PROFIL PEKERJA ANAK
3.2. Kondisi Kerja dan Alat yang Digunakan Untuk Kerja
3.2.4. Pendapatan dan Distribusi Kebutuhan Pekerja Anak
Pendapatan perhari para pekerja anak sangat tidak menentu tergantung keadaan, lokasi kerja dan jam kerja. Pendapatan tiap anakpun berbeda-beda meskipun sudah ada yang bekerja dilokasi yang sama. Pendapatan perharinya pekerja anak tersebut rata-rata Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Namun tidak setiap harinya pekerja anak mendapatkan jumlah sekian dimana bisa lebih dari pendapatan itu maupun kurang dari pendapatan tersebut.
Uang hasil dari pendapatan pekerja anak itu biasanya diserahkan semua kepada Ibu mereka untuk keperluan rumah tangga. Seperti yang dikatakan informan pekerja anak
“Hasil mencari semuanya sama mamak untuk keperluan belanja, uang jajan, uang untuk keperluan sekolah, juga bayar utang dan bayar kredit, juga berobat kalau sakit” (Siti,10 tahun)
Dengan pendapatan dan pendistribusian yang semuanya diserahkan kepada orang tua mengakibatkan mereka tidak dapat menabung disebabkan mereka hanya dikasih uang pas setiap harinya seperti uang jajan dan ongkos ke sekolah Rp. 2.000-Rp. 4.000, kalupun ada sisa yang sisa Cuma Rp. 1.000,- per hari itu pun bukan untuk ditabung sebab mereka belum tahan bila melihat ada teman yang jajan.
Distribusi pendapatan dingunakan untuk kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan. Kebutuhan pekerja anak dalam pemenuhan kebutuhan makan secara kualitas menunjukkan kecukupan. Hal ini teridentivikasi dari pengakuan informan dimana mereka menyatakan setiap hari makan 2-3 kali sehari, tapi dari hasil pengamatan sehari-hari yang telah penulis lihat
menunjukkan secara kualitas variasi menu dan kecukupan gizi belum di perhatikan oleh orang tua mereka. Mereka keseringan makan nasi bungkus yang perbungkusnya seharga Rp.5.000- Rp.6.000, hal ini diperkuat hasil wawancara dengan pekerja anak yang menyatakan:
“Mamak gak masak, karena gak sempat sebab mau mencari” (Siti,10 tahun)
Bukan hanya itu hasil wawancara dengan salah satu orang tua mereka mengatakan bahwa itu dilakukan karena:
“Kalau dimasak makanan di rumah tidak pernah habis bahkan kadang-kadang gak disentuh, padahal sudah capek belanja dan memasaknya. Tapi coba dibelikan nasi bungkus bakal cepat habis” (Bu Dewi, 45 tahun)
Kebutuhan pemenuhan pakaian sebagian besar pekerja anak menyatakan mereka dibelikan pakaian hanya satu tahun sekali yakni menjelang hari Raya. Karena kadang-kadang ada juga yang mau menyumbangkan mereka pakaian. Hasil pengamatan sehari-hari dilihat bahwa pakaian keseharian mereka cenderung sudah kumal dan kurang bersih bahkan memakai pakaian seadanya sedangkan bagi pekerja anak yang masih menuntut ilmu dibangku sekolah, kebutuhan pakaian seragam sekolah juga kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya.
Sedangkan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal bagi pekerja anak adalah kebutuhan akan privasi anak (kamar tidur dan tempat belajar) menunjukkan bahwa semua anak belum memiliki kamar tidur sendiri, mereka terpaksa harus tidur bersama anggota keluarga lainnya bahkan berdasarkan pengamatan dapat dilihat bahwa mereka tidur di kamar/ruang tanpa adanya pintu atau hanya ditutup dengan kain, maupun tidak ditutup yaitu bergabung dengan ruang tamu
dikarenakan ukuran rumah yang sangat kecil. Keadaan lokasi kamar seperti itu mengakibatkan orang lain bebas untuk keluar masuk bahkan dapat di melihat dari luar kondisi yang ada di dalam rumah.
Bagi pekerja anak yang masih bersekolah mereka menyatakan tidak memiliki tempat khusus untuk belajar, mereka belajar dilantai rumah mereka ataupun yang memiliki meja dan kursi mereka akan menggunakannya, untuk fasilitas yang lain mereka belum memilikinya.
Gambar 13: Salah satu ruangan rumah dan kondisi kamar tempat anak untuk tidur (doc; Minarwaty Sinaga, 2010)
3.3. Hubungan Sosial Keluarga dan Lingkungannya 3.3.1. Hubungan Antara Ayah dan Ibu.
Sebelum menjadi pasangan suami istri, kedua individu ini adalah merupakan pribadi-pribadi yang terpisah dan berbeda. Tetapi karena adanya hal-hal yang membuat mereka tertarik satu-sama lain maka mereka sepakat untuk menjalani hidup bersama dalam suatu ikatan yang disebut perkawinan. Dengan adanya perkawinan maka terbentuklah sebuah keluarga. Keluarga inti (batih) adalah keluarga yang berdiri sendiri dengan menggalang peranan dalam mencukupi proses kebutuhan dan proses sosialisasi anak.
Demikian juga orang tua para pekerja anak, bagi mereka perkawinan merupakan dasar yang mengikat atau mengukuhkan untuk memulaui suatu kehidupan yang baru, dimana masing-masing pihak telah mempunyai tanggung-jawab terhadap keutuhan berdirinya rumah tangga. Berumah tangga tidak lengkap bila tidak ada anak. Oleh sebab itu setiap keluarga selalu mendambakan kehadiran seorang anak untuk menambah ceria, semagat suasana dalam keluarga. Dengan adanya anak kebutuhan ekonomipun semakin meningkat karena dituntut untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak mulai dari bayi hingga mencapai usia dewasa, baik itu kebutuhan sandang, pangan dan pendidikan untuk memperoleh mencukupkan kebutuhan tersebut dibutuhkan biaya, maka orang tua mereka harus bekerja.
Kondisi hubungan ayah dan ibu pekerja anak di Jl. Salak ini berbeda-beda tergantung dengan pengehasilan pekerjaan orang tua mereka tersebut. Hubungan Ayah dan Ibu pekerja anak satu sama lain kebanyakan kurangnya rasa kasih
sayang sebab kedua orang tua sibuk dalam mencari uang sehingga pulangpun di rumah sudah malam. Sampai di rumah langsung mandi makan lalu nonton sebentar langsung tidur.
Tidak jarang kita lihat Ayah dan Ibu mereka berantam karena suami yang tidak memberi uang untuk biaya kebutuhan di karenakan pendapatan yang sedikit dan juga suami yang malas bahkan tidak mau bekerja. Sehingga Ibu ikut bekerja yang tidak jarang pekerjaannya Ibu di Jl. Salak ini adalah menyari. Maka ketika kita melihat Suami dan Istri berantam baik di dalam rumah maupun di luar rumah adalah hal yang sudah biasa meskipun kata-kata yang dilontarkan satu sama lain sangat tidak enak didengar teliga. Istri sudah menangis karena di jambak maupun di tolak hingga terjatuh ke rel, tetangga tetap cuek dan tidak mau tau dan melerai mereka karena sehabis berkelahi sehebat itu 15 menit kemudian mereka sudah duduk bersama-sama dan bercerita-cerita seperti tidak ada masalah.