BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
2.1. INDIKATOR MAKRO EKONOMI FUNDAMENTAL
2.2.2. Tingkat Kemiskinan
Tingkat kemiskinan Lampung pada periode Maret 2014 sampai dengan Maret 2019 relatif mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2019 mencapai 1,06 juta orang atau terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 27,9 ribu orang dibandingkan September 2018. Sementara jika dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya jumlah penduduk miskin juga menurun sebanyak 33,4 ribu orang.
Grafik 2.8. Perkembangan tingkat kemiskinan Maret 2014 s.d Maret 2019 Nasional dan Lampung
Sumber : BPS Lampung
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 25 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2018 - Maret 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebesar 1,66 ribu orang sedangkan didaerah perdesaan turun sebesar 29,6 ribu orang.
Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 9,06 persen menjadi 8,92 persen.
Sementara itu, di perdesaan turun dari 14,73 persen menjadi 14,27 persen dan pada September 2018 berada pada angka 10,85 persen. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di semua sektor dari tahun ke tahun berpengaruh dalam penurunan kemiskinan di Lampung.
Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2019 sebesar 74,97 persen.
Tabel 2.8. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2018 - Maret 2019
Sumber : BPS Lampung
Tabel 2.9. Daftar Komoditi yang Memberi Sumbangan Besar terhadap Garis Kemiskinan beserta Kontribusinya (%), Maret 2019
Sumber : BPS Lampung
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 26 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Pada Maret 2019, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras memberi sumbangan sebesar 19,97 persen di perkotaan dan 25,74 persen di perdesaan.
Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (15,07 persen di perkotaan dan 9,42 persen di perdesaan). Komoditi lainnya adalah telur ayam ras (4,54 persen di perkotaan dan 4,46 persen di perdesaan), tempe (2,50 persen di perkotaan dan 2,47persendi perdesaan), gula pasir (2,21 persen di perkotaan dan 3,09 persen di perdesaan), mie instan (2,11 persen di perkotaan dan 1,99 di perdesaan), roti (2,00 persen di perkotaan dan 2,59 di perdesaan), dan seterusnya.
Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.
2.2.3. Ketimpangan (Gini Ratio)
Ratio gini atau koefisien gini, biasa disebut juga indeks gini merupakan indikator yang menunjukkan tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh.
Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek penting sebagai ukuran pemerataan pendapatan masyarakat di suatu negara. Sebagai ukuran pemerataan yang juga merefleksikan ukuran ketimpangan distribusi pendapatan masyarakat, biasanya digunakan koefisien Gini (Gini Ratio). Nilai koefisien Gini berkisar antara 0 (sangat merata) sampai dengan 1 (sangat timpang). Ketimpangan pendapatan masyarakat dikatakan rendah apabila koefisien Gini dibawah 0,3. Ketimpangan pendapatan masyarakat berada pada tahap sedang apabila koefisien Gini berada pada rentang 0,3 sampai dengan 0,5. Ketimpangan pendapatan masyarakat berada pada tahap tinggi atau sangat timpang apabila koefisien Gini di atas 0,5.
Tabel 2.10. Perkembangan Gini Ratio Lampung Tahun 2015-2019
Sumber : BPS Nasional
Selama kurun waktu antara Maret 2013 hingga September 2018, rata-rata wilayah Lampung memiliki ketimpangan sebesar 0,38 atau berada dalam kategori ketimpangan sedang. Hal ini seiring dengan semakin berkurangnya tingkat kemiskinan di Lampung dalam beberapa tahun terakhir hingga tahun 2018.
Bulan (Semester)
Perkotaan Pedesaan Perkotaan + Pedesaan 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019
Maret 0.4 0.39 0.3 0.32 0.35 0.35 0.33 0.36 0.37 0.29 0.38 0.36 0.33 0.35 0.33
September 0.4 0.31 0.3 0.29 0.35 0.31 0.38 0.36 0.34 0.29 0.35 0.36 0.33 0.33 0.33
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 27 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Ketimpangan pendapatan di Lampung terjadi di sebagian besar kota besar yang memiliki sumber penghasilan daerah yang berasal dari industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Meningkatnya jumlah tenaga kerja di sektor industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran mendorong kenaikan ketimpangan pendapatan. Hal ini mengidentifikasikan bahwa masih terdapat sebagian masyarakat yang belum menikmati hasil dari pembangunan. Pada tahun 2019 Lampung memiliki rasio Koefisien Gini yang lebih rendah dibandingkan beberapa provinsi memiliki ketimpangan tertinggi secara Nasional dan di wilayah regional Sumatera.
