• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.4 Pendapatan

Pendapatan terdiri dari upah, atau penerimaan tenaga kerja; pendapatan dari kekayaan seperti sewa, bunga dan dividen, serta pembayaran transfer atau penerimaan dari pemerintah seperti tunjangan sosial atau angsuran si pengaguran (Samuelson dan Nordhaus, 1997). Dalam perekonomian pasar, pendapatan terutama tergantung pada upah, yaitu tergantung pada produktivitas sumber daya yang dimiliki. Penadapatan tengah seluruh rumah tangga adalah pendapatan tengah saat pendapatan diurutkan dari terendah hingga tertinggi.

Pada suatu tahun tertentu, setengah dari rumah tangga berada diatas pendapatan median dan sisa setengahnya berada dibawah pendapatan median.

Alasan mengapa pendapatan rumah tangga berbeda-beda yaitu usia, perbedaan pendidikan, kemampuan, pengalaman kerja dan jumlah anggota keluarga yang bekerja juga berbeda-beda (McEachern, 2001). Pendapatan (income) adalah

hasil berupa uang atau material lainnya, yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa-jasa. Pendapatan dicapai dengan mengalokasikan dana pada faktor-faktor produksi secara tepat, sehingga dalam setiap usaha pengelola usaha harus mampu mengkombinasikan faktor-faktor produksi untuk meningkatkan pendapatan usaha. Pengalokasian faktor-faktor produksi sama artinya dengan mengeluarkan biaya untuk memperoleh berbagai faktor produksi yang lebih dikenal dengan biaya produksi (Budiono, 2002).

Konsep pendapatan menurut Ilmu Ekonomi Pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam seminggu dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula.

Pengertian tersebut menitikberatkan pada pola kuantitaif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Secara garis besar, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi. Defenisi pendapatan menurut ilmu ekonomi menutup kemungkinan perubahan lebih dari total harta kekayaan, badan usaha awal peeriode dan menekankan pada jumlah nilai yang statis pada akhir periode. Konsep pendapatan menurut ilmu ekonomi dikemukakan oleh Wild (2003), “economic income is typically measured as cash flow plus the change in the fair value of net assets. Under this definition, income includes both realized (cash flow) and unrealized (holding gain or loss) components”. Menurut Wild, pendapatan secara khusus diukur sebagai aliran kas perubahan dalam nilai bersih aktiva. Wild memasukkan pendapatan yang dapat direalisasi sebagai komponen pendapatan. Dari definisi yang dikemukakan diatas, pendapatan menurut ekonomi mengindikasikan adanya suatu aliran dana (kas) yang terjadi dari satu pihak kepada pihak lainnya. Menurut Rosyidi (1999) “pendapatan harus didapatkan dari aktivitas produktif”. Pendapatan bagi masyarakat (upah, bunga,

sewa dan laba) muncul sebagai akibat jasa produktif (productive service) yang diberikan kepada pihak business. Pendapatan bagi pihak business diperoleh dari pembelian yang dilakukan oleh masyarakat untuk memperoleh barang dan jasa yang dihasilkan atau diproduksi oleh pihak business.

Pendapatan atau income dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksinya kepada sektor produksi dan sektor produksi ini “membeli” faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku di pasar faktor produksi. Hasil faktor produksi di pasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-barang di pasar barang) ditentukan oleh tarik menarik, antara penawaran dan permintaan (Boediono, 2010). Secara singkat “income” seorang warga masyarakat ditentukan oleh:

a) Jumlah faktor-faktor produksi yang ia miliki yang bersumber pada:

(i) hasil-hasil tabungannya di tahun-tahun yang lalu (ii) warisan/pemberian

b) Harga per unit dari faktor-fakttor produksi. Harga harga yang ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan di pasar faktor produksi (Boediono, 2010). Soekartawi (2006) keuntungan merupakan total penerimaan dikurangi dengan total biaya.

a. Pengertian Pendapatan Nelayan

Sumber utama pendapatan nelayan adalah dari usaha perikanan, sehingga pendapatannya tergantung dari kondisi alam untuk melaut, semakin mendukung kondisi alam maka semakin tinggi peluang untuk mendapatkan hasil yang baik, sebaliknya semakin buruk kondisi alamnya maka semakin rendah peluang untuk mendapatkan hasil yang baik. Jumlah tangkapan nelayan tradisional sangat mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan tradisional, dan

tingkat pendapatan nelayan tradisional sudah pasti berimbas pada pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan tingkat kelayakan hidup nelayan tradisional beserta anggota keluarganya (Manurung, 2014). Peningkatan produksi perikanan akan menuju kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan.

Pendapatan yang merupakan salah satu faktor ekonomi sangat bergantung pada faktor sosial nelayan (usia, pendidikan, jumlah tanggunga keluarga dan pengalaman kerja) begitu sebaliknya (Hamdi dan Raudatul, 2011).

