• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN HOLISTIK PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR, Studi kasus: Kampung Adat Sunda, Jawa barat

Dalam dokumen 139959084 Jurnal Tekno Oktober 2011 (Halaman 39-41)

Riwayat Singkat

PENDEKATAN HOLISTIK PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR, Studi kasus: Kampung Adat Sunda, Jawa barat

Oleh: Marcus Gartiwa

Universitas Langlangbuana Bandung

Abstrak - Arsitektur Vernakular, khususnya Arsitektur Vernakular Indonesia memiliki pendekatan holistik dalam perwujudan lingkungan binaannya sebagai pencerminan nilai-nilai universal kehidupan, mencakup: simbolik, ritual, etika, realisasi-fisik, serta rekayasa ekosistem. Pewujudannya berupa perancangan yang memiliki karakteristik: 1) lingkungan binaan adalah pencerminan proses ekosistem, 2) perancangan asitektur sebagai proses sosial, 3) perancangan arsitektur sebagai perwujudan interdependensi berbagai aspek kehidupan. Hal ini dapat dikaji pada berbagai Kampung Adat Sunda di Jawa Barat, yang didekati dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Kampung-kampung adat tersebut merupakan pencerminan prinsip-prinsip keberlanjutan

(sustainainbility), yang mencakup: 1) manusia sebagai makhluk-spiritual, 2) lingkungan binaan, khususnya

bangunan secara fisik memiliki keberlangsungan yang tinggi.

Kata kunci: Arsitektur Vernakular, Pendekatan Holistik

Abstract - Vernacular Architecture, in particular Indonesia has a holistic approach to the realization of environmental proxies as a reflection of the universal values of life, including: symbolic, ritual, ethics, physical- realization, and ecosystems engineered. The realization is in the form of design which has characteristics: 1) Built environment is a reflection of ecosystem processes, 2) Architecture design as a social process, 3) Design as a manifestation of interdependence of various life aspects. This can be assessed on a variety of Sudanese Indigenous kampong (Kampung Adat) in West Java, which approached by a qualitative-descriptive. Such Indigenous kampong is a reflection of the principles of sustainability which consist of: 1) human beings - spiritual, 2) the built environment, particularly the physical building has a high sustainability.

Keywords: Vernacular Architecture, Holistic Approach.

1. Pendahuluan

Kata ὅλοςholos, yunani yang berarti total menyeluruh, yang merujuk pada sistem yang menyeluruh, tidak bersifat bagian/parsial (partial). Hal ini nampak terasa pada kehidupan modern

sekarang ini, dimana penyelesaian lingkungan binaan, khususnya arsitektur sering didekati secara parsial, hanya dilihat pada satu sisi, sehingga menimbulkan permasalahan–permasalahan kehidupan, khususnya diperkotaan. Oleh sebab itu ada baiknya meninjau kembali kinerja (performansi) arsitektur vernacular yang memiliki pendekatan holistik, yaitu pendekatan yang menyeluruh mencakup aspek-aspek simbolik, ritual, etika, realisasi-fisik, serta rekayasa ekosistem dalam perwujudan lingkungan binaannya, khususnya bangunan maupun organisasi spatial

lingkungannya. Dalam hal ini, aspek-aspek simbolik, ritual, etika, realisasi-fisik, serta rekayasa ekosistem arsitektur vernacular terangkai dalam satu sistem yang membawa satu pesan yaitu nilai- nilai kepercayaan, adat istiadat masyarakat yang dianutnya.

Aspek utama nilai-nilai holistik adalah kesatuan manusia dengan lingkungan alamnya. Hal ini mencakup: Eksplisit mencerminkan implicit, ekstrinsik mencerminkan intrisik, yang teraga

(tangable) menceminkan yang tidak teraga

(intangible). Aspek-aspek fisik menunjukkan

symbol-simbol yang mengandung makna berupa kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut masyarakatnya. Perwujudan dan penggunaan bentuk-bentuk fisik bangunan dan organisasi

spatial sering berkaitan erat dengan ritual, yang

mencerminkan nilai-nilai kepercayaan yang dianut masyarakatnya. Etika-etika mengikat perilaku masyarakatnya dalam perwujudannya maupun penggunaannya, sehingga semua kebidupan masyarakat vernacular terikat dalam satu sistem yang disebut holistic.

2. Metoda Penelitian

Lingkup pembahasan adalah kampung- kampung adat Sunda di Jawa Barat yang mencakup: kampung Naga, kampung Ciptagelar, kampung Baduy, dan desa Dukuh. Metoda yang digunakan

adalah kualitatif–deskriptif, bersifat komparatif yaitu studi banding berbagai desa tersebut, kemudian diperoleh kesamaan prinsip kampung- kampung adat tersebut, yang mencerminkan nilai- nilai holistik rancang bangun lingkungan binaannya.