Grafik 2.9. Koefisien Gini Ratio Regional Sumatera September 2019
Sumber : BPS Nasional
2.2.4. Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran
Pada Agustus 2019 penduduk Provinsi Lampung yang bekerja mencapai 4.080.000 orang, naik 17,55 ribu orang dibandingkan Agustus 2018 dengan jumlah Angkatan Kerja tercatat 4,25 juta orang (Naik sebanyak 17,32 ribu orang), namun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 0,58 poin atau 69.09 persen. Penurunan TPAK memberikan indikasi adanya penurunan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja.
0.269 0.306
0.317 0.319 0.321 0.329
0.331 0.334
0.34 0.341
Bangka Belitung Sumatera Barat Sumatera Utara Aceh Jambi Lampung Sumatera Selatan Riau Bengkulu Kepulauan Riau
Sumber : BPS Lampung
Tabel 2.11. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama, Agustus 2017 - Agustus 2019
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 28 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
TPT pada Agustus 2019 sebesar 4,03 persen turun sebesar 0,03 poin bila dibandingkan bulan Agustus 2018 (4,06 persen). Dilihat dari daerah tempat tinggalnya, TPT di perkotaan tercatat lebih tinggi dibanding di perdesaan. Pada Agustus 2019, TPT di perkotaan sebesar 5,55 persen, sedangkan TPT pada wilayah perdesaan sebesar 3,38 persen. Dibandingkan Agustus 2018, TPT wilayah perkotaan mengalami penurunan sebesar 0,49 poin dan wilayah perdesaan mengalami kenaikan sebesar 0,14 poin.
Grafik 2.10. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Wilayah Provinsi Lampung, Agustus 2017-Agustus 2019
Sumber : BPS Lampung
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terendah berada di Kabupaten Lampung Barat yaitu 1,68 persen. Sedangkan TPT paling tinggi yaitu 7,12 persen di Kota Bandar Lampung. Secara umum kabupaten/kota dengan potensi pertanian yang dominan memiliki tingkat pengangguran yang rendah hal ini dikarenakan sektor pertanian sangat mudah diakses oleh tenaga kerja. Sedangkan di daerah perkotaan, akses tenaga kerja ke lapangan usaha lebih sulit karena masing-masing lapangan usaha memerlukan ketrampilan tertentu. Daerah perkotaan merupakan daerah pusat ekonomi yang menjadi tujuan penduduk mencari pekerjaan.
Grafik 2.11. Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, Agustus 2019
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 29 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
2.3. EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI DAN PEMBANGUNAN REGIONAL Melalui kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, baik menyangkut kebijakan pendapatan negara, belanja negara maupun pembiayaan, pemerintah berusaha untuk mencapai beberapa sasaran, yaitu pengurangan kemiskinan, penurunan angka pengangguran, perbaikan distribusi pendapatan dalam masyarakat dan juga perbaikan IPM. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah dengan mempertimbangkan kondisi domestik maupun perkembangan ekonomi global, menargetkan sasaran makro antara lain berupa tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi dimans hal tersebut akan berkaitan erat dengan upaya pemerintah untuk mengurangi kemiskinan, penurunan angka pengangguran, perbaikan distribusi pendapatan dalam masyarakat dan juga perbaikan IPM.
Untuk mengukur efektivitas kebijakan fiskal, dapat dilakukan diantaranya dengan membandingkan antara target dengan capaian berbagai indikator ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat. Indikator yang mencapai target bahkan melebihi mengindikasikan efektivitas berbagai kebijakan pemerintah termasuk kebijakan fiskal.
Sebaliknya indikator yang belum tercapai perlu diidentifikasi dan menjadi bahan untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang, tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang mempengaruhinya.
Kebijakan fiskal yang efektif tentu saja akan sangat mempengaruhi keberhasilan ketercapaian berbagai indikator makro yang ditargetkan pemerintah, baik secara nasional maupun wilayah. Keberhasilan pembangunan suatu daerah tentu saja dipengaruhi oleh sinergi antara kebijakan nasional dan kebijakan di daerah yang ditentukan oleh pemerintah daerah yang dampaknya bukan hanya di daerah tersebut tetapi juga akan mempengaruhi pembangunan daerah sekitarnya dalam kontek pembangunan regional.
