• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan Daerah

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 17-20)

Bab III Perkembangan dan Analisis Pelaksanaan APBD

A. Pendapatan Daerah

PEMBIAYAAN PEMERINTAH DAERAH 674,06 955,04 266,14 -60,52%

I PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH 827,17 1134,78 390,8 -52,75%

II PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH 153,10 179,74 124,66 -18,58%

JUMLAH PEMBIAYAAN 2.900,63 - 2.118,49 -26,96%

SELISIH LEBIH (KURANG) PEMBIAYAAN

ANGGARAN 1.346,51 524,65 1.496,11 458,25 -12,66%

Sumber: GFS, LRA Kab/Kota/Prov D.I Yogyakarta 2020 & 2021 (Diolah)

Realisasi pendapatan seluruh pemerintah daerah di DIY sampai dengan triwulan II 2021 sebesar Rp7,57 triliun (47,58 persen dari target), tumbuh negatif 4,65 persen (yoy). Realisasi pendapatan tersebut terdiri dari PAD sebesar Rp1,90 triliun, pendapatan transfer Rp5,61 triliun dan Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp54,86 miliar. Sedangkan realisasi belanja dan transfer mencapai Rp 5,74 triliun (34,51 persen dari total pagu), tumbuh sebesar 0,46 persen dibandingkan triwulan II 2020. Selama triwulan II 2021, anggaran pemerintah daerah di DIY mencatat surplus sebesar Rp1,83 triliun.

A. PENDAPATAN DAERAH

Pendapatan Transfer masih mendominasi struktur Pendapatan Daerah di DIY. Sampai dengan Triwulan II 2021, realisasi dominasi pendapatan transfer mencapai 74,10 persen, PAD berkontribusi sebesar 25,14 persen dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah berkontribusi sebesar 0,72 persen.

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Realisasi penerimaan PAD sampai dengan triwulan II 2021 tercatat sebesar Rp1,90 triliun, tumbuh negative 7,75 jika dibandingkan triwulan II 2020. Penerimaan PAD terbesar (67,29 persen) berasal dari Pajak Daerah sebesar Rp 1,28 triliun, 18,79 persen dari Lain-lain PAD yang Sah, 9,93 persen berasal dari Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan , dan 3,99 persen dari Pendapatan Retribusi Daerah.

Berdasarkan wilayahnya, kontribusi PAD tertinggi berasal dari Provinsi DIY sebesar 47,67 persen. Dari realisasi PAD tersebut dapat diketahui rasio PAD (terhadap total pendapatan daerah) sebesar 25.07 persen yang menunjukkan tingkat desentralisasi fiskal atau kemampuan keuangan daerah untuk membiayai belanja pemerintahan ternasuk kategori sedang. Sementara rasio dana transfer (terhadap total pendapatan daerah) sebesar 74,10 persen yang menunjukkan ketergantungan keuangan daerah sangat tinggi1. Perkembangan penerimaan daerah

1 Tim Litbang Depdagri-Fisipol UGM,1991 dalam Bisma (2010) diunduh dari http://sappilpil.blogspot.co.id/2015/12/mengukur-kemampuan-keuangan-suatu-daerah.html

Penerimaan pajak daerah lingkup Provinsi DIY per Kabupaten/Kota terdiri atas Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/ Kota. 61,31 persen atau Rp 785,55 miliar dari penerimaan Pajak Daerah di DIY berasal dari Pajak Provinsi (antara lain: Pajak Kendaraan Bermotor, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor). Sedang untuk penerimaan pajak kabupaten (antara lain: Pajak Hotel, dan Pajak reklame) terbesar ada di Kabupaten Sleman sebesar Rp238,10 miliar atau mencapai 18,58 persen.

b. Penerimaan Retribusi Daerah

Objek retribusi daerah adalah jasa umum, jasa usaha, dan perizinan tertentu. Sepanjang triwulan II 2020, retribusi daerah terbesar berasal dari Kab Sleman sebanyak Rp16,50 miliar atau 21,70 persen, kemudian Kabupaten Bantul (20,22 persen) dan Kota Yogyakarta (17,75 persen).

c. Penerimaan Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

Penerimaan hasil kekayaan daerah yang dipisahkan lingkup Provinsi DIY per Kabupaten/Kota berasal dari bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/ BUMD, BUMN, Perusahaan Swasta dan Lembaga Keuangan Non Bank (BUKP). Penerimaan terbesar pada pos ini adalah Provinsi DIY sebesar Rp89,84 miliar atau 47,53 persen dari total penerimaan hasil kekayaan daerah yang dipisahkan di DIY.

