Artinya : “D an sesungguhnya kami telah menganugrahkan hikmah kepada
E. Pendapat Mufassir Tentang Surat Lukman Ayat 13
3
َ)
نامقلَ واَلىَِعمست
:{
َ للَّ بَ ك ر ش تَلَّ نَ بَ يَ
َ شلاَ ن ِ
ٌَ ه ظ عٌَ ى ظ لَ ك ر
}
Artinya:“Jawab beliau “ bukankah kamu telah mendengarkan wasiat
Lukman terhadap anaknya: Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah
kezaliman yang sangat besar. (H.R Bukhori no. 3360). (Fahrudin,
2011:413)
E. Pendapat Mufassir Tentang Surat Lukman Ayat 13
Berikut para pendapat mufassir yang menurut penulis baik buat sebagai acuan:
1. Tafsir al-misbah (Quraish Sihab)
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalahbenar-benar kezaliman yang besar.”(Fahrudin, 2011:413)
Kata (
هظعي
) ya’izhuhu terambil dari kata (ظعو
) wa’zh yaitu nasehat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati, ada juga yang mengartikanya sebagai ucapan yang mengendung peringatan48
dan ancaman. Penyebutan kata ini sesudah kata “dia berkata” untuk memberi gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak, kata ini juga mengisyaratkan bahwa nasehat itu dilakukanya dari saatke saat, sebagaimana dipahami dari bentuk kata kerja masa kini dan datang pada kata (
ُه ُظ َي ِع
) ya’izhuhu.Sementara Ulama yang memahami kata (
َظ َع َو
), dalam arti ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman, berpendapat bahwa kata tersebut mengisyaratkan bahwa anak Lukman itu adalah seorang musyrik sehingga seorang ayah yang menyandang hikmah itu terus-menerus menasehatinya sampai anak mengakui tauhid, hemat penulis, pendapat yang antara lain dikemukakan oleh Thahir Ibn Asyur ini sekedar dugaan yang tidak memiliki dasar yang kuat, nasehat dan ancaman tidak harus di kaitkan dengan kemusyrikan. Disisi lain, bersangka baik pada anak Lukman jauh lebih baik dari pada berpresangkan buruk.Kata (
َي ُب َن
) bunayya adalah patron yang menggambarkan kemungilan asalnya adalah (ي ِن ِا ْب
) Ibny dari kata (ن ِا ْب
) Ibn yakni anak laki-laki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayang . dari sini kita dapat berkata bahwa ayat di atas memberi isyarat bahwa mendidik hendaknya di dasari oleh kasih sayang terhadap peserta didik.49
Lukman memulai nasehatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik atau persekutuan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud dan keEsaan Allah. Bahwa redaksi pesanya berbentuk larangan jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan sesutu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. “At-Takhliyah Muqoddamun Ala at-Tahliyah” (penyingkiran keburukan lebih utama dari pada menyandang perhiasan). (Syihab, 2002:298)
Dalam pendapat diatas menjelaskan bahwa pendidikan yang harus di terapkan kepada anak dalam surat Lukman ayat 13 meliputi:
Pertama dalam segi penyampaian/nasehat kepada anak, seperti dalam surat terdapat kata “Hai anakku”kata ini menunjukan bahwa Lukman dalam memberi peringatan kepada anaknya tidak membentak/kasar.
Orang tua tidak hanya memberi peringatan kepada anaknya saja tetapi juga harus dapat menjadi suri tauladan yang baik, dengan cara menumbuhkan akhlak baik kepada diri-sendiri (orang tua) agar bisa menjadi contok untuk anaknya, dan bisa lebih mudah untuk di tiru oleh anak.
Kedua yaitu tentang pendidikan tauhid, dalam pendapat Quraisy Shihab mengatakan “janganlah kamu mempersekutukan AllahSWT” ini adalah peringatan yang kata pertama yang di katakan oleh Lukman tentang ketauhidan, pendidikan tauhid ini adalah dasar utama untuk bisa
50
melaksanakan ibadah-ibadah lainya, oleh sebab itu seorang anak pertama-tama harus di beri pendidikan tauhid terlebih dahulu sebelum menerima pendidikan-pendidikan yang lainnya. Ketika berusia 7 tahun suruh anak untuk mengerjakan sholat tentunya menggunakan suruhan dengan disertai kasih sayang. Apabila anak membangkang boleh di beri panismen
(hukuman) seperti dalam hadis dijelaskan: Rasulullah SAW bersabda:
َ للَّاَ و ل رَ ا ا
-صلى الله عليه وسلم
:
َ
َا ه ه ى عَ هو ب ر ضا َ ي ن لَ ع ب لَ ءا ن ب أَ ه َ ة ل َّل بَ ك د لّ أَا ر م
َ ع جا ض م لاَ فَِ ه ن ه بَاو ا ر ف َ ي ن لَ ر ش عَ ءا ن ب أَ ه
.
Artinya:“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).
Dan yang ketiga adalah tentang kezaliman yang harus tidak dilakukan oleh anak. Agar kezaliman tidak dilakukan oleh anak maka harus di tanamkan terlebih dahulu ketauhidan pada anak seperti yang sudah di jelaskan di paragraf di atas. Karena dengan ketauhidan yang kuat, keimanan juga akan kuat, dan tidak akan melakukan perbuatan zalim.
