• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Etik (ilmu pengetahuan)

4.2.3 Metode Penelitian

4.2.3.2 Pendekatan Etik (ilmu pengetahuan)

Melakukan studi dan analisis tentang bentuk dan kegiatan produksi yang dilakukan masyarakat dengan cara mendeskripsikan bentuk aktivitas masyarakat

dalam mengelola sumberdaya alam hayati berikut teknologinya, produk-produk yang dihasilkan, pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan dan aspek lainnya.

Melakukan penilaian secara ekologis sebuah praxis melalui analisis dampak pemanfaatan sumberdaya alam hayati terhadap struktur ekosistem yang telah dimanfaatkan tersebut. Penilaian tersebut didasarkan pada pengamatan langsung di lapangan dengan dengan menggunakan metode baku penelitian ekologi. Sebagai contoh untuk untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi dilakukan dengan cara membuat plot pada satuan lingkungan yang ukuran dan cara pengamatannya disesuaikan dengan bentuk dan kondisi lingkungannya.

4.2.3.3 Analisis Vegetasi

Dihitung nilai kepentingan ekologi setiap jenis yang terdapat pada setiap satuan lingkungannya. Besarnya indek nilai penting (INP) dihitung dengan persamaan menurut Setiadi dan Muhadiono (2000) dan Cox (2002).

INP = Kerapatan Relatif + Dominansi Relatif+ Frekwensi Relatif.

Kerapatan Jumlah individu suatu jenis Mutlak (KM) = --- Luas area contoh

Kerapatan Kerapatan mutlak suatu jenis

Relatif (KR) = --- x 100 % Kerapatan seluruh jenis

Dominansi Jumlah penutupan suatu jenis Mutlak (DM) = --- Luas areal contoh

Dominansi Dominansi mutlak suatu jenis

Relatif (DK) = --- x 100 % Dominansi seluruh jenis

Frekwensi Jumlah plot yang diduduki jenis Mutlak (FM) = --- Total jumlah plot contoh

Frekwensi Nilai Frekwensi suatu jenis

Relatif (FR) = --- x 100 % Total frekwensi seluruh jenis

4.3Hasil

4.3.1 Persepsi Masyarakat Terhadap Lingkungan

Pandangan masyarakat Tengger terhadap lingkungan sangat berkaitan dengan falsafah maupun kepercayaan serta religi yang dianut. Masyarakat Tengger percaya jika aturan dilanggar maka akan berdampak tidak baik dan dosa (walat). Alam lingkungan tidak bersahabat jika manusia tidak menghormati. Pandangan tersebut tercermin pada struktur lembaga adat (Gambar 4) serta sikap dan kepercayaan yang dianutnya (Gambar 5).

Masyarakat Tengger melalui Kelembagaan Adat mampu mengelola sumber daya alamnya. Adanya kearifan lokal, maka hukum adat telah mengatur kehidupan harmonis dengan lingkungannya. Kesepakatan sosial antara masyarakat telah dikuatkan melalui hukum adat seperti hak waris, kepemilikan tanah dan lahan sakral.

Menurut Nurudin et al. (2004) masyarakat Tengger dalam kehidupan kesehariannya mengedepankan musyawarah berlandaskan welas asih pepitu (tujuh cinta kasih) yaitu Welas Asih pada Sang Hyang Widhi, Welas Asih kepada tanah air dan bangsa, Welas Asih kepada orang tua, Welas Asih pada diri sendiri, Welas Asih kepada sesama, Welas Asih pada binatang dan Welas Asih pada tanaman dan tanah serta lingkungannya. Hubungan tersebut menggambarkan pandangan kehidupan yang harmoni, baik kepada sesama manusia, Sang Hyang Widhi Wasa, dan terhadap keanekaragaman hayati serta lingkungan di wilayah Tengger. Pandangan terhadap Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari, hubungan sosial serta ritual adat. Persepsi mereka tidak hanya terbatas pada organisma hidup namun juga terhadap benda mati serta alam di sekelilingnya.

Gambar 4. Struktur organisasi Pemerintahan Desa dan Lembaga Adat masyarakat Tengger.

Gambar 5 Sikap dan Pandangan Hidup masyarakat Tengger.

