BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD
4.2. PENDAPATAN DAERAH
Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah telah ditetapkan sumber-sumber penerimaan daerah yaitu:
1. Pendapatan asli daerah (PAD), 2. Transfer pemerintah,
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Tabel 4.2 Jenis Pendapatan APBD di Provinsi Lampung, 2018 – 2019
Uraian Target Realisasi
2018 2019 2018 2019
PAD 5,859,851,926,703 5,506,964,933,291 4,529,267,403,820 4,976,114,973,080 Pajak Daerah 4,090,912,994,823 3,819,747,830,352 3,440,625,241,442 3,575,317,793,147 Retribusi Daerah 138,420,126,816 175,196,435,076 91,844,351,520 102,912,331,810 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daeragh Yang
Dipisahkan 95,173,919,870 107,847,477,612 89,439,340,664 98,705,094,468 Lain-lain PAD Yang Sah 1,535,344,885,193 1,404,173,190,251 907,358,470,194 1,199,179,753,655 Dana Perimbangan 20,075,585,850,454 20,205,779,268,058 17,768,774,271,777 18,402,032,751,784 DBH 938,839,316,971 1,372,579,402,892 721,063,690,665 1,095,214,112,761 DAU 12,891,526,399,000 12,899,602,285,000 11,421,006,655,160 12,119,576,396,000 DAK 6,245,220,134,483 5,933,597,580,166 5,626,703,925,952 5,187,242,243,023 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah 4,945,849,790,195 5,600,268,728,436 3,651,630,261,627 4,608,329,833,899 Jumlah 30,881,287,567,352 31,313,012,929,785 25,949,671,937,224 27,986,477,558,763 Sumber : LRA Pemda 2019 Lingkup Provinsi Lampung
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, kontribusinya masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan kontribusi dana perimbangan. Tahun 2019 porsi PAD terhadap total pendapatan daerah di Provinsi Lampung baru berkisar 17,78 persen sedangkan dana perimbangan kontribusinya mencapai 65,75 persen. Namun demikian kontribusi PAD terhadap pendapatan daerah naik 0,33 persen dibanding tahun 2018. Walaupun kenaikannya hanya 0,33 persen,
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 57 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
menggali sumber PAD baru dan mengoptimalkan penerimaan PAD yang ada.
Secara umum realisasi seluruh komponen PAD (Pajak Daerah, Retribusi Daerah, HPKD Yang Dipisahkan, dan Lain-lain PAD Yang Sah) meningkat dibanding tahun 2018. Hal ini mengindikasikan bahwa program perpajakan di daerah cukup berhasil menaikkan realisasi pajak. Pemerintah Daerah perlu terus melanjutkan kegiatan perbaikan data objek dan subjek pajak serta retribusi yang didukung dengan pemanfaatan teknologi agar kedepannya target penerimaan pajak daerah dapat tercapai. Tinjauan ulang terhadap regulasi tentang pajak dan retribusi daerah juga dapat dilakukan untuk memperbaiki, memperbesar, ataupun memperluas cakupan penerimaan pajak dan retribusi daerah. Tak kalah penting adalah memperkuat lini pengawasan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak.
Memang setelah otonomi daerah, penerimaan PAD mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan sebelum otonomi daerah. Pemerintah selayaknya menaruh perhatian lebih besar terhadap manajemen PAD. Manajemen PAD bukan berarti mengeskploitasi PAD tetapi bagaimana pemerintah daerah mengoptimalkan penerimaan daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki. Untuk itu Pemda dituntut untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber pendanaan yang ada secara efisien sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan meningkatnya penerimaan PAD diharapkan tingkat ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat semakin menurun.
Kontribusi Dana Perimbangan terhadap total pendapatan pada tahun 2019 menurun sebesar 2,72 persen bila dibandingkan dengan tahun 2018, penerimaan dana perimbangan tahun 2019 sebesar Rp18,402 triliun sedangkan tahun 2018 penerimaan dana perimbangan sebesar Rp20,205 triliun.
Realisasi Lain-lain Pendapatan Yang Sah memang masih dibawah target, tetapi realisasi penerimaan tahun 2019 meningkat bila dibandingkan tahun 2018. Komponen Lain-lain Pendapatan Yang Sah berupa hibah, dana bagi hasil dan bantuan keuangan dari Provinsi atau Pemda lainnya.
4.2.1. Dana Transfer/Perimbangan
Dana transfer ke daerah merupakan bagian belanja negara dalam rangka mendanai peleksanaan desentralisasi fiskal berupa dana perimbangan, dana otonomi khusus, dan dana penyesuaian. Dana perimbangan meliputi DBH, DAU dan DAK. Sebagai
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 58 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
diatas 60 persen sedangkan penerimaan PAD dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah kontribusinya masih dibawah 20 persen. Hal ini menunjukan bahwa sumber pendanaan APBD masih sangat bergantung dengan penerimaan Dana Perimbangan.
Untuk mengetahui kontribusi belanja daerah terhadap komponen pendapatan daerah dalam APBD perlu dilakukan analisis ruang fiskal dan kemandirian daerah.
Analisis Ruang Fiskal
Ruang fiskal diperoleh dari pendapatan umum setelah dikurangi pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked) serta belanja yang sifatnya mengikat seperti belanja pegawai dan belanja bunga.
