• Tidak ada hasil yang ditemukan

Porter’s 5 Forces Analysis

Dalam dokumen BAB IV PEMBAHASAN KASUS (Halaman 92-97)

ANALISIS PASCA  PERGERAKAN

GAMBAR 4.24. BAGAN PERILAKU KONSUMEN

4.2.4. Porter’s 5 Forces Analysis

Porter five forces analysis ialah sebuah model yang diciptakan oleh

Michael E. Porter pada tahun 1979. Model ini diciptakan untuk mengidentifikasi hal-hal yang mempengaruhi sebuah perusahaan dalam menciptakan sebuah strategi (Kurtz, 2008). Berikut ini adalah bagan analisis lima ancaman dalam industri bioskop di mana Blitzmegaplex berada dalam posisi pendatang baru.

GAMBAR 4.25. BAGAN PORTER’S 5 FORCES

4.2.4.1. Ancaman Pendatang Baru (Threat of new entrant)

Dalam industri bioskop di Indonesia saat ini, Blitzmegaplex memiliki

entry dan exit barrier yang tinggi. Dibutuhkan modal besar dan jaringan yang

kuat untuk masuk ke dalam industri perbioskopan, apalagi dengan adanya suasana oligopoli di mana 70% pangsa pasar dikuasai oleh pemimpin pasar. Modal besar

Ancaman Pendatang Baru / Threat of New

Entrant

• Ancaman Blitzmegaplex sebagai pendatang baru terhadap XXI memiliki derajat sedang

• Blitzmegaplex menghadapi Entry barrier dan Exit barrier tinggi

• Dibutuhkan modal besar dan jaringan yang luas untuk menjadi pemain yang kuat

Kekuatan Pemasok /

Bargaining Power of Supplier

• Kekuatan pemasok agak tinggi • Tidak ada regulasi untuk

distribusi (produser film lokal merangkap distibutor) • Pemasok film impor Hollywood

& Mandarin terkonsentrasi dalam Asosiasi Importir Film

• Pemasok sulit menyalurkan film bila tidak memiliki jalur khusus terhadap suatu bioskop

Ancaman Produk Pengganti / Threat of

Subtitude Product

• Tinggi

• Maraknya DVD bajakan dengan harga murah • Pilihan hiburan lain di kota

besar sangat banyak dan bervariasi

• Perkembangan teknologi yang cepat memicu munculnya barang-barang subtitusi berkualitas Kekuatan Pembeli / Bargaining Power of Buyer • Sedang

• Jumlah konsumen terbatas, hanya 12%dari penduduk Indonesia

• Jumlah pemain sedikit sehingga konsumen tidak memiliki banyak pilihan Tingkat Persaingan /

Competitive Rivalry • Tingkat sedang, masih terkonsentrasi di beberap wilayah saja

• Pemimpin pasar menguasai market share lebih dari 50% di seluruh Indonesia • Jumlah pemain sedikit • Biaya untuk berkompetisi

tinggi

• Struktur pasar diferentiated oligopoly

tadi juga merupakan salah satu faktor tingginya exit barrier, sebagai gambaran pengusaha bioskop yang telah memiliki gedung dengan interior dan struktur gedung bioskop akan sulit merombak sebagian strukturnya untuk dijadikan bangunan lain, ditambah lagi biaya alat-alat operasional bioskop yang tergolong mahal, sehingga beberapa bioskop yang masih bertahan memilih untuk tidak menutup bioskopnya melainkan bermain di segmen bawah dengan kualitas seadanya. Dalam satu dekade terakhir dunia perbioskopan Indonesia, hanya segelintir pengusaha bioskop yang mampu bertahan menghadapi dominasi penguasa pasar, hal ini diperburuk oleh kondisi “mati suri” perfilman nasional pada tahun 1992 – 2000. Di Jakarta sendiri, pemain baru dalam industri bioskop selain Blitzmegaplex adalah Surya M2 yang menghadirkan film-film barat serta Mandarin, terletak di pusat perbelanjaan Mangga Dua Square, namun bioskop ini tidak memiliki jaringan yang kuat dan belum menjadi kompetitor yang mengusik. Berbagai faktor di atas menyebabkan ancaman pendatang memiliki derajat sedang.

4.2.4.2. Ancaman Produk Pengganti (Threat of subtitude products)

Kemajuan teknologi memberikan dampak yang signifikan terhadap munculnya barang subtitusi menonton bioskop. Contohnya adalah perkembangan teknologi video audio home entertainment seperti VCD, DVD, home teater, playstation dan sebagainya. Bila para pelaku industri bioskop tidak mengimbangi kemajuan teknologi yang telah terimplementasi dalam industri barang subtitusi, maka industri ini akan menuju kejatuhan. Contoh nyatanya, bioskop yang

dilengkapi dengan peralatan seadanya lama kelamaan tidak akan bertahan hidup menghadapi gempuran pesaing dengan peralatan yang modern. Maraknya pembajakan film dalam bentuk DVD di Indonesia juga menjadi salah satu faktor tingginya ancaman barang subtitusi bagi pelaku industri bioskop.

