• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

27 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang merupakan salah satu sekolah negeri yang ada di wilayah Kabupaten Cilacap.SMP tersebut merupakan SMP yang didirikan pada tahun 1984.SMP Negeri 3 Majenang beralamat di Jalan Benda No.21 Padangjaya, Majenang dengan nomor telepon 0280-623158.Saat ini SMP Negeri 3 Majenang dipimpin oleh Bapak Drs. Nana Suryana., S.Pd. Berdasarkan data administrasi yang ada di SMP Negeri 3 Majenang, diketahui bahwa pada tahun akademik 2015/2016, seluruh siswa SMP Negeri 3 Majenang berjumlah 859 orang.

Fasilitas-fasilitas sekolah yang disediakan oleh SMP Negeri 3 Majenang antara lain satu aula, satu perpustakaan, satu laboratorium bahasa, satu laboratorium IPA, satu ruang komputer, satu ruang UKS, satu ruang kepala sekolah, satu ruang guru, satu ruang tata usaha, sepuluh toilet siswa, dan tiga toilet guru.Lokasi penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Majenang, dengan mengambil data primer menggunakan kuesioner yang diisi oleh siswa sebagai responden, dimana subyek yang diambil adalah siswa laki-laki kelas VII, siswa laki-laki kelas VIII dan laki-laki kelas IX.

4.1.2. Karakteristik dasar subyek penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Majenang pada tanggal 29 Januari 2016 untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pelajar SMP Negeri 3 Majenang. Design penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan deskriptif kualitatif dimana penelitian ini mengambil jumlah sampel 70 dan 4 sampel untuk di wawancarai yaitu satu siswa kelas VII, satu siswa kelas VIII, satu siswa kelas IX dan satu guru bimbingan konseling.

(2)

28 Tabel 2.Karakteristik Responden

Identitas Responden n % Umur (tahun) 12 9 12,9 13 18 25,7 14 15 21,4 15 24 34,3 16 4 5,7 Kelas VII D 7 10,0 VII E 9 12,9 VII F 8 11,4 VIII A 11 15,7 VIII B 8 11,4 VIII C 8 11,4 IX D 5 7,1 IX E 8 11,4 IX G 6 8,6

Jenis Pekerjaan Orang Tua

Buruh 25 35,7 Petani 9 12,9 Wiraswasta 13 18,6 Pedagang 11 15,7 Perangkat Desa 5 7,1 TKI 7 10,0 Jumlah 70 100 4.2. Analisis Univariat 4.2.1. Perilaku Merokok

Tabel 3.Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Pada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016

No Perilaku Merokok Frekuensi Persentase (%)

1. Merokok 36 51,9

2. Tidak Merokok 34 48.6

Jumlah 70 100

(3)

29 Berdasarkan tabel.3 diatas maka dapat dilihat bahwa 70 responden yang diteliti ditemukan mayoritas siswa merokok, yaitu sebanyak 36 responden (51,9%). 4.2.2. Pengetahuan

Tabel 4.Distribusi Frekuensi PengetahuanPada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016

Berdasarkan tabel.4 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 70 responden yang diteliti ditemukan siswa memiliki pengetahuan baik 35 (50%) dan pengetahuan kurang 35 (50%).

4.2.3. Psikososial

Tabel 5.Distribusi Frekuensi Psikososial Pada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016

Berdasarkan tabel.5 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 70 responden yang diteliti ditemukan mayoritas psikososial siswa mempengaruhi perilaku merokok, yaitu sebanyak 42 responden (60.0%).

No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

1. Baik 35 50

2. Kurang 35 50

Jumlah 70 100

Sumber : Kuisioner

No Psikososial Frekuensi Persentase (%)

1. Mempengaruhi 42 60

2. Tidak Mempengaruhi 28 40

Jumlah 70 100

(4)

30 4.2.4. Sikap

Tabel 6.Distribusi Frekuensi Sikap Pada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016

No Sikap Frekuensi Persentase (%)

1. Positif 16 22,9

2. Negatif 54 77,1

Jumlah 70 100

Sumber : Kuisioner

Berdasarkan tabel. 6 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 70 responden yang diteliti ditemukan mayoritas sikap siswa negatif terhadap perilaku merokok, yaitu sebanyak 54 responden (77,1).

