• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

4. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah yang berupa, pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara singkat adalah pendapatan yang diperoleh daerah berdasarkan peraturan daerah. Sebagai mana yang dimaksud dalam UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangan-undangan.

17

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan penerimaan daerah yang bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk menandai pelaksanaan pembangunan dan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai wujud desentralisasi.

Sumber Pendapatan Asli Daerah ada berbagai macam, berdasarkan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, terdiri dari :

1) Pajak Daerah, pajak daerah merupakan pungutan daerah menurut peraturan daerah yang dipergunakan untuk membiayai urusan rumah tangga daerah sebgai badan hukum.

2) Retribusi Daerah, retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau pekerjaan atau pelayanan pemerintah daerah dan jasa usaha milik daerah bagi yang berkepentingan atas jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.

3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang terpisah, bagian badan usaha milik daerah ialah bagian keuntungan atau laba bersih dari perusahaan daerah atas badan lain yang merupakan dan usaha milik daerah. Sedangkan perusahaan daerah adalah perusahaan yang modalnya sebagian atau seluruhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, jenis pendapatan ini dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD, bagian laba atas penyertaan modal milik perusahaan Negara/BUMN, dan bagian laba atas

penyertaan modal milik perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.

4) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, merupakan penerimaan selain yang disebutkan diatas tapi sah. Penerimaan ini mencakup sewa rumah dinas daerah, sewa gedung dan tanah milik perusahaan milik daerah dan penerimaan – penerimaan lain yang sah menurut Undang – Undang. Hasil penjualan kekayaan-kekayaan daerah yang tidak dipisahkan secara tunai atau angsuran atau cicilan, seperti jasa giro, pendapatan bunga, penerimaan atas tuntutan ganti rugi daerah,penerimaan komisi, penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, pendapatan denda pajak, pendapatan denda retribusi, pendapatan hasil eksekusi atas jaminan, pendapatan dari pengembalian, fasilitas sosial dan fasilitas umum, pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, pendapatan dari badan layanan umum daerah (BLUD).

B. Tinjauan Empiris

Dalam melakukan penelitian ini, untuk menunjang analisis dan landasan teori yang ada maka diperlukan penelitian terdahulu sebagai pendukung bagi penelitian ini yang berkaitan dengan kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Penelitian tersebut memberikan hasil atau kesimpulan yang berbeda-beda tergantung dari objek, subjek, data serta variabel yang digunakan

19

dalam penelitian. Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama

(Tahun) Judul Metode

Penelitian Hasil Penelitian 1 Arnida

Dari hasil penelitian fenomena yang terjadi hanya pada penerimaan pajak hotel tahun 2014 dan pajak restoran tahun 2015 yang telah mencapai target yang direncanakan. Dimana penerimaan pajak hotel pada tahun 2014

sebesar Rp.

81.642.581.350,74 sudah melebihi target

sebesar Rp. sudah melebihi target sebesar

123.215.837.083 atau mencapai 100,97%.

Akibat dari fenomena

yang terjadi

menandakan bahwa sumber-sumber

pendapatan asli daerah (PAD) seperti pajak hotel dan pajak restoran terus mengalami penurunan pada tahun tahun-tahun sebelumnya tidak mencapai target yang telah ditetapkan.

2 Wahyu Suci Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah, 2) pajak restoran berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/

Kota Provinsi Jawa Tengah, 3) Pajak penerangan jalan berpengaruh positif signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota Provinsi efektif, dengan rata-ratatingkat efektivitasnya

adalah sebesar

157,58%. Presentase kontribusi terbesar berada pada tahun 2013 sebesar 1,79% dan restoran karena pajak ini merupakan salah satu sumber penerimaan yang potensial di Minahasa Selatan.

21 serta tingkat signifikan penelitian (0,350 >

0,050), (2) kontribusi pajak restoran memiliki nilai thitung yang lebih kontribusi pajak hotel dan pajak restoran memiliki nilai Fhitung yang lebih besar dari nilai Ftable (6,709 > 3,470) serta tingkat signifikansi yang lebih rendah dari tingkat signifikansi penelitian (0,006<0,050) dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 39%. Dengan demikian, kontribusi pajak hotel dan pajak restoran tidak berpengaruh signifikan terhadap Pad kabupaten sleman secara parsial.

