• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.4 Variabel Penelitian

3.3. Populasi, Sampel dan Besar Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi penelitian adalah semua penderita dengan tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal yang telah dilakukan tindakan biopsi jaringan di RSUP H. Adam Malik Medan pada januari 2009 sampai dengan Desember 2011.

3.3.2. Sampel

Sampel penelitian adalah total populasi

3.4 Variabel Penelitian 3.4.1. Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti : jenis kelamin, umur, suku bangsa, histopatologi, keluhan utama dan lokasi tumor.

3.5. Definisi Operasional

• Tumor yang berasal di kavum nasi dan sinus paranasal adalah lesi padat ataupun berisi cairan yang dapat dibentuk dari pertumbuhan abnormal sel neoplastik dan digambarkan dengan pembesaran ukuran dari sel di kavum nasi dan sinus paranasal yang terdiri atas tumor jinak dan tumor ganas yang tercatat pada rekam medis pasien.

• Jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan yang tercatat pada rekam medis pasien.

• Umur adalah usia yang dihitung dalam tahun dan menurut ulang tahun terakhir. Perhitungannya berdasarkan kalender Masehi yang tercatat pada rekam medis pasien, dikelompokkan atas :

1. ≤ 10 tahun 2. 11-20 tahun 3. 21-30 tahun 4. 31- 40 tahun 5. 41-50 tahun 6. 51-60 tahun 7. 61-70 tahun 8. ≥ 71 tahun

• Suku bangsa adalah suatu masyarakat dengan budaya, bahasa, agama, dan lain-lain yang tersendiri yang tercatat dalam rekam medis.

Suku bangsa terdiri atas:

1. Aceh 2. Batak 3. Jawa 4. Cina

• Keluhan utama adalah keadaan atau kondisi yang menyebabkan penderita datang berobat yang tercatat dalam rekam medis.

• Keluhan utama tumor jinak

1. Hidung tersumbat adalah penyumbatan saluran hidung akibat peradangan pada saluran hidung ataupun tumor jinak

2. Epistaksis adalah perdarahan dari hidung terjadi akibat sebab lokal dan sebab umum.

3. Massa di hidung adalah lesi padat atau cair yang dibentuk dari pertumbuhan abnormal dengan pembesaran ukuran dari sel di kavumnasi dan sinus paranasal

• Keluhan utama tumor ganas

1. Hidung tersumbat adalah penyumbatan saluran hidung akibat peradangan pada saluran hidung ataupun tumor ganas

2. Pipi bengkak adalah pembesaran abnormal dari bagian wajah disebabkan meluasnya tumor

3. Proptosis adalah tonjolan pada bola mata disebabkan oleh tumor ganas yang meluas.

• Tipe histolopatologis adalah jenis dari suatu tumor jinak maupun ganas yang sediaannya diambil dari jaringan biopsi atau hasil operasi dan dilihat di bawah mikroskop oleh seorang ahli patologi yang tercatat dalam rekam medis. Histopatologis tumor terdiri atas:

1. Histopatologis tumor jinak :

• Inverted papiloma

• Hemangioma

• Ossyfyng fibroma 2. Histopatologis tumor ganas:

• Keratinizing skuamous cell carcinoma

• Non keratinizing skuamous cell carcinoma

• Undifferentiated carcinoma

• Limfoma maligna

• Adenokarsinoma

• Lokasi tumor adalah adalah tempat massa berasal dan meluas yang tercatat dalam rekam medis. Lokasi tumor terdiri atas :

1. Kavum nasi 2. Sinus paranasal

3. Kavum nasi dan sinus paranasal 3.6 Pengolahan Data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dihitung presentasenya berdasarkan jenis tumor, umur, jenis kelamin, suku bangsa, keluhan utama, lokasi, tipe histopatologis yang diambil dari data rekam Medik SMF THT-KL FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan.

3.7. Kerangka Kerja

Gambar 3.1 Skema kerangka Kerja Rekam Medik

3.8 Jadwal Penelitian

No Jenis kegiatan Waktu

Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jan Feb 1 Persiapan & proposal

2 Pengumpulan data 3 Pengolahan data 4 Penyusunan laporan 5 Seminar hasil

6 Penggandaan laporan

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deksripktif dengan menggunakan design case series dimana pengambilan data dari data klinis di Bagian Rekam Medis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan. Data penelitian adalah seluruh kasus penderita tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal tahun 2009 sd 2011, dimana didapatkan 40 penderita dengan 26 lelaki dan 14 perempuan, dengan umur tertua 72 tahun dan termuda 17 tahun.

