JUNCTION XXI      Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐  PLUIT VILLAGE XXI        Rp. 15.000,‐ Rp. 20.000,‐ Rp. 30.000,‐  PONDOK INDAH XXI     Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐ Rp. 50.000,‐  PONDOK INDAH XXI      3D  Rp. 35.000,‐ Rp. 50.000,‐ Rp. 70.000,‐  PURI XXI     Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐  PURI XXI (3D)  Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐ Rp 50.000,‐  SEASONS CITY XXI    Rp. 15.000,‐   Rp. 15.000,‐   Rp. 15.000,‐    SENAYAN CITY XXI     3D  Rp. 20.000,‐ Rp. 25.000,‐    Rp. 25.000,‐ Rp. 35.000,‐    Rp. 35.000,‐  Rp. 50.000,‐    STUDIO XXI EX        3D  Rp 25.000,‐ Rp 35.000,‐  Rp. 35.000,‐ Rp. 50.000,‐  Rp. 50.000,‐  Rp. 70.000,‐  Source : http://www.21cineplex.com

(31)

Untuk mengikuti perkembangan dunia audio visual, kini Cinema XXI juga sering menghadirkan film-film 3D dengan teknologi 3D Dolby. HTM untuk film-film 3D ini lebih mahal daripada film-film biasa karena peralatan penunjang yang digunakan juga membutuhkan biaya cukup tinggi. Cineplex 21 juga berusaha menjangkau setiap spot yang memiliki pasar potensial sehingga masyarakat tidak perlu mengunjungi tempat yang jauh untuk mendapatkan kenyamanan menonton. Berikut ini adalah tabel data jumlah layar Cinema XXI di Jakarta :

TABEL 4.9.

JUMLAH LAYAR CINEMA 21 DI JAKARTA PERIODE 2009

No.  Nama Bioskop  Jumlah Layar 

1  ANGGREK XXI       4 2  ARTHA GADING XXI    5 3  DJAKARTA XXI     2 4  EMPORIUM PLUIT XXI    4 5  GADING XXI     8 6  METROPOLE XXI          7 7  PEJATEN VILLAGE XXI       6 8  PLATINUM XXI     4 9  PLAZA INDONESIA XXI       5 10  PLAZA SENAYAN XXI      8 11  PLUIT JUNCTION XXI       5 12  PLUIT VILLAGE XXI        5 13  PONDOK INDAH XXI      3 14  PURI XXI    7 15  SEASONS CITY XXI     4 16  SENAYAN CITY XXI      4 17  STUDIO XXI EX        4   TOTAL 85  Source : http://www.21cineplex.com

Untuk daerah Jakarta, dalam waktu lima tahun 21 Cineplex mampu membuka 17 bioskop Cinema XXI, baik yang merupakan renovasi

(32)

ex-Cinema 21 maupun gedung bioskop baru. Untuk masalah jam tayang, Cinema XXI tidak berbeda dengan Cinema 21 dan tetap menggunakan konsep satu studio untuk satu film dengan jumlah pemutaran sebanyak lima sampai enam kali. Berikut ini adalah contoh jadwal tayang Cinema XXI yang terletak di Plaza Senayan, Cinema XXI ini memiliki jumlah layar terbanyak selain Gading XXI yaitu delapan layar.

TABEL 4.10.

JADWAL TAYANG STUDIO XXI PLAZA SENAYAN Studio Show 1 Show 2 Show 3 Show 4 Show 5  Show 6 Judul 1  1  11:45 13:35 15:25 17:15 19:05  20:55 Judul 2  2  12:45 14:35 16:25 18:15 20:05  21:55 Judul 3  3  12:30 14:40 16:50 19:00 21:10  ‐‐:‐‐  Judul 4  4  13:00 15:10 17:20 19:30 21:40  ‐‐:‐‐  Judul 5  5  12:15 14:25 16:35 18:45 20:55  ‐‐:‐‐  Judul 6  6  12:30 14:40 16:50 19:00 21:10  ‐‐:‐‐  Judul 7  7  12:00 13:50 15:40 17:30 19:20  21:10 Judul 8  8  12:15 14:30 16:45 19:00 21:15  ‐‐:‐‐  Sumber : http://www.21cineplex.com c. The Premiere

Untuk penonton kelas premium, 21 Cineplex menawarkan suatu pengalaman lebih dalam menonton bioskop dengan kehadiran The Premiere. Manajemen 21 Cineplex ingin menonjolkan kesan eksklusif tersebut dengan visualisasi logo korporat berwarna coklat muda dengan jenis font script seperti di bawah ini :

(33)

 

GAMBAR 4.7. LOGO THE PREMIERE Sumber : wikipedia

The Premiere bisa dikatakan sebagai studio premium dari Cinema XXI karena keberadaannya tidak pernah berdiri sendiri dan selalu berada di dalam lokasi Cinema XXI. Berikut ini adalah tabel The Premiere di Jakarta :

TABEL 4.11.