PETINGGI

Dukun

Pandhita

Legen

Wong Sepuh

Pembantu Dukun

Pandhita, Pedande

Kepribadian dan

Perilaku

Manusia (Waras, Wareg, Wastro, Wisma , Widya

Panca Sradha, Panca Setia, Kawruh Budha

Sistem pendayagunaan sumber daya alam pada setiap suku berbeda, hal ini tergantung dari sumber daya alam lingkungannya. Perbedaan ini mempengaruhi perilaku, pola fikir dan aktivitas manusia dalam kehidupannya. Pemahaman pengetahuan lokal sangat berkaitan dengan tingkat stategi adaptasi masyarakat pada kondisi lingkungan di sekitarnya. Mengidentifikasi aktivitas masyarakat dalam mengelola dapat digunakan untuk mengetahui sumber daya lingkungan serta akibat pengaruhnya. Sumber data yang diperoleh berupa sistem menejemen tradisional. Sistem pengetahuan tradisional tentang pengelolaan tersebut terakumulasi dari generasi kegenerasi sehingga mereka dekat dengan alam lingkungannya.

Masyarakat Tengger mempunyai pengetahuan dan cara pengelolaan tradisional yang unik dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungannya yaitu tecermin dari sistem kepemimpinan tradisioanal dan sikap hidup serta pandanganya terhadap sumber daya alam hayati tersebut. Pengetahuan masyarakat lokal tersebut memberikan gambaran kepada kita bagaimana mereka menyikapi alam dan lingkungannya agar tetap hamonis sehingga mereka terus dapat mengambil hasil dengan mengolahnya. Misalnya pengolahan lahan tegalan berbukit terjal dapat menyebabkan kerawanan longsor dan merusak lingkungan. Namun masyarakat Tengger punya pandangan bahwa pengolahan tanah terjal dengan sistem strategi terasiring menggunakan tanaman konservasi berupa cemara (Casuarina junghuhniana), astruli (Penisetum purpureum) dan jenis lain dapat mencegah tanah longsor. Menurut masyarakat Tengger tanah, lingkungan haruslah dirawat, dihormati, dilakukan ritual agar jauh dari marabahaya dan mendapat penghasilan yang melimpah. Jika tanah tidak dirawat, maka dipercaya alam akan menjadi murka seperti terjadinya tanah longsor, abu vulkanik, uap belerang, embun upas akan terus terjadi.

4.3.2 Pengenalan Satuan-satuan Lingkungan Menurut Konsep Tata Ruang Masyarakat Tengger

Studi tentang pengetahuan satuan lingkungan menurut konsep masyarakat Tengger dimaksudkan mengidentifikasi, mengkarakterisasi dan menganalisis semua aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan lingkungannya. Sistem

pengetahuan lokal dimaksudkan untuk mengetahui tingkat strategi adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka.

Persepsi pengetahuan masyarakat Tengger tentang satuan lingkungan meliputi unit satuan lingkungan pemukiman (pekarangan, desa), satuan lingkungan pertanian (peladangan atau tegalan, komplangan, pertanian jalur hijau), satuan lingkungan sakral (makam, Danyangan, Sanggar Agung/Pamujan, hutan larangan), hutan sekunder, hutan rimba dan satuan lingkungan alamiah lainnya seperti ranu (danau), kali (sungai), air terjun, segoro wedi (lautan pasir), ledok (lembah), pereng (lereng gunung), gunung, kawah (lubang lawa), dan sebagainya.

Masyarakat Tengger mempunyai pengetahuan lokal yang khas tentang satuan lansekap pada kawasan pegunungan yang dingin. Pola pengetahuan satuan lansekap erat berkaitannya dengan budaya dan kondisi lingkungan masyarakat tersebut. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kondisi lingkungan tercermin pula dari strategi adaptasi yang dikembangkan oleh masyarakat tersebut di dalam mengelola kawasannya.

4.3.2.1Kawasan Pemukiman

4.3.2.1.1 Omah, Griyo/Rumah Masyarakat Tengger

Menurut masyarakat Tengger rumah disebut sebagai “omah” yaitu merupakan tempat tinggal keluarga”. Bentuk rumah pada awalnya hampir sama yaitu berbentuk limasan yang memiliki dua atap yaitu atap yang mengarah belakang dan atap yang mengarah ke depan.