4.3. Analisis Bivariat

4.3.1. Hubungan Pengetahuan terhadap Perilaku Merokok pada Siswa Laki-Laki

Adapun hasil tabulasi silang antara pengetahuan dengan perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 7.Hubungan Pengetahuan Terhadap Perilaku Merokok Pada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016

No Pengehatuan

Perilaku Merokok

Jumlah Uji Statistik Merokok Tidak Merokok F % F % F % p-value PR CI 1 Kurang 22 31,4 13 18,6 35 50 p=0,017 1,769 1,081-2,896 2 Baik 12 17,1 23 32,9 35 50 Jumlah 34 48,6 36 51,4 70 100

(5)

31 Berdasarkan tabel .7 diatas, dari 35 responden yang memiliki pengetahuan baik terdapat 12 responden (17,1%) yang merokok dan 23 responden (32,9%) tidak merokok. Dari 35 responden yang memiliki pengetahuan kurang terdapat 22 responden (31,4%) yang merokok dan 13 responden (18,6%) tidak merokok.

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai p-value 0,017 yang berarti lebih kecil dari α-value 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016. Dan Pelajar yang mempunyai pengetahuan kurang memiliki resiko merokok sebesar 1,769 kali dibandingkan dengan pelajar yang memiliki pengetahuan baik (PR: 1,769, Cl 95%: 1,081-2,896).

4.3.2. Hubungan Psikososial terhadap Perilaku Merokok pada Siswa Laki-Laki

Tabel 8. Hubungan Psikososial Terhadap Perilaku Merokok Pada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun

2015/2016

Berdasarkan tabel.8 diatas, dari 42 responden yang mendapat pengaruh psikososial terdapat 25 responden (35,7%) yang merokok dan 17 responden (24,3%) yang tidak merokok. Dari 28 responden yang tidak mendapat pengaruh psikososial No Psikososial

Perilaku Merokok

Jumlah Uji Statistik Merokok Tidak Merokok f % F % F % p-value PR CI 1 Mempengaruhi 25 35,7 17 24,3 42 60 p=0,02 5 1,6 76 1,073-2,620 2 Tidak Mempengaruhi 9 12,9 19 27,1 28 40 Jumlah 34 48,6 36 51,4 70 100

(6)

32 terdapat 9 responden (12,9%) yang merokok dan 19 responden (27,1%) yang tidak merokok.

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai p-value 0,025 yang berarti lebih kecil dari α-value 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara psikososial terhadap merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016. Dan Pelajar yang mempunyai psikososial mempengaruhi memiliki resiko merokok sebesar 1,676 kali dibandingkan dengan pelajar yang psikososialnya tidak mempengaruhi (PR: 1,676, Cl 95%: 1,073-2,620).

4.3.3. Hubungan Sikap Terhadap Perilaku Merokok Pada Siswa Laki-Laki Tabel 9.Hubungan Sikap Terhadap Perilaku Merokok Pada Siswa Laki-Laki Di

Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016

No Sikap

Perilaku Merokok

Jumlah Uji Statistik Merokok Tidak Merokok F % F % F % p-value PR CI 1 Negatif 30 42,9 24 34,3 54 22,9 p=0,032 1,68 8 1,119-2,545 2 Positif 4 5,7 12 17,1 16 77,1 Jumlah 34 48,6 36 51,4 70 100

Berdasarkan tabel. 9 dari 16 responden yang memiliki sikap positif terdapat 4 responden (5,7%) yang merokok dan 12 responden (17,1%) yang tidak merokok. Dari 54 responden yang memiliki sikap negatif terdapat 30 responden (42,9%) yang merokok dan 24 responden (34,3%) yang tidak merokok.