3. Pembahasan 3.1 Holistik -Metafisik

Holistik metafisik berupa keyakinan/ kepercayaan masyarakat kampung adat akan kesinambungan (sustainability) lingkungan, yang mana lingkungan binaan merupakan bagian tidak terpisahkan lingkungan ekologi/alam, yang berfungsi untuk kesinambungan generasi. Dalam hal ini kampung adat berevolusi sesuai dengan interaksinya dengan lingkungan alam. Kebudayaan berkembang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan indidvidu dan masyarakatnya. Pendekatan holistik metafisik adalah berupa organisasi spatial kampung adat sunda yang menekankan harmonisasi alam, manusia dan teknologi, yang mencakup: 1) Jiwa (spirit) yaitu kesadaran akan dinamika keberlanjutan

(sustainability): ekologi, budaya dan teknologi, 2)

aturan-aturan yaitu tradisi sebagai aturan utama melaksanakan keberlanjutan (sustainability) tersebut, 3) lembaga (institusi) berupa intitusi adat menerapkan aturan-aturan untuk menjaga keberlangsungan (sustainability) tersebut.

Esensi pendekatan holitik-metafisik adalah pendekatan-kebijakan ekologi, yang menekankan bahwa lingkungan, khususnya lingkungan binaan diperuntukkan bagi keberlangsungan generasi yang akan datang, bukan semata-mata untuk generasi sekarang, sehingga lingkungan binaan berevolusi secara dinamis sebagai respon terhadap lingkungan alam. Konsekuensinya adalah teknologi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat, berfungsi menjaga harmoni dengan lingkungan. Kebijakan ekologi tersebut mencakup: 1) Kesadaran akan dinamika interaksi ekologi,

budaya dan teknologi. Ekologi mencakup interaksi manusia dengan lingkungan, budaya mencakup ide-ide, kepercayaan, kebiasaan, serta kemampuan. Teknologi mencakup cara dan metoda dalam menata lingkungan binaannya. Tiga aspek tersebut terjalin terpadu menghasilkan lingkungan binaan dan bangunan yang berkesinambungan, yaitu asset bagi manusia sekarang dan yang akan datang. 2) Tradisi sebagai aspek utama pengendali

keberlanjutan lingkungan binaan. Hal ini dilakukan dalam bentuk aturan adat berupa pantangan-pantangan dalam menata lingkungan binaannya. Hal ini menyangkut mana yang boleh, mana yang tidak boleh, serta yang harus dikerjakan. Tradisi berupa nilai- nilai tersebut harus dipatuhi serta dilestarikan

warga/masyarakat secara turun menurun, generasi demi generasi.

3) Struktur/lembaga adat kampung. Struktur/ lembaga adat dipegang oleh dewan ketua adat yang disebut sebagai kokolot lembur, yang diketuai sesepuh, berfungsi menjaga tradisi sehingga keberlanjutan lingkungan terpelihara. Pendekatan holistic metafisik terangkum dalam pola/kerangka pikir seperti Diagram 1, yang menunjukkan bahwa organisasi spatial kampong

adat terbentuk melalui suatu mekanisme tertentu.

tradisi Feedback Diagram 1. Holistik-Metafisik 3.2 Holistik-Etika

Pendekatan Holistik–etika adalah etika

(ethic code) yang diterapkan dalam penataan

lingkungan binaannya, yang tercermin dalam prinsip-prinsip spesifikasi spatial, berupa:

1) Keyakinan/kepercayaan masyarakat bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta, yang menuntun masyarakat harus menjaga ciptaan Tuhan, terutama lingkungan alam, dan menjaga harmonisasi manusia, lingkungan binaan serta alam.

2) Keberlanjutan (sustainability) dalam pemukim- an: sistem pengelolaan air, harmoni alam, konstruksi bangunan dan bahan bangunan. 3) Prinsip-prinsip spesifikasi spatial: dimensi

tertentu, konfigurasi spatial, perbedaan perlakuan dan gradasi ruang.

4) Implementasinya berupa: mempertahankan kontur lahan/tanah apa adanya sehingga terjadi keseimbangan alam, membagi kampung dalam tata ruang berdasarkan aktifitasnya (zoning), serta memperlakukan penataan khusus berdasarkan pada kebiasaan/adat nenek moyangnya, serta penghormatan yang tinggi pada leluhur.

Kecerlangan ditunjukkan pada pembagian wilayah (zoning) peruntukkan Kampung, yang secara garis besar dibagi dalam: area pemukiman dan hutan. Pembagian wilayah dan semua aktifitasnya dikendalikan oleh dewan ketua adat, berdasarkan keyakinan adat/agama sunda, yang berupaya melindungi lingkungan alam kampung. Hal ini mencakup: 1) penataan fisik dikaki gunung /lembah untuk memberi jaminan bagi pasokan air, 2)

ekologi teknologi kebudayaan Institusi adat kampung Spirit: Kesadaran akan keberlanjutan Lingkungan binaan

penataan fisik pada gunung, untuk keamanan dari musuh dan binatang, 3) penataan fisik berkaitan dengan lokasi sungai, 4) perlindungan terhadap polusi air, dan erosi.