Umumnya setiap mata rumah dihuni oleh satu keluarga inti yaitu kepala rumah tangga, isteri dan anak-anaknya. Sistem perumahan masyarakat Tengger dibangun secara bergerombol dengan jarak antar rumah yang saling berdekatan. Alasannya adalah untuk memudahkan berkomunikasi antar rumah tangga di perkampungan tersebut. Tata ruang perumahan masyarakat Tengger berbeda dengan tata ruang perumahan tradisional masyarakat Jawa. Pada umumnya rumah masyarakat Jawa dilengkapi dengan tanah pekarangan dan kandang ternak.

Situasi perumahan yang dibangun secara bergerombol dan berdekatan tersebut mencerminkan kedekatan ikatan keluarga dan individu dalam mengatasi

masalah kehidupan diantara mereka. Namun demikian perumahan masyaraat Tengger di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro mempunyai sistem perumahan yang agak menyebar. Hal ini disebabkan karena kepemilikan lahan dan adanya tekanan migrasi yang dilakukan oleh masyarakat bukan asli Tengger.

Struktur rumah masyarakat Tengger tersusun atas: ruang tamu dan keluarga (petamon), kamar tidur (peturon, sedongan) yang dilengkapi ruang Pamujan, tempat menyimpan makanan (pedaringan atau petaringan) berada di pawon, dan kamar mandi dan WC berada di bagian belakang. Biasanya rumah masyarakat Tengger tidak berpagar hal ini menunjukkan masyarakatnya suka bekerja sama dan bergotong royong. Rumah masyarakat tengger dibangun mengelompok atau bergerombol dalam satu wilayah karena diakibatkan oleh sistem pewarisan. Pada umumnya rumah dibangun menghadap kearah jalan atau gang (banjaran), namun sebenarnya menurut pandangan masyarakat Tengger, rumah dibangun menghadap ke arah selatan dianggap lebih baik. Akibat dari pengaruh luar, pembangunan perumahan masyarakat Tengger sudah mengalami perubahan yang signifikan baik arahnya, bentuk rumahnya yang modern yang dilengkapi sarana listrik, sebagian besar berdinding tembok, dan berlantai berkeramik. Masyarakat Tengger yang beragama Hindu sebagian besar di depan rumahnya dilengkapi dengan ruang Sanggar Pamujan (tempat beribadah dan bersemedi) pada Sang Hyang Widhi dan tempat sesaji atau Padmasari.

Rumah asli orang Tengger (griyo) hampir serupa seperti rumah orang Jawa yaitu alas rumah atau lantai dari tanah dan pintu geretan (lawang) dilengkapi kunci kayu (slorok). Tiang utama berupa soko berjumlah 4-12 dengan sunduk agung, sunduk kili, pengeret, klilin, lambang sunan atau lambang cancit, ander- ander. Pada bagian ander-ander luar ditutup dengan dinding gedek disebut ampik-ampik, bagian bawah ditutup pager sirap dari kayu atau dinding gedek bambu (bengkurah), bagian bawah dekat tanah disebut galangan atau lagur. Bagian dapur (pawon) terdapat bangunan tempat memasak (tumang) dan perapian atau api-api (perapen) (Gambar 6a). Jenis peralatan pawon meliputi lincak berupa meja kecil (dampar), tempat duduk jumlah dua dari kayu (dingklik), rak, rantai gantungan pemasak air (ceret), alat dapur seperti nyiru (tampah) diletakkan diatas api-api, tempat bumbu, alat menumbuk jagung (lesung, lau) dan tumpukan kayu

bakar (pekayon). Tata cara adat Tengger adalah duduk di depan api-api atau pawon (gegeni menghangatkan badan), tidak boleh melompati kayu bakar yang dipergunakan untuk api-api, ini pantangan dan merupakan adat dari nenek moyangnya.

Gambar 6 Rumah Tengger: (a). Dapur (pawon) dengan tumang; dan (b) Homestay di Desa Wonokitri Kabupaten Pasuruan.

Setiap rumah dilengkapi dengan sigiran di bagian luar yang merupakan lumbung jagung yang ditata rapi diletakkan bergantung, namun hal ini sekarang sudah mulai langka, kecuali di Desa Wonokitri dan Desa Keduwung masih banyak dijumpai. Pada dasarnya rumah pada masa kini sudah mengalami perubahan nyata sesuai dengan keinginan pemiliknya. Secara umum rumah tersusun atas ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur atau pawon berdekatan dengan tumpukan kayu bakar dan jambangan di bagian belakang (pakiwan), namun juga tergantung luas tanah, apakah depan dilengkapi toko atau warung.