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh p-value 0,032 yang berarti lebih kecil dari α-value 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara sikap terhadap perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama

(7)

33 Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016. Dan Pelajar yang mempunyai sikap negatif memiliki resiko merokok sebesar 1,688 kali dibandingkan dengan pelajar yang memiliki sikap positif (PR: 1,688, Cl 95%: 1,119-2,545).

4.4. PEMBAHASAN

4.4.1. Pengaruh Pengetahuan terhadap Perilaku Merokok pada Siswa Laki-Laki

Berdasarkan penelitaian diatas dapat diketahui bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016.Hal ini dapat dilihat dari tabel. 7 diatas, dari 35 responden yang memiliki pengetahuan baik terdapat 12 responden (17,1%) yang merokok dan 23 responden (32,9%) tidak merokok. Dari 35 responden yang memiliki pengetahuan kurang terdapat 22 responden (31,4%) yang merokok dan 13 responden (18,6%) tidak merokok.

Hasil penelitian ini juga terbukti setelah diuji statistik uji chi-square, dimana didapatkan nilai p-value 0,017 lebih kecil dari nilai α-value 0,05, yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan. Dengan kata lain ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002), pengetahuan (knowledge) adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra menusia yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( over behavior ).

Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam terbentuknya tindakan seseorang.Lawrence Green sebagaimana dikutip oleh Notoatmodjo (2007)

(8)

34 menyatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan faktor predisposisi, termasuk diantaranya adalah pengetahuan.Sementara itu, WHO dalam Notoatmodjo (2007) menganalisis bahwa pengetahuan merupakan salah satu alasan pokok yang menyebabkan seseorang berperilaku.Dalam hal merokok, dapat dijelaskan bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang baik terkait rokok cenderung untuk tidak merokok, sebalinya responden yang memiliki pengetahuan yang kurang tentang merokok cenderung berperilaku merokok.

Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian Helmi Faradilla (2008) yang menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku merokok terutama pada remaja. Hasil penelitian mereka memperlihatkan bahwa dengan memiliki pengetahuan yang baik tentang rokok maka perilkau merokok akan jarang dilakukan, begitu pula sebaliknya. Nilai p-value 0,017.

Dari literatur dan hasil penelitian yang peneliti temui, pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki.Banyaknya remaja yang merokok disebabkan kurangnya pengetahuan remaja tentang rokok.Keterbatasan dalam penelitian ini yaitupeneliti tidak melakukan penelitian dilihat dari tingkat kecerdasan responden.Hal ini dilakukan karena peneliti mengambil data responden secara acak, namun dari hasil wawancara dengan guru bimbingan konseling yang menangani siswa yang bermasalah dengan merokok siswa yang merokok memiliki prestasi yang rendah dibandingkan siswa yang berprestasi baik di kelasnya.

4.4.2. Pengaruh Psikososial terhadap Perilaku Merokok pada Siswa Laki-Laki Berdasarkan penelitian diatas dapat diketahui bahwa psikososial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016.Hal ini dapat dilihat dari tabel. 8 diatas, dari 42 responden yang mendapat pengaruh psikososial terdapat 25 responden (35,7%) yang merokok dan 17 responden (24,3%) yang tidak

(9)

35 merokok. Dari 28 responden yang tidak mendapat pengaruh psikososial terdapat 9 responden (12,9%) yang merokok dan 19 responden (27,1%) yang tidak merokok.

Hasil penelitian ini juga terbukti setelah dilakukan uji statistik chi-square, dimana dapat nilai p-value 0,025 lebih kecil dari nilai α-value 0,05, yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan. Dengan kata lain ada hubungan yang signifikan antara psikososial terhadap perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016.

Perubahan perilaku seseorang terjadi karena memperhatikan, mencontoh atau meniru perilaku orang lain. Dalam hal merokok, perilaku merokok terbentuk karena melihat atau mencontoh orang di sekitar terutama teman dan keluarga yang merokok (Nasution, 2007). Remaja akan terus merokok jika bergaul dengan teman yang merokok. Hal ini didukung oleh yang dikemukakan Jessor dalam susiana (2007) bahwa perilaku merokok remaja terjadi karena pengaruh dan tekanan dari teman sebaya, remaja biasanya merokok bersama orang lain terutama teman sebaya. Remaja akan menghisap banyak batang rokok bersama temananya yang juga perokok daripda saat dia sedang sendirian.