JUMLAH LAYAR CINEMA 21 DI JAKARTA PERIODE 2009

No.  Nama Bioskop  Jumlah Layar 

1  PREMIERE EMPORIUM PLUIT       2 2  PREMIERE PLAZA SENAYAN     2 3  PREMIERE PONDOK INDAH    1 4  PREMIERE PURI 1 5  PREMIERE SENAYAN CITY 1 6  PREMIERE STUDIO     2   TOTAL 13  Source: http://www.21cineplex.com

HTM yang ditawarkan pun sama di semua lokasi The Premiere yaitu Rp. 50.000,- untuk hari nonton hemat (Senin-Kamis/Jumat) dan Rp.100.000,- untuk hari akhir pekan (Sabtu/Minggu). The Premiere menawarkan berbagai kemewahan seperti lobby khusus yang nyaman, kursi bioskop yang mewah lengkap dengan selimutnya serta kapasitas studio yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Cinema XXI sehingga penonton dapat merasakan atmosfer bioskop semi privat. 21

(34)

Cineplex juga berencana untuk memperbanyak jumlah studio The Premiere dengan membuka di luar kota. Bandung merupakan kota pertama yang menghadirkan The Premiere di luar Jakarta dan dibuka pada tanggal 1 Mei 2009 dalam lokasi Ciwalk XXI. Untuk jam tayang film juga tidak berbeda dengan merk 21 Cineplex lainnya, The Premiere tetap menerapkan konsep satu studio untuk satu film dengan jumlah pemutaran lima sampai enam kali sehari tergantung durasi film yang bersangkutan. Berikut ini merupakan contoh jadwal tayang The Premiere :

TABEL 4.12.

JADWAL TAYANG STUDIO PREMIERE PLAZA INDONESIA Studio Show 1 Show 2 Show 3 Show 4 Show 5  Show 6 Judul 1  1  12:30 14:20 16:10 18:00 19:50  21:40 Judul 2  2  13:00 15:10 17:20 19:30 21:40  ‐‐:‐‐ 

Source : http://www.21cineplex.com

4.1.3.3. Kasus Monopoli di Tahun 2003

Pada tahun 2003, Monopoly Watch, suatu organisasi independen pemantau kegiatan monopoli melaporkan 21 Cineplex ke KPPU dengan tuduhan kasus monopoli terkait jaringan distribusi film impor2. Ketua Komite Eksekutif Monopoly Watch Samuel Nitisaputra menyatakan bahwa akibat pengusaan jalur impor dan distribusi film asing oleh jaringan 21, bioskop kelas dua dan industri film dalam negeri       

2

 Hdajat, Bagja. 2003, “Cineplex 21 Dipastikan Langgar UU Anti-Monopoli”, Tempointeraktif.com, Selasa 18 maret 2003 

(35)

semakin terpuruk. Menurutnya, selama ini bioskop kelas dua itu harus menunggu selesainya suatu film impor diputar di seluruh bioskop jaringan 21. Monopoly Watch menuduh bahwa kurang menariknya film-film yang diputar di bioskop non-21 disebabkan oleh sistem distribusi film Hollywood yang dipegang Subentra group. Ia juga menuduh bahwa Harga karcis sering diputuskan sepihak oleh 21 Cineplex tanpa melibatkan konsumen.

Monopoly Watch menyatakan Subentra Group melanggar Undang-Undang Nomor 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Ia berharap jika gugatannya dimenangkan KPPU, Subentra tak lagi menguasai pasar film di dalam negeri dengan memecah kepemilikan perusahaan atau minimal untuk disribusi film tidak dipegang oleh anak perusahaan Subentra. Subentra merupakan induk dari PT Nusantara Sejahtera Raya, PT Satrya Perkasa Esthetika Film, dan PT Camila Internusa sebagai distributor film.

Monopoly Watch berharap KPPU menjatuhkan sanksi pidana bagi Subentra dengan menjatuhkan hukuman penjara bagi komisaris dan direksi serta mendenda jaringan bioskop 21 dan mencabut izin usaha cineplex jika lembaga itu menemukan pelanggaran Undang-Undang Antimonopoli.

Setelah menjalani sejumlah proses pemeriksaan, pada tahun 2003, KPPU tidak menemukan bukti adanya pelanggaran terhadap

(36)

distribusi dan penayangan film-film impor yang dilakukan oleh Subentra Group. KPPU hanya menemukan PT Nusantera Sejahtera Raya memiliki saham mayoritas di beberapa perusahaan yang bergerak dibidang perbioskopan yaitu PT. Intra Mandiri dan PT. Wedu Mitra di pasar yang sama yaitu di Surabaya. Bioskop-bioskop yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut menguasai lebih dari 50% pangsa pasar. KPPU akhirnya meminta NSR mengurangi kepemilikan saham di kedua perusahan tersebut.

4.1.4. Blitzmegaplex

4.1.4.1. Sejarah Perusahaan dan Company Profile

Blitzmegaplex adalah pendatang baru dalam bisnis layar lebar Indonesia. Ide berdirinya berasal dari dua anak muda, Ananda Siregar dan David Hilman, yang ingin meniru konsep sineplex di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, maupun Singapura yang sudah hadir dengan 15 hingga 25 layar, bukan sekedar 6 layar seperti milik jaringan 21. Ananda adalah putra Arifin Siregar, gubernur Bank Indonesia pada masa Soeharto. Ide mereka terwujud setelah Quvat Management Pte. Ltd., perusahaan investasi yang dijalankan oleh sejumlah bekas pegawai Farallon Capital Management LLC, tertarik pada ide Ananda dan bersedia memodalinya dengan mengucurkan dana tak kurang dari Rp. 250 miliar.