Rumah ternak atau kandang kebanyakan jadi satu dengan gubuk atau berdiri sendiri, dan terletak jauh dari perumahan. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak menimbulkan polusi di perumahan serta memudahkan memberi pakan rumput. Wilayah Tengger relatif aman dari pencurian hal ini karena masyarakatnya jujur dan adanya sangsi adat serta didukung letak lokasi dengan tebing curam dan terbatasnya jumlah arah jalan.

Untuk perumahan beragama Hindu tata ruang setiap rumah dilengkapi Padmasari di bagian depan teras dan Sanggar Pamujan. Rumah juga berisi ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi (jeding) serta dapur (pawon) dengan tumang atau perapian. Lingkungan perumahan jarang ada pohon karena mereka sudah

mengerti apabila pada tanah padas ditanam pohon cemara maka tanah mudah pecah dan pohon mudah roboh jika terkena tiupan angin.

4.3.2.1.2 Pekarangan

Pekarangan menurut Soemarwoto (2004) adalah sebidang tanah di sekitar rumah dengan batas tertentu, ada bangunan tempat tinggal (rumah atau gubuk) mempunyai hubungan fungsional seperti fungsi ekonomi, biofisik, sosial budaya serta memberi kenyamanan dan ketenteraman bagi penghuninya, estetik, biasanya digunakan menambah penghasilan berupa ternak unggas atau ikan.

Masyarakat Tengger mengenal istilah pekarangan, namun berbeda dengan konsep pekarangan seperti kelompok masyarakat lainnya di Indonesia. Menurut masyarakat Tengger pekarangan berfungsi untuk mendirikan rumah dan mempersiapkan bahan ritual, tanaman obat seperti dringu (Acorus calamus), adas (Foeniculum vulgare) dan jenis tanaman hias lainnya seperti bunga mawar (Rosa hybrida), adas (Foeniculum vulgare), anting-anting (Fuchsia hybrida) (Gambar 7).

Gambar 7 Pekarangan: (a) Tanaman hias, mawar (Rosa hybrida), tlotok (Curculigo capitulata) dan (b) Jenis bahan ritual (Fuchia hybrida)

Masyarakat Tengger juga memanfaatkan pekarangannya untuk ditanami tanaman budidaya seperti halnya di tegalan yaitu jenis tanaman sayuran, buah- buahan, bahan bumbu dan bahan minuman, misalnya bawang prei (Allium

fistulosum), kentang (Solanum tuberosum), kobis (Brassica oleracea), lombok besar (Capsicum annuum), lombok kecil (Capsicum frustescen), sawi (Brassica juncea) dan lain-lainnya. Hasil inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan di pekarangan tercatat 47 jenis tanaman budidaya. Pekarangan rumah masyarakat Tengger juga ditanami jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi rumah tangganya (Tabel 2). Di maping itu, pada pekarangan masyarakat Tengger jarang dijumpai jenis tanaman dengan perawakan pohon besar. Hal ini dikarenakan pohon tersebut dapat merusak bangunan dan khawatir roboh