Akan tetapi, jika dilakukan pengujian secara simultan, maka kontribusi pajak hotel dan pajak restoran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PAD Kabupaten Sleman. penelitian Tahun 2013-2017 (studi pada dinas badan pengelolaan pajak dan retribusi

daerah), dapat

disimpulkan bahwa hasil

Ekonomi Islam analisis uji efektivitas dan hasil analisis kontribusi pajak hotel terhadap PAD Kota

pemungutan pajak hotel dari tahun 2013-2017 mengalami

perkembangan yang berfluktuasi. Pajak hotel memberikan kontribusi nilai/rata-rata sebesar 0,40% kemudian nilai yang di dapat dari hasil perhitungan efektivitas kontribusi masuk dala, nilai diantara 0,00% - 10% atau kriteria sangat kurang efektif dan pencapaian efektivitas untuk realisasinya masih belum dapat mencapai targetnya dimana presentasenya masih menunjukkan dibawah 100%.

C. Kerangka Konsep

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang berasal dari potensi yang ada pada daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Salah satu sumber pendapatan asli daerah berasal dari sektor pajak daerah yang memiliki peran besar bagi pembiayaan daerah. Pajak hotel dan restoran adalah salah satu pajak daerah yang memiliki potensi paling besar. Dalam pemungutan

23

pajak harus dilakukan secara efektif dan efisien. Pajak yang dipungut dengan efektif dan efisien akan mengoptimalkan penerimaan sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba menggambarkan kerangka konsep untuk mempermudah dalam memahami arah tujuan penelitian dan juga berfungsi sebagai acuan berpikir dan dasar perumusan hipotesis. Adapun kerangka konsep terlihat pada gambar adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Konsep

D. Hipotesis

Berdasarkan permasalahan dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga bahwa pajak hotel dan restoran memiliki kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo.

Pajak Hotel Indikatornya yaitu : 1. Tarif pajak hotel 2. Dasar pengenaan pajak hotel

Pajak Restoran Indikatornya yaitu : 1. Tarif pajak restoran 2. Dasar pengenaan pajak restoran Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Indikatornya yaitu : Pajak daerah

24 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode yang berdasar filsafat positivisme bertujuan menggambarkan dan menguji hipotesis yang dibuat peneliti (Sugiyono, 2018:15). Penelitian kuantitatif memuat banyak angka-angka mulai dari pengumpulan, pengolahan, serta hasil yang didominasi angka.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil dan mengumpulkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palopo dan Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Palopo.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian telah dilakukan selama 2 bulan terhitung dari bulan September 2021 sampai dengan November tahun 2021.

C. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Dalam penelitian ini menggunakan beberapa variabel yang terkait, antara lain sebagai berikut.

1. Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.

Sedangkan yang dimaksud dengan hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk

25

pariwisata, wisma pariwisata, pesangrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari sepuluh.

Variabel ini diukur dalam satuan rupiah.

2. Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. sedangkan yang dimaksud dengan restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Variabel ini diukur dalam satuan rupiah.

3. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah. PAD terdiri dari : pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD). Besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dinyatakan dalam satuan rupiah.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mengumpulkan data yang bersumber dari obyek yang akan diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dengan metode dokumentasi yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen instansi terkait. Sebagai pendukung data juga diperoleh dari buku – buku, jurnal dan browsing internet yang terkait dengan pajak hotel, pajak restoran serta PAD.

E. Teknik Analisis Data

Teknik ini merupakan teknik yang dipakai untuk memprediksi mengenai hasil penelitian guna mendapatkan suatu kesimpulan.