4.1. Distribusi frekuensi penderita dengan tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal yang terbagi atas kelompok tumor jinak dan ganas

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi penderita dengan tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa frekuensi tertinggi penderita dengan tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal tahun 2009 -2011 terdapat pada kelompok tumor ganas sebanyak 29 orang (72,5 %) dan tumor jinak sebanyak 11 orang (27,5 %).

Karakteristik tumor N %

Tumor jinak 11 27.5

Tumor ganas 29 72.5

Total 40 100.0

4.2. Distribusi frekuensi tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berdasarkan umur

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berdasarkan umur

Umur

Karakteristik tumor

Total Tumor jinak Tumor ganas

n % n % n %

21-30 3 27.3 2 6.9 5 12.5

31-40 1 9.0 2 6.9 3 7.5

41-50 3 27,3 14 48.3 17 42.5

51-60 2 18.2 8 27.6 10 25

61-70 2 18.2 2 6.9 4 10

>= 71 0 0.0 1 3.4 1 2.5

Total 11 100.0 29 100.0 40 100.0

Dari tabel diatas dapat diliat bahwa frekuensi tertinggi penderita tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal tahun 2009 - 2011 terdapat pada kelompok usia 41-50 tahun sebanyak 17 orang (42,5%).

Frekuensi tertinggi tumor jinak terbanyak terdapat pada kelompok usia 41- 50 tahun sebanyak 3 penderita( 27,3 %). Frekuensi tertinggi tumor ganas pada kelompok usia 41-50 tahun yakni 14 penderita (48,3%). Usia termuda pada usia 17 tahun dan usia tertua pada usia 72 tahun.

4.3 Distribusi frekuensi tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.3. Distribusi frekuensi tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berdasarkan jenis kelamin.

Jenis kelamin

Karakteristik tumor

Total Tumor jinak Tumor ganas

n % n % n %

Laki-laki 7 63,6 19 65.5 26 65.0

Perempuan 4 36.4 10 34.5 14 35.0

Total 11 100.0 29 100.0 40 100.0

Dari tabel diatas diketahui bahwa frekuensi penderita laki – laki lebih banyak yakni sebanyak 26 penderita (65%) dibanding perempuan sebanyak 14 penderita (35%). Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa frekuensi penderita kelompok laki laki lebih tinggi sebanyak 7 penderita (70%) dibandingkan perempuan sebanyak 4 penderita (30%) pada tumor jinak dan frekuensi penderita kelompok laki-laki lebih tinggi sebanyak 19 penderita (65,5%) dibanding kelompok perempuan 10 penderita (34,5 %) pada tumor ganas.

4.4 Distribusi frekuensi tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berdasarkan suku bangsa.

Tabel 4.4. Distribusi frekuensi tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal berdasarkan suku bangsa.

Suku

Karakteristik tumor

Total Tumor jinak Tumor ganas

n % n % n %

Aceh 2 18,2 8 27.6 10 25.0

Batak 5 45.4 14 48.3 19 47.5

Jawa 4 36,4 7 24.1 11 27.5

Total 11 100.0 29 100.0 40 100.0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa frekuensi suku batak lebih banyak terkena yakni sebanyak 19 penderita ( 47,5%), diikuti suku Jawa sebanyak 11 penderita (27,5%) sedangkan suku Aceh sebanyak 10 penderita (25%). Hal yang sama ditemukan pada tumor jinak dan ganas yakni 5 penderita (45,4%) dan 14 penderita (48,3%).

4.5 Distribusi frekuensi tumor jinak berdasarkan keluhan utama.

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi tumor jinak berdasarkan keluhan utama.

Keluhan utama tumor jinak n %

Hidung tersumbat 5 45.5

Epistaksis 2 18.1

Massa di hidung 4 36.4

Total 11 100.0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa frekuensi keluhan utama tumor jinak tersering adalah hidung tersumbat sebanyak 5 penderita(45,5%), diikuti massa di hidung sebanyak 4 penderita (36,4%) dan epistaksis sebesar 2 penderita ( 18,1 %).