2. Tafsir dari Nurul Quran (Alamah Kamal Faqih Imani)
Dalam tafsir Nurul Quran menjelaskan bahwa pelajaran merupakan salah satu cara untuk menyeru kepada kebenaran dan tak ada seorangpun yang tidak membutuhkanya. Salah satu nama lain al-Quran adalah pelajaran (al-Mauizzah). surah Yunus ayat 57, menegaskan “hai manusia,
51
sesungguhya telah datang kepadamu pelajaran dari tuhanmu”. Dalam
kitab-kitab hadits ada bab khusus yang membahas tentang pelajaran.
Sebagian ayat al-Quran menyatakan bahwa Rosulullah SAW adakalanya meminta Jibril supaya memberi pelajaran kepadanya. Ali bin Abi Tholib as adakalanya pula meminta sebagian dari sahabat-sahabat beliau supaya memberi pelajaran kepadanya karena mendengar pelajaran itu akan berdampak bagi orang yang mendengarkan apabila ia tidak tau
(murtadha mutahhari, dan guftar).
Dalam kandungan ayat Lukman ayat 13 ini adalah nasehat Lukman yang mengejarkan bahwa manusia itu harus berpegang teguh pada ideologi yang paling mendasar yaitu ideologi tauhid dan memiliki tauhid dalam segala aspek dan dimensi kehidupan. Segala gerak yang bersifat destruktif
dan melawan AllahSWT berakar dari mempersukutukan AllahSWT . kesukaan pada uang, memuja tahta, nafsu birahi dan semacamnya termasuk cabang-cabang dari mempersekutukan AllahSWT. Sebaliknya akar dari gerak yang benar dan konstruktif adalah tauhid. Tauhid ini hanya bersandar kepada AllahSWT, mematuhi perintahnya, berlepas diri dari selainnya dan mengahancurkan segala berhala di dalam wilayah kekuasaanya.
Perlu di tekankan, Lukman menyebut mempersekutukan AllahSWT adalah benar-benar kezaliman yang besar. Sebagai alasan untuk meninggalkan syirik dan pernyataan yang menyangkut beberapa aspek. Beberapa aspek kezaliman dari perbuatan syirik ini demikian luasnya
52
sehingga bukan hanya berkaitan dengan AllahSWT, yaitu mempersekutukan Allah SWT dengan makhluk yang tidak setara dengaNya, namun juga berkaitan dengan umat manusia sebagai hamba-hamba AllahSWT. Dengan perbuatan jahatnya, mereka akan menciptakan kezaliman dan memalingkanmereka dari memuliakan menyembah AllahSWT sehingga jatuh ke jurang kenistaan menyembah makluk selain AllahSWT. (Imani, 2008:279-280)
Dalam tafsir yang kedua juga menekankan pada ideologi ketauhidan, tidak hanya beriman kepada AllahSWT tetapi juga berurusan dalam duniawi yaitu melakukan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya seperti sholat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya. Kemudia jika tauhid adalah dasar keimanan dan amal ibadah, maka dasar dari keburukan dan dosa adalah kezaliman/mempersekutukan AllahSWT. Perbuatan zalim/mempersekutukan AllahSWT Tidak hanya mempersekutukan AllahSWT dengan makhluk yang tidak setara dengaNya, namun juga berkaitan dengan umat manusia sebagai hamba-hamba AllahSWT, seperti perbuatan-perbuatan jahatnya.
3. Tafsir an-Nur (Muhammad Hasbi Asy-Shiddiqie)
Dalam tafsir an-Nur menjelaskan bahwa ada peringatan kepada anak yang berbunyi “Ingatlah wahai Rosul pelajaran yang diberikan oleh Lukman kepada anaknya, ketika dia menyuruh anaknya untuk menyembah
AllahSWT semata, melarang mempersekutukan AllahSWT, serta
53
besar.”Lukman berkata “ wahai anaku janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan AllahSWT, karena mempersekutukan Allah itu suatu kezaiman (dosa) yang besar. Tidak ada kezaliman yang besar dari kezaliman ini.
Kezaliman adalah meletakan sesuautu bukan pada tempatnya, orang
yang menyamakan makluk pada dengan penciptanya atau menyamakan berhala dengan AllahSWT adalah orang yang menempatkan sesutu bukan pada tempatnya yang benar. Karena itu, pantaslah dia dinamai dzalim.
Inilah kedudukan fungsi ayah yaitu memberi pelajaran kepada anak-anaknya dan menunjuki mereka pada kebenaran dan menjauhkan mereka dari kebinasaan. (Hasbi, 2000:3207)
Dalam tafsir yang ketiga memberikan penjelasan yang lebih singkat yaitu tentang pendidikan tauhid dan kezaliman yang di jelaskan lebih luas yaitu “Kezaliman adalah meletakan sesuautu bukan pada tempatnya” dan juga menekankan pada fungsi dari orang tua terhadap anak atau lebih tepatnya tanggung jawab orang tua terhadap anak yang harus di laksanakan sebagai orang tua yang muslim.
54 BAB IV