Dalam konteks pembangunan regional, Lampung memiliki peranan yang sangat strategis dalam pembangunan regional mengingat kedudukan Lampung secara geografis dan ekonomis mempengaruhi daerah-daerah di Indonesia Sumatera dan Jawa. Oleh karena keberhasilan pembangunan di Lampung akan membawa dampak positif terhadap pembangunan kawasan sekitarnya.
Salah satu alat untuk mengukur efektivitas kebijakan ekonomi makro adalah dengan melihat dan membandingkan berbagai target ekonomi yang disusun dengan
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 30 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
realisasinya. Beberapa capaian indikator ekonomi makro di Lampung adalah nampak dalam tabel di bawah :
Tabel 2.12. Asumsi Makro Ekonomi Lampung 2019
Sumber : BPS dan KUA Provinsi Lampung
Meskipun realisasi pertumbuhan ekonomi Lampung masih dibawah target yang ditetapkan dalam KUA dan RPJMD Provinsi Lampung, capaian tersebut masih dapat dikatakan wajar mengingat masih berada dalam range yang ditargetkan dan diatas capaian nasional, serta tidak terlalu jauh dari target yang ditetapkan. Beberapa indikator makro ekonomi juga tercapai melebihi target yang ditetapkan.
Hal ini menunjukkan kinerja kebijakan ekonomi dan pembangunan berjalan relatif efektif.
Laju inflasi yang berada pada batas aman sebesar 0.47 persen, dan berada dibawah batas sasaran inflasi nasional dan Lampung, 4+1 persen. Gini Ratio juga telah melampaui target dan semakin menurun, yang menunjukkan ketimpangan semakin kecil. Demikian juga dengan Tingkat Kemiskinan telah yang cenderung terus menurun pada tahun 2019.
IPM Lampung telah berada pada kategori Sedang. TPT Lampung juga sesuai dengan angka yang ditargetkan. Perubahan APBD Tahun 2019 Provinsi Lampung didasarkan atas perubahan asumsi makro ekonomi yang ada.
Tabel 2.13. Perubahan Target Penerimaan APBD TA 2018 Lampung (dalam miliar rupiah)
Uraian APBD 2018 APBD-P 2018 Perubahan Realisasi
PAD 15.552,60 16.575,99 1.023,39 18.549,68
Asumsi Makro Ekonomi Target Realisasi
Pertumbuhan Ekonomi 5,4 - 5,7 5,27%
Indeks Pembangunan Manusia 70 69,57
Indeks Gini Ratio 0,33 - 0,32 0,33
Tingkat Pengangguran Terbuka 4 4,03
Tingkat Kemiskinan 12,36 12.62
Inflasi 3,5-4,5% 0,47%
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 31 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Perubahan APBD Provinsi Lampung tahun 2019 diperlukan demi menjaga agar APBD tetap kredibel untuk kinerja perekonomian semester II karena perubahan asumsi-asumsi makro ekonomi. Dengan kata lain perubahan APBD dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan asumsi yang tidak sesuai lagi dengan asumsi kebijakan umum APBD (KUA).
Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA Tahun 2019 berdampak pada perubahan proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, serta sumber dan penggunaan pembiayaan yang semula ditetapkan dalam KUA. Perubahan asumsi dasar kebijakan umum perubahan APBD Lampung Tahun 2019 berdampak positif dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2019.
BAB III
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS
PELAKSANAAN APBN TINGKAT REGIONAL
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 34 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019 3.1. APBN TINGKAT PROVINSI
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan kebijakan fiskal pemerintah yang terkait pengaturan belanja dan pendapatan pemerintah dengan tujuan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Kebijakan fiskal tahun 2019 yaitu APBN untuk Mendorong Investasi dan Daya Saing Melalui Pembangunan (Investasi) Sumber Daya Manusia.
Total alokasi belanja secara nasional APBN 2019 sebesar Rp2.461,1 triliun, Provinsi Lampung dari alokasi belanja nasional APBN tersebut memperoleh alokasi belanja termasuk Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp34,18 triliun dengan rincian belanja pemerintah pusat sebesar Rp11,47 triliun dan Dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp22,71 triliun.