4.6 Distribusi frekuensi tumor ganas berdasarkan keluhan utama.

Tabel 4.6. Distribusi frekuensi tumor ganas berdasarkan keluhan utama.

Keluhan utama tumor ganas n %

Hidung tersumbat 23 79,.3

Pipi bengkak 5 17.2

Proptosis 1 3.5

Total 29 100.0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa frekuensi keluhan utama yang terbanyak adalah hidung tersumbat adalah 23 penderita (79,3%) , diikuti pipi bengkak 5 penderita (17,2%) dan proptosis 1 penderita (3,5 %).

4.7 Distribusi frekuensi tumor jinak berdasarkan histopatologis.

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi tumor jinak berdasarkan histopatologis.

Histopatologis tumor jinak N %

Inverted papiloma 8 72,7

Hemangioma 1 9.1

Ossyfyng fibroma 2 18.2

Total 11 100.0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa frekuensi histopatologis yang terbanyak adalah inverted papiloma adalah 8 penderita (72,7%), Ossyfing fibroma adalah 2 orang (18,2%) dan Hemangioma adalah 1 orang (9,1%)

4.8 Distribusi frekuensi tumor jinak terhadap lokasi asal tumor.

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi tumor jinak terhadap lokasi asal tumor.

Lokasi tumor jinak n %

Kavum nasi 2 18.2

Sinus paranasal 1 9.1

Kavum nasi dan sinus paranasal 8 72.7

Total 11 100.0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa lokasi tumor jinak terbanyak di kavum nasi dan sinus paranasal sebanyak 8 orang (72,7%) diikuti kavum nasi sebanyak 2 penderita (18,2%) dan si

4.9 Distribusi histopatologis tumor ganas.

Tabel 4.9 Distribusi histopatologis tumor ganas.

Histopatologis tumor ganas n %

Keratinizing skuamous cell carcinoma 7 24.1 Non keratinizing skuamous cell carcinoma 7 24.1

Undifferentiated carcinoma 12 41.5

Limfoma maligna 1 3.4

Adenokarsinoma 2 6.9

Total 29 100.0

Dari tabel diatas, diketahui frekuensi histopatologis tumor ganas tertinggi pada undifferentiated carcinoma sebanyak 12 penderita ( 41,5 %), Keratinizing skuamous cell carcinoma sebanyak 7 penderita (24.1%), Non

Keratinizing skuamous cell carcinoma ( 24,1%), Adenokarsinoma sebanyak 3 penderita ( 6,9%), limfoma maligna sebanyak 1 penderita (3,4%).

4.10 Distribusi frekuensi tumor ganas berdasarkan lokasi tumor.

Tabel 4.10 Distribusi frekuensi tumor ganas berdasarkan lokasi tumor.

Lokasi tumor ganas n %

kavum nasi 1 3.4

Sinus paranasal 5 17.3

Kavum nasi dan sinus

paranasal 23 79.3

Total 29 100.0

Dari tabel diatas diketahui bahwa frekuensi lokasi tumor ganas di hidung dan sinus paranasal sebanyak 23 penderita (79,3%), diikuti sinus paranasal sebanyak 5 penderita ( 17,3%) dan kavum nasi 1 penderita (3,4%).

BAB 5 PEMBAHASAN

Pada penelitian yang dilakukan terhadap 40 penderita dijumpai frekuensi tumor ganas lebih besar daripada tumor jinak yakni 72,5% dan tumor jinak 27,5%. Hal ini sesuai dengan penelitian Iqbal dan Hussain (2006) yang menemukan tumor ganas lebih banyak dari tumor jinak yakni 62, 75 % dan 37,25%. Mazlina et al (2006) dan Nepal et al (2010) pada penelitiannya juga menemukan tumor ganas lebih banyak yakni 59% dan 77 % serta tumor jinak yakni 41 % dan 23 %. Hal ini disebabkan karena diagnosis dari keganasan tumor kavum nasi dan sinus paranasal sangat sulit, bukan saja dikarenakan tumor ini sangat jarang, tetapi juga dikarenakan tumor ganas juga sukar dibedakan dengan tumor yang jinak sehingga akan membuat keterlambatan yang signifikan karena pasien menganggap penyakitnya tidak berbahaya (Tufano et all, 1999).