(37)

Ananda sebelumnya pernah bekerja sebagai eksekutif di Farindo Investment Ltd., yang 90% sahamnya dimiliki oleh Grup Djarum.

Sebelum mendirikan Blitzmegaplex, Ananda Siregar mengadakan survey selama 2 tahun tentang kebiasaan dan pola menonton

movigoers di Jakarta terutama di mall-mall kelas atas. Ia juga melakukan

magang di Golden Screen Malaysia selama 6 bulan dan belajar banyak mengenai operasional bioskop, mulai dari memasang film, memutar proyektor sampai mengolah popcorn untuk pelanggan.

Pada 16 Oktober 2006, Blitzmegaplex pertama resmi dibuka di Paris Van Java Bandung. Bandung dipilih sebagai kota pertama didirikannya Blitzmegaplex karena kota tersebut merupakan kota pelajar. Blitzmegaplex memilih target market anak muda karena gaya hidup mereka yang suka mencoba hal-hal baru. Di Bandung, Blitz hadir dengan pilihan film-film yang tidak diputar oleh jaringan 21 seperti film-film independen dari Eropa dan Asia. Film-film itu ternyata banyak peminatnya. Sukses di Bandung ini diikuti oleh kesuksesan Blitzmegaplex Grand Indonesia Jakarta pada tanggal 21 Maret 2007 yang juga merupakan produk terbaik karena paling besar dan paling lengkap. Selanjutnya Blitzmegaplex berturut-turut membuka bioskop di Pasific Place dan Mall of Indonesia. Kehadiran Blitzmegaplex ini berhasil merebut pangsa pasar dari bioskop kompetitor di sekitarnya sampai sekitar 50%.

(38)

Wendy Soeweno sebagai direktur pemasaran Blizmegaplex menyatakan bahwa visinya adalah menjadikan perusahaan sebagai “the

ultimate one-stop-entertainment” di Indonesia yang menyediakan

pelayanan terbaik dan juga film-film berkualitas.

Beberapa divisi yang mengatur operasional Blitzmegaplex antara lain divisi project building, purchasing, programming, business development, IT, dan Finance. Sedangkan yang menjabat sebagai CEO adalah Brata Permana, didampingi oleh Ario Adi Cahyono sebaai CFO, dan Herman Cahyadi sebagai COO.

4.1.4.2. Unit Bisnis Blitzmegaplex a. Core Product

Sebagai perusahaan bioskop, pendapatan utama Blitzmegaplex berasal dari penjualan tiket film yang harganya berbeda-beda untuk setiap daerah di mana Blitzmegaplex tersebut berada. Hal ini menurut CRM manager blitzmegaplex adalah sebagai upaya penyesuaian terhadap daya beli masyarakat di daerah tersebut. Blitzmegaplex dalam auditoriumnya menerapkan standard harga tiket yang berbeda berdasarkan kelas-kelas yang terdiri dari :

Reguler Class

Reguler class merupakan produk Blitzmegaplex yang paling standard, yaitu tiket film untuk kursi reguler pada auditorium

(39)

dengan fasilitas standar dengan kapasitas tempat duduk terbanyak yaitu sekitar 200 kursi. Berikut ini adalah gambar interior kelas reguler Blitzmegaplex :

GAMBAR 4.8.

REGULER CLASS BLITZMEGAPLEX Sumber : www.blitzmegaplex.com • Satin class

Satin Class merupakan produk yang levelnya berada di atas

reguler class. Produk ini saat ini hanya tersedia di Grand

Indonesia Jakarta Pusat. Deretan kursi satin class ini terletak di atas podium dengan bentuk kursi yang lebih nyaman, meja kecil, serta ruang kaki yang lebih luas. Kapasitasnya terdiri dari masing-masing 64 reclining seats untuk 2 satin class lounge di auditorium 1A dan auditorium 2A Blitzmegaplex Grand Indonesia. Dewasa ini, bioskop-bioskop di Indonesia sudah tidak lagi menerapkan sistem kelas tempat duduk dalam

(40)

auditoriumnya karena terpengaruh oleh konsep cineplex yang dibawa oleh 21 Cineplex. Setelah sekian lama penonton bioskop Indonesia terbiasa dengan konsep 21 Cineplex, kini Blitzmegaplex kembali menawarkan konsep kelas tempat duduk seperti bioskop di masa lalu atau seperti konsep opera di mana terdapat kelas reguler maupun VIP. Berikut ini adalah gambar interior Satin Class yang berada dalam satu auditorium yang sama dengan kelas reguler di Grand Indonesia, hanya saja peletakannya berada di podium :

GAMBAR 4.9. SATIN CLASS BLITZMEGAPLEX Sumber : www.blitzmegaplex.com

Velvet room

Velvet Room menawarkan kenyamanan dalam auditorium khusus dengan sofa bednya. Para moviegoers dapat menyaksikan film dengan kenyamanan ekstra sambil tiduran dilengkapi bantal

(41)

empuk dan selimut hangat. Blitzmegaplex juga menyediakan sandal tidur yang dapat digunakan jika ingin ke toilet. Jika memerlukan bantuan, penonton dapat memanggil petugas hanya dengan menekan tombol yang terdapat di setiap sofa bed. Produk ini tersedia di Pasific Place Mall dan Mall of Indonesia. Kapasitasnya terdiri dari 21 sofa bed untuk 42 orang di Mall Of Indonesia dan 17 sofa bed untuk 34 orang di Pasific Place Mall. Berikut ini adalah gambar interior Velvet Room yang nyaman :

