SKRIPSI
NURUL ISMIYANTI DARWIS NIM. 105711102517
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2021
ii
KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA
JUDUL PENELITIAN :
KONTRIBUSI PAJAK HOTEL DAN RESTORAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA PALOPO
SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Oleh:
NURUL ISMIYANTI DARWIS NIM: 10571112517
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Muhammdiyah Makassar
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2021
iii
MOTTO
“Sesuatu akan terlihat tidak mungkin sampai semuanya selesai”
(Nelson Mandela)
PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada Allah SWT atas Ridho-Nya serta karunianya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik, Alhamdulillahi
rabbil’alamin.
Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, orang- orang yang saya sayang dan untuk orang-orang yang selalu bertanya
“Kapan kamu wisuda?’
Terlambat lulus atau tidak lulus tepat waktu bukan sebuah kejahatan, bukankah sebaik-baik skripsi adalah skripsi yang selesai? Baik itu
selesai tepat waktu maupun tidak tepat waktu.
iv
vi
vii
segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hambanya.
Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada rasulllah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul “Kontribusi Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo.”
Skripsi yang penulis buat bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan program sarjana (S1) pada fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Bapak Darwis dan Ibu Hamisah yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih saying dan doa tulus. Dan saudara-saudaraku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hiingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, serta dukungan baik materi maupun moral, dan doa restu yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :
viii
1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M. Ag, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Dr. H. Andi Jam’an, SE., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar
3. Ibu Hj. Naidah, SE., M.Si, selaku Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Makassar
4. Ibu Hj. Naidah, SE., M.Si, selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan wakatunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi selesai dengan baik.
5. Bapak Asdar, SE., M.Si, selaku Pembimbing II yang telah berkenan membantu selama penyusunan skripsi hingga ujian skripsi.
6. Bapak/Ibu dan asisten/konsultan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.
7. Segenap staf dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
8. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar Program Studi Ekonomi Pembangunan angkatan 2017 yang selalu bbelajar bersama dan tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis.
9. Terima kasih kepada rekan-rekan EP17A terutama kepada sahabat saya Maryam Muslimah, Dipa Ardianingsih, Nur Ariska, Riska Damayanti dan Fajri Mahdaniar serta teman-teman SHANYL saya yang tidak sedikit bantuan, dorongan, kesabaran dan semangat serta motivasi yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
ix kritiknya demi kesempurnaan skripsi ini.
Mudah – mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada almamater tercinta kampus biru Universitas Muhammadiyah Makassar.
Nashrun min Allahu wa Fathun Karien, Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassaamualaikum Wr. Wb
Makassar, Penulis,
NURUL ISMIYANTI DARWIS
x
ABSTRAK
NURUL ISMIYANTI DARWIS, 2021, Kontribusi Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo. Skripsi, Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing Oleh Hj. Naidah dan Asdar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kota Palopo. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian bersifat kuantitatif. Data yang digunakan yaitu data Laporan Realisasi Anggaran BAPENDA Kota Palopo Tahun 2016-2020.
Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kontribusi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Perhitungan penerimaan pajak hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun anggaran 2016-2020 hanya mencapai jumlah rata-rata 0,69%, hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pemungutan pajak hotel dan kurangnya jumlah hotel yang masih berfungsi di Kota Palopo. 2) Hasil analisis kontribusi pajak restoran, presentasenya mengalami peningkatan yang mencapai jumlah rata-rata 8,29%, hal ini disebabkan karena banyaknya pengembangan-pengembangan usaha serta menigkatnya minat masyarakat untuk makan siap saji serta dipengaruhinya tingkat perekonomian masyarakat. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan yaitu penerimaan pajak hotel dan restoran dari tahun 2016-2020 menunjukkan kontribusi yang cukup untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo.
Kata Kunci : Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pendapatan Asli Daerah (PAD)
xi
Taxes to Palopo City's Original Regional Revenue (PAD). Thesis, Development Economics Study Program, Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar. Supervised By Hj. Naidah and Asdar.
This study aims to determine the contribution of hotel and restaurant taxes to local revenue in Palopo City. The type of research used is quantitative research. The data used is data from the Palopo City BAPENDA Budget Realization Report 2016-2020. The technique used in this study uses the contribution analysis method.
The results show that 1) The calculation of hotel tax revenue on Regional Original Revenue (PAD) for the 2016-2020 fiscal year only reaches an average of 0.69%, this is due to the ineffectiveness of hotel tax collection and the lack of a number of hotels that are still functioning in Indonesia. Palopo City. 2) The results of the analysis of the restaurant tax contribution, the percentage has increased to an average of 8.29%, this is due to the many business developments and the increasing public interest in fast food and the influence of the community's economic level. From the results of the study, it can be concluded that hotel and restaurant tax revenues from 2016-2020 show an adequate contribution to increasing Regional Original Income (PAD) in Palopo City.
Keywords: Hotel Tax, Restaurant Tax, Local Revenue
xii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN... v
SURAT PERNYATAAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... x
ABSTRACT ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Tinjauan Teori ... 7
1. Pajak ... 7
2. Pajak Hotel ... 11
3. Pajak Restoran ... 14
4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 16
xiii
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
A. Jenis Penelitian ... 24
B. Lokasi dan Waktu Penelitian... 24
C. Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel ... 24
D. Teknik Pengumpulan Data ... 25
E. Teknik Analisis Data ... 26
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 27
A. Gambaran Umum Lokasi Peneletiian ... 27
B. Hasil Penelitian ... 31
C. Pembahasan ... 38
BAB V PENUTUP ... 41
A. Kesimpulan ... 41
B. Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 43
LAMPIRAN ... 45
xiv
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 1.1 Pendapatan Pajak Daerah Kota Palopo Tahun 2016-2020 ... 4
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 19
Tabel 4.1 Luas Daerah Menurut Kecamatan di Kota Palopo ... 28
Table 4.2 Pendapatan Asli Daerah ... 32
Table 4.3 Pendapatan Pajak Hotel ... 33
Tabel 4.4 Pendapatan Pajak Restoran ... 34
Tabel 4.5 Analisis Kontribusi Pajak Hotel ... 36
Tabel 4.6 Analisis Kontribusi Pajak Restoran ... 37
xv
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Konsep ... 22 Gambar 4.1 Struktur Organisasi ... 30
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara otonom, dimana negara otonom memiliki tujuan untuk membangun masyarakat adil dan makmur yang di dalamnya terdapat demokratisasi daerah yang memberikan ruang yang luas kepada wilayah agar terus berkembang serta terus menumbuhkan kemampuannya untuk masyarakat daerah itu sendiri. Dengan demikian, pemerintah daerah di berikan kepercayaan yang luas dan tanggung jawab yang besar, serta salah satu konsekuensinya adalah daerah harus mampu membiayai semua kegiatan pemerintahan dan pembangunan yang menjadi kewenangan dalam suatu pemerintahan, yang setiap daerah dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada dasarnya pemerintah daerah dalam hal ini di tuntut untuk memiliki kemandirian secara fiskal yang di akibatkan karena kurangnya APBD yang menjadi kontribusi utama di setiap daerah. (Anggraini et al, 2015)
Ada dua ciri utama daerah dapat dinilai mampu melaksanakan otonomi yang di berikan kepadanya, ciri yang pertama yaitu kemampuan keuangan daerah yang dimana daerah tersebut harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber – sumber keuangan, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk biaya penyelenggaraan. Ciri keduanya yaitu minimnya ketergantungan kepada bantuan pusat, sehingga PAD dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar yang didukung oleh kebijakan perimbangan pusat dan daerah.