Melalui hubungan teman sebaya, remaja belajar mengambil keputusan sendiri dan melakukan segala hal dengan mandiri serta mempelajari pola perilaku yang diterima dan dilakukan oleh teman atau kelompoknya (Carson dan Butcher, 2005).Hal ini dilakukan agar mendapat pengakuan dan penerimaan dari teman atau kelompok tersebut.Kelompok dan teman sebaya merupakan hal yang penting bagi remaja sehingga mereka cenderung mengikuti perilaku yang diterima oleh kelompoknya.Yusuf (2008), mengungkapkan bahwa hal yang mempengaruhi remaja merokok paling besar adalah teman satu kelompok yang merokok.Remaja terjebak dalam perilaku merokok agar memperoleh keuntungan psikososial antara lainagar diterima dalam lingkungan sebaya, ingin terlihat lebih dewasa dan merasa lebih nyaman.

Riskesdas (2010),menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berprilaku adalah karena berbagai alasan pokok antara lain pemikiran dan perasaan

(10)

36 (though and feeling) dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, nilai-nilai seseorang terhadap obyek, sumber-sumber daya (resources), yakni mencakup fasilitas-fasilitas, uang, waktu, serta kebudayaan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Novi Frihartine (2013),tentang hubungan psikososial, psikologi dan sosial dengan perilaku merokok.Hasil penelitian menunjukan bahwa psikososial yang buruk mempengaruhi perilaku seseorang dalam berprilaku terutama merokok. Nailai p-value yang diperoleh adalah p = 0,0023 (p < 0,01).

Dari literatur dan hasil penelitian yang peneliti temui, bahwa psikososial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki hal ini karena siswa tersebut ingin diakui oleh teman kelompoknya. Keterbatasan dari penelitian ini yaitu: peneliti hanya menyebarkan kuisioner kepada responden dan tidak melakukan pertanyaan secara mendalam tentang psikososial yang paling menyebabakan responden tersebut merokok. Sehingga hal tersebut bisa menjadi biasa dalam penelitian.

4.4.3. Pengaruh Sikap terhadap Perilaku Merokok pada Siswa Laki-Laki Berdasarkan penelitian diatas dapat diketahui sikap merupakansalah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016.Hal ini dapat dilihat dari tabel. 9 diatas, dari 16 responden yang memiliki sikap positif terdapat 4 responden (5,7%) yang merokok dan 12 responden (17,1%) yang tidak merokok. Dari 54 responden yang memiliki sikap negatif terdapat 30 responden (42,9%) yang merokok dan 24 responden (34,3%) yang tidak merokok.

Hasil penelitian ini juga terbukti setalah dilakukan uji chi-square, diamana didapat nilai p-value 0,032 lebih kecil dari nilai α-value 0,05, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan. Dengan kata lain ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku merokok pada siswa laki-lakidi Sekolah Menengan Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016.

(11)

37 Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tidakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka.Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek dilingkukan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek (Notoatmodjo, 2010).

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa sikap merokok masih bisa dirubah agar tidak menjadi perilaku merokok. Sikap adalah produk dari proses sosialisasi dimana pengetahuan dan pengalaman diolah dalam alam pikiran menjadi sebuah ide yang sudah terbentuk namun belum dicetuskan dalam bentuk tidakan. Sikap seseorang mengenai merokok masih dapat berubah, terutama sikap anak, bila seseorang mendapatkan masukan-masukan, pengalaman-pengalaman, atau perilaku lingkungan yang positif yang tidak mendukung perilaku merokok. (Wawolumaya, 2009)