Kelompok umur 41-50 tahun merupakan kelompok yang paling banyak dijumpai pada tumor jinak dan ganas,yakni sekitar 42,5 % dengan rata-rata umur 46,6 tahun, umur termuda adalah 17 tahun dan tertua adalah 72 tahun.

Hal ini sesuai dengan penelitian Chukezy dan Nwosu (2010) sebesar 25,7 % dengan rata-rata umur berkisar antara 38 tahun sampai 49 tahun.

Penelitian hampir serupa juga ditemui oleh Nepal et al (2010) yang menemukan 77% keganasan berasal dari usia tua yakni usia 41 sampai 60 tahun. Kelompok usia tua lebih banyak menderita tumor ini disebabkan karena pada usia tua sistem imunitas dan mekanisme perbaikan DNA yang mengalami mutasi kurang berfungsi dengan baik. Mekanisme perbaikan DNA yang dibutuhkan guna memperbaiki rangkaian asam amino pada kode genetik DNA yang mengalami mutasi. Jika mekanisme perbaikan DNA ini mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsinya maka mutasi gen DNA

yang sudah terjadi akan menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali (Soehartono et al, 2007).

Kelompok laki laki lebih banyak menderita tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal dibandingkan perempuan yakni sekitar 65 % dan 35

%. Hal ini hampir sama dengan penelitian Iqbal dan Hussein (2006), Chukuezy dan Nwosu ( 2010) yang menemukan mean jenis kelamin 60 % kasus pada laki-laki dan 33,7 % kasus pada perempuan. Pada tumor ganas, Agussalim (2010) menemukan bahwa kelompok laki –laki lebih banyak menderita tumor ganas yakni sekitar (58,8%) dibandingkan perempuan (41,2 %). Hal yang sama dikemukakan oleh Fansula dan Lasisi (2007) yang menemukan frekuensi laki –laki dibanding perempuan 68 % dan 31,71 %.

Hal ini disebabkan karena kelompok laki-laki yang lebih banyak beraktivitas diluar dibanding perempuan sehingga zat karsinogenik seperti nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain – lain lebih banyak terpapar pada laki – laki. Selain itu, lelaki lebih banyak merokok dan minum minuman keras (alkohol) dimana laporan terkini menunjukkan tingginya insiden keganasan pada kavum nasi dan sinus paranasal dengan perokok (Zimmer & Carrau, 2006).

Bangsa Batak lebih banyak dijumpai yakni sekitar 47,5 % diikuti suku Jawa 27,5 % dan suku Aceh 25 %. Dari sini muncul satu pemikiran bahwa selain karsinogenik, mutasi genetik kemungkinan berperan langsung dalam memicu pertumbuhan tumor ganas sinonasal. Apakah mutasi DNA pada penderita karsinoma nasofaring bersuku Batak adalah sama dengan penderita tumor ganas sinonasal? Hal lain mungkin disebabkan lokasi rumah sakit yang merupakan rumah sakit rujukan dimana penduduk sekitar yang dirujuk di RSUP H.Adam Malik mayoritas suku Batak.

Keluhan utama tumor jinak adalah hidung tersumbat yakni sebanyak 45,1%, diikuti massa di hidung dan epistaksis sebanyak 33,3% dan 22,5%.

Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Swamy dan Gowda (2004)

menunjukkan frekuensi hidung tersumbat sebanyak 56,6 %, diikuti dengan epistaksis 53 % dan massa di hidung 44%. Sedangkan penelitian oleh Iqbal dan Hussain (2006) menemukan keluhan hidung tersumbat terbanyak adalah hidung tersumbat (100 %), massa di hidung (92,5%) dan epistaksis (74%).

Pada penelitian ini, keluhan utama tumor ganas tersering adalah hidung tersumbat (79,3 %) diikuti pipi bengkak (17,2%). Hal ini juga ditemui pada penelitian Chikuezy dan Nwosu (2010) dimana hidung tersumbat merupakan keluhan utama terbanyak pada tumor ganas yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal yakni sekitar 94,81 %, diikuti massa di hidung (87,18 %), epistaksis (71,79%) , bengkak di pipi (46,15%), proptosis (28,21%). Hal yang sama ditemukan pada penelitian Agussalim (2011) yang menemukan keluhan terbanyak pada pasien adalah hidung tersumbat (56,9%). Hidung tersumbat disebabkan oleh massa yang meluas, sedangkan epistaksis biasanya terjadi karena mukosa mengalami ulserasi atau tumor yang meluas ke dinding sinus (Thomson, 2006).