Banyaknya tangkapan tercermin pula besaran pendapatan yang diterima dan pendapatan tersebut sebagian besar untuk keperluan konsumsi keluarga, dengan demikian tingkat pemenuhan konsumsi keluarga atau kebutuhan fisik minimum (KFM) sangat ditentukan oleh pendapatan yang diterima. Sumber daya perikanan sebenarnya secara potensial dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan nelayan, namun pada kenyataannya masih cukup banyak nelayan yang belum dapat meningkatkan hasil tangkapannya, sehingga tingkat pendapatan nelayan tidak meningkat (Sujarno, 2008).

Dari sisi ekonomi pendapatan nelayan masih sangat rendah, sehingga mereka miskin. Hal ini dikarenakan: keterbatasan modal, skill, adanya tekanan dari pemilik modal (sistem bagi hasil perikanan yang tidak adil), sistem perdagangan atau pelelangan ikan yang tidak transparan (tidak ada regulasi yang tepat dan lemahnya otoritas atau pemerintah), budaya kerja yang masih tradisional atau konvensional (Retnowati, 2011). Pendapatan nelayan sangat tergantung pada banyaknya hasil tangkapan yang sangat berfluktuasi sesuai dengan musim. Pada saat musim paceklik, tidak jarang para nelayan tidak memperoleh hasil sama sekali. Sebaliknya pada saat musim ikan hasil tangkapan bisa melimpah sehingga pendapatan yang diterima pun besar (Muflikhati, 2010). Pendapatan nelayan adalah selisih antara penerimaan (TR)

dan semua biaya (TC). Jadi Pd = TR – TC. Penerimaan nelayan (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (Py). Biaya nelayan biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk tenaga kerja. Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC), maka TC = FC + VC (Soekartawi, 2002).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan

1. Modal

Menurut Mubyarto (1973) modal adalah barang atau uang yang secara bersama – sama faktor produksi, tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang yang baru. Pentingnya peranan modal karena dapat membantu menghasilkan produktivitas, bertambahnya keterampilan dan kecakapan pekerja juga menaikkan produktivitas produksi. Modal mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan berhasil tidaknya suatu usaha produksi yang didirikan. Modal dapat dibagi sebagai berikut : Modal Tetap adalah modal yang dapat dipakai untuk proses produksi dalam jangka waktu yang relatif lama dan tidak terpengaruh oleh besar kecilnya jumlah produksi, misalnya Modal perahu, modal jaring, dan lain sebagainya. Modal Lancar adalah modal memberikan jasa hanya sekali dalam proses produksi, bisa dalam bentuk bahan baku dan kebutuhan lain sebagai penunjang usaha tersebut misalnya makanan, solar, rokok dan lain sebagainya.

Modal dalam kegiatan nelayan sangat mutlak dibutuhkan, karena tanpa modal seperti sampan/perahu/kapal, jaring dan peralatan menangkap ikan lainnya

nelayan tidak akan mendapatkan ikan/ memproduksi ikan. Dengan kata lain nelayan tidak memiliki Pendapatan. Produksi ikan nelayan di tentukan oleh seberapa besar modal yang di gunakan dalam melaut. Dengan modal yang besar para nelayan akan mampu memproduksi hasil ikan tangkapnya dan pendapatannya semakin besar.

Modal adalah salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi setiap usaha, baik skala kecil, menengah maupun besar. Dalam memulai suatu usaha, modal merupakan salah satu faktor penting disamping faktor lainnya, sehingga suatu usaha bisa tidak berjalan apabila tidak tersedia modal. Artinya, bahwa suatu usaha tidak akan pernah ada atau tidak dapat berjalan tanpa adanya modal. Hal ini menggambarkan bahwa modal menjadi faktor utama dan penentu dari suatu kegiatan usaha. Karenanya setiap orang yang akan melakukan kegiatan usaha, maka langkah utama yang dilakukannya adalah memikirkan dan mencari modal untuk usahanya. Modal merupakan kekayaan yang dimiliki perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan pada waktu yang akan datang dan dinyatakan dalam nilai uang.

2. Lama Kerja

Menurut Masyhuri dalam Sujarno (2008:39) setidaknya ada tiga pola penangkapan ikan yang lazim dilakukan oleh nelayan, yaitu:

a) Pola penangkapan lebih dari satu hari Penangkapan ikan seperti ini merupakan penangkapan ikan lepas pantai. Jauhdekatnya daerah tangkapan dan besar kecilnya perahu yang digunakanmenentukan lamanya melaut.

b) Pola penangkapan ikan satu hari Biasanya nelayan berangkat melaut sekitar jam 14.00 kembali sekitar jam 09.00 hari berikutnya.