GAMBAR 4.10. VELVET ROOM BLITZMEGAPLEX Sumber : www.blitzmegaplex.com

Dining cinema

Blitzmegaplex membuka dining cinema sebagai produk inovasi pada tanggal 5 November 2008 di Mall of Indonesia. Konsep Dining Cinema memadukan antara kenikmatan menonton film seru dan kenikmatan sajian istimewa dalam auditorium khusus yang nyaman dan elegan berkapasitas terbatas. Suasana

(42)

auditorium dining cinema ini mirip seperti velvet class, hanya saja kursinya bukan sofe bed melainkan sofa biasa yang dilengkapi dengan meja makan. Kapasitasnya terdiri dari 32

reclining seats di Mall Of Indonesia. Berikut ini adalah gambar

interior Dining Cinema :

GAMBAR 4.11.

DINING CINEMA BLITZMEGAPLEX Sumber : www.blitmegaplex.com

3D Cinema

Sebagai upaya mengikuti perkembangan teknologi audio video di dunia, Blitzmegaplex memanjakan penonton dengan pemutaran film-film 3D yang didukung teknologi RealD. Blitzmegaplex pertama kali menghadirkan 3D Cinema ini di Grand Indonesia pada April 2009. Blitzmegaplex sengaja menyediakan auditorium khusus untuk memutar film-film 3D untuk memaksimalkan kemampuan teknologi RealD yang

(43)

digunakan. Hal ini berbeda dengan kompetitor utamanya, Cinema XXI yang memutar film 3D di studio reguler. Untuk menonton film 3D ini, penonton akan dipinjami sebuah kacamata khusus sehingga gambar yang ditampilkan dapat terlihat lebih berdimensi. Auditorium khusus dengan silver screen yang digunakan untuk mendukung teknologi RealD dapat juga digunakan untuk menampilkan film-film non 3D sehingga gambar yang dihasilkan menjadi lebih baik, hal ini menyebabkan Blitzmegaplex tak jarang juga memutar film-film biasa (non 3D) pada auditorium yang biasa digunakan untuk memutar film 3D. Harga tiket untuk film 3D ini bervariasi untuk tiap bioskop Blitzmegaplex dan dapat dilihat pada daftar harga di bab selanjutnya.

Berikut ini adalah tabel data jumlah layar dan kursi Blitzmegaplex di 4 lokasi bioskop :

TABEL 4.13.

JUMLAH KURSI BLITZMEGAPLEX SECARA KESELURUHAN PER JUNI 2009

Nama  Bioskop  Reguler  Class   Satin  Class  Velvet  Class  Dining  Cinema 3D  Cinema  TOTAL  Blitzmegaplex  PVJ Bandung        1986 263  2249 Blitzmegaplex  Grand Indonesia  2565 128 283  2976 Blitzmegaplex  Pasific Place  831 34 203  1068 Blitzmegaplex  Mall of Indonesia  1578 21 32 238  1869

(44)

TOTAL  6960  128  55  32  987  8162 

Source : http://blitzmegaplex.com 

TABEL 4.14.

JUMLAH LAYAR BLITZMEGAPLEX SECARA KESELURUHAN PER JUNI 2009

Nama  Bioskop  Reguler  Class   Satin  Class  Velvet  Class  Dining  Cinema 3D  Cinema  TOTAL  Blitzmegaplex  PVJ Bandung        8 1  9  Blitzmegaplex  Grand Indonesia  10 1  11  Blitzmegaplex  Pasific Place  5 2 1  8  Blitzmegaplex  Mall of Indonesia  7 1 1 1  10  TOTAL  30  38  Source : http://blitzmegaplex.com

Perbandingan jumlah layar Blitzmegaplex terhadap kompetitor yang berdekatan yaitu Cinema XXI dan The Premiere adalah sebagai berikut :

• Blitzmegaplex Grand Indonesia dengan 11 layar berkompetisi dengan XXI EX (4 layar reguler), The Premiere EX (2 layar), XXI Plaza Indonesia (5 layar), dan Djakarta Teater XXI (2 layar) • Blitzmegaplex Pasific Place dengan 8 layar berkompetisi dengan XXI Plaza Senayan (8 layar), The Premiere Plaza Senayan (2 layar), XXI Senayan City (4 layar), The Premiere Senayan City (1 layar), dan XXI Platinum FX (4 layar)

(45)

• Blitzmegaplex Mall of Indonesia dengan 10 layar berkompetisi dengan XXI Artha Gading (5 layar), dan Gading XXI (8 layar), jumlah layar 21 Cineplex di kawasan ini belum termasuk bioskop Cinema 21 seperti La Piazza 21 dan Gading 21.

• Blitzmegaplex Paris Van Java Bandung dengan 9 layar berkompetisi dengan XXI Ciwalk Bandung (8 layar) dan The Premiere Ciwalk (3 layar).

Selain tiket untuk kelas tempat duduk, Blitzmegaplex juga menjual tiket berdasarkan jenis film yang diputar, misalnya penjualan tiket untuk film-film India, film-film festival, dan film-film independent (indie).

b. Side Product

Selain menjual tiket menonton, Blitzmegaplex juga melengkapi berbagai fasilitas penunjang yang disebut unit bisnis. Produk samping Blitzmegaplex tersebut tediri dari :

• Blitzshoppe yaitu fasilitas penjualan merchandise film.