(Halim, 2001:167)
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan pembangunan daerah, maka masing – masing daerah harus mempunyai sumber – sumber penerimaan daerah yang cukup. Salah satu sumber penerimaan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber – sumber dalam wilayahnya sendiri yang di pungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Pendapatan Asli Daerah memegang peranan penting, karena melalui penerimaan daerah dapat membiayai kegiatan pembangunan.
(Ardiyansah, 2018)
Pendapatan Asli Daerah terdiri dari beberapa sumber pendapatan, salah satunya yaitu pajak dan retribusi daerah. Untuk dapat meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi daerah, pemerintah daerah harus mengetahui potensi pajak dan retribusi daerah menggunakan sistem dan prosedur koleksi pajak dan retribusi daerah yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi daerahnya. Potensi dan realisasi penerimaan pajak dan retribusi dihubungkan oleh sistem dan prosedur pendapatan daerah. Sebaik apapun sistem dan prosedur pendapatan daerah, apabila potensi tidak ditentukan dengan sebenarnya, maka realisasi penerimaan juga akan rendah. (Kartika, 2019)
Pajak daerah memiliki kontribusi yang amat penting bagi proses pembangunan suatu daerah. Kesanggupan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan penggalian pajak daerah merupakan salah satu usaha pemerintah daerah dalam menerapkan otonomi daerah yaitu dengan membiayai kegiatan rumah tangga itu sendiri. Pengertian pajak daerah
3
dalam pasal 1 ayat 10 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah
“sumbangan wajib dari masyarakat kepada pemerintah daerah yang dimanfaatkan untuk membiayai kepentingan atau bahkan kegiatan pemerintah daerah dan dipungut berlandaskan Undang – Undang serta berperilaku memaksa, dan tidak ada prestasi langsung yang diberikan.
(Hardiyanti, 2019)
Pajak daerah terdiri dari beberapa jenis, salah satunya pajak hotel dan pajak restoran. Pajak hotel dan pajak restoran merupakan dua jenis pajak daerah yang potensinya semakin berkembang seiring dengan semakin diperhatikannya adanya komponen pendukung yaitu sektor jasa, pembangunan maupun pariwisata dalam kebijakan peningkatan pembangunan daerah. Pembangunan daerah adalah suatu bentuk usaha yang sistematis dari pembangunan nasional dimana didalam pelaksanaannya memerlukan adanya peran aktif secara mendasar dari pemerintah, swasta maupun kelompok masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah, dengan cara terus menerus digunakan untuk menganalisis kondisi dan pelaksananaan pembangunan daerah yang semakin berkembang. Oleh karena itu, dengan adanya otonomi daerah yang lebih luas, nyata, berkembang dan bertanggung jawab berarti suatu daerah dapat mampu mengurus rumah tangganya sendiri dengan lebih baik.
(Candrasari & Ngumar, 2016)
Pajak hotel dan restoran ikut berperan dalam meningkatkan penerimaan pajak daerah. Dengan adanya hotel dan restoran yang telah berdiri di Kota Palopo saat ini, maka akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kota Palopo merupakan salah satu kota yang sering
dikunjungi para wisatawan baik wisatawan lokal maupun interlokal, maka pemerintah daerah Kota Palopo dituntut untuk menyediakan fasilitas baik sarana maupun prasarana untuk mendukung perkembangan daerahnya.
Sebagai tuntutan, berbagai fasilitas seperti hotel, penginapan, rumah makan, restoran dan fasilitas lainnya sangat berpeluang untuk menigkatkan upaya perolehan penggalian sumber pendapatan sektor ini.
Pajak hotel dan restoran menjadi salah satu sektor pajak yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo setiap tahunnya dan terus mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari data yang dihimpun BAPENDA Kota Palopo pada tabel beri
kut :
Sumber Data : Laporan Realisasi Anggaran BAPENDA Kota Palopo
Tingkat penerimaan pajak daerah beberapa tahun terakhir selalu mencapai target yang direncanakan. Meskipun penerimaan pajak hotel dan restoran telah mencapai target yang telah ditentukan, namun pencapaian ini kurang maksimal karena masih banyak potensi – potensi yang belum di gali.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat tema untuk membahas tentang “Kontribusi Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo”.
Tabel 1.1 Pendapatan Pajak Daerah Kota Palopo 2016 – 2020
Tahun Pendapatan Pajak Daerah
(Rp)
2016 21.278.599.140.70
2017 27.317.777.187,00
2018 31.505.802.321.00
2019 34.860.944.165.02
2020 34.031.809.461.00
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa besar kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi dan menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis a) Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk menambah wawasan mengenai perpajakan tentang kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap pendapatan asli daerah.
b) Bagi Instansi Terkait
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan terhadap pengelolaan pajak hotel dan restoran.
c) Bagi Penelitian Lanjutan
Penulis berharap hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian lain sebagai bahan kajian lebih lanjut mengenai pajak hotel dan restoran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori 1. Pajak
a. Pengertian Pajak
Pajak merupakan sumber utama untuk pembangunan.