Penangkapan ikan seperti ini biasanya dikelompokkan juga sebagai penangkapan ikan lepas pantai.

c) Pola penangkapan ikan tengah hari Penangkapan ikan seperti ini merupakan penangkapan ikan dekat pantai. Umumnya mereka berangkat sekitar jam 03.00 dini hari atau setelah Subuh, dan kembali pagi harinya sekitar jam 09.00.

Pada umumnya penangkapan ikan lepas pantai yang dilakukan dalam waktu yang lebih lama dan lebih jauh dari daerah sasaran tangkapan ikan mempunyailebih banyak kemungkinan memperoleh hasil tangkapan (produksi) yang lebih banyak dan tentu memberikan pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan penangkapan ikan dekat pantai.

3. Faktor Tenaga Kerja

Teori Keynes mengatakan cara mengurangi pengangguran yaitu dengan memperbanyak investasi, misalnya mesin karena mesin butuh operator otomatis akan menyerap tenaga kerja. Selain itu konsumsi harus sama dengan pendapatan, karena banyaknya tingkat konsumsi akan memerlukan juga banyak output sehingga otomatis harus menambah perkerja, apabila outpunya banyak otomatis gaji para pekerja akan naik sehingga daya beli mereka meningkat.

Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam produksi, karena tenaga kerja merupakan faktor penggerak faktor input yang lain, tanpa adanya tenaga kerja maka faktor produksi lain tidak akan berarti. Dengan meningkatnya produktifitas tenaga kerja akan mendorong peningkatan produksi sehingga pendapatan pun akan ikut meningkat.

Aset utama para usaha nelayan, hanya tenaga kerja dan keterampilan, serta kreatifitas yang relaitif masih rendah. Meskipun pekerjaan sebagai nelayan cepat mendatangkan hasil, tetapi seringkali penghasilan itu tidak mencukupi

kebutuhan rumah tangga mereka. Usaha nelayan mempunyai peranan yang sangat substansial dalam modernisasi kehidupan manusia. Mereka termasuk agent of development yang saling reaktif terhadap perubahan lingkungan. Sifat yang lebih terbuka dibanding kelompok masyarakat yang hidup di pedalaman, yang menjadi stimulator untuk menerima perkembangan modern.

Setiap usaha kegiatan nelayan yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja, banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan harus sesuai dengan kapasitas kapal motor yang dioperasikan sehingga akan mengurangi biaya melaut (lebih efisien) yang diharapkan pendapatan tenaga kerja akan lebih meningkat, karena tambahan tenaga tersebut profesional, (Masyhuri, 1999).

Oleh karena itu dalam analisa ketenagakerjaan usaha nelayan, penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan kerja. Curahan tenaga kerja yang dipakai dalam besarnya tenaga kerja efektif yang dipakai.

4. Faktor Pengalaman

Pengalaman sebagai nelayan secara langsung maupun tidak, memberikan pengaruh kepada hasil penangkapan ikan. Semakin lama seseorang mempunyai pengalaman sebagai nelayan, semakin besar hasil dari penangkapan ikan dan pendapatan yang diperoleh, (Yusuf, 2003).

Faktor pengalaman, faktor ini secara teoritis dalam buku, tidak ada yang membahas bahwa pengalaman merupakan fungsi dari pendapatan atau keuntungan. Namun, dalam aktivitas nelayan dengan semakin berpengalaman dalam menangkap ikan bisa meningkatkan pendapatan atau keuntungan.

5. Faktor Teknologi

Nelayan dikategorikan sebagai seseorang yang pekerjaannya menangkap ikan dengan mengunakan alat tangkap yang sederhana, mulai dari

pancing, jala, jaring, pukat, dan lain sebagainya. Namun dalam perkembangannya dikategorikan sebagai seorang yang berprofesi menangkap ikan dengan alat yang lebih modern ialah kapal ikan dengan alat tangkap modern.

Semakin canggih teknologi yang digunakan nelayan maka akan semakin meningkatkan produktifitas hasilnya lebih meningkatkan produksi, yang didalamnya tersirat kesimpulan bahwa masyarakat akan memperoleh penghasilan yang lebih tinggi. Keberadaan nelayan digolongkan menjadi 4 tingkatan dilihat dari kapasitas teknologi (alat tangkap dan armada), orientasi pasar dan karakteristik pasar. Keempat kelompok tersebut, antara lain nelayan tradisional (peasant-fisher) yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri; post peasant-fisher atau nelayan yang menggunakan teknologi penangkapan ikan yang lebih maju, seperti motor tempel atau kapal motor;

commercial fisher atau nelayan yang telah berorientasi pada peningkatan keuntungan, dan industrial fisher yang memiliki beberapa ciri, seperti terorganisasi, padat modal, pendapatan lebih tinggi, dan berorientasi ekspor, (Satria, 2002).

Dokumen terkait