• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi hidung dan sinus parasanal

2.1.2 Pendarahan hidung

2.1.2.2 Pendarahan arteri karotis eksterna

Arteri maksilaris interna yang berasal dari arteri karotis eksterna kemudian bercabang menjadi arteri sfenopalatina dan arteri palatine mayor. Arteri sfenopalatina masuk ke dalam rongga hidung melalui foramen

sphenopalatina yang terletak sebelah lateral ujung posterior konka media.

Di dalam rongga hidung arteri sfenopalatina bercabang menjadi lateral nasal artery yang mendarahi dinding lateral hidung dan posterior septal nasal artery yang mendarahi septum nasi. Arteri karotis interna juga bercabang menjadi arteri fasialis lalu menjadi arteri labialis superior (Dhingra, 2007; Lee, 2008;

Hwang & Abdalkhani, 2009).

Pada bagian anterior septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri spenopalatina, arteri ethmoidalis anterior, arteri labialis superior, arteri palatina mayor yang disebut plexus kieselbach. Letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma sehingga sering menjadi sumber perdarahan hidung (Dhingra, 2007).

Pada bagian posterior konka media terdapat anastomose arteri spenopalatina dan ascendeing pharyngeal artery (woodruff’s area). Daerah ini sering menyebabkan epistaksis posterior (Hwang & Abdalkhani, 2009).

Representasi skematis anatomi arterial normal region sinonasal. ACA mengindikasikan anterior cerebral artery; AEA, anterior ethmoidal artery; APA, ascending palatine artery; APhA, ascendeing pharyngeal artery;

DPA, sescending palatine artery; ECA, external carotid artery; FA, facial artery; ICA, internal carotid artery;

ILT, inferior lateral trunk; IMA, internal maxillary artery; OFA, orbotofrontal artery; OphA, ophthalmic artery; PEA, posterior ethmoidal artery; SLA, superior labial artery; SPA sphenopalatine artery

Gambar 3. Sistem pendarahan hidung (Willems, 2009) 2.1.3 Persarafan hidung

Bagian antero-superior rongga hidung dan septum mendapat persarafan sensoris dari nervus etmoidalis anterior sedangkan bagian postero-superior rongga hidung dan septum oleh nervus etmoidalis posterior. Keduanya merupakan cabang dari nervus nasosiliaris yang berasal dari nervus oftalmikus. Nervus nasopalatina mempersarafi septum bagian tulang, memasuki rongga hidung melalui foramen sfenopalatina berjalan ke septum bagian superior, selanjutnya ke bagian antero-inferior dan mencapai palatum durum melalui foramen insisivus (Hwang & Abdalkhani, 2009; Lee, 2008).

Nervus olfaktorius turun melalui lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian menyebar di mukosa yang melapisi bagian atas konka superior dan bagian septum yang berhadapan (Hwang &

Abdalkhani, 2009).

Gambar 4. Sistem persarafan hidung (Dhingra, 2007) (A) Lateral wall. Sphenopaltine ganglion situated at the posterior end of middle turbinate supplies most of posterior teo-thirds of nose. (B) nerves on the medial wall

2.1.4 Anatomi sinus paranasal

Sinus maksila adalah sinus terbesar dari semua sinus. Sinus maksila memiliki bentuk piramida dan dibatasi menjadi empat bagian yakni dinding anterior yang dibentuk dari permukaan wajah dari maksila dan berhubungan dengan jaringan lunak pipi. Dinding posterior berhubungan dengan bagian infratemporal dan fosa pterygopalatina. Dinding medial berhubungan dengan bagian pertengahan maksila dengan meatus inferior, pada daerah ini dinding sangat tipis dan berupa membran sedangkan dasar dari maksila dibentuk dari prosesus palatine dan alveolar dari maksila dan terletak kira –kira 1 cm di bawah dasar hidung (Dhingra, 2007 ; Hwang & Abdalkhani, 2009).

Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid (Soejipto &

Mangunkusumo, 2007)

Sinus etmoid mulai berkembang dalam bulan ketiga pada proses perkembangan janin. Sinus etmoid anterior merupakan evaginasi dari dinding lateral hidung dan bercabang ke samping dengan membentuk sinus etmoid posterior dan terbentuk pada bulan keempat kehamilan. Saat dilahirkan, sel ini diisi oleh cairan sehingga sukar untuk dilihat dengan rontgen. Saat usia satu tahun, etmoid baru dapat dideteksi melalui foto polos dan setelah itu membesar dengan cepat hingga umur 12 tahun. Jumlah sel berkisar 4-17 sel pada sisi masing-masing dengan total volume rata-rata 14-15 ml (Dhingra, 2007 ; Hwang & Abdalkhani ,2009).

Sinus etmoid berongga – rongga , terdiri dari sel – sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak antara konka media dan dinding medial orbita. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid terbagi menjadi dua yakni sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior (Soejipto & Mangunkusumo, 2007).

Sinus frontal mulai berkembang sepanjang bulan keempat masa kehamilan yang merupakan suatu perluasan ke arah atas dari sel etmoidal anterosuperior. Sinus frontal jarang tampak pada pemeriksaan foto polos sebelum umur 5 atau 6 tahun, setelah itu pelan-pelan tumbuh, total volume 6-7 ml. Sinus frontal mengalirkan sekretnya ke dalam resesus frontalis . Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada yang lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kira –kira 15 % dari orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan 5% sinus frontalnya tidak berkembang. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar kedaerah ini (Soejipto &

Mangunkusumo, 2007).

Sinus sfenoid mulai tumbuh sepanjang bulan keempat masa kehamilan yang merupakan evaginasi mukosa dari bagian superoposterior rongga hidung. Sinus ini berupa suatu takikan kecil di dalam os sfenoid sampai umur 3 tahun ketika pneumatisasi mulai lebih lanjut. Pertumbuhan cepat untuk menjangkau tingkatan sella tursica pada umur 7 tahun dan menjadi ukuran orang dewasa setelah berumur 18 tahun, total volume 7.5 ml. Sinus sfenoid mengalirkan sekretnya ke dalam meatus superior bersama dengan etmoid posterior (Hwang & Abdalkhani, 2009).

2.1.5 FISIOLOGI SINUS PARANASAL

Fungsi dari sinus paranasal masih belum diketahui dengan pasti dan masih belum ada persesuaian pendapat. Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal tidak mempunyai fungsiapa-apa karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka (Soetjipto & mangunkusumo, 2000).

Namun karena berhubungan langsung dengan hidung, maka sinus dapat membantu resonansi suara, penciuman, membersihkan, menghangatkan,

melembabkan udara inspirasi, dan merubah udara pernafasan. Kebanyakan penulis masih ragu-ragu dan menyatakan bahwa sinus paranasal hanya berpengaruh sedikit, terutama hanya bila menderita sakit (Soetjipto &

Mangunkusumo, 2000).

Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal:

A. Sebagai pengatur kondisi udara (air coditioning)

Sinus yang berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembapan udara inspirasi. Namun teori ini mendapat sanggahan, sebab ternyata tidak didapati pertukaran udara yang defenitif antara sinus dan rongga hidung (Soetjipto & Mangunkusumo, 2000).

Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus, lagi pula mukosa sinus tidak

mempunyai vaskularisasi dan kelenjar sebanyak mukosa hidung (Soetjipto & Mangunkusumo, 2000).

B. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)

Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya sinus-sinus yang besar tidak terletak diantara hidung dan organ-organ yang dilindungi (Soetjipto & Mangunkusumo, 2000).

C. Membantu keseimbangan kepala

Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan penambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna (Soetjipto & Mangunkusumo, 2000).

D. Membantu resonansi suara

Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara, akan tetapi ada yang berpendapat, posisi

sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif, lagipula tidak ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan tingkat rendah (Soetjipto & Mangunkusumo, 2000).