• BlitzgameSphere yaitu tempat bermain game dengan berbagai console seperti PS3 dan Xbox khusus pemegang Blitzcard.

• Blitzcafe yang menyediakan aneka pilihan menu beverage. • Blitzbeat yaitu sarana untuk melakukan download musik.

(46)

• Billyard dan karaoke yaitu fasilitas hiburan selain menonton yang dapat dinikmati oleh customer Blitzmegaplex.

• Selain itu Blitzmegaplex juga menyediakan pelayanan yang lebih profesional untuk keperluan bisnis atau promosi seperti

Auditorium rent, movie screening booking, screen ad / branding packages, cafe booking, hall booking.

4.1.4.3. Keunikan Blitzmegaplex

Sebagai perusahaan bioskop dengan konsep one stop

entertainment, Blitzmegaplex tidak hanya menawarkan serunya nonton

film tetapi juga menawarkan pengalaman lebih daripada sekedar nonton film. Untuk itulah Blitzmegaplex memiliki jargon “Beyond Movies”. Keunikan ini merupakan daya tarik bagi konsumen dibanding kompetitornya. Selama ini pengunjung datang ke bioskop hanya untuk menonton film. Kebiasaan nonton di gedung bioskop inipun selalu sama dari waktu ke waktu, penonton datang, mengantri dan membeli tiket di loket, duduk di kursi sesuai nomor tiket, menonton film, lalu pulang atau ke tempat hiburan lainnya. Pernahkan mereka berpikir untuk menonton film sambil menyantap makan siang atau bahkan sambil tiduran di balik selimut dan bantal ? Blitzmegaplex hadir dengan berbagai pengalaman menonton film yang berbeda dan belum pernah dibayangkan sebagain

(47)

besar penonton pada umumnya. Keunikan-keunikan Blitzmegaplex tersebut antara lain :

a. Blitzcard

Blitzcard adalah nama untuk kartu pra-bayar Blitzmegaplex. Fasilitas blitzcard ini memungkinkan pelanggan untuk memesan tiket melalui internet sekaligus memilih tempat duduknya. Blitzcard juga dapat digunakan untuk menikmati suguhan hiburan lainnya seperti gamesphere dan karaoke. Blitzcard ini dapat di top-up melalui rekening beberapa bank yang bekerja sama dengan Blitzmegaplex dan saldonya akan dikurangi saat pelanggan menggunakan fasilitas-fasilitas Blitzmegaplex. Pelanggan pengguna blitzcard juga mendapatkan berbagai penawaran menarik seperti diskon, voucher, tiket gratis dan sebagainya. Keunikan ini menawarkan alternatif lain selain pembelian tiket langsung di loket sehingga pelanggan tidak perlu mengantri berjam-jam sebelum film dimulai untuk mendapatkan tempat duduk favorit.

b. Velvet Room

Velvet Room adalah konsep menonton bioskop serasa di rumah sendiri. Blitzmegaplex menyediakan sofa bed untuk 2 orang yang dapat digunakan untuk tiduran. Disediakan juga bantal dan selimut untuk menambah kenyamanan. Fasilitas ini ada di Pasific Place mall

(48)

dan MOI. Keunikan ini merupakan inovasi Blitzmegaplex atas komitmennya untuk menawarkan pengalaman lain dalam menonton bioskop. Kebiasaan menonton sambil tiduran di rumah kini dapat dinikmati dalam gedung bioskop dengan layar besar dan sistem tata suara yang memuaskan.

c. Dining Cinema

Dining Cinema adalah suatu konsep yang diciptakan manajemen Blitzmegaplex untuk memanjakan penonton yang ingin menikmati makan siang atau makan malam sambil nonton film dalam auditorium berkapasitas kecil dan tempat duduk yang nyaman. Dining Cinema menawarkan menu Korea dan menu barat. Harga tike plus menu Korea dibundel seharga Rp. 80.000,- sedangkan harga tiket pluse menu barat dibundel seharga Rp. 60.000,-. Masing-masing menu terdiri dari 6-7 item. Dalam sehari auditorium dining cinema ini hanya memutar 1 jenis film untuk 2x waktu pertunjukan, yaitu pada pukul 12.30 WIB untuk jam makan siang (lunch) dan pukul 19.00 WIB untuk jam makan malam (dinner). Blitzmegaplex berencana akan menambah jumlah menu ke depannya. Saat ini fasilitas dining cinema hanya tersedia di Blitzmegaplex Mall of Indonesia. Keunikan ini merupakan inovasi lain dari Blitzmegaplex yang menawarkan pengalaman nonton serasa di restoran yang belum pernah ditawarkan oleh kompetitor mana pun.

