BAB I : PENDAHULUAN
D. Otoritas dan Kepemimpinan
2. Pendekatan Islam
Perilaku sosial keagamaan secara universal dalam kehidupan kamunitas muslim harus diikat dengan komando yang tegas sehingga perilaku Umat Islam tidak menyimpang dari tujuan. Dalam hal ini Umat Islam perlu seorang pemimpin atau “Kekhalifahan” yang jelas disebut dengan konsep “Imamah” dan “Imaroh” yang maksudnya bersatu di bawah satu komando Imam/Amir sebagai pimpinan Jam’iyah, yang berfungsi menyatukan kehendak dan
memperkuat keyakinan terhadap pelaksanaan kegiatan-kegiatan keagamaan dengan mempertimbangkan keputusan-keputusan dalam organisasi.47
Suatu organisasi atau institusi yang mewadahi para Ulama merupakan bagian dari tertibnya kepemimpinan dalam Islam yang konsepnya dapat dikatakan dengan Khilafah,Imamah, dan Imarah. Isa Asahari memaknai konsep Imamah dan Imarah kedalam empat hal, yaitu: 1. Terbentuknya susunan umat yang rela menjadi makmum, yakni penganut setia kepemimpinan di tubuh organisasi Islam.
47
Bani ahmad saebani. Sosiologi Agama, Kajian Tentang Prilaku Institusional Dalam Beragama Anggota PERSIS Dan Nanhdatul Ulama. cet Pertama, ( Bandung: PT Rafika Aditama, 2007), h. 75.
2. Kecakapan memilih, mencari pemimpin dan ulama sebagai tempat menumpahkan kepercayaan dan perjuangan organisasi.
3. Kemampuan dari pemimpin untuk memberikan bimbingan terhadap umat Islam.
4. Kerelaan dan kesediaan, serta kepatuhan dan ketaatan umat yang menjadi pengikut dalam melaksanakan perintah dan instruksi dari imam atau pimpinan, yang termanifestasikan dalam tujuan organisasi keagamaan, demi terbentuknya kesatuan perilaku pada komunitas muslim dan loyalitas yang tinggi terhadap perinsip-perinsip kepemimpinan yang bergantung kepada kekuatan perinsip, loyalitas dan komitmen kehalifahan umat Islam sendiri.48
Kepemimpinan yang harus ditaati adalah: pemimpin yang menjadi tauladan uamt, yakni memahami seruan al-Quran dan Hadits, “berahklak mulia serta memiliki wawasan yang mencerahkan.”49 bahkan selain itu juga, bagi pemimpin dalam tradisi komunitas, dan organisasi. Masih terdapat kecenderungan di antara warga pada umumnya ada dua paktor kepemimpinan diatas.
PERSIS yang merupakan suatu ormas yang memperkaya kehidupan religi jama’ahnya, yang pengalaman Syariah Islam mengacu pada tuntuan al-Quran dan as-Sunnah, maka setelah melakukan pemahaman secara mendalam terhadap makna-makna yang dimaksud dari teks- teks bahkan konteknya. Sehingga pemahaman tersebut sesuai dengan ajaran Islam yang baik dan benar maka umat Islam memerlukan seorang figur yang memahaminya misalnya, Ulama, Kiyai, dan Ustadz yang ketiganya telah dijelaskan di atas.
48
Bani ahmad saebani. Sosiologi Agama, h. 76 49
BAB III
PROFIL PESANTRENPERSATUAN ISLAM (PPI 7)
A.Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya
Sebelum Pesantren Persatuan Islam No 7 (PPI 7) didirikan, masyarakat setempat masih banyak yang mempraktekan tradisi semacam,takhayul, khurafat, bid'ah. tradisi tersebut mereka anggap merupaka warisan "leluhur" Misalnya: banyak orang sekitar yang ketika itu mereka hendak membangun sebuah bangunan, baik untuk individu seperti rumah, atau bangunan untuk umum seperti masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Mereka harus menanam kepala kerbau atau kambing, yang mereka anggap sebagai tebusan agar penguasa wilayah “Ghaib” berkenan untuk merelakan daerah kekuasaannya dihuni oleh manusia.