E. Sebagai peredam perubahan tekanan udara

Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus (Soetjipto &

Mangunkusumo, 2000).

F. Membantu produksi mukus

Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis (Soetjipto

& Mangunkusumo, 2000).

2.1.6 Klasifikasi Tumor di Kavum Nasi dan Sinus Paranasal

Secara garis besar tumor di kavum nasi dan sinus paranasal terbagi atas dua yakni: (Bailey, 2006, Marentette et al, 2009, Lund et al, 2010).

1. Tumor Jinak 2. Tumor Ganas 1. Tumor Jinak

Chondroma

Craniopharyngioma Fibrous Dysplasia Inverted Papilloma Lymphangioma Meningioma Neurofibroma

Ossifying fibroma Osteoma

Osteoblastoma Hemangioma Schwannoma

2. Tumor Ganas

Adenoid cystic carcinoma Basaloid carcinoma Chondrosarcoma Chordoma

Esthesioneuroblastoma Fibrosarcorma

Hemangiopericytoma Lymphoma

Malignant fibrous histiocytoma Osteosarcoma

Rhabdomyosarcoma Malignant schwannoma Sinonasal melanoma

Sinonasal undifferentiated carcinoma Squamous cell carcinoma

2.2 EPIDEMIOLOGI

Swamy & Gowda ( 2004) dalam penelitiannya dari tahun 2000 sampai dengan 2001 di Bangalore melaporkan 30 kasus tumor jinak hidung dan sinus paranasal dimana yang terbanyak adalah squamous papilloma sebanyak 4 kasus (13,33%), diikuti inverted papiloma (13,31%), hemangioma

(10%), ossifying fibroma (6,6%), Fibroma dan Fibrous dysplasia sebanyak 3,33%. Laki-laki memiliki kekerapan lebih tinggi (73,33%) dibanding perempuan (26,67%). Lokasi tumor terbanyak kavum nasi (66,66%), sinus paranasal ( 20%), septum (6%), hidung luar (6%).

Lund et al (2009) melaporkan osteoma adalah tumor jinak terbanyak yang ditemukan di hidung dan sinus paranasal. Osteoma biasanya muncul pada dekade ke -2 dan ke -6. Rasio lelaki dan perempuan 1,3 – 1 : 2.

Prevalensi inverted papiloma dilaporkan sekitar 0,5 – 4 % dari seluruh tumor hidung yang ada. Insiden berkisar antara 0,75 – 1,5 % dari 100.000 kasus pertahun. Laki – laki lebih banyak dari perempuan yakni sekitar 3 :1 dan lebih sering menyerang ras kaukasia. Inverted Papiloma sering menyerang dekade ke 5- sampai dekade 7 (Thapa , 2010). Tetapi, insiden bisa terjadi pada usia yang lebih muda, dilaporkan pada usia 10 tahun (Lyngdoh et al, 2006).

Hemangioma biasanya menyerang populasi perempuan dengan insiden tertinggi pada dekade ke-3. Lokasi hemangioma terbanyak pada porsi anterior di nasal septum dan bagian konka (Lund et al, 2010).

Tumor jinak biasanya menyebabkan obstruksi nasal seperti squamous papilloma yang berasal dari vestibulum. Inverted papiloma biasanya berasal dari dinding lateral dan tumbuh ke dalam hidung dan sinus. Hemangioma dari tipe kapiler berasal dari nasal septum sebagai polip yang berdarah. Fibroma biasanya jarang. Osteoma biasanya berasal dari sinus frontal dan jarang berasal dari sinus etmoid dan sinus maksilaris (Iqbal & Hussain, 2006).