Tabel 2 Keanekaragaman jenis tanaman pekarangan sebagai bahan pangan

No Nama Lokal Nama Ilmiah Kegunaan

1 Apel Pyrus malus L. Buah

2 Apokat Persea Americana Mill. Buah

3 Bawang prei Allium fistulosum L. Sayuran/bumbu

4 Bayam Amaranthus hybridus L. Sayuran

5 Benguk Mucuna pruriens DC Sayuran

6 Bentul Xanthosoma violaceum Schott. Pangan tambahan

7 Besaran Morus alba L. Buah

8 Blimbing Averhoa carambola L. Buah

9 Buncis Phaseolus vulgaris L. Sayuran

10 Ercis Pisum sativum L. Sayuran

11 Gandum/jagung Zea mays L. Pangan tambahan

12 Ganyong Canna edulis Kerr. Pangan tambahan

13 Jae Zyngiber officinale Roxb. Bumbu

14 Jambu air Eugenia aquea Burm.f. Buah

15 Jambu wer Prunus persica Zieb&Zucc. Buah 16 Jambu klutuk Psidium guajava L. Buah 17

18

Jeruk bali Jeruk pecel

Citrus maxima Merr. Citurs hystrix

Buah Bumbu

19 Kobis Brassica oleraceae L. Sayuran

21 Kersen Mutingia calabura L. Buah

22 Kentang Solanum tuberosum L. Pangan tambahan 23 Ketumbar Ciriandrum sativum L. Bumbu

24 Kopi Coffea arabica L. Minuman

25 Laos Alpinia galanga (L.) Wild. Bumbu 26 Lombok besar Capsicum anuum L. Bumbu 27 Lombok rawit Capsicum frutescens L. Bumbu

28 Lombok terong Capsicum sp Bumbu

29 Mangga Mangifera indica L. Buah

30 Pandan suji Pleumele angustifolia (Roxb.) N.E.Brown

Pewarna

31 Pandan wangi Pandanus amaryllifolius Roxb. Penyedap

Tabel 2 lanjutan

No Nama Lokal Nama Ilmiah Kegunaan

34 Sawi Brassica rapa L. Sayuran

35 Siyem Sechium edule (Jacq.) Swartz. Sayuran

36 Sledri Apium graviolens L. Sayuran

37 Srikoyo Carica pbescens Buah

38 Srikoyo Annona squamosa L. Buah

39 Stroberi Fragraria vesta L. Buah

40 Tales Callocasia esculenta (L.) Schott.

Pangan tambahan 41 Tebu ireng Saccharum officinarum L. Minuman 42 Tela rambat Ipomoea batatas (L.) Lamk. Pangan

tambahan 43 Terong londo Cyphomandra batacea Sendtn Buah 44 Tewel Artocarpus heterophylla Lamk. Buah 45 Tomat Lycopersicum esculentum Mill. Buah 46 Ucet Vigna sinensis (L.) Hassk. Sayuran

47 Wortel Daucus carota L. Sayuran

Pekarangan juga dimanfaatkan untuk memelihara hewan peliharaan seperti ayam kampung yang dimanfaatkan sebagai sumber daging dan sumber protein hewani serta keperluan untuk ritual.

Setiap lahan pekarangan memiliki batas yang jelas antara pekarangan rumah satu dengan pekarangan rumah yang lain. Luas pekarangan dipengaruhi oleh terjadinya perubahan model rumah sehingga pekarangan menjadi lebih sempit dan hanya dapat ditanami jenis tanaman hias untuk tujuan estetika. Sehingga jenis tanaman hias yang ditanam di pekarangan masyarakat Tengger meliputi jenis-jenis tanaman hias.

Struktur tanaman pekarangan setiap Desa Tengger berbeda, hal ini disebabkan perbedaan ketinggian tempat dan luas tanah pekarangan. Pekarangan Desa Gubuklakah, Desa Poncokusumo, Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo dan Desa Tosari, Kecamatan Tumpang, Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur didominasi oleh perkebunan apel.

4.3.2.1.3 Perkampungan Tengger

Pola pemukiman masyarakat Tengger dibangun dengan cara menyesuaikan dengan keadaan lingkungan tanah berbukit, dimana jarak rumah satu dengan yang

lainnya saling berdekatan (Gambar 8). Perkampungan masyarakat Tengger terletak di puncak bukit, pereng atau di ledokan.

Perkampungan masyarakat Tengger dibangun di kawasan perbukitan, sehingga perlu membuat terasering untuk perumahan. Biasanya kawasan perkampungan tersebut dibuat teras sehingga jalan dapat menuju banyak jurusan dan terhindar dari tiupan angin. Sebuah perkampungan selalu dilengkapi dengan beberapa bangunan yang sifatnya religus yaitu Punden atau Danyang, Sanggar Pamujan, dan lahan Makam, Wihara Paramitha yang beragama Budha, Masjid yang beragama Islam dan Gereja yang beragama Nasrani.

Gambar 8 Perkampungan Tengger: (a). Sistem perumahan bergerombol Desa Ngadiwono Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan dan (b) Perumahan Desa Ranupani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.