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka dalam penelitian ini menggunakan metode kontribusi dan untuk menjawab permasalahan yaitu tentang seberapa besar kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah di Kota Palopo, dengan menghitung presentase pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berikut ini rumus perhitungan kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) :

πΎπ‘œπ‘›π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘π‘’π‘ π‘– = π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜ π»π‘œπ‘‘π‘’π‘™

π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› 𝐴𝑠𝑙𝑖 π·π‘Žπ‘’π‘Ÿπ‘Žβ„Ž (𝑃𝐴𝐷)Γ— 100

πΎπ‘œπ‘›π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘π‘’π‘ π‘– = π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜ π‘…π‘’π‘ π‘‘π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›

π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› 𝐴𝑠𝑙𝑖 π·π‘Žπ‘’π‘Ÿπ‘Žβ„Ž (𝑃𝐴𝐷) Γ— 100

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Keadaan Geografis Kota Palopo

Kota palopo adalah sebuah kota di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota palopo sebelumnya berstatus kota administratif sejak 1986 dan merupakan bagian dari Kabupaten Luwu yang kemudian berubah menjadi kota pada tahun 2002 sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2002 tanggal 10 april 2002.

Secara Geografis, Kota Palopo terletak antara 2ΒΊ53’15” - 3ΒΊ04’08”

Lintang Selatan dan 120ΒΊ03’10” - 120ΒΊ14’34” Bujur Timur. Kota Palopo sebagai daerah otonom hasil pemekaran dari kesatuan Tanah Luwu yang saat ini menjadi empat bagian, dimana disebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Walenrang Kabupten Luwu, disebelah Timur dengan Teluk Bone, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bua Kabupaten Luwu, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tondon Nanggala Kabupaten Tana Toraja.

Luas wilayah administrasi Kota Palopo sekitar 247,52 km persegi atau sama dengan 0.39% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Dengan potensi luas wilayah seperti itu, oleh pemerintah Kota palopo telah membagi wilayah kota palopo menjadi 9 kecamatan dan 48 kelurahan pada tahun 2005. Kecamatan terluas di Kota Palopo adalah Kecamatan Wara Barat dengan luas 54,13 km persegi atau mencakup 21,87 perseb dari luas kota palopo secara keseluruhan. Sedangkan, kecamatan dengan

luas terkecil adalah kecamatan wara utara dengan luas 10,58 km persegi atau hanya sebesar 4,27 persen dari luas kota palopo.

Jarak kota palopo ke ibukota provinsi sulawesi selatan, kota makassar, adalah 390 km. Jarak seluruh ibukota kecamatan ke ibukota kota palopo semua relatif dekat, berkisar antara 1-5 km, yang terjauh adalah ibukota kecamatan telluwanua dengan jarak tercatat sekitar 12,00 km.

Tabel 4.1 Luas Daerah Menurut Kecamatan di Kota Palopo

Kecamatan Ibukota Kecamatan Luas Daerah

Wara Selatan Songka 10,66

Sendana Sendana 37,09

Wara Dangerakko 11,49

Wara Timur Malatunrung 12,08

Mungkajang Mungkajang 53,80

Wara Utara Salubulo 10,58

Bara Temmalebba 23,35

Telluwanua Maroangin 34,34

Wara Barat Tomarundung 54,13

Palopo 247,52

Palopo 252,99

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kota Palopo, Tahun 2021

Iklim di kota palopo pada umumnya sama dengan daerah lainnya di Indonesia yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Pada tahun 2020 bulan april menjadi bulan dengan curah hujan tertinggi yaitu 543 mm3 dengan jumlah hari hujan sebanyak 25 hari.

Sebagai catatan, karena tidak terdapat perwakilan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika di Kota Palopo, maka sumber data curah hujan mengacu pada data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Maros.

29

2. Gambaran Umum Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Palopo a. Sejarah Singkat Badan Pendapatan Daerah Kota Palopo

Sebelum terbentuknya Bapenda di Kota Palopo, adanya Dispenda Kota Palopo yang untuk meningkatkan pendapatan daerah. Seiring berjalannnya waktu, Dispenda Kota palopo mengalami perubahan nama lagi jadi Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Palopo dan adanya peraturan daerah kota palopo No. 8 Tahun 2016 tentang susunan organisasi perangkat daerah kota palopo. Terbentuknya badan pendapatan asli daerah (bapenda) kota palopo di tahun 2017 untuk meningkatkan pendapatan daerah, sebelumya dinas pengelola keuangan daerah kota palopo yang mengelola pendaptan daerah.

b. Visi Dan Misi Badan Pendapatan Daerah Kota Palopo 1. Visi

Terwujudnya sistem pengelolaan pendapatan asli daerah yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel dalam mendukung kota palopo sebagai kota jasa.

