Teks : Opung Christin Simanjuntak | Foto : Humas Pelindo 1
PANDU
bergaya modern.
Di dermaga terminal BBM Pertamina dengan kedalaman 18-20 Low Water Spring (LWS) atau air laut surut terendah itu nantinya kata Herry Ams, kapal besar berbobot 100.000 ton akan bisa bersandar untuk melakukan aktivitasnya.
Nah dengan semakin pesatnya
kegiatan kapal-kapal tanker bersandar di terminal BBM Pertamina di Pulau Sambu tersebut jelas Herry, Pelindo 1 Batam dipastikan bisa meraup pendapatan dari segmen pemanduan. Bahkan segmen tunda juga dipastikan bakal bisa masuk dengan catatan Pelindo 1 harus menyiapkan 2 unit kapal tunda.”Tahun ini Pelindo 1 akan mendatangkan 2 unit kapal tunda sehingga pelayanan tunda bisa ditangani oleh Pelindo 1 Batam dan pendapatan pun bakal meningkat,” katanya.
Sampai saat ini Herry mengakui bahwa Pelindo 1 di Batam baru sebatas berbisnis di laut seperti pelayanan pemanduan, tunda dan ship to ship (STS) di Pulau Nipah dan Batu Ampar karena bisnis di darat masih dikuasai oleh penguasa Batam yakni Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Dia juga mengakui bahwa bisnis Maritime Service yang menjadi andalan pendapatan Pelindo 1 Batam memiliki saingan dari perusahaan swasta yang bekerjasama dengan BP Batam. Kendati demikian kata Herry optimis, Pelindo 1 Batam masih tetap unggul dalam hal pelayanan.
Kenapa kata Herry yang kemudian dijawabnya, Pelindo 1 jauh lebih berpengalaman dibanding pihak swasta yang juga melakoni bisnis serupa di Pulau Batam. Tenaga pelaut Pelindo 1 yang memiliki kualifikasi internasional jauh lebih berpengalaman dan unggul dibanding perusahaan swasta yang masih pemain baru dalam bisnis pemanduan dan penundaan serta STS.”Perbandingannya 70 : 30 sehingga persaingannya tidak diragukan oleh Pelindo 1 Batam,”
kata Herry optimis.
Optimalkan Batu Ampar Salah satu segmen bisnis yang bakal menunjang pendapatan Pelindo 1 Cabang Batam kelak adalah rencana pengelolaan Pelabuhan Batu Ampar di Pulau Batam. Rencananya Pelabuhan Batu Ampar yang akan diserahkan ke Pelindo 1 akan dijadikan menjadi Pelabuhan Peti Kemas pertama di Pulau Batam.
“Rencananya memang pengelolaan Pelabuhan Batu
Ampar akan diserahkan ke Pelindo 1. Hasil pembicaraan di pusat, Pelabuhan Batu Ampar akan diserahkan kepada Pelindo 1. Kami masih menunggu proses penyerahan baru aksi,” kata Herry.
Herry mengaku, bahwa Batam berpotensi sangat cepat dalam pengelolaan bisnis peti kemas mengingat pertumbuhan ekonomi di Pulau Batam yang cukup tinggi.
Sebab Batam berdekatan dengan jalur perdagangan internasional terpadat di dunia yakni Selat Malaka. Selain itu Batam juga merupakan sub pengembangan tol laut.
Saat ini katanya lagi, arus lalu lintas peti kemas di Singapura sudah padat sehingga negeri singa itu sudah kesulitan untuk menyimpan peti kemas. Dengan demikian Pelabuhan Batu Ampar yang saat ini dikelola BP Batam dan memiliki luas 20 hektare serta panjang dermaga 600 meter yang hanya melakukan kegiatan 300.000 teus per tahun bisa dioptimalkan oleh Pelindo 1.
“Kami sangat siap untuk mengelola Pelabuhan Batu Ampar menjadi lebih baik dari sekarang karena Pelindo 1 sudah berpengalaman dalam pengelolaannya,” katanya.
Sebelumnya Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba mengatakan, sangat setuju jika Pelabuhan Batu Ampar diserahkan kepada Pelindo 1 yang paling pas untuk mengelolanya.
“Dari segi apapun memang Pelindo 1 yang harus mengelola Batu Ampar agar perekonomian lewat bisnis peti kemas di Batam bisa tumbuh cepat,” katanya.
Parlindungan menambahkan, arus lalu lintas melalui jalur perdagangan terpadat di dunia yakni Selat Malaka mencapai 52 juta teus per tahun. Selama ini Singapura menguasai sekitar 32 juta teus. “Nah sisanya itu kan bisa kita rebut,” katanya.
GM Pelindo 1 Batam Herry Ams menambahkan, tahun ini pendapatan hingga Juni 2016, pendapatan Pelindo 1 Batam baru sekitar 40 persen dari target yang ditetapkan. “Harga minyak dunia turun sehingga kunjungan kapal tanker jauh berkurang. Ini terjadi sebagai imbas perekonomian dunia yang belum pulih.