Pengertian pajak secara umum ialah iuran wajib atau pungutan yang dibayar oleh wajib pajak (orang yang bayar pajak) kepada pemerintah berdasarkan Undang-Undang dan hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran umum pemerintah dengan tanpa balas jasa yang ditujukan secara langsung (Kartika, 2019). Pajak merupakan alat bagi pemerintah didalam mencapai tujuan untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dari masyarakat guna membiayai pengeluaran rutin serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.(Ardiyansah, 2018)
Pengertian pajak menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Perpajakan. Dimana dijelaskan bahwa pajak merupakan “Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasakan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.
Adapun beberapa definisi pajak menurut para ahli, yaitu : 1) Rifhi Siddiq
Pengertian pajak adalah iuran yang dipaksakan pemerintah suatu negara dalam periode tertentu kepada wajib pajak yang bersifatwajib dan harus dibayarkan oleh wajib pajak kepada negara dan bentuk balas jasanya tidak langsung.
2) Sommerfeld R.M., Anderson H.M., & Brock Horace R
Pengertian pajak adlaha suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dillaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dulu tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintah.
3) Prof. Dr. H. Rochmat Soemitra SH
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan unttuk membayar pengeluaran umum.
4) Menurut P.J.A. Adriani
Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara yang terutang olehh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya
9
adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintah.
5) Menurut Leroy Beaulieu
Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk ataudari barang, untuk menutup belanja pemerintah.
b. Fungsi Pajak
Peran pajak, baik sebagai sumber penerimaan dalam negeri maupun sebagai penyelaras kegiatan ekonomi pada masa masa yang akan datang sangat penting bagi negara kita. Oleh karena itu, proses penyiapan tenaga ahli yang memadai dalam bidang perpajakan serta penyadaran atas peran masyarakat wajib pajak (tax player) harus menjadi perhatian semua pihak. Menurut Mardiasmo (2018) Ada dua fungsi pajak, yaitu :
1) Fungsi anggaran (Budgetary), pajak merupakan sumber pendapatan negara yang memmiliki tujuan menyeimbangkan pengeluaran negara dengan pendapatan negara.
2) Fungsi mengatur (Regulasi) pajak merupakan alat untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan negara dalam lapangan sosial ekonomi.
c. Sistem Pemungutan Pajak
Mardiasmo (2011) menjelaskan bahwa sistem pemungutan pajak dibagi menjadi 3, yaitu: Official Assesment System, Self Assesment, dan Witholding System.
1) Official Asssesment System adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Ciri-cirinya adalah :
a) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus.
b) Wajib pajak bersifat pasif.
c) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak.
2) Self Assesment System adalah sistem pemungutan yang memberi wewenang sepenuhnya kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang. Ciri-cirinya adalah :
a) Fiskus tidak ikut campur hanya mengawasi.
b) Wajib pajak aktif, muali dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak terutang.
c) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada adalah wajib pajak sendiri.
3) Witholding system adalah suatu system pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan). Ciri-cirinya adalah wewenang menentukan besarnya pajak terutang pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan wajib pajak.
11
d. Pajak Daerah
Pengertian pajak daerah berdasarkan Undang-Undang republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009 tentang perubahan atas undang-undang republik indonesia nomor 34 tahun 2000 tentang pajak dan retribusi daerah, pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. Sedangkan pengertian pajak daerah menurut Siahaan (2013:175) pajak daerah kontribusi wajib oleh orang pribadi atau badan kepada daerah yang bersifat memaksa tanpa mendapat timbal balik secara langsung.
2. Pajak Hotel
a. Pengertian Pajak Hotel
Pengertian pajak hotel menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel adalah fasiilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).
Dalam pemungutan pajak hotel terdapat beberapa terminologi yang perlu diketahui, yaitu :
1) Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan, dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali oleh pertokoan dan perkantoran.
2) Rumah penginapan adalah penginapan dalam bentuk dan klasifikasi apapun beserta fasilitasnya yang digunakan untuk menginap dan disewakan untuk umum.
3) Pengusaha hotel adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha dibidang jasa penginapan.
4) Pembayaran adalah jumlah yang seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang atau pelayanan sebagai pembayaran kepada pemilik hotel.
5) Bon penjualan (bill) adalah bukti pembayaran, yang sekaligus sebagai bukti pungutan pajak, yang dibuat oleh wajib pajak pada saat mengajukan pembayaran atas pemakaian kamar atau tempat penginapan beserta fasilitas penunjang lainnya kepada subjek pajak.
13
b. Objek Pajak Hotel
Objek pajak hotel dan restoran adalah pelayanan yang disediakan dengan pembayaran pelayanan di hotel atau restoran, meliputi :
1) Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek
2) Fasilitas pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan
3) Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel dan bukan jasa umum
4) Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.
5) Penjualan makanan dan minuman ditempat yang disertai dengan
6) fasilitas penyantapannya, termasuk yang dibawa pulang.
c. Dasar Hukum Pengenaan Pajak Hotel
Menurut Siahaan (2009:301) menyatakan bahwa dasar hukum pemungutan pajak hotel adalah sebagai berikut :
1) Undang – undang Nomoor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
2) Undang – Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang – Undang nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
3) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
4) Peraturan Daerah Kota Manado Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.
5) Peraturan Daerah Kota Manado Nomor 2 Tahun 2011 Pasal 3- 8 tentang Pajak Hotel.
d. Perhitungan Pajak Hotel
Menurut Siahaan (2009:305) menyatakan bahwa perhitungan pajak hotel adalah sesuai dengan rumus berikut :
3. Pajak Restoran
a. Pengertian Pajak Restoran
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 22 dan 23, pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. Sedangkan yang dimaksud dengan restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar dan sejenisnya termasuk juga boga/catering (Siahaan,2009:327-328). Dalam pemungutan pajak restoran terdapat beberapa terminologi yang perlu diketahui, terminologi tersebut menurut Peraturan Daerah No 3 Tahun 2010 dapat dilihat sebagai berikut;
1) Restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, antara lain rumah Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
= Tarif Pajak x Jumlah Pembayaran atau yang Seharusnya Dibayar Kepada Hotel
15
makan, bar, cafe, dan sejenisnya tidak termasuk usaha jasa boga da catering.
2) Pengusaha restoran adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan usaha restoran untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.
3) Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang dan jasa sebagai pembayaran kepada pengusaha restoran/rumah makan, cafe, bar dan sejenisnya.