Tabel 3.1. Postur APBN Lingkup Provinsi Lampung Tahun 2018 - 2019 (dalam miliar rupiah)
Uraian Tahun 2018 Tahun 2019
Pagu Realisasi % Pagu Realisasi %
Sumber : LKBUN Kanwil DJPb Provinsi Lampung dan Omspan (data diolah)
Apabila dibandingkan dengan tahun 2018 persentase realisasi belanja pemerintah pusat terdapat kenaikan, tahun 2018 sebesar 93,5% tahun 2019 sebesar 95,3%, terdapat kenaikan pada semua jenis belanja kecuali untuk belanja barang terjadi penurunan persentase realisasi belanja barang tahun 2018 sebesar 92,8% sedangkan tahun 2019
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 35 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
atau sebesar 86,9% dari alokasi pagu DAK Fisik sebesar Rp2,02 triliun, dan ini lebih rendah dari tahun 2018 dengan realisasi sebesar Rp2,25 triliun atau sebesar 95,4% dari alokasi pagu DAK Fisik tahun 2018 sebesar Rp2,36 triliun.
Realisasi Pendapatan Negara di Provinsi Lampung tahun 2019 terjadi penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2018 baik dari jumlah nominal maupun persentasenya, tahun 2019 realisasi pendapatan negara sebesar Rp8,82 triliun atau 81,70% dari target sebesar Rp10,79 triliun, sedangkan tahun 2018 relisasi pendapatan sebesar Rp9,54 triliun atau 86,84% dari target sebesar Rp10,98 triliun.
3.2. PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL
Pendapatan negara di Provinsi Lampung tahun 2019 hanya mencapai Rp8,82 triliun mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar Rp720,79 miliar atau 7,6% dari realisasi penerimaan tahun 2018 sebesar Rp9,54 triliun. Penurunan penerimaan negara ini juga terjadi pada penerimaan perpajakan dan hibah, sedangkan untuk penerimaan negara bukan pajak mengalami kenaikan, tahun 2019 penerimaan negara bukan pajak mencapai sebesar Rp979,63 miliar, sedangkan tahun 2018 penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp899,96 miliar.
3.2.1. Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan di Provinsi Lampung tahun 2019 sebesar Rp7,74 triliun atau hanya mencapai 76,86% dari target sebesar Rp10,07 triliun, mengalami penurunan dibandingkan dengan penerimaan pajak tahun sebelumnya, tahun 2018 penerimaan perpajakan sebesar Rp8,156 triliun atau 78,1% dari target Rp10,4 triliun, penurunan penerimaan perpajakan disebabkan adanya penurunan daya beli masyarakat dan volume perdagangan di Provinsi Lampung, walaupun telah dilakukan strategi dengan bekerja sama dengan instansi daerah terkait untuk memperkaya data yang digunakan sebagai bahan penggalian potensi perpajakan. Secara rinci perbandingan penerimaan perpajakan di Provinsi Lampung dapat terlihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 3.2 Pendapatan perpajakan Pemerintah Pusat di Provinsi Lampung , 2017 – 2019 (dalam miliar rupiah)
Pendapatan Perpajakan Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 36 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Cukai 0.84 0.84 0.27 0.27 0.39 0.39
Lainnya 104.29 92.23 143.39 96.69 121.83 92.84 Pajak Perdagangan
Internasional 1,449.09 1,449.09 1,523.97 1,523.97 1,300.87 1,300.87
Bea Masuk 1,393.29 1,393.29 1,497.21 1,497.21 1,266.98 1,266.98
Bea Keluar 55.81 55.81 26.76 26.76 33.89 33.89 Sumber : LKPP Kanwil DJPb Prov. Lampung, OM SPAN, Kanwil Pajak Bengkulu Lampung (data diolah)
Kepatuhan dan kesadaran masyarakat membayar pajak diperlukan untuk mendongkrak penerimaan negara dari pajak. Penerimaan negara masih bisa ditingkatkan dengan mengubah model perekonomian dari saat ini mengandalkan konsumsi menjadi produksi.
Kemudian dengan usaha penggalian potensi dari sektor orang Pribadi dan UMKM, penggalian potensi pedang pengumpul disamping bekerja sama dengan instansi terkait untuk memperkaya data yang dapat digunakan sebagai bahan penggalian potensi dan mengawasi potensi penerimaan atas belanja Pemerintah Pusat dan Daerah diharapkan penerimaan pajak makin dapat ditingkatkan.