(49)

4.1.5. Masuknya Blitzmegaplex Dalam Industri Bioskop Indonesia Sebelum masuk ke pasar, para pendiri Blitzmegaplex telah mengadakan survey di beberapa lokasi seperti Jakarta dan Bandung. Blitzmegaplex menyadari bahwa kompetitor memiliki sumber daya yang kuat dan tidak mudah untuk memenangkan persaingan. Penghalang inilah yang dirasa cukup kokoh karena kondisi industri bioskop di Indonesia telah lama dikuasai oleh satu pemain. Meski demikian, pihak manajemen merasa bahwa potensi pasar yang masih sangat besar sayang bila dilewatkan begitu saja. Untuk itu Blitzmegaplex mencoba memasuki industri sebagai penantang pasar dengan modal yang kuat, membidik segmen kelas atas, dan menawarkan berbagai alternatif untuk memanjakan pelanggan yang tidak mudah diikuti oleh kompetitor utama. Blitzmegaplex berusaha menemukan kelemahan kompetitor dan menjadikan kelemahan kompetitor tersebut sebagai daya saing dalam memasuki pasar, Sub-bab berikut ini menjelaskan sepak terjang Blitzmegaplex dalam memasuki industri bioskop Indonesia dan menjadi penantang bagi pemimpin pasar.

4.1.5.1. Teknologi

Blitzmegaplex mengunggulkan teknologi RealD khusus untuk pemutaran film-film berformat 3 dimensi. Teknologi ini merupakan teknologi pemutar 3D dengan pangsa pasar mencapai 90% di Eropa dan Amerika untuk pemutaran film-film 3D. Penerapan teknologi lainnya ada pada pemanfaatan Blitzcard. Dalam hal ini, Blitzmegaplex mengajak pelanggan untuk menjadi

(50)

praktis dengan menggunakan internet tanpa perlu mengantri tiket. Blitzcard dapat juga digunakan untuk menikmati tawaran-tawaran promosi dari pihak Blitzmegaplex yang bekerja sama dengan tenant lain.

4.1.5.2. Produk

Blitzmegaplex menawarkan beberapa alternatif selain kursi reguler pada auditoriumnya, antara lain satin class, velvet room, dan dining cinema. Beberapa alternatif ini menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari biasanya, penonton tidak hanya bisa melihat film dengan duduk manis di kursi dengan ruang kaki sempit misalnya, tetapi juga bisa menikmati film di sofa sambil meluruskan kaki, sambil tiduran dengan bantal dan selimut, atau sambil menikmati makan siang dan makan malam. Bila pelanggan memasuki area Blitzmegaplex, selain auditorium film, loket karcis maupun penjual cemilan, pelanggan juga bisa menemukan beberapa alternatif hiburan lainnya seperti tempat karaoke, tempat billyard, tempat main game, cafe maupun tempat khusus merokok.

4.1.5.3. Harga

Dalam menetapkan harga tiket di suatu lokasi, manajemen Blitzmegaplex melakukan survey terhadap daya beli masyarakat sekitar dan harga tiket yang dipatok oleh kompetitor yang letaknya berdekatan. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan harga tiket Blitzmegaplex berdasarkan tempat, kelas dan hari.

(51)

TABEL 4.15.

DATA HARGA TIKET MASUK (HTM) BLITZMEGAPLEX

Lokasi  Kelas  Monday  Tue ‐ Thu  Weekends  /  Public 

holiday  Grand  Indonesia,  Jakarta  Reguler  Rp. 25.000,00  Rp. 30,000,00  Rp. 50,000,00    Satin  Lounge  Rp. 80.000,00    3D  Rp. 50.000,00  Rp. 100.000,00    Hindi  Movie  Rp. 50.000,00  Rp. 70.000,00  Pasific Place,  Jakarta  Reguler  Rp. 30.000,00  Rp. 55.000,00    3D  Rp. 50.000,00  Rp. 100.000,00    Velvet Class Rp. 250.000,00 / bed  Mall Of  Indonesia,  Kelapa Gading  Jakarta  Reguler /  Dining  Cinema  Rp. 20.000,00  Rp. 35.000,00    3D  Rp. 35.000,00  Rp. 70.000,00    Velvet Class Rp. 200.000,00 / bed    Hindi  Movie  Rp. 35.000,00  Rp. 50.000,00    3D  Rp. 35.000,00  Rp. 70.000,00  Paris Van Java  Bandung  Reguler  Rp. 17.000,00  Friday: Rp. 22.000,00 Sat‐Sun/Public  Holidays :  Rp. 27.000,00      3D  Rp. 30.000,00  Friday: Rp. 45.000,00 Sat‐Sun/Public  Holidays :  Rp. 60.000,00  Source : http://blitzmegaplex.com 4.1.5.4. Jam Tayang

Blitzmegaplex dapat memutar lebih dari satu film pada sebuah auditorium. Hal ini berbeda dari Cinema XXI yang hanya memutar 1 film untuk 1

(52)

auditorium. Di bawah ini adalah contoh tabel jadwal tayang di Blitzmegaplex Grand Indonesia yang memiliki jumlah auditorium terbanyak dibandingkan Blitzmegaplex yang lain dan dapat digunakan sebagai data pembanding jadwal tayang pada tahun 2009.

TABEL 4.16.