2. Misi

1. Meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah.

2. Meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM) aparat pelaksana pengelolaan pendapatan daerah.

3. Meningkatkan kualitas pelayanan dan Pengelolaan Pendapatan Asli Daerah.

4. Meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai Wajib Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.

5. Meningkatkan koordinasi, Pengendalian, Penatausahaan, dan Pengawasan.

c. Tugas Pokok dan Fungsi 1. Tugas pokok

Membantu walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi di bidang pendapatan daerah serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh walikota.

2. Fungsi

1. Perumusan kebijakan teknis sesuai kebijaksanaan yang ditetapkan oleh walikota.

2. Pelaksanaan kebijakan pelayanan umum lintas opd/

instansi/unit kerja dibidang pendapatan daerah.

3. Perumusan dan pembinaan kebijakan teknis di bidang pemungutan pendapatan daerah.

4. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan pihak-pihak terkait mengenao pendapatan daerah.

5. Penelaah peraturan perundang – undangan di bidang pendapatan daerah.

6. Pembinaan , pengawasan, pengendalian, dan pengembangan UPTB.

31

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

B. Penyajian Data (Hasil Penelitian) 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pungutan yang dilakukan berdasarkan pendapatan daerah. Untk mengetahui sejauh mana pemerintah Kota Palopo dalam mengelola sumber-sumber pendapatan asli daerah, tersebut dan perkembangan didalam menunjang pelaksanaan pembagunan serta roda pemerintahan di Kota Palopo. Berikut data tentang perkembangan realisasi Pendaptan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo dari tahun 2016 – 2020 :

Tabel 4.2 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo Tahun 2016-2020

Tahun Pendapatan Asli Daerah (PAD)

(Rp)

Sumber Data : Laporan Realisasi Anggaran, Tahun 2021

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu tahun 2016-2020, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo mengalami naik turun setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.2 diatas, dimana pada tahun 2016 besarnya realisasi pendapatan asli daerah adalah Rp.134.110.076.220, kemudian pada tahun 2017 realisasi pendapatan asli daerah naik menjadi Rp. 167.307.131.609, dan di tahun 2020 realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurun menjadi Rp. 46.097.862.325.

2. Pajak Hotel

Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel adalah fasilitas penyedai jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, pesangrahan, rumah penginapan dan sejenisnya serta rumah kos yang jumlah kamarnya lebih dari 10 kamar.

Peraturan daerah tentang pajak hotel memberikan kepastian hukum mengenai subjek pajak, objek pajak, tarif pajak dan cara pemungutan pajak. Selain itu sanksi hukuman bagi setiap pelanggaran pajak juga diatur

33

dalam peraturan daerah tersebut. Akumulasi pemungutan pajak hotel merupakan pendapatan asli daerah yang sangat bermanfaat untuk membiayai pembangunan daerah.

Tabel 4.3 Pendapatan Pajak Hotel Kota Palopo Tahun 2016-2020

Tahun

Anggaran (Rp) Realisasi (Rp)

Pertumbuhan

Rp %

2016 347.025.000 350.884.895 Rp.3.859.859 101,11 2017 357.000.000 364.811.039 Rp.7.811.039 102,19 2018 401.000.000 419.036.605 Rp.18.036.605 104,50 2019 530.000.000 574.413.665 Rp.44.413.665 108,38 2020 450.000.000 357.996.317 -Rp.92.003.683 79,55

Rata - rata pertumbuhan

pertahun 413.428.504 -Rp.3.576.503 99,15

Sumber Data : Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah Tahun 2021

Berdasarkan Tabel 4.2 Pendapatan Pajak Hotel selalu melebihi target yang di tentukan, kecuali pada tahun 2020 pendapatan pajak hotel tidak dapat memenuhi target di karenakan adanya pandemi covid 19 yang memberikan pengaruh yang besar terhadap realisasi pendapatan pajak hotel. Kebijakan pemerintah dalam menangani pandemic covid tersebut dengan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersakala Besar) yang akhirnya mengakibatkan menurunnya jumlah pengunjung secara drastis sehingga berdampak pada realisasi Pajak Hotel.