Insiden tumor kavum nasi dan sinus paranasal (tumor ganas sinus parasanal) rendah pada kebanyakan populasi (<1,5/100.000 pada pria dan

<0,1/100.000 pada wanita). Insiden tertinggi keganasan sinus parasanal ditemukan di Jepang yaitu 2-3,6 per 100.000 penduduk pertahun, juga ditemukan di beberapa tempat tertentu di Cina dan India. Di Departemen

THT FKUI RS Cipto Mangunkusumo, keganasan ini ditemukan pada 10-15%

dari seluruh tumor ganas THT. Laki-laki ditemukan lebih banyak dengan rasio laki-laki banding wanita sebesar 2:1 (Roezin, 2007). Rifqi mengemukakan data yang dikumpulkannya dari rumah sakit umum di sepuluh kota besar di Indonesia bahwa frekuensi tumor hidung dan sinus adalah 9,3–25,3% dari keganasan THT dan berada pada peringkat kedua setelah tumor ganas nasofaring (Tjahyadewi dan Wiratno, 1999). Di RSUP H. Adam Malik Medan selama Januari 2005 sampai dengan Desember 2009 pasien yang dirawat dengan diagnosis karsinoma hidung dan sinus paranasal adalah sebanyak 51 kasus terdiri dari 30 laki- laki dan 21 perempuan (Salim, 2010).

2.3 ETIOLOGI

Kavum nasi dan sinus paranasal merupakan daerah yang jarang untuk tumor di daerah kepala dan leher. Sejumlah faktor berupa paparan industri, termasuk nikel, kromium, debu kayu, kulit, formaldehide, minyak mineral, isopropil,radium,iradiasi dan merokok. Hubungan antara faktor makan dan keganasan dari kavum nasi dan sinus paranasal serta alkohol dan makanan diasinkan meningkatkan terjadi resiko. Selain itu, Human Papiloma virus (HPV) dianggap memiliki hubungan dengan inverted papiloma dan karsinoma sel skuamosa (Chukuezy & Nwosu, 2010).

2.4 Gambaran Klinis

Tumor yang berasal pada kavum nasi dan sinus paranasal merupakan tumor yang jarang. Gejala pada tumor bisa menjadi samar dan pasien sering didiagnosa dengan rinosinusitis. Keterlambatan yang signifikan pada diagnosa tumor ini terjadi sampai usaha pengobatan rinosinusitis dengan obat –obatan tidak berhasil ataupunditemukan pemeriksaan tambahan berupa anjuran pemeriksaan radiologi (Marentette et al, 2009).

Pada penelitian Swamy dan Gowda (2001) menemukan gambaran klinis terbanyak pada pasien tumor jinak yakni hidung tersumbat (56%), epistaksis (53%) dan hidung berair (50%).

Tanda dan gejala klinis pada pasien dengan tumor ini terbagi menjadi dua yakni gejala dini dan gejala lanjut. Tanda dan gejala klinis berupa epistaksis, hidung tersumbat dan hidung berbau. Hidung tersumbat di salah satu sisi merupakan indikator yang paling penting untuk membedakan tumor dengan penyakit peradangan di kavum nasi dan sinus paranasal. Epistaksis ringan maupun berat biasanya terjadi tumor ganas yang tidak berdefferensiasi dan karsinoma sel skuamosa (Marentette et al, 2009).

Gejala lanjut pada tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berupa parasthesia, gangguan penciuman, nyeri ketika membuka mulut, gangguan pendengaran, proptosis dan maloklusi. Parasthesia disebabkan karena tumor meluas ke cabang dari saraf trigeminal. Gangguan penciuman terjadi karena perluasan tumor di kedua kavum nasi, sedangkan proptosis disebabkan oleh invasi tumor ke orbita (Marentette et al, 2009).

Metastasis regional dan jauh sering tidak terjadi meskipun penyakit telah berada dalam stadium lanjut. Insidensi metastasis servikal pada gejala awal bervariasi dari 1% hingga 26%, dari kasus yang pernah dilaporkan yang terbanyak adalah kurang dari 10%. Hanya 15% pasien dengan keganasan sinus paranasal berkembang menjadi metastasis setelah pengobatan pada lokasi primer. Jumlah ini berkurang hingga 11% pada pasien yang mendapat terapi radiasi pada leher (Bailey, 2006).