Grafik 4.1 Ruang Fiskal Kabupaten dan Kota Lingkup Provinsi Lampung
Sumber : LRA Pemda 2019 Lingkup Provinsi Lampung
Dari hasil analisis ini, ruang fiskal tertinggi untuk kabupaten dan kota adalah Kabupaten Pesisir Barat sebesar 57,1 persen. Tingginya angka ini dapat disebabkan oleh pendapatan yang tidak dibatasi penggunaanya. Adapun ruang fiskal terendah adalah Kabupaten Lampung Timur sebesar 35,2 persen. Rendahnya angka ini disebabkan tingginya pendapatan yang bersifat earmarked serta belanja wajib, khususnya belanja pegawai.
Dari keseluruhan ruang fiskal Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, rata-rata Provinsinya adalah sebesar 41,6 persen. Terdapat 7 kabupaten yang berada dibawah rata-rata Provinsi yaitu (1) Kabupaten Lampung Timur, (2) Kabupaten Lampung Tengah, (3) Kabupaten Lampung Utara, (4) Kabupaten Tanggamus, (5) Kabupaten Way Kanan, (6) Kabupaten Pesawaran, (7) Kabupaten Tulang Bawang.
40.7%
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 59 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
utang juga dapat memunculkan ruang fiskal. Selain itu, penggunaan angaran yang efektif dapat menunjang terciptanya ruang fiskal yang dapat memberi ruang dalam pembangunan suatu daerah. Dalam hal ini, perencanaan dan penganggaran yang dituangkan dalam APBD suatu daerah memegang peranan sangat penting.
Pemerintah daerah diharapkan memiliki terobosan untuk memanfaatkan ruang fiscal yang ada untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
Rasio Kemandirian Daerah
Rasio kemandirian daerah ditunjukan oleh rasio PAD terhadap total pendapatan serta rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Angka-angka dari dua rasio tersebut, meskipun menunjukkan kemandirian daerah, namun memiliki makna yang berbeda.
Rasio PAD terhadap total pendapatan memiliki makna yang berkebalikan dengan rasio transfer terhadap total pendapatan. Semakin besar angka rasio PAD maka semakin besar tingkat kemandiriannya. Sebaliknya, semakin besar angka rasio transfer, maka semakin kecil tingkat kemandirian daerah dalam mendanai belanja daerahnya. Oleh karena itu, daerah yang memiliki tingkat kemandirian yang baik adalah daerah yang memiliki rasio PAD yang tinggi sekaligus rasio transfer yang rendah.
Grafik 4.2 Rasio Kemandirian Kabupaten dan Kota Lingkup Provinsi Lampung
Sumber : LRA Pemda 2019 Lingkup Provinsi Lampung
Ruang lingkup analisis ini adalah rasio kemandirian daerah seluruh pemda di Provinsi Lampung. Dari grafik tersebut juga terlihat bahwa Provinsi Lampung memiliki rasio PAD yang paling tinggi, yaitu sebesar 43,3 persen, sedangkan terendah adalah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 3,3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Provinsi Lampung memiliki tingkat kemandirian daerah yang paling baik dibandingkan
0.0%
20.0%
40.0%
60.0%
80.0%
100.0%
120.0%
Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Rasio DT Terhadap Total Pendapatan
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 60 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Lampung karena tingginya sumber-sumber PAD khususnya dari pajak daerah dan retribusi daerah, sedangkan rendahnya tingkat kemandirian Kabupaten Tulang Bawang karena rendahnya pajak daerah dan retribusi daerah tersebut.
Dari segi rasio dana transfer terhadap total pendapatan, Kota Metro merupakan daerah dengan rasio tertinggi yaitu sebesar 79, 1 persen sedangkan yang terendah adalah Provinsi Lampung yaitu 56 persen. Hal ini menunjukan bahwa Kota Metro memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dalam mendanai APBD-nya.
Untuk daerah Kabupaten/Kota yang ideal adalah Kota Bandar Lampung karena memilki rasio PAD yang lebih tinggi dan rasio dana transfer terendah diantara kabupaten/kota di wilayah Provinsi Lampung.
4.2.2. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Optimalisasi penerimaan PAD hendaknya didukung dengan upaya meningkatkan kualitas layanan publik. PAD diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan utama dalam APBD.
Tabel 4.3 Persentase Perbandingan PAD
Provinsi/Kabupaten/Kota % PAD
Sumber : LRA Pemda 2019 Lingkup Provinsi Lampung
Perbandingan PAD atas Total Pendapatan
PAD Provinsi Lampung berkontribusi sebesar 43,3 persen terhadap total pendapatan, tertinggi diantara kabupaten/kota di wilayah Provinsi Lampung. Sedangkan kontribusi
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 61 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
sebesar 3,3 persen. PAD merupakan sumber pendapatan dari kegiatan ekonomi daerah itu sendiri. Citra keuangan pemda akan tercermin dari besar kecilnya perolehan PAD.
Perbandingan PAD atas Total Belanja
PAD sebagai salah satu sumber pendapatan yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangannya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kontribusi PAD Provinsi Lampung terhadap total belanja adalah 42,4 persen artinya Provinsi Lampung memilki kemampuan untuk mendanai belanja sebesar 42,4 persen sedangkan kekurangannya ditutup dengan dana dari sumber lainnya.
Perbandingan Dana Transfer atas Total Pendapatan
Dana transfer merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang kontribusnya cukup tinggi terhadap total pendapatan. Dana transfer merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan.
Kontribusi dan transfer terhadap total pendapatan masih tinggi yaitu diatas 50 persen.
Semakin rendah angka persentasenya berarti semakin rendah tingkat ketergantung daerah tersebut terhadap dana transfer. Provinsi Lampung merupakan daerah yang memiliki tingkat ketergantungan terhadap dana transfer paling rendah (56 persen), sedangkan Kota Metro memiliki tingkat ketergantungan paling tinggi (79,1 persen).