JADWAL TAYANG BLITZMEGAPLEX GRAND INDONESIA

Auditorium  Judul Film Jadwal Tayang 

Audi 1  The A  12:00 14:30  17:00  19:30  22:00  Audi 2  The B  12:45 15:00  17:15  19:30  21:45  Audi 3  The C 12:15 20:00  Audi 3  The D  14:05 18:10  Audi 3  The E  15:55 21:50  Audi 4  The F  12:30 14:45  17:00  19:15  21:30  Audi 5  The G  12:00 14:15  16:30  18:45  21:00  Audi 6  The H  12:00 14:00  18:00  20:00  Audi 6  The I  16:00 Audi 7  The J  12:45 14:30  19:15  21:30 

(53)

Audi 7  The K  16:45 22:00  Audi 8  The L  11:55 14:20  16:45  19:10  21:35  Audi 9  The M 12:00 15:10  18:20  21:30  Audi 10  The N  12:45 15:00  17:15  19:30  21:45  Audi 11  The O  12:30 15:30  18:30  21:30  Source : http://blitzmegaplex.com

Manajemen Blitzmegaplex menerapkan konsep pemutaran film seperti di atas agar rotasi film di antara bioskop-bioskopnya lebih lama sehingga pelanggan yang sibuk dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menyaksikan film yang ditunggu-tunggu.

4.1.5.5. Desain Interior

Blitzmegaplex menerapkan desain interior yang berbeda untuk setiap bioskopnya disesuaikan dengan target pasar di daerah tersebut. Blitzmegaplex yang pertama di Bandung membidik sasaran anak muda sehingga interiornya didesain lebih modis, minimalis dan hangat. Berikut ini adalah gambar desain interior Blitzmegaplex Paris Van Java Bandung :

(54)

GAMBAR 4.12. INTERIOR BLITZMEGAPLEX PARIS VAN JAVA

Sumber : www.blitzmegaplex.com

Blitzmegaplex Grand Indonesia bernuansa minimalis merah dan putih agar memberi kesan modern karena target pasarnya adalah karyawan muda (young

adult - adult). Berikut ini adalah gambar interior lobby Blitzmegaplex Grand

Indonesia.

GAMBAR 4.13. INTERIOR BLITZMEGAPLEX GRAND INDONESIA

(55)

Sedangkan untuk Blitzmegaplex Pasific Place didominasi warna coklat untuk memberikan kesan elegan dan hangat. Hal ini karena mall Pasific Place sendiri membidik kalangan eksekutif kelas menengah atas di usia yang lebih dewasa (late

adult) dibanding Grand Indonesia.

GAMBAR 4.14. INTERIOR BLITZMEGAPLEX PASIFIC PLACE Sumber : www.blitzmegaplex.com

Blitzmegaplex Mall of Indonesia (MOI) bernuansa merah oriental karena pengunjung mall di sana kebanyakan beretnis Indonesia keturunan Tionghoa.

GAMBAR 4.15. INTERIOR BLITZMEGAPLEX MALL OF INDONESIA Sumber : www.blitzmegaplex.com

(56)

Manajemen Blitzmegaplex berharap dengan penerapan konsep desain interior yang berbeda-beda ini, pelanggan dapat merasakan atmosfer yang berbeda bila datang di setiap bioskop Blitzmeagplex sehingga tidak mengalami kebosanan dengan desain yang monoton seperti kompetitor.

4.1.5.5. Pengelolaan SDM

Blitzmegaplex mengutamakan karyawan muda sebagai eksekutif di lapangan, mereka ini disebut kru (crew). Rata-rata usia karyawan Blitzmegaplex sekitar 18 – 25 tahun, kebanyakan terdiri dari lulusan SMU atau mahasiswa yang bekerja sambilan. Para kru lapangan ini dilatih untuk selalu bersikap ramah terhadap pelanggan dan tanggap akan hal-hal yang dibutuhkan pelanggan.

4.1.5.6. Pertumbuhan Pangsa Pasar

Pertumbuhan pasar Blitzmegaplex yang paling bagus adalah PVJ Bandung, hal ini disebabkan karena pasar Bandung yang terbatas. Padahal dibanding kompetitor di sekitarnya, harga tiket PVJ paling mahal. Blitzmegaplex di Paris Van Java mengalami kenaikan pertumbuhan bisnis rata-rata 15%3. Setiap bulan, pangsa pasar Blitzmegaplex rata-rata 40% yang artinya menjadi sinyal positif bahwa bisnis ini akan berpotensi berkembang. Pada tahun 2008, pemasukan Blitzmegaplex di tahun pertama sesuai dengan target. Tingkat awareness di Bandung mencapai 40% lebih. Dari sisi revenue, pendapatan dari event pemasaran       

3

 Wulandari, Th.D. 2009. “PT Graha Layar Prima – Blitzmegaplex Menawarkan Opsi dan Variasi Tontonan”, Bisnis.Com, Minggu 11 mei 2009  

(57)

dan branding di Blitz sudah berlipat tiga dari target awal. Dan menurut data Mei 2007, Blitz Grand Indonesia mendapat 57,87% pangsa pasar (dari lima bioskop: Blitz dan bioskop di sekitarnya) dan di Bandung meraih 46,38% pangsa pasar dari total 7 bioskop. Pada tahun 2006-2009 pertumbuhan pangsa pasar dari pembelian tiket sudah melebihi 300% disebabkan perluasan pasar (pembukaan bioskop di lokasi baru) yaitu di 5 lokasi.