4) Nota pesanan atau bon penjualan (bill) adalah bukti pembayaran, yang sekaligus sebagai bukti pungutan pajak, yang dibuat oleh wajib pajak saat mengajukan pembayaran atas pelayanan di restoran/rumah makan , cafe, bar dan sejenisnya yang meliputi penjualan makanan dan minuman termasuk penyediaan penjualan makanan dan minuman yang diantar dan dibawa pulang.
b. Dasar Pengenaan Pajak Restoran
Menurut Peraturan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Bab II ke-8 Pasal 39 adalah dasar pengenaan pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima restoran.
c. Tarif Pajak Restoran
Menurut Peraturan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Bab II Pasal 40 Dan 41, tarif pajak restoran adalah sebagai berikut:
1) Tarif pajak restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10%
(sepuluh persen).
2) Tarif pajak restoran ditetapkan dengan peraturan daerah.
3) besaran pokok pajak restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 ayat 2 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 39.
4) Pajak restoran yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat restoran.
4. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah yang berupa, pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara singkat adalah pendapatan yang diperoleh daerah berdasarkan peraturan daerah. Sebagai mana yang dimaksud dalam UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangan-undangan.
17
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan penerimaan daerah yang bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk menandai pelaksanaan pembangunan dan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai wujud desentralisasi.
Sumber Pendapatan Asli Daerah ada berbagai macam, berdasarkan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, terdiri dari :
1) Pajak Daerah, pajak daerah merupakan pungutan daerah menurut peraturan daerah yang dipergunakan untuk membiayai urusan rumah tangga daerah sebgai badan hukum.
2) Retribusi Daerah, retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau pekerjaan atau pelayanan pemerintah daerah dan jasa usaha milik daerah bagi yang berkepentingan atas jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.
3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang terpisah, bagian badan usaha milik daerah ialah bagian keuntungan atau laba bersih dari perusahaan daerah atas badan lain yang merupakan dan usaha milik daerah. Sedangkan perusahaan daerah adalah perusahaan yang modalnya sebagian atau seluruhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, jenis pendapatan ini dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD, bagian laba atas penyertaan modal milik perusahaan Negara/BUMN, dan bagian laba atas
penyertaan modal milik perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.
4) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, merupakan penerimaan selain yang disebutkan diatas tapi sah. Penerimaan ini mencakup sewa rumah dinas daerah, sewa gedung dan tanah milik perusahaan milik daerah dan penerimaan – penerimaan lain yang sah menurut Undang – Undang. Hasil penjualan kekayaan- kekayaan daerah yang tidak dipisahkan secara tunai atau angsuran atau cicilan, seperti jasa giro, pendapatan bunga, penerimaan atas tuntutan ganti rugi daerah,penerimaan komisi, penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, pendapatan denda pajak, pendapatan denda retribusi, pendapatan hasil eksekusi atas jaminan, pendapatan dari pengembalian, fasilitas sosial dan fasilitas umum, pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, pendapatan dari badan layanan umum daerah (BLUD).
B. Tinjauan Empiris
Dalam melakukan penelitian ini, untuk menunjang analisis dan landasan teori yang ada maka diperlukan penelitian terdahulu sebagai pendukung bagi penelitian ini yang berkaitan dengan kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Penelitian tersebut memberikan hasil atau kesimpulan yang berbeda- beda tergantung dari objek, subjek, data serta variabel yang digunakan
19
dalam penelitian. Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
(Tahun) Judul Metode
Penelitian Hasil Penelitian 1 Arnida
Wahyuni &
Rinie Utara (2018)
Pengaruh
Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif
Dari hasil penelitian fenomena yang terjadi hanya pada penerimaan pajak hotel tahun 2014 dan pajak restoran tahun 2015 yang telah mencapai target yang direncanakan. Dimana penerimaan pajak hotel pada tahun 2014
sebesar Rp.
81.642.581.350,74 sudah melebihi target
sebesar Rp.
81.500.000.000 atau mencapai 100,17% dan penerimaan pajak restoran pada tahun 2015 sebesar Rp.
124.409.617.130.10 sudah melebihi target sebesar
123.215.837.083 atau mencapai 100,97%.
Akibat dari fenomena
yang terjadi
menandakan bahwa sumber-sumber
pendapatan asli daerah (PAD) seperti pajak hotel dan pajak restoran terus mengalami penurunan pada tahun tahun-tahun sebelumnya yang mengakibatkan penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) pada tahun 2011 sampai dengan 2015 selalu tidak mencapai target yang telah ditetapkan.
2 Wahyu Suci Rizqi
Damayanti (2020)
Pengaruh Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan dan Pajak
Penerangan Jalan Terhadap
Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Tengah
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan metode kuantitatif dan bersifat kausal
(sebab – akibat)
hasil penelitian ini adalah 1) pajak hotel dan pajak hiburan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah, 2) pajak restoran berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/
Kota Provinsi Jawa Tengah, 3) Pajak penerangan jalan berpengaruh positif signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah.
3 Mega Slivia Windy
Mintahari &
Linda Lambey (2016)
Analisis Kontribusi Pajak restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten
Minahasa Selatan Tahun 2012 – 2014
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah
metode kuantitatif
hasil penelitian mengemukakan bahwa tingkat efektivitas pemungutan pajak tahun 2012-2014 sangatlah efektif, dengan rata- ratatingkat efektivitasnya
adalah sebesar
157,58%. Presentase kontribusi terbesar berada pada tahun 2013 sebesar 1,79% dan terendah tahun 2012 sebesar 1,62% dengan rata-rata kontribusi 1,71%. Kontribusi pelanggan tertinggi pada tahun 2014 yaitu Rp.
551,503,- dan
terendahRp. 210,997,- pada tahun 2012.
Pemerintah daerah sebaiknyamemaksimalk
an perolehan
penerimaan pajak restoran karena pajak ini merupakan salah satu sumber penerimaan yang potensial di Minahasa Selatan.