3.2.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
PNBP dibedakan menjadi dua yaitu PNBP umum dan fungsional. PNBP umum yaitu penerimaan yang berlaku umum di semua kementerian negara/lembaga (K/L), tidak berasal dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Sedangkan PNBP fungsional yaitu penerimaan dari hasil pungutan atas jasa yang diberikan sehubungan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dalam fungsi pelayanan kepada masyarakat. PNBP di Provinsi Lampung setiap tahun cenderung mengalami kenaikan dan melampaui target.
Realisasai penerimaan PNBP tahun 2019 sebesar Rp979,63 miliar atau 136,2% dari target sebesar Rp719,15 miliar.
Penerimaan Negara Bukan Pajak BLU masih mendominasi, realisasi penerimaan tahun 2019 dari pendapatan BLU sebesar Rp523,06 miliar atau 110,36% dari target sebesar Rp473,81 miliar, sedangkan untuk penerimaan PNBP lainnya mencapai Rp456,57 miliar atau 186,10% dari target sebesar Rp245,33 miliar.
Tabel 3.3 Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat Di Provinsi Lampung Tahun 2017- 2019 (dalam miliar rupiah)
Penerimaan PNBP
TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2019
Target Realisa
si % Target Realisa
si % Target Realisa
si %
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 37 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
c. Pendapatan BLU 257.61 399.45 155.06 335.48 489.26 145.84 473.81 523.06 110.36 d. PNBP Lainnya 238.58 405.02 169.76 216.92 410.68 189.32 245.33 456.57 186.10
Sumber : OM SPAN (data diolah)
Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat Provinsi Lampung menurut fungsional yang memberikan kontribusi tertinggi adalah Jasa Pelayanan Pendidikan (penerimaan BLU) sebesar Rp417,38 miliar dengan kenaikan 3,7% dibandingan tahun 2018 dengan realisasi sebesar Rp402,23 miliar, disusul PNBP jasa bandara udara kepelabuhan dan kenavigasian sebesar Rp61,45 miliar dengan kenaikan sebesar 32,5% dibandingkan tahun 2018 dengan realisasi penerimaan sebesar Rp46,38 miliar.
Tabel 3.4 Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi di Provinsi Lampung (dalam miliar rupiah)
PENERIMAAN PNBP
REALISASI PENERIMAAN
Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019
Jasa Pelayanan Pendidikan (BLU) 331,83 402,23 417,38
Pendapatan BPKB 49.02 47.52 47.26
Jasa Bandar Udara Kepelabuhan dan Kenavigasian 71,94 46.38 61,45
Pendapatan Penerbitan STNK 78.28 44.08 42.23
Pendapatan Tanda Nomor KB 24.92 25.47 23.18
Pendapatan Perpanjangan SIM 16.35 18.53 16.00
Pendapatan Penerbitan SIM 19.67 13.40 13.71
Pendapatan Jasa Karantina Pertanian dan Peternakan 23,44 13.16 15.14
Pendapatan Jasa Navigasi Pelayanan 71.95 13.06 14.12
Pendapatan Pendidikan Lainnya 7.13 10.29 9.41
Pendapatan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Terhadap
Pihak Lain 0,20 8.67 1.18
Sumber : OM SPAN (data diolah)
Tabel 3.5 Rasio PNBP Terhadap PDRB Tingkat Provinsi di Provinsi Lampung 2017-2019 (dalam miliar rupiah)
Tahun PDRB ADHB Penerimaan PNBP Non Tax Ratio
2017 306,700 804.47 0.26%
2018 333,680 899.94 0.27%
2019 360,660 979,63 0.27%
Sumber : LKPP UAPPAW Kanwil DJPb Lampung, OM SPAN, data BPS (diolah)
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 38 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
peningkatan penerimaan PNBP sudah dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung.
3.2.3. Penerimaan Hibah
Penerimaan hibah di Provinsi Lampung tahun 2019 mencapai sebesar Rp95,33 miliar yang merupakan pendapatan hibah dalam negeri. Penerimaan hibah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penerimaan hibah tahun 2018 yang mencapai Rp480,50 miliar. Penerima hibah terbesar yaitu Kementerian Pertahanan, Kepolisian, Komisi Pemiliahan Umum, dan Bawaslu.