2.5 Diagnosis

2.5.1 Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan adanya tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal meliputi pemeriksaan kepala dan leher yang komplit.

1. Kavum nasi dan sinus paranasal

Pemeriksaan dari kavum nasi dan sinus paranasal dapat menunjukkan adanya massa pada kavum nasi. Septum dapat ditandai sebagai tanda apakah terjadi deviasi kontralateral disebabkan karena ekspansi dari tumor karena erosi tumor biasa meluas ke daerah kontralateral.

Pada evaluasi dengan endoskopi berguna pada tumor jinak seperti inverted papiloma untuk mengevaluasi mukosa dari tumor sehingga dapat dibedakan dibedakan dengan polip..

2. Kavum oris.

Gigi dan palatum perlu diperiksa untuk melihat apakah ada invasi ke maksila.

3. Wajah dan mata

Pembengkakan pada wajah, pipi dan kulit hidung merupakan indikasi bahwa tumor telah meluas ke dinding jaringan melalui dinding tulang anterior. Proptosis biasanya meluas melalui lamina papirasea menekan periorbital pada yang tumor jinak seperti mukokel dan bisa disebabkan karena keganasan yang melibatkan invasi intraorbital.

Diplopia biasanya terlihat dengan proptosis dan kehilangan penglihatan dapat menjadi tanda terjadi keterlibatan penekanan saraf optikus.

4. Saraf kranial

Keterlibatan saraf kranial merupakan kelanjutan dari invasi tumor di kavum nasi dan sinus paranasal. Gangguan saraf kranial olfaktorius (I) biasanya terjadi pada esthesioneuroblastomas. Saraf kranial lain melibatkan saraf optikus (II), saraf okulomotorius( III), saraf trokhlearis

(IV), saraf abdusen ( VI) dan supraorbital serta cabang maksilaris dari saraf trigeminal.

5. Penemuan fisik lain

Penemuan fisik lain yang dapat bisa berupa otitis media serosa karena keterlibatan tuba eustahius dan massa di leher karena metastase tumor ke kelenjar getah bening (Mandpe, 2008 ).

2.5.2 Radiologi

Deteksi dengan tomografi komputer pada kavum nasi dan sinus paranasal (CT scan) lebih akurat daripada foto polos untuk menilai struktur tulang sinus paranasal. Pasien beresiko tinggi dengan riwayat terpapar karsinogen, nyeri persisten yang berat, neuropati kranial, eksoftalmus, kemosis, penyakit sinus paranasal dan dengan simptom persisten setelah pengobatan medis yang adekuat seharusnya dilakukan pemeriksaan dengan CT scan potongan aksial dan koronal dengan kontras atau magnetic resonance imaging (MRI). CT scan merupakan pemeriksaan superior untuk menilai batas tulang traktus sinus paranasal dan dasar tomografi tulang tengkorak. Penggunaan kontras dilakukan untuk menilai tumor, vaskularisasi dan hubungannya dengan arteri karotid (Bailey, 2006).

MRI dipergunakan untuk membedakan tumor sekitar dengan jaringan lunak, membedakan sekresi di dalam kavum nasi dan sinus paranasal yang tersumbat dari space occupying lesion, menunjukkan penyebaran perineural, membuktikan keunggulan pencitraan pada potongan sagital dan tidak melibatkan paparan terhadap radiasi ionisasi. MRI potongan koronal dipergunakan untuk mengevaluasi foramen rotundum, kanal vidian, foramen ovale dan kanal optik. Potongan sagital berguna untuk menunjukkan pergantian sinyal berintensitas rendah yang normal dari Meckel cave berintensitas tinggi pada lemak di dalam fossa pterigopalatina oleh sinyal tumor yang mirip dengan otak (Bailey, 2006; Maroldi et al, 2004).