21
4 Tanalina Rifda Sonnia (2019) (PAD) Kabupaten Sleman
Analisis Pengaruh Kontribusi Pajak
Hotel dan
Restoran Terhadap
Pendapatan Asli Daerah
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu metode kuantitatif
hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kontribusi pajak hotel memiliki thitung yang lebih besar dari batas bawah ttable (-0,957 > -2,080) serta tingkat signifikan penelitian (0,350 >
0,050), (2) kontribusi pajak restoran memiliki nilai thitung yang lebih besar dari batas bawah ttabe (-1,922 > -2,080)
serta tingkat
signifikanyang lebih rendah dari tingkat signifikan penelitian (0,068 > 0,050), dan (3) kontribusi pajak hotel dan pajak restoran memiliki nilai Fhitung yang lebih besar dari nilai Ftable (6,709 > 3,470) serta tingkat signifikansi yang lebih rendah dari tingkat signifikansi penelitian (0,006<0,050) dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 39%. Dengan demikian, kontribusi pajak hotel dan pajak restoran tidak berpengaruh signifikan terhadap Pad kabupaten sleman secara parsial.
Akan tetapi, jika dilakukan pengujian secara simultan, maka kontribusi pajak hotel dan pajak restoran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PAD Kabupaten Sleman.
5 Hamsiah (2019)
Analisis Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bandar Lampung Dalam Perspektif
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini metode kuantitatif
Berdasarkan hasil penelitian Tahun 2013- 2017 (studi pada dinas badan pengelolaan pajak dan retribusi
daerah), dapat
disimpulkan bahwa hasil
Ekonomi Islam analisis uji efektivitas dan hasil analisis kontribusi pajak hotel terhadap PAD Kota Bandar Lampung, uji efektivitas kontribusi pajak hotel dapat dikatakan sangat kurang efektif, pencapaian presentase kontribusi penerimaan
pemungutan pajak hotel dari tahun 2013-2017 mengalami
perkembangan yang berfluktuasi. Pajak hotel memberikan kontribusi nilai/rata-rata sebesar 0,40% kemudian nilai yang di dapat dari hasil perhitungan efektivitas kontribusi masuk dala, nilai diantara 0,00% - 10% atau kriteria sangat kurang efektif dan pencapaian efektivitas untuk realisasinya masih belum dapat mencapai targetnya dimana presentasenya masih menunjukkan dibawah 100%.
C. Kerangka Konsep
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang berasal dari potensi yang ada pada daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Salah satu sumber pendapatan asli daerah berasal dari sektor pajak daerah yang memiliki peran besar bagi pembiayaan daerah. Pajak hotel dan restoran adalah salah satu pajak daerah yang memiliki potensi paling besar. Dalam pemungutan
23
pajak harus dilakukan secara efektif dan efisien. Pajak yang dipungut dengan efektif dan efisien akan mengoptimalkan penerimaan sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba menggambarkan kerangka konsep untuk mempermudah dalam memahami arah tujuan penelitian dan juga berfungsi sebagai acuan berpikir dan dasar perumusan hipotesis. Adapun kerangka konsep terlihat pada gambar adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Berdasarkan permasalahan dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga bahwa pajak hotel dan restoran memiliki kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo.
Pajak Hotel Indikatornya yaitu : 1. Tarif pajak hotel 2. Dasar pengenaan pajak hotel
Pajak Restoran Indikatornya yaitu : 1. Tarif pajak restoran 2. Dasar pengenaan pajak restoran Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Indikatornya yaitu : Pajak daerah
24 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode yang berdasar filsafat positivisme bertujuan menggambarkan dan menguji hipotesis yang dibuat peneliti (Sugiyono, 2018:15). Penelitian kuantitatif memuat banyak angka- angka mulai dari pengumpulan, pengolahan, serta hasil yang didominasi angka.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil dan mengumpulkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palopo dan Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Palopo.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian telah dilakukan selama 2 bulan terhitung dari bulan September 2021 sampai dengan November tahun 2021.
C. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa variabel yang terkait, antara lain sebagai berikut.
1. Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
Sedangkan yang dimaksud dengan hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk
25
pariwisata, wisma pariwisata, pesangrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari sepuluh.
Variabel ini diukur dalam satuan rupiah.
2. Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. sedangkan yang dimaksud dengan restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Variabel ini diukur dalam satuan rupiah.
3. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah. PAD terdiri dari : pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD). Besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dinyatakan dalam satuan rupiah.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mengumpulkan data yang bersumber dari obyek yang akan diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dengan metode dokumentasi yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen instansi terkait. Sebagai pendukung data juga diperoleh dari buku – buku, jurnal dan browsing internet yang terkait dengan pajak hotel, pajak restoran serta PAD.
E. Teknik Analisis Data
Teknik ini merupakan teknik yang dipakai untuk memprediksi mengenai hasil penelitian guna mendapatkan suatu kesimpulan.
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka dalam penelitian ini menggunakan metode kontribusi dan untuk menjawab permasalahan yaitu tentang seberapa besar kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah di Kota Palopo, dengan menghitung presentase pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berikut ini rumus perhitungan kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) :
𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 = 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐻𝑜𝑡𝑒𝑙
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐴𝑠𝑙𝑖 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (𝑃𝐴𝐷)× 100
𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑠𝑖 = 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑅𝑒𝑠𝑡𝑜𝑟𝑎𝑛
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐴𝑠𝑙𝑖 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (𝑃𝐴𝐷) × 100
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Keadaan Geografis Kota Palopo
Kota palopo adalah sebuah kota di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota palopo sebelumnya berstatus kota administratif sejak 1986 dan merupakan bagian dari Kabupaten Luwu yang kemudian berubah menjadi kota pada tahun 2002 sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2002 tanggal 10 april 2002.
Secara Geografis, Kota Palopo terletak antara 2º53’15” - 3º04’08”
Lintang Selatan dan 120º03’10” - 120º14’34” Bujur Timur. Kota Palopo sebagai daerah otonom hasil pemekaran dari kesatuan Tanah Luwu yang saat ini menjadi empat bagian, dimana disebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Walenrang Kabupten Luwu, disebelah Timur dengan Teluk Bone, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bua Kabupaten Luwu, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tondon Nanggala Kabupaten Tana Toraja.
Luas wilayah administrasi Kota Palopo sekitar 247,52 km persegi atau sama dengan 0.39% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.
Dengan potensi luas wilayah seperti itu, oleh pemerintah Kota palopo telah membagi wilayah kota palopo menjadi 9 kecamatan dan 48 kelurahan pada tahun 2005. Kecamatan terluas di Kota Palopo adalah Kecamatan Wara Barat dengan luas 54,13 km persegi atau mencakup 21,87 perseb dari luas kota palopo secara keseluruhan. Sedangkan, kecamatan dengan
luas terkecil adalah kecamatan wara utara dengan luas 10,58 km persegi atau hanya sebesar 4,27 persen dari luas kota palopo.
