• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan (PDRB) per Kapita

Dalam dokumen Bekasi, November 2012 Bappeda Kota Bekasi (Halaman 41-50)

BAB III LANDASAN TEORITIS

B. Pendapatan (PDRB) per Kapita

Pendapatan per Kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu Negara (daerah). Pendapatan per Kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara (atau PDRB bagi daerah) dengan jumlah penduduk Negara (daerah) tersebut. Pendapatan per Kapita juga merefleksikan PDB per Kapita. Jadi untuk melakukan perhitungan PDRB Per Kapita adalah dengan membagi nilai total PDRB (ADHB atau ADHK) terhadap Jumlah Penduduk yang ada pada periode perhitungan PDRB Per Kapita tersebut, atau bisa digunakan rumus sebagai berikut:

PDRB (tahun ke-t)

PDRB per Kapita=

3-8 Keterangan:

ü PDRB per Kapita adalah pendapatan per kapita

ü PDRB (tahun ke-t) adalah nilai total PDRB untuk tahun yang diteliti

ü Jumlah Penduduk (tahun ke-t) adalah jumlah penduduk untuk tahun yang diteliti

Dengan mengaplikasikan rumus tersebut di atas, kita bisa memperoleh Pendapatan per Kapita sebuah wilayah (daerah). Pendapatan per Kapita juga sering kali digunakan oleh para peneliti dalam bidang ekonomi (ekonom) sebagai salah satu referensi dan indikator ekonomi sebuah wilayah (daerah) dimana kondisi Pendapatan per Kapita tersebut bisa merefleksikan kemakmuran atau kesejahteraan sebuah wilaha (daerah) dalam suatu masa tertentu.

Dalam tataran sebuah negara, manfaat Pendapatan per Kapita untuk sebuah negara biasanya seringkali digunakan untuk hal-hal sebagai berikut: (1) mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara; (2) mengetahui perkembangan tinkat kesejateraan di berbagai negara; (3) dapat mengelompokkan suatu negara berdasarkan pengelompokkan Bank Dunia; (4) dapat memperkirakan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu negara dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

C. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya diartikan sebagai suatu proses dimana PDB Riil atau Pendapatan Riil per Kapita meningkat secara terus menerus melalui kenaikan produktivitas per Kapita (Dominique Salvator: 1997). Sementara itu Gerardo (1991) mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi (economic growth) didefinisikan sebagai peningkatan dalam kapasitas suatu bangsa jangka panjang untuk memproduksi aneka barang dan jasa bagi rakyatnya. Kapasitas ini bertumpu pada kemajuan teknologi produksi. Secara konvensional, pertumbuhan diukur dengan kenaikan Pendapatan Nasional (PNB, PDB) per Kapita.

3-9 Teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Robert Solow menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal) dan kemajuan teknologi. Pandangan teori ini didasarkan kepada anggapan yang mendasari analisis klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain, sampai dimana perekonomian akan berkembang tergantung pada pertambahan pernduduk, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi (Lincolin Arsyad, 1999).

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) atau Economic Growth merupakan indeks berantai dari masing-masing kegiatan ekonomi. Angka indeks yang dihasilkan bisa didasarkan atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. Pada umumnya yang sering digunakan atau dianalisis oleh para ekonom adalah LPE harga konstan, karena menggambarkan pertumbuhan produksi riil dari masing-masing sektor.

Laju pertumbuhan ekonomi diperoleh dengan cara membagi selisih nilai PDRB sektor/ sub sektor tahun berjalan dan tahun sebelumnya dengan PDRB sektor/ sub sektor tahun sebelumnya, dikalikan 100. Untuk menentukan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) sebuah wilayah atau daerah, maka bisa menggunakan rumus sebegai berikut:

Keterangan:

LPE = Laju Pertumbuhan Ekonomi

PDRB = Produk Domestik Regional Bruto K = Atas Dasar Harga Konstan (Riil)

n = Tahun Berjalan

i = Sektor/ Sub sektor

PDRB(n,k,i) – PDRB(n-1,k,,i)

LPE(n,i) = x 100 % PDRB(n-1,k,i)

3-10 Untuk menghitung tingkat pertumbuhan perekonomian sebuah wilayah (daerah) adalah dengan menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) atau PDRB rill, karena cara ini lebih merefleksikan kondisi faktual atau keadaan yang sesungguhnya, dimana dalam perhitungannya tidak memperhitungkan tingkat kenaikan harga yang biasa dilakukan pada perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (DRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) atau PDRB nominal.

D. Inflasi dan Indeks Harga Implisit (IHI)

Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi.

Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah IHK dan GDP Deflator.