3. Pajak Restoran

Restoran adalah penyedia makanan dan minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, dan sejenisnya termasuk jasa boga/catering. Pajak restoaran adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran.

Untuk mengoptimalkan penerimaan dari sektor pajak maupun rertribusi itu sendiri, ada dua hal yang paling sering digunakan oleh beberapa daerah yang melakukan proses efektivitas dan proses efisiensi pendapatan sektor pajak dan retribusi itu sendiri.

Tabel 4.4 Pendapatan Pajak Restoran Kota Palopo Tahun 2016-2020

2016 3.200.206.000 3.699.478.197 Rp.499.272.197 115,60 2017 3.740.000.000 4.374.781.409 Rp.634.781.409 116,97 2018 4.250.000.000 5.076.946.649 Rp.826.946.649 119,46 2019 6.200.000.000 6.201.259.135 Rp.1.259.135 100,02 2020 4.600.000.000 5.009.500.361 Rp.409.500.361 108,90

Rata - rata pertumbuhan

pertahun 4.872.393.150 Rp474.351.950 112,19

Sumber data: Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah Tahun 2021

Berdasarkan tabel 4.3 pendapatan pajak restoran selalu melebihi target yang ditentukan. Namun pada tahun 2020, pemerintah menurunkan anggaran di karenakan adanya pandemic covid 19 yang memungkinkan realisasi tidak mencapai target apabila melebihi target di tahun sebelumnya. Akan tetapi, dengan di turunkannya jumlah anggaran pendapatan pajak restoran tersebut, pemerintah tetap bisa melebihi target yang ditentukan.

35

4. Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo dihitung dengan membandingkan pajak hotel dan restoran dengan jumlah penerimaan pendapatan asli daerah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

π‘²π’π’π’•π’“π’Šπ’ƒπ’–π’”π’Š = π‘·π’†π’π’†π’“π’Šπ’Žπ’‚π’‚π’ π‘·π’‚π’‹π’‚π’Œ 𝑯𝒐𝒕𝒆𝒍

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 π‘¨π’”π’π’Š 𝑫𝒂𝒆𝒓𝒂𝒉 (𝑷𝑨𝑫)Γ— 𝟏𝟎𝟎

Berdasarkan rumus di atas, maka perhitungan Kontribusi pajak hotel sebagai berikut :

π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2016 = 350.884.895

134.110.076.220Γ— 100 = 0,26 % π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2017 = 364.811.039

167.307.131.609Γ— 100 = 0,22 % π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2018 = 419.036.605

39.723.935.179Γ— 100 = 1,05 % π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2019 = 574.413.665

49.833.055.482Γ— 100 = 1,15 % π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2020 = 357.996.317

46.097.862.325Γ— 100 = 0,78 %

Hasil analisis kontribusi pajak hotel :

Tabel 4.5 Analisis Kontribusi Pajak Hotel Kota Palopo

Tahun 2016-2020

2016 350.884.895 134.110.076.220 0,26% Sangat kurang 2017 364.811.039 167.307.131.609 0,22% Sangat kurang 2018 419.036.605 39.723.935.179 1,05% Sangat kurang 2019 574.413.665 49.833.055.482 1,15% Sangat kurang 2020 357.996.317 46.097.862.325 0,78% Sangat kurang Rata-rata kontribusi 0,69% Sangat Kurang Sumber Data: Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah Tahun 2021

Berdasarkan perhitungan tabel 4.5 di atas, dapat dilihat bahwa kontribusi pajak hotel terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kota Palopo terbilang rendah dengan rata-rata 0,69% pertahun. Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 1,15% sedangkan kontribusi terendah terjadi pada tahun 2017 sebesar 0,22%. Rata – rata kontribusi pajak hotel yaitu 0,69% dan di kategorikan masih sangat minim.