Jarak kota palopo ke ibukota provinsi sulawesi selatan, kota makassar, adalah 390 km. Jarak seluruh ibukota kecamatan ke ibukota kota palopo semua relatif dekat, berkisar antara 1-5 km, yang terjauh adalah ibukota kecamatan telluwanua dengan jarak tercatat sekitar 12,00 km.
Tabel 4.1 Luas Daerah Menurut Kecamatan di Kota Palopo
Kecamatan Ibukota Kecamatan Luas Daerah
Wara Selatan Songka 10,66
Sendana Sendana 37,09
Wara Dangerakko 11,49
Wara Timur Malatunrung 12,08
Mungkajang Mungkajang 53,80
Wara Utara Salubulo 10,58
Bara Temmalebba 23,35
Telluwanua Maroangin 34,34
Wara Barat Tomarundung 54,13
Palopo 247,52
Palopo 252,99
Sumber data: Badan Pusat Statistik Kota Palopo, Tahun 2021
Iklim di kota palopo pada umumnya sama dengan daerah lainnya di Indonesia yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Pada tahun 2020 bulan april menjadi bulan dengan curah hujan tertinggi yaitu 543 mm3 dengan jumlah hari hujan sebanyak 25 hari.
Sebagai catatan, karena tidak terdapat perwakilan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika di Kota Palopo, maka sumber data curah hujan mengacu pada data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Maros.
29
2. Gambaran Umum Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Palopo a. Sejarah Singkat Badan Pendapatan Daerah Kota Palopo
Sebelum terbentuknya Bapenda di Kota Palopo, adanya Dispenda Kota Palopo yang untuk meningkatkan pendapatan daerah. Seiring berjalannnya waktu, Dispenda Kota palopo mengalami perubahan nama lagi jadi Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Palopo dan adanya peraturan daerah kota palopo No. 8 Tahun 2016 tentang susunan organisasi perangkat daerah kota palopo. Terbentuknya badan pendapatan asli daerah (bapenda) kota palopo di tahun 2017 untuk meningkatkan pendapatan daerah, sebelumya dinas pengelola keuangan daerah kota palopo yang mengelola pendaptan daerah.
b. Visi Dan Misi Badan Pendapatan Daerah Kota Palopo 1. Visi
Terwujudnya sistem pengelolaan pendapatan asli daerah yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel dalam mendukung kota palopo sebagai kota jasa.
2. Misi
1. Meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah.
2. Meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM) aparat pelaksana pengelolaan pendapatan daerah.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan dan Pengelolaan Pendapatan Asli Daerah.
4. Meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai Wajib Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.
5. Meningkatkan koordinasi, Pengendalian, Penatausahaan, dan Pengawasan.
c. Tugas Pokok dan Fungsi 1. Tugas pokok
Membantu walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi di bidang pendapatan daerah serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh walikota.
2. Fungsi
1. Perumusan kebijakan teknis sesuai kebijaksanaan yang ditetapkan oleh walikota.
2. Pelaksanaan kebijakan pelayanan umum lintas opd/
instansi/unit kerja dibidang pendapatan daerah.
3. Perumusan dan pembinaan kebijakan teknis di bidang pemungutan pendapatan daerah.
4. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan pihak-pihak terkait mengenao pendapatan daerah.
5. Penelaah peraturan perundang – undangan di bidang pendapatan daerah.
6. Pembinaan , pengawasan, pengendalian, dan pengembangan UPTB.
31
Gambar 4.1 Struktur Organisasi
B. Penyajian Data (Hasil Penelitian) 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pungutan yang dilakukan berdasarkan pendapatan daerah. Untk mengetahui sejauh mana pemerintah Kota Palopo dalam mengelola sumber-sumber pendapatan asli daerah, tersebut dan perkembangan didalam menunjang pelaksanaan pembagunan serta roda pemerintahan di Kota Palopo. Berikut data tentang perkembangan realisasi Pendaptan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo dari tahun 2016 – 2020 :
Tabel 4.2 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo Tahun 2016-2020
Tahun Pendapatan Asli Daerah (PAD)
(Rp)
2016 134.110.076.220
2017 167.307.131.609
2018 39.723.935.179
2019 49.833.055.482
2020 46.097.862.325
Rata-Rata
Pertahun 87.414.412.163
Sumber Data : Laporan Realisasi Anggaran, Tahun 2021
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu tahun 2016-2020, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo mengalami naik turun setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.2 diatas, dimana pada tahun 2016 besarnya realisasi pendapatan asli daerah adalah Rp.134.110.076.220, kemudian pada tahun 2017 realisasi pendapatan asli daerah naik menjadi Rp. 167.307.131.609, dan di tahun 2020 realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurun menjadi Rp. 46.097.862.325.
2. Pajak Hotel
Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel adalah fasilitas penyedai jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, pesangrahan, rumah penginapan dan sejenisnya serta rumah kos yang jumlah kamarnya lebih dari 10 kamar.
Peraturan daerah tentang pajak hotel memberikan kepastian hukum mengenai subjek pajak, objek pajak, tarif pajak dan cara pemungutan pajak. Selain itu sanksi hukuman bagi setiap pelanggaran pajak juga diatur
33
dalam peraturan daerah tersebut. Akumulasi pemungutan pajak hotel merupakan pendapatan asli daerah yang sangat bermanfaat untuk membiayai pembangunan daerah.
Tabel 4.3 Pendapatan Pajak Hotel Kota Palopo Tahun 2016-2020
Tahun
Anggaran (Rp) Realisasi (Rp)Pertumbuhan
Rp %
2016 347.025.000 350.884.895 Rp.3.859.859 101,11 2017 357.000.000 364.811.039 Rp.7.811.039 102,19 2018 401.000.000 419.036.605 Rp.18.036.605 104,50 2019 530.000.000 574.413.665 Rp.44.413.665 108,38 2020 450.000.000 357.996.317 -Rp.92.003.683 79,55
Rata - rata pertumbuhan
pertahun 413.428.504 -Rp.3.576.503 99,15
Sumber Data : Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah Tahun 2021
Berdasarkan Tabel 4.2 Pendapatan Pajak Hotel selalu melebihi target yang di tentukan, kecuali pada tahun 2020 pendapatan pajak hotel tidak dapat memenuhi target di karenakan adanya pandemi covid 19 yang memberikan pengaruh yang besar terhadap realisasi pendapatan pajak hotel. Kebijakan pemerintah dalam menangani pandemic covid tersebut dengan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersakala Besar) yang akhirnya mengakibatkan menurunnya jumlah pengunjung secara drastis sehingga berdampak pada realisasi Pajak Hotel.