Ada beberapa indikator makro ekonomi yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama satu periode tertentu, yaitu sebagai berikut:

1. Indeks Harga konsumen (IHK), adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen dalam satu periode tertentu. IHK dihitung berdasarkan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dalam satu periode tertentu.

2. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB/ wholesale price index), berbeda dengan metode perhitungan IHK yang melihat inflasi dari segi konsumen, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) melihat inflasi dari segi produsen. IHPB menunjukkan tingkat harga yang diterima produsen pada berbagai tingkat produksi.

3-11 3. Indeks Harga Implisit (GDP Deflator), perhitungan inflasi menggunakan IHK dan IHPB mempunyai keterbatasan, karena hanya memperhitungkan beberapa ratus barang dari beberapa puluh kota saja. Padahal barang yang diproduksi dan dikonsumsi tidak hanya barang yang diperhitungkan saja, namun masih banyak barang yang mungkin belum dimasukkan dalam perhitungan padahal barang tersebut diproduksi dan dikonsumsi. Kegiatan ekonomi juga tidak terjadi di beberapa kota saja, melainkan di seluruh pelosok tanah air. Untuk itu, untuk mendapatkan gambaran inflasi yang mendekati keadaan sebenarnya, maka para ekonom sepakat menggunakan Indeks Harga Implisit (GDP Deflator) atau disingkat menjadi IHI. Indeks Harga Implisit (IHI) menggambarkan tingkat perkembangan harga (dari agregat pendapatan terhadap harga pada tahun dasar) atau inflasi secara makro. Indeks harga implisit diperoleh dengan cara membagi nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dengan nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan pada tahun yang sama dikalikan dengan 100. Indeks Harga Implisit (IHI) dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:

IHI = Indeks Harga Implisit n = Tahun Berlaku

b = Atas Dasar Harga Berlaku k = Atas Dasar Harga Konstan i = Sektor/ Sub sektor

NTB (n,b,i)

IHI (n,i) = x 100 NTB (n,k,i)

3-12 E. Ekspor-Impor

Ekspor merupakan adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain. Proses ini seringkali digunakan oleh perusahaan dengan skala bisnis kecil sampai menengah sebagai strategi utama untuk bersaing di tingkat internasional. Jenis ekspor diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ekspor langsung, adalah cara menjual barang atau jasa melalui perantara/ eksportir yang bertempat di negara lain atau negara tujuan ekspor. Penjualan dilakukan melalui distributor dan perwakilan penjualan perusahaan. Keuntungannya, produksi terpusat di negara asal dan kontrol terhadap distribusi lebih baik. Kelemahannya, biaya transportasi lebih tinggi untuk produk dalam skala besar dan adanya hambatan perdagangan serta proteksionisme.

2. Ekspor tidak langsung, adalah teknik dimana barang dijual melalui perantara/ eksportir negara asal kemudian dijual oleh perantara tersebut. Melalui, perusahaan manajemen ekspor (export management companies) dan perusahaan pengekspor (export trading companies). Kelebihannya, sumber daya produksi terkonsentrasi dan tidak perlu menangani ekspor secara langsung. Kelemahannya, kontrol terhadap distribusi kurang dan pengetahuan terhadap operasi di negara lain kurang. Umumnya, industri jasa menggunakan ekspor langsung sedangkan industri manufaktur menggunakan keduanya

Dalam kaitannya dengan pemerintah daerah, ekspor juga biasa dilakukan oleh pemerintah daerah guna mensupply kebutuhan barang dan jasa ke luar negeri. Dalam beberapa definisi ekspor, juga ditemukan bahwa kegiatan mensupply kebutuhan barang dan jasa keluar wilayah lainnya didalam wilayah regional daerah tersebut juga merupakan kegiatan ekspor.

Sementara itu pengertian Impor adalah merupakan proses transportasi barang dan jasa dari suatu negara kenegara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan proses impor umumnya adalah tindakan memasukan

3-13 barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima.

F. Keuangan Daerah (APBD, PAD)

Gambaran Keuangan Daerah Otonom direfleksikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau PAD, yaitu merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. APBD sendiri terdiri atas:

1. Anggaran Pendapatan, terdiri atas (1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain (2) Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus, (3) Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.

2. Anggaran Belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah.

3. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/ atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

Dalam pembahasan mengenai keuangan daerah, ada berbagai indikator yang sering kali digunakan sebagai bahan kajian. Intinya adalah bagaimana sebuah penelitian dapat melihat sisi kemampuan suatu daerah dalam menjalankan otonomi keuangannya. Indikator-indikator keuangan tersebut antara lain:

3-14 1. Rasio PAD dengan Penerimaan, Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pos pendapat dalam APBD suatu daerah menunjukan tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Semakin tinggi persentase antara PAD dengan pos penerimaan maka itu menunjukan suatu daerah semakin mandiri. Sebaliknya jika persentasenya rendah maka daerah tersebut menggambarkan ketergantungan yang tinggi terhadap pemerintah pusat.