Perkampungan juga dilengkapi Balai Desa, Pendopo Agung, gedung sekolah dan tempat olah raga. Letak Pure ada di tengah perumahan hal ini dimaksudkan agar mudah terjangkau umat untuk berkunjung dan melakukan sesaji. Gaya rumah asli Tengger secara umum sudah banyak ditinggalkan, Balai Desa, Pendopo Agung di Desa Wonokitri sangat unik, hampir bercorak rumah joglo di Jawa bernuansa Bali (Gambar 9a,b). Balai Desa dan Pendopo Agung sering dipergunakan untuk masyarakat yang mempunyai hajad acara perkawinan, ritual adat seperti Entas-entas, upacara Kasada, Karo atau pertemuan acara resmi. Satuan lingkungan desa yang berbukit-bukit sudah tersusun dengan baik dalam bentuk teras dan dilengkapi dengan selokan kecil untuk saluran air. Sebuah

desa biasanya terbentuk dari pemekaran dan migrasi desa sebelumnya. Pembagian wilayah perbukitan meliputi puncak bukit disebut pusung, bagian tengah disebut perengan atau lereng (ereng-ereng), sedang bagian bawah merupakan ledokan, dasar atau jurangan (curah).

Gambar 9 Sarana kegiatan masyarakat: (a) Rumah kegiatan masyarakat Tengger; (b) Balai Agung dan Balai Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan.

Jalan pada umumnya dibangun membelah desa dan satu arah dimana rumah dibangun di kanan dan di kiri jalan. Gapura desa dibangun di jalan masuk desa dan di setiap gang (banjaran). Pembangunan jalan di Desa Wonokitri dibuat dengan satu jalur dengan maksud jika ada pencuri mudah tertangkap. Pengaruh gaya ukiran Bali mewarnai gaya bangunan seperti gapura, pura, Padmasari, dan Balai Desa.

Sarana pendidikan di desa masyarakat Tengger meliputi SDN, SMPN, dan SMK di Desa Ngadisari. Sedangkan sarana kesehatan berupa Puskesmas dan Pukesdes. Sarana prasarana lainnya yang terdapat di desa adalah pos ronda dan jalan desa.

Sarana angkutan umum ke wilayah desa masyarakat Tengger di Gunung Bromo belum memadai kecuali yang terdapat di wilayah Probolingga sudah lancar. Sarana angkutan di kawasan wisata yang tersedia adalah ojek, kuda, dan mobil Jeep yang siap untuk mengantar wisatawan ke Gunung Bromo, Lautan Pasir maupun Gunung Pananjakan dan Gunung Semeru. Masyarakat Tengger sebagian besar sudah dapat menikmati sarana listrik, PDAM, TV, telepon, wartel,

komputer dan prasarana perdagangan seperti pasar, toko, warung dan tempat tinggal sementara untuk menginap atau homestay maupun hotel.

4.3.2.2 Kawasan Pertanian

Kawasan pertanian masyarakat Tengger meliputi tanah tegalan, komplangan, pertanian jalur hijau dan pekarangan. Menurut Iskandar (1992) dan Soemarwoto (1997) lahan pertanian dapat dibagi lahan persawahan, pekarangan dan tegalan dimana ketiganya mempunyai ciri dan fungsi khusus.

4.3.2.2.1 Tegalan

Lahan pertanian tegalan atau ladang adalah tempat kegiatan utama pertanian masyarakat Tengger dan merupakan tempat untuk menghasilkan bahan makanan pokok serta sayuran untuk mencukupi kebutuhan hidupnya (Gambar 10 a,b). Tegalan tersebut dibuat dengan sistem terasiring dan setiap sebidang tegalan dibatasi dengan penanaman pohon cemara gunung (Casuarina junghuhniana) atau dengan jenis tanaman lainnya yaitu jenis jambu wer (Prunus persica) dan jenis tumbuhan semak seperti paitan (Tithonia diversifolia), triwulan (Eupatorium sp), cubung (Brugmansia suaveolens), putihan (Buddleja asiatica). Sedang galengan atau tanggul biasanya ditanami rumput astruli (Pennisetum purpureum). Rumput astruli disamping sebagai pakan ternak digunakan juga sebagai tanaman pelindung untuk penahan erosi air.

 

Gambar 10 Pertanian terasiring: (a) Batas tegalan Desa Ranupani dan Zona Hutan Rimba (TNBTS) dan (b) Lahan pertanian di kawasan perbukitan di desa Ngadas Kidul, Kecamatan Poncokusumo.