Histopatologis tumor jinak terbanyak ditemui pada Inverted papiloma yakni sebesar 72,7,% diikuti Ossyfing Fibroma (18,2%) dan hemangioma (9,1%). Hal ini sesuai dengan penelitian Nepal et al (2010) yang menemukan inverted papiloma merupakan tumor jinak terbanyak (23,22%), diikuti squamous papiloma sebanyak (21,43%) dan Hemangioma sebanyak 19,64%. Inverted papiloma sendiri penyebabnya dihubungkan dengan inflamasi kronis dan infeksi virus HPV (Iqbal, 2008). Menurut peneliti, tingginya inverted papiloma pada frekuensi tumor jinak disebabkan oleh karena tingginya tingkat infeksi kronis di kavum nasi dan sinus paranasal.

Sayangnya belum ada penelitian yang lebih lanjut mengenai hubungan antara virus HPV dengan inverted papiloma di Indonesia. Penelitian serupa mengenai insiden tumor jinak yang berasal dari kavum nasi dan dan sinus paranasal di Indonesia belum ditemukan.

Lokasi tumor jinak bisa hanya melibatkan hidung, sinus paranasal atau kedua-duanya. Pada penelitian ini, lokasi tumor jinak tersering adalah kavum nasi dan sinus paranasal (72,7%), kavum nasi (18,2 %) dan sinus paranasal (9,1%). Tetapi tidak sesuai dengan dengan penelitian Swamy dan Gowda (2006) yang menemukan lokasi tumor jinak tersering adalah kavum nasi (66,6%) dan sinus paranasal (20%). Hal ini mungkin disebabkan pasien,- pasien yang berobat ke RSUP H.Adam malik Medan datang dengan stadium lanjut sehingga tumor tidak hanya melibatkan kavum nasi saja melainkan dinding sinus juga terlibat, karena menganggap gejalanya hampir sama dengan proses peradangan biasa.

Pada penelitian ini, histopatologis tumor terbanyak yang dijumpai adalah karsinoma sel skuamosa yakni sekitar 48,2%. Hal ini sesuai dengan penelitian Agussalim (2010) yang menemukan bahwa karsinoma sel skuamosa sekitar (72,6%). Fasunla dan Lasisi di Nigeria (2007) mendapatkan squamous cell carcinoma sebagai jenis histopatologi yang terbanyak yaitu sebesar 69,0%. Kepustakaan menyebutkan bahwa sebagian besar keganasan pada hidung dan sinus paranasal berasal dari epitel dan jenis yang terbanyak adalah squamous cell carcinoma (Thomson, 2006 & Lund, 2009 ). Pada penelitian didapatkan keratinizing squamous cell carcinoma sebanyak 24,1% dan non keratinizing squamous cell carcinoma sebanyak 24,1%. Tingginya resiko squamous cell carcinoma disebabkan tingginya peminum alhokol dan merokok pada pasien karsinoma. Zhu et al pada penelitiannya menemukan paparan rokok terhadap meningkatnya resiko untuk berkembangnya suatu squamous cell carcinoma. Selain itu tingginya kasus Inverted papiloma juga meningkatkan resiko terjadinya squamous cell carcinoma dimana sekitar 10 % kasus Inverted papiloma dihubungkan dengan terjadinya resiko squamous cell carcinoma ( Wolpe, 2006 & Lund, 2009).

Lokasi tumor ganas terbanyak adalah kavum nasi dan sinus paranasal sebesar ( 79,3%). Penelitian ini sesuai dengan penelitian Agussalim ( 2010 ) yang menemukan lokasi tumor ganas terbanyak pada kavum nasi dan sinus paranasal (60,8 %). Hal ini disebabkan karena pasien datang dalam keadaan terlambat berobat, sehingga tumor sudah melibatkan kavum nasi dan sinus paranasal. Gejala klinis dari keganasan tumor biasanya tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit non keganasan, sehingga pasien menganggap penyakit ini seperti radang biasa (Chuekezy & Nwosu, 2010). Jika pasien lebih waspada, mungkin keterlibatan tumor tidak melibatkan kedua lokasi tersebut.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian pada penderita tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal di SMF THT-KL RSUP H.