Positron emission tomography (PET) sering digunakan untuk keganasan kepala dan leher untuk menetukan stadium dan angka ketahanan hidup.

Kombinasi PET/CT scan ditambah dengan anatomi yang jelas membantu perencanaan pembedahan dengan cara melihat luasnya tumor (Bailey, 2006).

Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Jika tumor tampak di kavum nasi atau rongga mulut, maka biopsi mudah dan harus segera dilakukan melalui tindakan rinoskopi atau melalui operasi Caldwell-Luc yang insisinya melalui sulkus ginggivo-bukal (Roezin, 2007).

2.6 Tumor Jinak Kavum Nasi dan Sinus Paranasal

Chukuezy dan Nwosu (2010) pada penelitiannya selama 10 tahun di Nigeria melaporkan tumor jinak lebih banyak dibandingkan tumor ganas, yakni sekitar 58,97%. Tumor jinak terbanyak yang ditemui adalah hemangioma (30,78%), inverted papiloma (15,38%), epitelial papiloma (5,13%). Sementara London et al (2002) menemukan osteoma adalah tumor jinak tebanyak yang ditemukan pada pemeriksaan radiologi.

Barandafar et al (2006) pada penelitiannya pada 105 pasien di tahun 1997 – 2003 menemukan tumor jinak terbanyak adalah inverted papiloma (24 pasien), lesi fibroseus ( osteoma, fibrous dysplasia, ossyfing fibroma ) sebanyak 23 pasien dan hemangioma sebanyak 6 pasien.

Chuekezy dan Nwosu (2010) menemukan penderita tumor ganas sebanyak 51,28% pria dan 48,72% adalah perempuan dengan rasio 1,1 : 1.

Swamy (2004) melaporkan penelitiannya terhadap 30 orang , menemukan jenis kelamin terbanyak adalah pria 22 orang dan wanita 8 orang.

Dengan tempat tumor terbanyak di kavum nasi 66,6%, sinus paranasal 20 %, septum 2%, hidung bagian luar 2%. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah sumbatan hidung (51 %), massa si hidung (47%), epistaksis (38%), hidung berair (25% dan pipi bengkak sebanyak 8% (Iqbal & Hussain, 2006),

sedangkan penelitian lain oleh Swamy et al ( 2004) menemukan sumbatan di hidung (56,6%), hidung berair (50%), massa di hidung (40%) dan epistaksis (50 %).

2.6.1 Inverted papiloma

Inverted papiloma didefinisikan sebagai tumor jinak epitelial yang terdiri dari diferensiasi sel epitel kolumnar atau sel epitel silia respiratori yang memiliki variabel diferensiasi skuamosa. (Thapa, 2010). Tumor ini sangat menarik, karena meskipun jinak, tumor ini memiliki kecenderungan untuk rekuren dan cenderung menjadi ganas (Lund et al, 2009).

Insiden terjadinya belum pernah dilaporkan sebelumnya pada studi epidemiologi pada grup populasi normal. Inverted papiloma berkisar 0,5-4%

dari tumor hidung yang dioperasi dengan onset umur berkisar antara 15 -96 tahun dengan insiden tertinggi pada dekade ke 5 dan 6 (Lund et al, 2009).

Tempat tersering dari inverted papiloma adalah dinding lateral dari kavum nasi, dan dinding medial dari sinus maksila, meskipun demikian bisa ditemui di sinus lainnya.(Thapa, 2010).

Gejala yang ditimbulkan meliputi sumbatan hidung, epistaksis, hidung berair, dan sinusitis yang rekuren. Meskipun gejala tersering dari tumor ini adalah sumbatan hidung yang unilateral. Keterlibatan kedua sinus dilaporkan sebanyak 1-9% pada pasien dengan inverted papiloma (Thapa, 2010 ; Iqbal et al, 2008).

CT Scan diperlukan untuk melihat adanya erosi tulang sehingga dapat memberitahukan kepada kita kemungkinan untuk terjadinya keganasan.