Sebagai perusahaan di bidang jasa, yaitu pemutaran film, pelanggan berkewajiban meluangkan waktu dan mengeluarkan biaya untuk mendapatkan hiburan. Dengan modal yang sama ini, penyedia jasa lain seperti restaurant, karaoke, dan club juga bisa didapatkan oleh calon pelanggan. Otomatis pilihan ini juga menjadi barang subtitusi bagi industri bioskop.

4.2.4.3. Ancaman Kekuatan Pembeli (Threat of buyer’s growing

bargaining power)

Menurut Kotler, pembeli memiliki bargaining power yang tinggi bila mereka terkonsentrasi atau terorganisasi. Sedangkan di Indonesia, sebelum kemunculan Blitzmegaplex yang terjadi justru sebaliknya, yaitu pelanggan memiliki bargaining power yang rendah karena tidak bisa menentukan harga karcis bioskop. Pemimpin pasar yang mendominasi membuat pelanggan tidak memiliki banyak pilihan. Sejak kemunculan Blitzmegaplex, harga karcis bioskop kompetitor dinilai terlalu tinggi dan kemudian terjadilah kompetisi harga meskipun bukan fokus utama. Selain faktor-faktor tersebut, faktor lainnya adalah rendahnya jumlah masyarakat yang mau menonton bioskop, dari hasil survey yang dilakukan, hanya kurang dari 12% dari total populasi yang mau mengeluarkan

uangnya untuk menonton bioskop, mereka lebih memilih menonton DVD atau menunggu suatu film diputar di televisi. Berbagai faktor inilah yang mengakibatkan ancaman kekuatan pelanggan di Indonesia memiliki derajat sedang.

4.2.4.4. Ancaman Kekuatan Pemasok (Threat of supplier’s growing

bargaining power)

Dalam industri bioskop di Indonesia, di mana undang-undang tentang distribusi film dianggap sebagai sistem yang masih belum baik oleh masyarakat film, rumah produksilah yang mendistribusikan filmnya. Dalam kasus tudingan monopoli terhadap 21 Cineplex, Blitzmegaplex memiliki bargaining power yang agak rendah terhadap supplier. Blitzmegaplex menuduhkan adanya Silent

Embargo terhadap perusahaan mereka yang dilakukan oleh kompetitor, di mana

posisi kompetitor saat ini memiliki bargaining power yang cukup tinggi terhadap

supplier mereka karena memiliki jaringan yang sangat luas di seluruh Indonesia.

Apalagi Asosiasi Importir Film (AIF) yang menguasai import film-film Hollywood dan Mandarin memiliki hubungan eksklusif dengan jaringan bioskop 21 mengakibtkan perusahaan-perusahaan bioskop di luar jaringan 21 kesulitan mendapatkan film Hollywood baru sebelum film tersebut diputar di jaringan 21. Meski demikian, Blitzmegaplex juga memiliki pemasok eksklusif film-film non-Hollywood seperti film-film Eropa dan beberapa negara Asia yaitu Jive Entertainment, sehingga dari pemasok inilah Blitzmegaplex dapat memutar

film-film berkualitas yang tidak akan diputar oleh jaringan 21. Faktor-faktor di atas menyebabkan ancaman kekuatan pemasok memiliki derajat agak tinggi.

4.2.4.5. Tingkat Persaingan (Threat of intense segment rivalry)

Dalam industri bioskop Indonesia, persaingan yang terjadi tergolong sedang. Hal ini disebabkan selain karena jumlah pemain yang sedikit juga karena

market share yang didominasi oleh jaringan bioskop 21 melebihi 70% untuk

seluruh Indonesia. Struktur pasar diferentiated oligopoly ini menyebabkan Blitzmegaplex berada di posisi kurang nyaman karena harus menelurkan strategi-strategi yang lebih inovatif, dana / kapital yang sangat besar, serta pemasaran yang jitu seperti branding yang kuat untuk bersaing dengan penguasa pasar. Persaingan antara Blitzmegaplex dengan 21 Cineplex dapat dirasakan oleh para moviegoers (sebutan untuk para penggemar nonton bioskop) dengan adanya persaingan harga, event-event promo, serta akhir-akhir ini adanya isu monopoli yang berlanjut ke KPPU.

4.2.5. Mengidentifikasi dan Menganalisa Kompetitor

Dalam dokumen BAB IV PEMBAHASAN KASUS (Halaman 92-97)

Dokumen terkait