Sikap tidak selalu konsisten dengan perilaku karena antara sikap dan perilaku ada faktor penghubung yaitu niat, dan niat itu sendiri dipengaruhi banyak hal, baik dari dalam diri sendiri maupun faktor luar, misalnya tekanan sosial.Sikap juga dipengaruhi oleh kepercayaan, apabila seseorang tidak percaya (baik dari hasil pengamatan ataupun informasi yang diterima) bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan, maka kemungkinan remaja untuk berprilaku merokok adalah besar. Sikap adalah salah satu variabel yang mempengaruhi perilaku dan masih banyak variabel lain yang juga berpengaruh terhadap timbulnya suatu perilaku.Notoatmodjo (2010) menganalisis perilaku dengan bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari niat untuk bertindak, dukungan sosial dari masyarakat, otonomi pribadi dalam pengambilan keputusan atau tindakan , dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak.

Penelitain yang dilakuakan oleh Novi Frihartine (2013)tentang hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku merokok pada mahasiswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang bersikap negatif terhadap rokok akan cenderung merokok dibandingkan dengan responden yang bersikap positif terhadap rokok. Nilai p-value 0,003 (p < 0,05).

(12)

38 Dari literatur dan hasil penelituan yang ditemui, bahwa sikap seseorang mempengaruhi perilaku orang tersebut. Sikap yang ditimbukan terhadap perilaku merokok akan mempengaruhi individu tersebut dalam mengambil keputusan untuk berprilaku. Sikap negatif terhdap rokok berarti mendukung terhadap adanya rokok dan perokok maka orang tersebut akan ikut sebagai perokok dan sebaliknya jika bersikap positif terhadap rokok, orang tersebut cenderung tidak merokok. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu: terdapat 4 responden yang bersikap positif terhadap rokok namun mereka juga perokok, hal tersebut sesuai dengan pernyataan mereka. Bahwa mereka sebenarnya tidak menyukai perokok karena asap rokok mereka yang ditimbulkan mengganggu orang lain, setelah ditanya kenapa mereka juga merokok. Dan responden mendapat masukan-masukan yang positif dari keluarga, begitu keluarga tahu kalau responden merokok.Tapi ternyata masukan-masukan positif ini tidak dapat langsung merubah perilaku merokok. Perilaku merokok akan lebih sulit diubah menjadi perilaku tidak merokok. Dibandingkan merubah sikap merokok sebelum menjadi perilaku merokok.

Gambar

Tabel  3.Distribusi  Frekuensi  Perilaku  Merokok  Pada  Siswa  Laki-Laki  Di  Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016
Tabel 4.Distribusi Frekuensi PengetahuanPada Siswa Laki-Laki Di Sekolah  Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016
Tabel 6.Distribusi Frekuensi Sikap Pada Siswa Laki-Laki Di Sekolah Menengah  Pertama Negeri 3 Majenang Tahun 2015/2016
Tabel 8. Hubungan Psikososial Terhadap Perilaku Merokok Pada Siswa Laki- Laki-Laki Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Majenang Tahun

Referensi

Dokumen terkait

a) Fungsi informatif, yaitu organisasi dipandang sebagai suatu sistem proses informasi. Bermakna seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang

Yang dimaksud kegelisahan yang beralih ke hukum, bahwa orang yang merasa gelisah karena harus menanggung berbagai macam kewajiban dan beban perintah, apalagi

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi selama menjalani pidana bersyarat yaitu syarat umum dan syarat khusus sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 73

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh pada tahap observasi. Berdasarkan hasil analisa data dilakukan refleksi guna melihat

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil penelitian berasal dari distribusi yang normal atau tidak. Dalam penelitian ini, untuk menguji normal

Belajar, bermain adalah masa pertumbuhan yang dilalui oleh anak- anak. Pelaksanaan kegiatan bermain maupun belajar untuk anak diperlukan dorongan yang membuat kegiatan

Kedua, faktor yang menjadi kekuatan dalam pemberdayaan melalui Industri Kerajinan Batik Kayu di desa Krebet adalah bahan baku kayu yang melimpah; dukungan dari

Dengan adanya permasalahan yang diuraikan tersebut, khususnya terkait kinerja karyawan yang kurang baik dalam memanfaatkan sistem informasi akuntansi pada BPR