Sedangkan MRI sangat penting untuk membedakan mukus atau papiloma lainnya. (Lund et al , 2009).

Secara histopatologis, inverted papiloma berupa penebalan lapisan epitel dengan invaginasi kriptiform yang ditopang oleh stroma. Klasifikasi epitel terdiri atas skuamus, transisional dan tipe apikal. (Kim, 2001).

Klasifikasi inverted papiloma menurut Han et al :

Stadium Perluasan

Stadium 1 Tumor terbatas di kavum nasi, dinding hidung lateral sinus maksila medial, sinus etmoid dan sinus sfenoid .

Stadium 2 Seperti stadium 1 kecuali tumor meluas dari lateral ke dinding medial maksila

Stadium 3 Tumor telah melibatkan sinus frontal

Stadium 4 Tumor telah meluas keluar dari sinus ( orbita dan intra kranial)

Penanganan inverted papiloma meliputi rinotomi lateral atau midfacial degloving dan pendekatan secara endoskopik (Thapa, 2010).

2.6.2 Tumor Fibro-oseus dan tulang

Tumor fibro-oseus termasuk tumor jinak dengan abnornalitas tulang yang dapat terjadi di region kavum nasi dan dan sinus paranasal. Tumor fibro-oseus ini terbagi menjadi tiga grup besar yakni Fibrous dysplasia, ossifying fibroma dan osteoma. Etiologi sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti (Lund et al, 2009).

Insiden pada fibrous dysplasia biasanya terjadi pada dekade pertama dan kedua dari kehidupan dimana laki-laki dan perempuan memiliki rasio yang sama. Pada ossifying fibroma biasanya terjadi pada dekade kedua dan keempat dari kehidupan. Dimana rasio antara laki-laki dan perempuan sebesar 1:5. Pada osteoma dengan rasio antara laki-laki dan perempuan antara 1,5-1 sampai 3,1-1. Osteoma dapat di temukan pada semua usia, namun sering ditemukan pada dekade ketiga dan keempat kehidupan (Lund et al , 2009).

Gejala paling sering yang dikeluhkan pasien pada fibrous dysplasia adalah ketidaksimetrisan wajah yang diikuti rasa nyeri, gejala okuler dan gangguan neurologis. Pada diagnosis fibrous dysplasia ditegakkan dengan CT Scan yakni tampak gambaran groundglass pada tulang. Penanganan pada kasus fibrous dysplasia berupa pembedahan yaitu pembedahan dengan bantuan endoskopik. Sedangkan pada ossifying fibroma gejala bergantung pada perluasan tumor. Gejala meliputi nyeri pada wajah, pembengkakan pada wajah, sumbatan di hidung, gejala okuler dan rinosinusitis kronis. Draft et al melaporkan bahwa penanganan ossifying fibroma berupa pembedahan dengan endoskopik sehingga mengurangi terjadi komplikasi (Lund et al, 2009).

Gejala juga bergantung pada perluasan tumor. Sejumlah penulis melaporkan bahwa osteoma menimbulkan gejala orbita seperti diplopia, epifora, bahkan sampai kebutaan . Penanganan berupa pembedahan dengan endoskopik.(Lund et al, 2009).

2.6.3 Hemangioma

Hemangioma adalah tumor jinak pada hidung yang etiologinya sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Etiologinya dihubungkan dengan kehamilan, kontrasepsi oral dan trauma (Nair, Bahal & Bhadauria, 2008).

Gejala paling sering dari hemangioma adalah hidung tersumbat dan hidung berdarah. Hemangioma kadang – kadang sulit dibedakan dengan polip yang berdarah dan polip angimatous . Hemangioma paling sering terjadi di anterior nasal septum (Nair, Bahal & Bhadauria, 2008).

Hemangioma bisa terjadi pada semua dekade, tetapi insiden paling tinggi

Hemangioma bisa terjadi pada semua dekade, tetapi insiden paling tinggi

Dokumen terkait