4.1.6. Serangan Balik Cineplex 21

Sebagai pemimpin pasar yang telah mengembangkan bisnisnya selama lebih dari 20 tahun, 21 Cineplex memiliki kepercayaan diri karena pengalaman dan jaringan yang luas di seluruh Indonesia. Meski demikian, 21 Cineplex tetap harus memperhatikan kemunculan kompetitor baru yang dapat menjadi ancaman. Sebagai pemimpin pasar, 21 Cineplex harus kembali membenahi diri agar konsumen tetap menjatuhkan pilihan mereka pada 21. Beberapa perubahan yang dilakukan 21 Cineplex antara lain dijabarkan sebagai berikut :

4.1.6.1. Konsep Baru Cinema XXI

Pada tahun 2004, 21 Cineplex pertama kali mendirikan Cinema XXI di EX Plaza Jl MH Thamrin Jakarta. Manajemen 21 Cineplex merasa bahwa perusahaan perlu menawarkan sesuatu yang baru dan lebih baik dibandingkan produk terdahulu. Cinema XXI menawarkan fasilitas seperti kursi tempat duduk lebih nyaman dan lebar dibandingkan kursi Cinema 21, suasana lobby dan loket

(58)

tiket yang modern dan elegan minimalis, serta layar lebar yang didukung dengan sertifikat THX tentu menjadi jaminan penggemar berat film mendapatkan suguhan audio visual yang tidak mengecewakan.

Sejak kemunculan Blitzmegaplex sebagai kompetitor di beberapa lokasi seperti Bandung dan kawasan Hotel Indonesia, 21 Cineplex terus menggiatkan pembaharuan Cinema 21 menjadi Cinema XXI di beberapa gedung bioskop, terutama yang berdekatan dengan Blitzmegaplex, antara lain Cinema 21 Ciwalk Bandung menjadi Cinema XXI Ciwalk, Cinema 21 Plaza Senayan menjadi Cinema XXI Plaza Senayam, Cinema 21 Plaza Indonesia menjadi Cinema XXI Plaza Indonesia, Gading 21 menjadi Gading XXI. Selain pembaharuan, 21 Cineplex juga berusaha menambah jumlah layar di setiap titik potensial. Sebagian besar bioskop baru ini sudah mengusung konsep Cinema XXI dan bukan lagi Cinema 21, kecuali di beberapa mall seperti Blok M Square, meskipun pusat belanja tersebut tergolong baru namun bioskop baru yang ada di dalamnya adalah merk Cinema 21 dan bukan Cinema XXI, hal ini karena menyesuaikan HTM yang sesuai untuk pasar yang dibidik.

21 Cineplex memiliki visi masa depan menambahkan lounge, klub dan kafe untuk setiap Cinema 21 dan XXI4. Lounge XXI menyediakan kapasitas untuk 50 orang diperuntukkan sebagai ruang serba guna, tempat peluncuran produk, ataupun pagelaran musik sederhana. Sedangkan Club XXI yang berkapasitas 300 orang diperuntukkan bagi bermacam kegiatan yang lebih besar seperti standing       

4

(59)

party dan pertunjukan musik besar. Selain itu Club XXI juga menyediakan sebuah

layar yang dilengkapi proyektor beresolusi tinggi.

Berikut ini adalah gambar letak Blitzmegaplex dan Cinema XXI di Jakarta di daerah Bundaran Hotel Indonesia, daerah Senayan, dan daerah Kelapa Gading :

GAMBAR 4.16.

LETAK BLITZMEGAPLEX DAN CINEMA XXI DI WILAYAH THAMRIN

Sumber : Megapolitan Map & Street Guide 2007 – 2008, BIP

Cinema XXI Djakarta Theater

Cinema XXI  Studi EX Cinema XXI Plaza Indonesia

Gambar

GAMBAR 4.2. INTERIOR MPX  Sumber : http://www.mpx.co.id
GAMBAR INTERIOR SURYA M2 TAHUN 2007  Sumber : http://agungsedayu.com
GAMBAR 4.6. INTERIOR STUDIO CINEMA XXI  Sumber : skyscrapercity.com
GAMBAR 4.7. LOGO THE PREMIERE  Sumber : wikipedia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada perlakuan suhu ruang memiliki nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur tertinggi, tingginya efisiensi pemanfaatan kuning telur pada suhu ruang tidak diikuti oleh

Pengaruh Psikososial terhadap Perilaku Merokok pada Siswa Laki-Laki Berdasarkan penelitian diatas dapat diketahui bahwa psikososial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

Hal ini sejalan dengan penelitian Jian Qin (2005) yang menyimpulkan bahwa lama pencahayaan tidak berpengaruh signifikan pada pertumbuhan biomassa, melainkan merupakan salah

Penggunaan teknologi yang banyak memberikan manfaat dan dirasakan oleh UMKM merupakan salah satu faktor pendorong yang kuat untuk terus memanfaatkan teknologi seperti media

Beberapa faktor pendukung dari pengembangan sumber daya manusia di sentra industri sanitair adalah cukup tingginya minat para pengrajin khususnya para karyawan untuk lebih

Topografi adalah gambaran bentuk permukaan bumi atau bagian dari permukaan bumi. Salah satu faktor yang penting dalam topografi adalah relief. Relief dapat

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan analisis Semiotika Roland Barthes terhadap Nilai Pendidikan dalam film Di Timur Matahari yang ditayangkan di bioskop

1.112.222 Sumber: Bank Muamalat KCP Parepare Sebagaiana pernyataan Ali Abu Farmadi selaku informan dalam penelitian yang mengungkapkan bahwa: Salah satu faktor yang mempengaruhi