Tabel 3.6 Penerimaan Hibah di Provinsi Lampung Tahun 2018-2019 (dalam rupiah)
Bagian Anggaran
Penerimaan Hibah Tahun 2018 Tahun 2019
005 Mahkamah Agung 85,000,000 210,000,000
012 Kementerian Pertahanan 15,685,280,000 17,487,270,000
013 Kementerian Hukum dan HAM - 30,000,000
025 Kemeterian Agama - 500,000,000
056 Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN 200,000,000 400,000,000
060 Kepolisian RI 63,853,996,000 65,171,320,000
066 BNN 747,267,000 250,000,000
076 Komisi Pemilihan Umum 321,144,837,376 7,650,697,500
115 Bawaslu 78,786,258,000 3,630,079,090
JUMLAH 480,502,638,376 95,329,366,590 Sumber: Omspan data diolah
3.3. BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL
Belanja pemerintah pusat adalah bagian dari belanja negara dalam rangka mendanai pengeluaran pemerintah pusat. Belanja pemerintah pusat meliputi belanja pemerintah pusat menurut organisasi, belanja pemerintah menurut fungsi, dan belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. Alokasi pagu APBN belanja negara di Provinsi Lampung sebesar Rp34,18 triliun terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp11,57 triliun untuk 46 Kementerian Negara/Lembaga (K/L) dan Belanja ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp22,71 triliun yaitu untuk Transfer ke Daerah sebesar Rp20,08 triliun, Dana Insentif Daerah Rp203,38 miliar, dan Dana Desa sebesar Rp2,43 triliun.
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 39 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019 Sumber : Omspan data diolah
Alokasi pagu belanja pemerintah pusat tahun anggaran 2019 di Provinsi Lampung terbesar yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebesar Rp3,15 triliun dengan realisasi Rp2,97 triliun atau 94,16%, alokasi pagu belanja terbesar kedua Kementerian Agama sebesar Rp1,82 triliun dengan realisasi Rp1,73 triliun atau 95,29%, dan Kepolisian mendapat alokasi pagu belanja terbesar ketiga dengan alokasi belanja sebesar Rp1,33 triliun dengan realisasi sebesar 100% dari total pagu. Sedangkan Kementerian Negara/Lembaga yang memperoleh pagu terkecil yaitu Arsip Nasional dengan alokasi pagu sebesar Rp0,31 miliar dengan realisasi belanja sebesar Rp0,28 miliar atau 89,12%, dan Perpustakaan Nasional dengan alokasi pagu belanja sebesar Rp0,42 miliar dengan realisasi sebesar Rp0,40 miliar atau 93,91% dari total pagu.
Sedangkan Kementerian Negara/Lembaga dengan persertase realisasi penyerapan belanja terkecil yaitu Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebesar 61,98% atau sebesar Rp159,03 miliar dari total pagu belanja Rp259,56 miliar, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) sebesar 73,93% atau sebesar Rp132,54 miliar dari total pagu belanja Rp179,28 miliar. Total realisasi belanja pemerintah pusat tahun 2019 di Provinsi Lampung sebesar Rp10,94 triliun atau 94,54% dari total pagu alokasi belanja Rp11,57 triliun, apabila dibandingkan dengan tahun 2018 realisasi belanja pemerintah pusat terdapat kenaikan sebesar 7,9%.
Tabel 3.7 Pagu dan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Lampung Tahun 2018 dan 2019 (dalam miliar rupiah)
9,000.00 9,500.00 10,000.00 10,500.00 11,000.00 11,500.00
Pagu Realisasi Pagu Realisasi
2018 2019
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 40 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019 Sumber : Omspan data diolah
Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Lampung berdasarkan fungsi adalah belanja Pemerintah Pusat untuk menjalankan sebelas fungsi.