Bahkan masih banyak orang yang percaya kepada “Berkah” (biasanya terkait dengan “Karomah50”) orang-orang shaleh yang sudah meninggal, sehingga di antara mereka banyak yang memohon bantuan kepada orang yang mati tersebut seperti: mereka datang ke kuburan wali dan ulama. Mereka juga percaya kepada rahasia Kekuatan benda tertentu misalnya: kepada Keris, Batu Alik (Cincin), atau sebuah tulisan yang dianggap mempunyai kekuatan (Isim), serta sisa-sia “Animisme” dan “Dinamisme” lainnya. Selain itu masyarakat masih melakukan cara-cara atau tradisi-tradisi lain misalnya; perayaan “Tahlilan” yang biasa dilaksanakan dalam upacara kematian, yang sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan (Awam) masyarakat terhadap nilai-nilai Islam yang sebenarnya, yang hal itu sebagian merupakan sisa-sisa tradisi Agama Hindu Budha.
Keterangan penulis tersebut diperkuat dengan pendapat salah seorang guru Bapak Ustadz Habib dan Bapak Karman warga masyata pada saat penulis wawancarai, mereka memberikan keterangan bahawa “tempat tersebut adalah merupakan tempat “Beling”51 (Bandel), hampa dari ajaran agama (Patrah) atau dengan kata lain tempat tersebut
50
Lihhat Buku Dr. Endang Turmudi.Perselingkuhan Kiai Dan Kekuasaan. ( Yogyakarta: PT Lkis Pelangi Aksara 2003), h. 104.
(Cempakawarna) merupakan tempat kemaksiatan seperti: sarang peredaran narkoba, pelacuran, sabung ayam, dan tempat perjudian.
Hal-hal tersebut di atas tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja, maka salah satu upaya untuk mengembalikan masyarakat kejalan yang benar adalah dengan berupaya mendirikan sebuah lembaga pendidikan keagamaan seperti sekolah dan bahkan pesantren. Ini merupakan salah satu bentuk usaha untuk mengurangi kepatrahan masyarakat dari kegiatan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan tersebut.
PERSIS waktu itu sebelum mendirikan lembaga pendidikan seperti sekarang ini, memulainya dengan berupaya mengadakan pengajian-pengajian yang diadakan di Masjid Istiqomah, yang kemudian menjadi cikal bakal (embrio) berdirinya Pesantren Persatuan Islam Nomor 7 (PPI 7) Cempakawarna, Cihideng, kota Tasikmalaya. Sebuah perjalanan yang sangat panjang yang terus dijalankan oleh tokoh-tokoh PERSIS saat itu, yang tanpa putus asa untuk melakuan pembaharuan (tajdid) dalam Islam dengan semboyan mengembalikan umat Islam kepada al-Quran dan Sunnah, melaui dakwah-dakwah yang tegas, lugas, dan keras. Para tokoh PERSIS sebelumnya mereka senang mengadakan perdebatan dengan organisasi- organisasi keagamaan lain atau golongan yang menentangnya.
Pesantren Persatuan Islam (PPI 7) ini awalnya hanya tempat belajar rutin di sebuah Masjid yang bernama Masjid Istiqomah yang bertempat dekat Pasar Baru, yang sekarang menjadi “Karlis” yang berada di Desa Argasari. Masjid tersebut merupaka ”Wakaf” dari seorang dermawan yang waktu itu masih menjadi simpatisan PERSIS yaitu Bapak H. Toha. PERSIS tempat tersebut melaksanakan kegiatan-kegiatan pengajian yang diikuti oleh para anggota dan simpatisan, juga anak-anak mereka diadakan kegiatan belajar-mengajar tingkat Diniyyah yang khusus mempelajari ajaran agama, dan tingkat Tsanawiyyah (setimgkat SLTP) dan Tajhiziyyah (setingkat SLTA) pada tingkat tersebut selain mempelajari ilmu-ilmu agama juga ditambah dengan ilmu-ilmu umum.