Adam Malik Medan didapatkan beberapa temuan penting, seperti :

1. Tumor ganas lebih banyak ditemui dari tumor jinak yakni sekitar 72,5 % kasus.

2. Kelompok umur terbanyak adalah kelompokumur 41-50 tahun yakni sekitar 42,5%. Dengan tumor jinak 27,3% kasus dan tumor 48,3%

kasus.

3. Laki–laki lebih banyak menderita tumor kavum nasi dan sinus paranasal yakni sebesar 65% kasus dengan tumor jinak sebesar 63,6% kasus dan ganas sebesar 65,5% kasus.

4. Proporsi suku bangsa terbesar penderita tumor ganas kavum nasi dan sinus paranasal yang terbanyak adalah suku Batak (47,5%). Hal yang sama ditemukan pada tumor jinak dan ganas yakni sekitar 45,5 % kasus dan 48,3 % kasus

5. Proporsi keluhan utama penderita tumor jinak kavum nasi dan sinus paranasal yang terbanyak adalah hidung tersumbat (45,5%).

6. Keluhan utama penderita tumor jinak kavum nasi dan sinus paranasal yang terbanyak adalah hidung tersumbat (44,4 %)

7. Mayoritas subtipe histologi tumor jinak (72,7%) yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal yang terbanyak adalah inverted papiloma, sedangkan untuk tumor ganas adalah squamous cell carcinoma (48,2%) dan terdapat adalah keratinizing squamous cell (24,1%) dan non keratinizing squamous cell (24,1%).

8. Mayoritas lokasi tumor jinak dan ganas yang terbanyak adalah pada kavum nasi dan sinus paranasal 72,7% kasus dan 79,3% kasus.

6.2 SARAN

1. Diharapkan terjalin kerjasama yang baik antara ahli THT-KL, radiologis dan patologis dalam menegakkan diagnosis tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal sehingga tindakan selanjutnya terhadap penderita ini dapat lebih terarah dan tepat tanpa merugikan pihak manapun juga.

2. Melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya tumor yang berasal dari kavum nasi dan sinus paranasal.

DAFTAR PUSTAKA

Abecasis J et al, 2004. Adenocarcinomas of the nasal cavity and paranasal sinuses: a clinicopathological and immunohistochemical study of 14 cases’ Histopathology. 45, pp: 254-9

Agussalim, 2010, Profil Penderita Tumor Ganas Sinonasal di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2005-2009, Tesis. FK USU.

Bailey JB, 2006, Head and Neck Surgery – Otolaryngology. In : Neoplasms of the Nose and Paranasal Sinuses, 4th

Baradaranfar HM, Dabirmoghaddam P, 2006. Endoscopic Endonasal Surgery For Resection Of Benign Sinonasal Tumors: Experience with 107 patient. Archives of Iranian Medicine, vol 9, No. 3,p: 244-9

Edition, Vol.2, Lippincott Williams and Wilkins, pp: 1481-8

Chukuezi BA, Nwosu,NJ, 2010. Pattern of Nasal and Paranasal Sinus in Owerri, Niagara, in Research Journal of Medical Sciencesn 4 (1): 11-4

Dhingra PL, 2007. Neoplasms of Nasal Cavity’ In : Diseases of Ear, Nose and Throat. 3rd

Dhingra PL,2007. Anatomy Of Nose’ In : Diseases of Ear, Nose and Throat.

3

ed. Elsevier. New Delhi. pp: 192-8

rd ed. Elsevier. New Delhi. pp: 192-8

Fasunla AJ, Lasisi AO, 2007. Sinonasal malignacies: A 10-year review in a tertiery health institution Journal of the National Medical Association, Vol. 99, No.12, pp: 1407-10

Higler AP, 1997. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam BOIES Buku Ajar penyakit THT,Edisi 6,EGC, Jakarta, p173-89

Hwang PE, Abdalkhani A, 2009. Embryology,Anatomy and Physiology of the Nose and Parasanal Sinuses on Ballenger’s Otorhinolaryngology 17 Head and Neck Surgery, Centenial Edition, BC Decker Inc,p 455-64.