Tabel 3.8 Pagu dan Realisasi Berdasarkan Fungsi di Provinsi Lampung Tahun 2018 dan 2019 (dalam miliar rupiah)
KEMENTERIAN/LEMBAGA Tahun 2018 Tahun 2019
Pagu Realisasi Pagu Realisasi
5 012 KEMENTERIAN PERTAHANAN 587.30 585.06 99.62% 736.62 697.41 94.68%
10,836.47 10,135.66 93.53% 11,567.35 10,936.35 94.54%
JUMLAH : 46 K/L
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 41 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
PERUMAHAN DAN FASILITAS UMUM 388.68 382.03 400.42 382.41
KESEHATAN 222.33 186.19 312.56 258.25
PARIWISATA DAN BUDAYA 1.87 1.72 1.78 1.73
AGAMA 214.23 203.17 300.98 296.42
PENDIDIKAN 2,117.26 1,985.97 2,781.88 3,023.82
PERLINDUNGAN SOSIAL 23.18 22.98 19.43 19.25
TOTAL 10,839.99 10,135.66 11,567.35 10,936.35
Sumber : LKPP Kanwil DJPb Prov.Lampung dan Omspan (data diolah)
Alokasi pagu belanja terbesar pada tahun 2019 diberikan pada fungsi ekonomi yang mencapai 30,59%, kemudian fungsi pendidikan sebesar 24,05% dari total pagu belanja pemerintah pusat, sedangkan fungsi yang mendapatkan alokasi pagu belanja terkecil adalah fungsi pariwisata dan budaya yang selalu mendapat alokasi pagu belanja terkecil, dan untuk tahun 2019 mendapat sebesar 0.02% dari total pagu belanja. Kecilnya porsi alokasi pagu belanja untuk fungsi pariwisata dan budaya ini dapat disimpulkan bahwa pariwisata dan budaya belum mendapat perhatian lebih dan kurang terprioritaskan, pada hal potensi pariwisata dan budaya di wilayah Provinsi Lampung sangat besar. Meskipun sektor pariwisata telah dicanangkan untuk menjadi salah satu andalan dalam menggerakkan perekonomian di Provinsi Lampung.
Tabel 3.9 Pagu dan Realisasi Berdasarkan Jenis Belanja di Provinsi Lampung Tahun 2018 dan 2019 (dalam miliar rupiah)
Jenis Belanja Tahun 2018 Tahun 2019
Pagu Realisasi Pagu Realisasi
BELANJA PEGAWAI 3,445.33 3,364.66 3,689.30 3,626.49
BELANJA BARANG 4,674.62 4,338.27 4,796.62 4,389.74
BELANJA MODAL 2,700.98 2,413.71 3,076.14 2,902.25
BELANJA BANTUAN SOSIAL 19.06 19.02 17.88 17.88
TOTAL 10,839.99 10,135.66 11,579.94 10,936.35
Sumber : LKPP Kanwil DJPb Prov.Lampung dan Omspan (data diolah)
Belanja pemerintah pusat berdasarkan jenisnya terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, belanja bantuan sosial dan belanja lain-lain. Alokasi dana untuk tiap jenis belanja APBN di Provinsi Lampung pada tahun 2019 mengalami kenaikan kecuali untuk belanja bantuan social mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018.
Belanja barang mendapat alokasi pagu terbesar yaitu sebesar Rp4,79 triliun atau 41,42% dari total pagu belanja pemerintah pusat, terbesar kedua belanja pegawai dengan alokasi pagu belanja sebesar Rp3,69 triliun atau 31,86%, belanja modal sebesar
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 42 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
dibandingkan dengan realisasi tahun 2018, semua jenis belanja mengalami peningkatan kecuali untuk persentase realisasi belanja barang tahun 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2018 dengan realisasi sebesar Rp4,39 triliun atau 91,52%
dari alokasi pagu belanja pegawai tahun 2019 sebesar Rp4,79 triliun. Persentase penyerapan tertinggi yaitu untuk belanja bantuan sosial sebesar 99,94% dari pagu belanja sebesar Rp17,87 miliar, kedua belanja pegawai dengan realisasi belanja sebesar Rp3,64 triliun atau 98,30% dari alokasi pagu belanja pegawai sebesar Rp3,69 triliun, sedangkan belanja modal dengan realisasi sebesar Rp2,90 triliun atau 94,35%
dari alokasi pagu belanja pegawai tahun 2019 sebesar Rp4,79 triliun. Persentase penyerapan tertinggi yaitu untuk belanja bantuan sosial sebesar 99,94% dari pagu belanja sebesar Rp17,87 miliar, kedua belanja pegawai dengan realisasi belanja sebesar Rp3,64 triliun atau 98,30% dari alokasi pagu belanja pegawai sebesar Rp3,69 triliun, sedangkan belanja modal dengan realisasi sebesar Rp2,90 triliun atau 94,35%