5. Kontribusi Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2016 = 3.699.478.197

37

Hasil analisis kontribusi pajak restoran :

Tabel 4.6 Analisis Kontribusi Pajak Restoran Kota Palopo Tahun 2016-2020

Tahun Anggaran

Realisasi (Rp)

Total PAD

(Rp) Kontribusi Ket

2016 3.699.478.197 134.110.076.220 2,76% Kurang 2017 4.374.781.409 167.307.131.609 2,61% Kurang

2018 5.076.946.649 39.723.935.179 12,78% Cukup

2019 6.201.259.135 49.833.055.482 12,44% Cukup

2020 5.009.500.361 46.097.862.325 10,87% Cukup

Rata-rata kontribusi 8,29% Cukup

Sumber data: Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah (2021)

Berdasarkan perhitungan tabel 4.6 di atas, dapat dilihat bahwa kontribusi pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo 5 tahun terakhir terbilang cukup memberikan kontribusi dengan rata-rata 8,29%. Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 12,78% sedangkan kontribusi terendah terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 2,61%.

C. Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dalam penelitian ini akan dibahas satu hal pokok yaitu komtribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah kota palopo sebagai berikut:

1. Kontribusi Pajak Hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo.

Hasil analisis yang telah dipaparkan dalam penelitian ini, dapat dilihat pada tabel 4.5 dimana realisasi penerimaan pendapatan asli daerah dari tahun 2016 sebesar Rp.350.884.895 atau 0,26% terus meningkat pada tahun 2017 sebesar Rp.364.811.039 atau 0,22% tahun 2018 sebesar Rp.419.036.605 atau 1,05% tahun 2019 sebesar Rp.574.413.665 atau 1,15% kemudian di tahun 2020 sebesar Rp.357.996.317 atau 0,78%. Presentase kontribusi pajak hotel dari tahun 2016-2020 hanya sekitar 0,69%.

Dilihat dari presentase kontribusi pajak hotel lima tahun terakhir, dapat dikategorikan masih sangat kurang terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo. Hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pemungutan pajak hotel di Kota Palopo dan kurangnya jumlah hotel yang masih berfungsi di Kota Palopo saat ini.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Hamsiah (2019) yang dimana pada hasil penelitiannya menjelaskan bahwa analisis uji efektivitas dan hasil analisis kontribusi pajak hotel terhadap PAD Kota Bandar Lampung dapat dikatakan masih sangat kurang efektif, presentase kontribusi penerimaan pemungutan pajak hotel dari tahun 2013-2017 mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Pajak hotel

39

memberikan kontribusi nilai/rata-rata sebesar 0,40% kemudian nilai diantara 0,00% - 10% atau kriteria sangat kurang efektif.

2. Kontribusi pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo.

Hasil analisis yang telah dipaparkan dalam penelitian ini, dapat dilihat pada tabel 4.6 dimana realisasi penerimaan pendapatan asli daerah terus meningkat dari tahun 2016 sebesar Rp.3.699.478.197 atau 2,76% tahun 2017 sebesar Rp.4.374.781.409 atau 2,61% tahun 2018 sebesar Rp.5.076.946.649 atau 12,78% tahun 2019 sebesar Rp.6.201.259.135 atau 12,44% kemudian tahun 2020 Rp.5.009.500.361.

Rata-rata kontribusi pajak restoran sebesar 8,29%.

Dilihat dari presentase kontribusi pajak restoran di atas, penerimaan pajak restoran mencapai target. Peningkatan kontribusi pajak restoran di Kota Palopo disebabkan karena banyaknya pengembangan-pengembangan usaha serta meningkatnya minat masyarakat untuk makan siap saji.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Mega Silvia Windy Mintahari & Linda Lambey (2016) yang dimana hasil penelitiannya mengemukakan bahwa tingkat efektivitas pemungutan pajak restoran tahun 2012-2014 sangatlah efektif, dengan rata-rata tingkat efektivitasnya adalah sebesar 157,58%. Presentase kontribusi terbesar berada pada tahun 2013 sebesar 1,79% dengan rata-rata kontribusi 1,71%. Kontribusi pelanggan tertinggi pada tahun 2014 yaitu Rp. 551,503,- dan terendah Rp. 210,997,- pada tahun 2012. Pemerintah daerah kabupaten Minahasa Selatan sebaiknya memaksimalkan perolehan penerimaan pajak restoran

karena pajak ini merupakan salah satu sumber penerimaan yang sangat potensial di Minahasa Selatan.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kota Palopo tahun 2016-2020. Dari hasil penelitian tersebut, dapat di Tarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Kontribusi penerimaan pajak hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah

1. Kontribusi penerimaan pajak hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah

Dokumen terkait