Pemilihan jenis tanaman cemara gunung sebagai jenis tanaman konservasi karena jenis tanaman ini dianggap paling kuat dan memiliki kegunaan lainnya yaitu sebagai kayu bahan bangunan dan kayu bakar. Tanaman cemara gunung dipilih sebagai tanaman pembatas lahan karena akarnya menancap ke bawah sehingga tidak mengganggu tanaman budidaya di sekitarnya. Usulan dari pihak Dinas Pertanian, BBTNBTS, dan pemerintah daerah agar cemara ditanam secara konsisten di wilayah Tengger. Masyarakat Tengger sendiri telah mempunyai aturan adat dalam mengelola jenis tanaman cemara gunung ini yaitu jika seseorang memotong 1 pohon cemara gunung, maka orang tersebut harus menanam 10 pohon. Jenis tumbuhan lain ditanam sebagai pembatas lahan meliputi dadap (Erythrina variegata), paitan (Tithonia diversifolia), rumput gajah (Pennisetum purpureum), acasia (Acacia decurrens), trabasan (Artemisia vulgaris) dan kaliandra (Calliandra haematocephala). Keanekaregaman jenis tanaman tegalan selengkapnya di tampilkan pada Lampiran 1.

Masyarakat Tengger dalam mengolah lahan tegalannya juga memperhitungkan pertanda musim (pranoto mongso) meliputi musim penghujan dan musim kemarau serta memperhitungkan hari baik menurut perhitungannya. Pengolahan lahan tegalan dilakukan secara sederhana yaitu dengan cara mencangkul, menyiangi gulma dan pemberantasan hama dan penyakit. Pada musim kemarau maupun musim penghujan masyarakat Tengger sudah memiliki strategi untuk mengusahakan suatu jenis tanaman yang disesuaikan dengan kondisi musim. Sebagai contoh adalah jenis bawang prei (Allium fistulosum) yang sangat sesuai untuk di tanam pada musim kemarau. Untuk mengatasi musim kemarau atau kekurangan air mereka membuat bak tandon air yang dialirkan dari sumber air atau sungai.

Kawasan pertanian masyarakat Tengger yang didominasi kawasan perbukitan, masyarakat Tengger mengembangkan strategi adaptasi pembuatan terasering pada lahan yang memiliki kemiringan terjal meliputi teras bangku dan tersiring dengan pembuatan tanggul dan kalenan. Pembuatan terasering tersebut merupakan usaha masyarakat untuk mengurangi erosi lahan.

Sistem pertanian menggunakan sistem terasiring menurut pandangan masyarakat Tengger sangat cocok, namun jika kurang pengalaman dalam menata

arah, posisi, aliran air (menyilang, tegak lurus atau sejajar) akan terjadi longsor. Pihak dari Dinas Pertanian maupun TNBTS menyarankan membuat teras bangku, namun masyarakat kurang berminat dan kembali ke terasiring tradisional lagi. Menurut Setiadi et al. (2007) budidaya dalam strip (strip cropping) merupakan cara mengubah petak lahan di lereng menjadi lahan dataran tinggi yang produktif. Hal ini dimungkinkan untuk menstabilkan dan memperkaya tanah, mempertahankan kelembaban, mengurangi hama dan penyakit serta pupuk kimia.

Tanah tegalan wilayah masyarakat Tengger sebagian besar berupa bukit dengan lereng rendah sampai curam, struktur tanah padas sampai berpasir. Tanaman cemara selain digunakan untuk pembatas lahan dan pencegah dari tanah longsor dan angin, juga dipergunakan sebagai kayu bakar dan bangunan.

Tanaman budidaya yang menjadi andalan pada lahan tegalan adalah bawang prei (Allium fistulosum), kentang (Solanum tuberosum) dan kobis (Brassica oleracea), karena jenis tanaman sayuran tersebut memiliki nilai atau harga yang baik. Sedangkan tanaman budidaya lainnya seperti pisang raja (Musa paradisiaca cv. Raja), lombok (Capsicum annum) dan Lombok rawit (C. frustescens), kapri (Pisum sativum) dan jagung (Zea mays) adalah sebagai tanaman sampingan atau ajiran. Jenis lokal tanaman pisang memiliki 11 kultivar lokal diantaranya adalah

Dokumen terkait