2. Rasio PDRB dengan APBD, Indikator lain yang berkaitan dengan keuangan daerah adalah rasio antara PDRB suatu daerah dengan APBD daerah tersebut. Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam mengumpulkan dana. Indikator ini dapat menunjukan besarnya kemampuan pemerintah daerah untuk membiayai berbagai kebutuhan barang dan jasa publik diwilayahnya.

Keuangan daerah menjadi salah satu indikator ekonomi yang sangat penting dalam pembahasan perekonomian suatu daerah. Hal ini sebabkan jumlah nilai anggaran penerimaan dan belanja pemerintah relatif besar, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi roda perekonomian di suatu daerah. Pengaruh ini tak jarang sampai meluas ke luar wilayah bahkan sampai keluar negeri.

G. Investasi

Dalam kerangka pembangunan, salah satu sumber penting bagi tercapainya pembangunan yang berkualitas adalah investasi. There is no (economic) growth without investment, mengapa investasi sedemikian penting bagi pembangunan ekonomi? Ini antara lain karena investasi dapat dilihat dari pengaruh investasi bagi pertumbuhan agregat yaitu dengan mendorong tingkat output dan kesempatan kerja; dan efeknya terhadap pembentukan kapital yang dalam jangka panjang akan meningkatkan potensi output dan menjaga pertumbuhan (Hamid, 2006:165).

Dalam konteks ekonomi daerah yang saat ini tengah berlangsung, idealnya daerah menjadikan investasi sebagai salah satu pendorong

3-15 pembangunan daerah. Daerah sudah saatnya berkompetisi menarik sebanyak mungkin investasi sebagai penggerak pembangunan daerah sehingga potensi daerah dapat dimanfaatkan secara optimal bagi masyarakat. Teori ekonomi mengartikan atau mendefinisikan investasi sebagai ”pengeluaran-pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan peralatan-peralatan produksi dengan tujuan untuk mengganti dan terutama menambah barang-barang modal dalam perekonomian yang akan digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa di masa depan”.

Menurut Boediono (1992) investasi adalah pengeluaran oleh sektor produsen (swasta) untuk pembelian barang dan jasa untuk menambah stok yang digunakan atau untuk perluasan pabrik. Dornbusch & Fischer, berpendapat bahwa investasi adalah permintaan barang dan jasa untuk menciptakan atau menambah kapasitas produksi atau pendapatan di masa mendatang. Saat ini, investasi swasta di Indonesia dijamin keberadaannya sejak dikeluarkannya Undang-Undang No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Undang-Undang No.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Berdasarkan sumber dan kepemilikan modal, maka investasi swasta dibagi menjadi penanaman modal dalam negeri dan asing. Dengan semakin besarnya investasi pemerintah pada barang publik maka diharapkan akan mendorong pertumbuhan sektor pertumbuhan sektor swasta dan rumah tangga dalam mengalokasikan sumberdaya yang ada di suatu daerah.

Kajian KPP-OD (2002, dalam Hamid, 2006:171) misalnya dapat menjadi tolok ukur daya tarik investasi di daerah, yaitu: 1) keamanan; 2) potensi ekonomi; 3) budaya daerah; 4) sumber daya manusia; 5) keuangan daerah; 6) infrastruktur; dan 7) peraturan daerah. Dengan demikian, bila suatu daerah tidak memiliki endowment resources yang memadai, masih banyak aspek yang dapat dikembangkan untuk menarik investasi dan mendukung pembangunan daerah. Yang dapat dilakukan pemerintah daerah dari tujuh point diatas yaitu dari sisi infrastruktur dan peraturan daerah.

Penilaian terhadap keberhasilan suatu daerah salah satunya adalah daya tarik untuk berinvestasi didaerah tersebut. Investor selalu menjadikan tolok ukur daya tarik investasi di daerah dengan melihat beberapa faktor, antara

3-16 lain sebagai berikut: (1) Keamanan; (2) Potensi Ekonomi; (3) Budaya Daerah; (4) Sumber Daya Manusia (SDM); (5) Keuangan Daerah; (6) Infrastruktur; dan (7) Peraturan Daerah.

Dalam dokumen Bekasi, November 2012 Bappeda Kota Bekasi (Halaman 41-50)

Dokumen terkait