3. Pajak Restoran
Restoran adalah penyedia makanan dan minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, dan sejenisnya termasuk jasa boga/catering. Pajak restoaran adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran.
Untuk mengoptimalkan penerimaan dari sektor pajak maupun rertribusi itu sendiri, ada dua hal yang paling sering digunakan oleh beberapa daerah yang melakukan proses efektivitas dan proses efisiensi pendapatan sektor pajak dan retribusi itu sendiri.
Tabel 4.4 Pendapatan Pajak Restoran Kota Palopo Tahun 2016-2020
Tahun Anggaran
(Rp)
Realisasi (Rp)
Pertumbuhan
Rp %
2016 3.200.206.000 3.699.478.197 Rp.499.272.197 115,60 2017 3.740.000.000 4.374.781.409 Rp.634.781.409 116,97 2018 4.250.000.000 5.076.946.649 Rp.826.946.649 119,46 2019 6.200.000.000 6.201.259.135 Rp.1.259.135 100,02 2020 4.600.000.000 5.009.500.361 Rp.409.500.361 108,90
Rata - rata pertumbuhan
pertahun 4.872.393.150 Rp474.351.950 112,19
Sumber data: Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah Tahun 2021
Berdasarkan tabel 4.3 pendapatan pajak restoran selalu melebihi target yang ditentukan. Namun pada tahun 2020, pemerintah menurunkan anggaran di karenakan adanya pandemic covid 19 yang memungkinkan realisasi tidak mencapai target apabila melebihi target di tahun sebelumnya. Akan tetapi, dengan di turunkannya jumlah anggaran pendapatan pajak restoran tersebut, pemerintah tetap bisa melebihi target yang ditentukan.
35
4. Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo dihitung dengan membandingkan pajak hotel dan restoran dengan jumlah penerimaan pendapatan asli daerah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑲𝒐𝒏𝒕𝒓𝒊𝒃𝒖𝒔𝒊 = 𝑷𝒆𝒏𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂𝒂𝒏 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌 𝑯𝒐𝒕𝒆𝒍
𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑨𝒔𝒍𝒊 𝑫𝒂𝒆𝒓𝒂𝒉 (𝑷𝑨𝑫)× 𝟏𝟎𝟎
Berdasarkan rumus di atas, maka perhitungan Kontribusi pajak hotel sebagai berikut :
𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2016 = 350.884.895
134.110.076.220× 100 = 0,26 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2017 = 364.811.039
167.307.131.609× 100 = 0,22 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2018 = 419.036.605
39.723.935.179× 100 = 1,05 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2019 = 574.413.665
49.833.055.482× 100 = 1,15 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2020 = 357.996.317
46.097.862.325× 100 = 0,78 %
Hasil analisis kontribusi pajak hotel :
Tabel 4.5 Analisis Kontribusi Pajak Hotel Kota Palopo
Tahun 2016-2020
Tahun Anggaran
Realisasi (Rp)
Total PAD
(Rp) Kontribusi Ket
2016 350.884.895 134.110.076.220 0,26% Sangat kurang 2017 364.811.039 167.307.131.609 0,22% Sangat kurang 2018 419.036.605 39.723.935.179 1,05% Sangat kurang 2019 574.413.665 49.833.055.482 1,15% Sangat kurang 2020 357.996.317 46.097.862.325 0,78% Sangat kurang Rata-rata kontribusi 0,69% Sangat Kurang Sumber Data: Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah Tahun 2021
Berdasarkan perhitungan tabel 4.5 di atas, dapat dilihat bahwa kontribusi pajak hotel terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kota Palopo terbilang rendah dengan rata-rata 0,69% pertahun. Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 1,15% sedangkan kontribusi terendah terjadi pada tahun 2017 sebesar 0,22%. Rata – rata kontribusi pajak hotel yaitu 0,69% dan di kategorikan masih sangat minim.
5. Kontribusi Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2016 = 3.699.478.197
134.110.076.220× 100 = 2,76 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2017 = 4.374.781.409
167.307.131.609× 100 = 2,61 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2018 = 5.076.946.649
39.723.935.179× 100 = 12,78 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2019 = 6.201.259.135
49.833.055.482× 100 = 12,44 % 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 2020 = 5.009.500.361
46.097.862.325× 100 = 10,87 %
37
Hasil analisis kontribusi pajak restoran :
Tabel 4.6 Analisis Kontribusi Pajak Restoran Kota Palopo Tahun 2016-2020
Tahun Anggaran
Realisasi (Rp)
Total PAD
(Rp) Kontribusi Ket
2016 3.699.478.197 134.110.076.220 2,76% Kurang 2017 4.374.781.409 167.307.131.609 2,61% Kurang
2018 5.076.946.649 39.723.935.179 12,78% Cukup
2019 6.201.259.135 49.833.055.482 12,44% Cukup
2020 5.009.500.361 46.097.862.325 10,87% Cukup
Rata-rata kontribusi 8,29% Cukup
Sumber data: Laporan Realisasi Anggaran, Data diolah (2021)
Berdasarkan perhitungan tabel 4.6 di atas, dapat dilihat bahwa kontribusi pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo 5 tahun terakhir terbilang cukup memberikan kontribusi dengan rata-rata 8,29%. Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 12,78% sedangkan kontribusi terendah terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 2,61%.
C. Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dalam penelitian ini akan dibahas satu hal pokok yaitu komtribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah kota palopo sebagai berikut:
1. Kontribusi Pajak Hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo.
Hasil analisis yang telah dipaparkan dalam penelitian ini, dapat dilihat pada tabel 4.5 dimana realisasi penerimaan pendapatan asli daerah dari tahun 2016 sebesar Rp.350.884.895 atau 0,26% terus meningkat pada tahun 2017 sebesar Rp.364.811.039 atau 0,22% tahun 2018 sebesar Rp.419.036.605 atau 1,05% tahun 2019 sebesar Rp.574.413.665 atau 1,15% kemudian di tahun 2020 sebesar Rp.357.996.317 atau 0,78%. Presentase kontribusi pajak hotel dari tahun 2016-2020 hanya sekitar 0,69%.