Grafik III.2.Realisasi Penerimaan Pajak Daerah Prov/Kab/Kota Lingkup Provinsi DIY Triwulan II Tahun 2021 (Dalam Miliar Rp)

Provinsi D. I. Yogyakarta Kabupaten Bantul Kabupaten Sleman Kabupaten Gunungkidul Kabupaten Kulonprogo Kota Yogyakarta

1,43 1,82 2,84 3,37 1,40 1,96

Grafik III.3.Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Prov/Kab/Kota Lingkup Provinsi DIY Triwulan I Tahun 2021 (dalam Miliar Rp) Grafik III.4.Realisasi Penerimaan Hasil Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Prov/Kab/Kota Lingkup Provinsi DIY s.d Triwulan

II Tahun 2021

16

Kajian Fiskal Regional Triwulan II 2021 Wilayah D.I.Yogyakarta

2. Pendapatan Transfer

Pendapatan transfer seluruh Pemda di DIY pada triwulan II 2021 mencapai Rp5,63 triliun, tumbuh negative 4,32 persen dibandingkan triwulan II 2020. Realisasi pendapatan transfer berasal dari transfer pemerintah pusat dan transfer bantuan keuangan dari pemerintah daerah lainnya. Transfer pemerintah pusat terbesar berupa DAU sebesar 54,45 persen, Dana Keistimewaan sebesar 18,10 persen dan DAK 13,68 persen dari pendapatan transfer. Sleman sebesar Rp14,72 M sedangkan yang berasal dari Pendapatan Lainnya hanya ada pada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yaitu Rp32,35 miliar. anggaran. Realisasi belanja modal sampai dengan triwulan II 2021 baru mencapai yaitu 6,39 persen jauh di bawah realisasi triwulan II 2020 yang mencapai 18,67 persen.

Grafik III.5 Pagu dan Realisasi Pendapatan Transfer periode s.d Triwulan II 2021 per Prov/Kab/Kota di DIY

Pagu Realisasi %

17

Kajian Fiskal Regional Triwulan II 2021 Wilayah D.I.Yogyakarta

Sedangkan realisasi belanja Bantuan Sosial dan belanja hibah masing-masing 0,44 persen dan 12,00 persen dari realisasi belanja daerah.

2. Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan

Realisasi belanja daerah terbesar berdasarkan urusan (selain Urusan Administrasi Pemerintahan dan Fungsi Penunjang Urusan Pemerintahan) adalah pendidikan sebesar Rp.2,131 triliun, selanjutnya kesehatan Rp851,36 miliar, Ekonomi Rp371,44 miliar, pekerjaan umum dan penataan ruang Rp.352,95 miliar dan pariwisata Rp225,35 miliar. Realisasi tersebut sesuai prioritas pembangunan daerah yang disepakati dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) DIY adalah : i)Pendidikan, ii)Kesehatan, iii)Pengembangan Wilayah, iv) Penciptaan Lapangan Kerja, dan v)Pembangunan Peningkatan Infrastruktur guna mendukung ekonomi kerakyatan dan pertumbuhan ekonomi serta diarahkan untuk penanggulangan kemiskinan secara berkelanjutan.

Pendapatan Daerah 15.911,33 7.569,82 47,58% 15.819,04 99,42%

Belanja Daerah dan Transfer 16.636,92 5,741,36 34,51% 18.358,84 110,35%

Surplus/Defisit -725,59 1.828,45 -251,99% 1.717,98 -236,77%

Sumber:LKPD Pemda (2014-2021) Diolah

Pertumbuhan ekonomi di DIY pada triwulan II Tahun yang sebesar 11,81 persen utamanya bersumber dari Akomodasi dan Makan Minum (3,70 persen), Informasi dan Komunikasi (2,66 persen), Konstruksi (1,93 persen) dan jasa lainnya (1,34 persen). Pertumbuhan ini didorong oleh masih dibukanya objek wisata di luar zona merah di DIY pada triwulan II 2021 yang diiringi dengan meningkatnya permintaan pada sisi Akomodasi dan Makan Minum dan jasa lainnya sebagai pendukung sektor pariwisata, informasi dan komunikasi masih naik seiring masih diperpanjangnya kegiatan daring baik kegiatan perkantoran maupun pendidikan, bahkan termasuk beberapa event yang dilaksanakan secara virtual sedangkan untuk sektor konstruksi dipicu oleh meningkatnya pembangunan dan perbaikan fasilitas infrastruktur seperti jalan dan jembatan, rel kereta api dan lainnya

Kebijakan percepatan belanja pemerintah daerah melalui APBD yang difokuskan untuk penanganan pandemi Covid-19 serta penguatan layanan kesehatan pada masyarakat termasuk dengan diadakannya shelter bagi warga masyarakat yang terpapar Covid-19 melalui program Yogyakarta tanggap Covid-19 serta belanja APBD dalam bentuk belanja barang produk masyarakat dalam penanganan pandemi serta bantuan sosial sebagai bagian dari upaya perlindungan sosial dalam pemulihan ekonomi juga diharapkan sampai dengan akhir tahun 2021 mampu menjaga daya beli masyarakat dan membangkitkan perekonomian DIY

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 17-20)

Dokumen terkait