Iqbal MS, Hussain SI. 2006. Unilateral Nasal Obstruction Caused By Sino-Nasal Neoplastic Lesions, JLUMHS, January – April

Iqbal MS et al, 2008. Inverted Papiloma Of the Nose and Sinuses : Clinical Presentations, Surgical Treatment And Outcome.Journal of Surgery Pakistan ; p 85 - 87

Iseh RK. 2006. Lateral rhinotomy- a review of 38 operations from Sokoto Nigeria.Nigerian journal of Surgical research.vol 8 ;p 57-61

Kim KR. 2001. Inverted Papilloma, J Rhinol 8(1,2).

Kitamaru A, Yamashita Y, Hasegawa Y, Kojima H, Nagasawa T, Mori N, 2005. Primary lymphoma arising in the nasal cavity among Japanese’

Histopathology 47, pp: 523–32

Leivo I, 2007. Update on sinonasal adenocarcinoma: classification and advances in immunophenotype and molecular genetic make-up’ Head and Neck Pathol 1, pp: 38–43

London et al, 2002. Endoscopic Management of Benign Sinonasal Tumours : A Decade of Experience, American Journal of Rhinology,16 pp:221-27 Lund et al, 2009. European Position Paper on Endoscopic Management of

Tumours of the Nose, Paranasal Sinuses and Skull Base,Suplement 22

Lund V, Howard DJ, Wei WI, 2007. Endoscopic resection of malignat tumors of the nose and sinuses’ Am J Rhinol 21, pp: 89–94

Lyngdoh N. C, Ibohal T. H, Marak I. C, 2006. A Study on the Clinical Profile and Management of Inverted Papilloma, Main Article, Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery Vol. 58, No. 1, January-March

Mandpe HA, 2008. Paranasal Sinus Neoplasm, Current Diagnosis &

Treatment in Otolaringology- Head & Neck Surgery, McGraw-Hill Companies

Marentette JL, Massey LB, Kellman MR. Neoplasm of Anterior Skull Base on Ballenger’s Otorhinolaryngology 17 Head and Neck Surgery, Centenial Edition, BC Decker Inc,p1071-79.

Maroldi R et al, 2004. Magnetic Resonance Imaging Findings of Inverted Papilloma : Differential Diagnosis with Malignant Sinonasal Tumors, American Journal of Rhinology, Vol 18, No 5, p 305-10

Mazlina et al, 2006. Maxilary sinus Tumours – A Review of Twenty nine Patient Treated by Maxillectomy approach, Med J Malaysia,Vol 61,p 284-87

Nair LC , Bahal MA , Bhadauria RC, 2008. Lobular Capillary Hemangioma of Nasal Cavity, MJAFI, Vol. 64, No. 3, pp : 270-71

Nepal A, Joshi RR, Chettri ST, Karki S, 2010. Pattern Of Sinonasal Tumour in Eastern Nepal, Nepalese journal of Ent, Head & neck surgery, pp:9-11 Nicolai P, Battaglia P, Bignami M, Bolzoni A, Delu G,Khrais T, et al, 2008.

Endoscopic surgery for malignat tumors of the sinonasal tract and adjacent skull base : a 10-year experience’ Am J Rhinol 22, pp: 308–

16

Poetker DM, Toohill RJ, Loehri TA, Smith TL, 2005. ‘Endoscopic management of sinonasal tumors : a preliminary report’ American Journal of Rhinology 19, pp: 307–15

Roezin A, 2007. Tumor Telinga Nasal dan Sinonasal, Dalam Tumor Telinga Nasal Tenggorok. Balai Penerbit FK UI, Jakarta, hal: 178-81

Soetjipto D, Mangunkusumo E, 2007. Sinus Paranasal. Balai Penerbit FK UI, Jakarta, hal: 178-81

Swamy NVK, Gowda CVB, 2004. A Clinical Study of benign Tumour of Nose and Paranasal Sinuses. In Indian Journal of Otolaringology an Head and Neck Surgery, Vol 56,No 4, October-December, p:265-68

Swamy NVK, Gowda CVB, 2004. A Clinical Study of benign Tumour of Nose and Paranasal Sinuses. In Indian Journal of Otolaringology an Head and Neck Surgery, Vol 56,No 4, October-December, p:265-68

Dokumen terkait