Setelah berjalan lama anggota atau simpatisan bahkan masyarakat sekitar semakin bertambah banyak yang mengikuti kegiatan pesantren, sehingga tempat tersebut hampir tidak mampu untuk menampung mereka, maka dari itu diperlukan pengembangan sarana dan prasarana, namun di tempat tersebut tidak memungkinkan untuk memperluas lahan karena berada di wilayah pemukiman padat penduduk, kemudian untuk tempat belajar-mengajar dipindahkan ke JLn Cempakawarna No 86 Desa Cilembang. Adapun kecamatannya sama yaitu Cihideung.
Kemudian di tempat yang baru ini, PERSIS mulai berkembang dengan didirikannya bangunan sekolah Tsanawiyyah dan juga Tazhijiyyah. Sebelum berdiri tingkat Tsanawiyah dan Tajhiziyyah pada tahun 1971 di Masjid Istiqomah, dan Madrasah PERSIS telah berjalan cukup lama dengan beberapa kali pergantian kepemimpinan yang di antaranya Ustaz Abun dari Babakan Payung Cihideung yang sekarang dia berada di daerah Parakan Nyangsang Indihiyang.
Memang menurut beberapa keterangan yang penulis dapatkan pada waktu itu pendidikan ini belum menjadi Pesantren Persatuan Islam No 7 dulu namanya masih jama’ah Persatuan Islam saja, adapun berdirinya Pesantren Persatuan Islam (PERSIS No 7) di Cihideung adalah diakibatkan situasi politik pada saat itu dimana PERSIS sangat kental dengan konsep imamah dan imarah sehingga segala keputusan ditentukan oleh pimpinan pusat termasuk dalam politik peaktis (partai politik).
Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) yang berada di Cisalak yang sekarang berada di Benda yang sudah mempinyai nomor yaitu nomor 7 mereka tidak mengukuti keputusan pimpinan pusat yang harus memilih partai politik tersentu saat itu, sehingga PERSIS yang berada di Benda mengundurkan diri dari PERSIS, maka No 7 ini yang bermula menjadi No Persatuan Islam Benda yang berada di wilayah kabupaten Tasikmalaya sekarang dipindah kekota yang sekarang bertempat di Cempakawarna.
Setelah beberapa lama PERSIS Benda kembali didirikan dan mendapat pengakuan dari Pimpinan Pusat (PP) PERSIS maka nomornya berubah menjadi No 67 sampai sekarang. penjelasan ini disampaikan untuk menghilangkan kesimpangsiuran sejarah tentang No 7 Pesantren PERSIS di Cempakawarna saat ini.52
Para Pendiri Pesanteren PERSIS No 7 di Kota:
1. Ust. H. Muhammad Soleh. (Ust. Hamsha) (alm) 2. Ust. Hasan Wardi (alm)
3. Ust. Maksum (alm) 4. Ust. Isma’il (alm)
5. Ust. Mamat Rahmat (alm) 6. Ust. Ruslan (alm)
7. Ust. H. M. Abdurahman KS 8. Ust. H. Ojo Tobi’i.
Pada waktu itu nama-nama tersebut semuanya menjabat sebagai staf Pimpinan Cabang (PC) PERSIS Tasikmalaya. Sedangkan Guru-guru pemula di jenjang pendidikan Tsanawiyyah dan Tajhijiyyah pada saat itu
1. Ust. Drs. H. Maman Abdurahman, yang ditugaskan Pimpinsn Pusat (PP) Persatuan Islam (PERSIS)
2. Ust. Isma’il (alm)
3. Ust. H. Maman Abdulrahman Ks 4. Ust. Maman Suganda
5. Drs. Maman Suherman yang sekarang berada di Serang Banten. Sementara guru-guru untuk jenjang Diniyyah 1. Ust. Nanang Iskandar
52
2. Ustadzah Endah
3. Ustadzah Oyoh, (alm) dan
4. Santri-santeri dewasa yang tinggal (Mukim) di Asrama.