S
elain fokus di bisnis pelabuhan, Pelindo 1 Lhokseumawe siap mengembangkan pelabuhan Lhokseumawe sebagai destinasi wisata yang akan menjadi salah satu ikon di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara.General Manager Pelindo 1 cabang Pelabuhan Lhokseumawe, Prahardi Winarso mengungkapkan dalam waktu dekat, Pelindo 1 cabang Lhokseumawe akan mengoperasikan storage tank untuk CPO kelapa sawit di Pelabuhan Lhokseumawe dengan
kapasitas 2 x 3.500 ton.
Direncakanakan, 2017 mendatang storage tank tersebut dapat dioperasikan guna menghemat biaya produksi CPO di Lhokseumawe.
“Ada perkebunan PTPN 1 disini dan mereka sudah setuju untuk bersinergi dengan kami untuk membangun storage tank disini.
Berdasarkan data badan statistik, produksi CPO mereka mencapai 135.995 matrix ton per tahun dan selama ini distribusinya dilakukan lewat Belawan,” paparnya.
Selain digunakan untuk
distribusi CPO sawit, Prahardi menambahkan pelabuhan Lhokseumawe juga digunakan untuk mendistribusikan pupuk dari PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Pertamina dan PT Kraft Kertas Aceh (KKA).
“Selama ini, jumlah kunjungan kapal ke pelabuhan ini sebanyak 33 call atau kunjungan per bulan.
Jumlah kunjungan kapal tersebut diharapkan dapat meningkat paling tidak dua kali lipat, bila pelabuhan Lhokseumawe dapat dikembangkan,” paparnya.
Prahardi Winarso menambahkan
PELINDO 1 LHOKSEUMAWE SIAP KEMBANGKAN DESTINASI WISATA
Teks : Dicky Irawan | Foto : Humas Pelindo 1
MENARA
Pelindo 1 Lhokseumawe optimis seiring berkembangnya Pelabuhan Lhokseumawe akan mendongkrak jumlah kunjungan kapal ke pelabuhan tersebut.
Selain itu, lokasi Pelabuhan Lhokseumawe yang stratagis yang berada di lintasan selat Malaka dengan kedalaman laut 14 sampai 24 meter menjadi nilai tambah tersendiri bagi Pelabuhan Lhokseumawe untuk disinggahi oleh kapal-kapal berbadan besar.
Tidak hanya fokus di bisnis pelabuhan, Prahardi Winarso menambahkan Pelindo 1 Lhokseumawe juga akan
mengembangkan kawasan pelabuhan tersebut sebagai kawasan wisata dan kawasan properti seperti perhotelan dan perkantoran.
“Pelindo 1 Lhokseumawe berencana akan membangun Malaka Beach dan Mesjid Terapung di kawasan pelabuhan ini. Karena kita memiliki areal pelabuhan yang cukup luas lebih dari 20 hektar. Kawasan wisata itu diharapkan akan menjadi destinasi wisata dan menjadi ikon di Lhokseumawe,” jelasnya.
Karena selama ini, Lhokseumawe
belum memiliki destinasi wisata khusus. Padahal, Lhokseumawe memiliki segudang potensi wisata yang dapat dikembangkan.
“Selama ini, orang taunya hanya ke warung kopi tiap kali singgah di Lhokseumawe. Makanya, dengan adanya Malaka Beach dan Mesjid Terapung itu, akan menjadi ikon di Lhokseumawe,” jelasnya.
Untuk itu, Prahardi mengharapkan dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan mimpi besar Pelindo 1 cabang Lhokseumawe tersebut untuk meningkatkan ekonomi kawasan tersebut.
Komandan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Lhokseumawe, Letkol Marinir Wisman Rusdianto mengungkapkan dari segi keamanan, pihaknya membutuhkan setidaknya 75 anggota marinir untuk mengamankan perairan Lhokseumawe. Karena selama ini, KSOP Lhokseumawe baru memiliki 40 orang.
Selain itu, KSOP Lhokseumawe juga membutuhkan kapal patroli yang memadai. Karena kapal patroli yang selama ini digunakan merupakan kapal patroli buatan tahun 1980 an. Soalnya, selama ini, setiap kapal patroli itu digunakan beroperasi ke tengah laut, mesin kapalnya selalu menghadapi kendala.
“Memang bisa kapal itu berpatroli sampai ke tengah, tapi pulangnya kapal kami itu harus ditarik, karena mesinnya mogok. Selain itu, kami butuh jaringan listrik yang memadai untuk memback up koneksi kami agar tetap online,” ujarnya.
Letkol Marinir Wisman Rusdianto mengajak awak media untuk mendukung program percepatan pengembangan ekonomi laut wilayah Lhokseumawe ini.
“Media juga harus ikut
membackup dengan menyuarakan program ini. Biar kedepannya, lebih banyak lagi kapal yang mau bongkar muat barangnya di pelabuhan ini,” pungkasnya.