Beberapa spesifikasi spatial, yaitu: 1) klasifikasi bangunan-bangunan berdasarkan dimensi tertentu, seperti konstruksi tunggal vs arsitektur ruang terbuka, pondasi tatapakan vs pondasi yang ditanam, kayu vs batu, bentuk lingkar vs kotak, komunal vs pribadi, 2) bangunan secara keseluruhan dipertimbangkan sebagai konfigurasi bentuk spatial yang diversifikasi dan ditandai, 3) desain dan prinsip-prinsip bangunan mungkin dibedakan sebagai relevan pada spesifikasi spatial

ini dan gradasinya, mekanisme budaya berupa metapora bentuk manusia dan binatang, atau kosmos seperti matahari, bumi dan perahu.

Secara sosial hasil spesifikasi spatial ini berupa gradasinya ruang yang mencakup: 1) privat

ke public, 2) laki kepada wanita, 3) suci menuju

profane, 4) status rendah menuju status tinggi, 5)

hubungan consanguinal menuju cognatic, 6) kelompok keluarga menuju keluarga tunggal.

Holistik–etika tersebut tercermin dalam pandangan desain (desain-view), berupa perbedaan- perbedaan perlakuan melalui: 1) ruang terbuka vc struktur tunggal, 2) bangunan yg berornamen dan yang tidak, 3) horizontal dan vertical, 4) centripetal.

Prinsip-prinsip budaya, sosial dan perancangan digunakan untuk demarkasi dalam segala bentuk dalam berbagai perbedaan ruang yang selalu intricate, bertahap, terikat pada situasi. Kadang-kadang beberapa prinsip yang berbeda dikombinasikan seperti: perahu, kerbau, burung, atau spesifikasi ruang yang dualist dan kosmologis, tetapi satu interperetasi tunggal yang tegas/jelas. Perlakuan terhadap perbedaan ruang, dapat dilihat pada kategori-kategori manusia yang diijinkan masuk pada ruang-ruang tertentu, khususnya ruang- ruang terbuka, serta perilaku yang dituntut dalam memasuki ruang tersebut.

Jumlah penghuni kampung adat biasanya dibatasi bergantung pada kompleksitasnya, kadang- kadang terdapat desa yang konstan jumlahnya seperti suku Kanekes Baduy yang dibatasi 40 keluarga, juga kampong Naga (pengurangan jumlah selama 5 tahun). Namun jumlah penduduk yang relatif luas adalah kampung Ciptagelar. Namun secara prinsip kampung adat memiliki aturan agar

ratio penduduk dengan daya dukung alam

seimbang, sehingga kesinambungan (sustainability) alam dan masyarakat terjaga. Masyarakat kampung adat punya keyakinan bahwa kampung adalah wasiat/titipan leluhur, sehingga mereka mereka berupaya menjaga desanya tetap bersih. Dengan demikian, mereka tidak memperbolehkan

penggunaan mobil, dokar, dalam lokasi kampong adat, untuk menjaga kampungnya dari polusi dan kerusakan lingkungan. Bahkan beberapa desa kampong adat tidak menggunakan listrik, hanya menggunakan lampu petromak. Masyarkat kampung adat berpendapat kesesuaian perilaku mereka dengan leluhurnya, maka desa akan terasa sehat dan baik.

Masyarakat kampung adat memiliki upacara khusus mingguan, tahunan bergantung pada kepercayaan leluhurnya, seperti kampung Naga, memiliki 3 hari, selasa, kamis, dan jum’at, sebagai hari-hari Nyepi. Orang-orang harus nyepi yang menjaga pikiran dan aktifitas mereka benar dan baik, mereka tidak boleh bicara jelek dan kotor. Kebiasaan nyepi adalah populer dikalangan masyarakat sunda, sebagai penghormatan terhadap

spatial dengan disiplin dalam bicara.

Tiga elemen tata guna lahan: rumah, supply air, lahan (hortikultura, pertanian, kolam ikan). Hal ini tercermin pada diagram 2. Daerah bersih mencakup: rumah tinggal, granary, bangunan komunal, bumi ageung (rumah pusaka). Daerah yang kotor adalah sungai dan batas-batas desa. Bangunan-bangunan di daerah ini adalah tempat mencuci, kandang-kandang, penggilingan padi, dan kolam.

Dalam dokumen 139959084 Jurnal Tekno Oktober 2011 (Halaman 39-41)