Dilihat dari presentase kontribusi pajak hotel lima tahun terakhir, dapat dikategorikan masih sangat kurang terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo. Hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pemungutan pajak hotel di Kota Palopo dan kurangnya jumlah hotel yang masih berfungsi di Kota Palopo saat ini.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Hamsiah (2019) yang dimana pada hasil penelitiannya menjelaskan bahwa analisis uji efektivitas dan hasil analisis kontribusi pajak hotel terhadap PAD Kota Bandar Lampung dapat dikatakan masih sangat kurang efektif, presentase kontribusi penerimaan pemungutan pajak hotel dari tahun 2013-2017 mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Pajak hotel
39
memberikan kontribusi nilai/rata-rata sebesar 0,40% kemudian nilai diantara 0,00% - 10% atau kriteria sangat kurang efektif.
2. Kontribusi pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo.
Hasil analisis yang telah dipaparkan dalam penelitian ini, dapat dilihat pada tabel 4.6 dimana realisasi penerimaan pendapatan asli daerah terus meningkat dari tahun 2016 sebesar Rp.3.699.478.197 atau 2,76% tahun 2017 sebesar Rp.4.374.781.409 atau 2,61% tahun 2018 sebesar Rp.5.076.946.649 atau 12,78% tahun 2019 sebesar Rp.6.201.259.135 atau 12,44% kemudian tahun 2020 Rp.5.009.500.361.
Rata-rata kontribusi pajak restoran sebesar 8,29%.
Dilihat dari presentase kontribusi pajak restoran di atas, penerimaan pajak restoran mencapai target. Peningkatan kontribusi pajak restoran di Kota Palopo disebabkan karena banyaknya pengembangan- pengembangan usaha serta meningkatnya minat masyarakat untuk makan siap saji.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Mega Silvia Windy Mintahari & Linda Lambey (2016) yang dimana hasil penelitiannya mengemukakan bahwa tingkat efektivitas pemungutan pajak restoran tahun 2012-2014 sangatlah efektif, dengan rata-rata tingkat efektivitasnya adalah sebesar 157,58%. Presentase kontribusi terbesar berada pada tahun 2013 sebesar 1,79% dengan rata-rata kontribusi 1,71%. Kontribusi pelanggan tertinggi pada tahun 2014 yaitu Rp. 551,503,- dan terendah Rp. 210,997,- pada tahun 2012. Pemerintah daerah kabupaten Minahasa Selatan sebaiknya memaksimalkan perolehan penerimaan pajak restoran
karena pajak ini merupakan salah satu sumber penerimaan yang sangat potensial di Minahasa Selatan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kota Palopo tahun 2016-2020. Dari hasil penelitian tersebut, dapat di Tarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kontribusi penerimaan pajak hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun anggaran 2016-2020 masih tergolong rendah. Dilihat secara keseluruhan selama 5 tahun terakhir, rata-rata kontribusi pajak hotel pada pendapatan asli daerah dikategorikan kurang memberikan kontribusi, karena presentase kontribusi jauh dari angka 4%. Kurangnya kontribusi pajak hotel di Kota Palopo disebabkan karena kurang efektifnya pemungutan pajak hotel dan kurangnya jumlah hotel yang masih berfungsi di Kota Palopo.
2. Kontribusi penerimaan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Palopo 5 tahun terakhir ini cukup memberikan kontribusi karena presentase kontribusinya diatas 4%. Rata-rata kontribusi pajak restoran pertahun yaitu sebesar 8,29% Peningkatan kontribusi pajak restoran di Kota Palopo disebakan karena banyaknya pengembangan- pengembangan usaha serta meningkatnya minat masyarakat untuk makan siap saji serta dipengaruhinya tingkat perekonomian masyarakat.
Dari target dan realisasi penerimaan pajak hotel dan restoran dari tahun 2016-2020 menunjukkan kontribusi yang cukup untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Palopo.
B. Saran
Adapun saran-saran dari hasil penelitian ini yaitu :
1. Disarankan kepada Badan Pendapatan Daerah agar upaya untuk memungut pajak hotel dan pajak restoran perlu ditingkatkan agar kontribusinya ke PAD juga meningkat.
2. BAPENDA harus lebih aktif dalam melakukan penertiban terkait pajak hotel dan restoran, BAPENDA juga perlu melakukan sosialisasi secara rutin terhadap wajib pajak guna meningkatkan kesadaran wajib pajak terhadap kewajibannya dalam hal ketaatan pembayaran pajak tepat waktu.
43
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini,S., Handayani, S,R., dan Ismono, B. 2015. Analisis Penerimaan Pajak Hotel dan Restoran Sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah Kota Madiun. (Studi Kasus pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Madiun Tahun 2009-2013).
Ardiyansah. 2018. Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bantaeng.
Candrasari, A., dan Ngumar, S. 2016. Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kota Surabaya. (Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi).
Damayanti,W.S.R. 2020. Pengaruh Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, dan Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Tengah. (Konferensi Ilmiah Mahasiswa Unissula (KIMU) 3)
Halim, A. 2001. Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta : UPP AMP YKPN.
Hamsiah. 2019. Analisis Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bandar Lampung Dalam Perspektif Ekonomi Islam. (Studi Kasus Pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Tahun 2013 - 2017)
Idrus, M. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial : Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta. Erlangga.
Kartika, D.A. 2019. Kontribusi Pajak Hotel Dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar.
Laporan Realisasi Anggaran Bapenda Kota Palopo Tahun 2014-2020 Mardiasmo. 2011. Perpajakan (edisi revisi). Yogyakarta.
Mintahari, M.S.F, dan Lambey, L. 2016. Analisis Kontribusi Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2012-2014
Palopokota.bps.go.id
Siahaan, M.P. 2009. Pajak Daerah dan Reribusi Daerah. Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Persada.
___________. 2013. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Sonnia, T.R. 2019. Analisis Pengaruh Kontribusi Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung.
Alfabeta.
_______. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung.
Alfabeta.
Republik Indonesia. 2004. Undang - Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Republik Indonesia. 2007. Undang - Undang No. 28 Tahun 2007 Tentang Perpajakan.
Republik Indonesia. 2009. Undang - Undang No 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Wahyuni, A., dan Utara, R. 2020. Pengaruh Penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan. (Jurnal Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan)
45