Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Karena melihat dari fokus penelitian yakni terkait kepemimpinan visioner dalam pengembangan pendidikan Islam di Yayasan Bani Hasyim Kecamatan Singosari – Kabupaten Malang.
Fokus penelitian yang demikian, menurut Yin lebih bersifat eksplanatoris dan lebih mengarah ke penggunaan strategi studi kasus.1 Karena dalam eksplanatoris berfungsi untuk menjawab rumusan masalah yang menjurus pada pertanyaan “bagaimana dan mengapa”.2
Penelitian yang di maksud adalah penelitian kualitatif yang cara memperoleh datanya bersumber murni dari lapangan atau bersifat empiris. Dengan ini peneliti lebih mudah menggali informasi secara mendalam. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Bogdan dan Biklen bahwa karakteristik penelitian kualitatif adalah
“Qualitative research has the natural setting as the direct of data and the researcher is the key instrument; Qualitative research is descriptive; Qualitative researchers are concerned with process rather than simply with outcome of products ;Qualitative researchers tend to analyze their data inductively; “Meaning” is of essential concern to qualitative approach.3
1
Robert K. Yin, Case Study Research: Design and Methods. (Newbury Park. CA: Sage, 1984 ), hlm. 18.
2
Syamsuddin AR., dan Vismaia S. D., Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung: Remaja Rosdakarya kerjasama dengan SPs UPI, 2007), hlm. 179.
3
Robert S Bogdan & Sari Knope Biklan, Qualitative Research for Education an
Dalam penelitian kualitatif mempunyai pengaturan yang bersifat alamiah sebagai penghimpun data secara langsung, artnya peneliti untuk mendapatkan data tidak dibuat-buat atau direkayasa, namun data didapat secara alami, kemudian peneliti merupakan instrumen kunci, sehingga peneliti adalah penentu bagi baik buruknya penelitian. Penelitian kualitatif juga bersifat deskriptif; penelitian kualitatif lebih mengedepankan proses daripada hasil, serta penelitian kualitatif cenderung menganalisis datanya secara induktif; dan “makna” menjadi perhatian penting untuk pendekatan kualitatif.
Senada dengan pendapat di atas, Lexy J Moleong menambahkan bahwa penelitian kualitatif adalah peneltian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.4
Menurut teori penelitian kualitatif, agar penelitiannya dapat betul-betul berkualitas, data yang dikumpulkan harus lengkap, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah subjek penelitian (informan) yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, sms dan lain-lain),
4
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 6.
foto, film, rekaman video, benda-benda dan lain-lain yang dapat memperkaya data primer.5
Berdasarkan keterangan teori di atas, untuk memperjelas pada penelitian ini peneliti mengambil data primer melalui wawancara secara langsung dengan informan utama yakni Bapak Aji Purnawarman, SH., M.Hum., selaku Ketua Yayasan Bani Hasyim. Bukan hanya wawancara secara langsung saja akan tetapi peneliti juga memakai rekaman HP yang bertujuan untuk penguatan data primer yang belum valid. Perlu diketahui bahwa Yayasan Bani Hasyim bukan hanya konsentrasi dalam pengembangan dunia pendidikan saja akan tetapi mempunyai anak usaha yang sifatnya eksternal atau bisnis seperti adanya klinik, masjid, perumahan dan usaha lainnya yang mengikat pada yayasan tersebut. Sedangkan tugas dan wewenang ketua yayasan yakni mengelola anak usaha atau yang bersifat eksternal pada Yayasan Bani Hasyim, sehingga dibentuknya Direktur Masjidil „Ilmi atau Ketua Komite lembaga pendidikan yang bertugas langsung untuk menangani segala permasalahan dan kebutuhan internal lembaga pendidikan Islam pada Yayasan Bani Hasyim. Dan ini pula, yang menambah antusias peneliti untuk meneliti lebih dalam lagi terkait peran dan fungsi pimpinan yayasan dalam pengembangan lembaga tersebut.
Selanjutnya Bogdan dan Biklen mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif terbagi menjadi enam antara lain sebagai berikut: (1) Etnografi; (2) Studi Kasus; (3) Grounded Teori; (4) Interaktif; (5) ekologi dan (6) future.
5
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), hlm. 21-22.
Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus. Robert K. Yin menambahkan bahwa studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas dan bilamana multi sumber bukti dimanfaatkan.6
Secara umum menurut Robert K. Yin, bahwa studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how dan why bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena masa kini.7
Menurut Faisal yang dikutip Sadjarwo dan Basrowi menambahkan studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang penelaahannya kepada suatu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif. Studi kasus bisa dilakukan terhadap individu, seperti yang dilakukan oleh ahli psikologi, juga bisa dilakukan terhadap kelompok seperti yang dilakukan oleh para ahli antrapologi, sosiologi, dan psikologi sosial.8 Hasil dari penelitian kasus merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal dari individu, kelompok, lembaga, dan sebagainya. Tergantung dari tujuannya, ruang lingkup dari studi dapat mencakup segmen atau bagian tertentu atau mencakup keseluruhan siklus kehidupan dari individu, kelompok, dan sebagainya, baik
6
Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode, Terj. M. Djauzi Mudzakir, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002 ), hlm. 18.
7
Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode, (Terj. Djauzi Mudzakkir), (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hlm. 1.
8
Sudjarwo dan Basrowi, Manajemen Penelitian Sosial, (Bandung, PT. Mandar Maju: 2009), hlm. 115.
dengan penekanan terhadap faktor-faktor kasus tertentu, ataupun meliputi keseluruhan faktor-faktor dan fenomena-fenomena.
Nazir menambahkan bahwa studi kasus banyak dikerjakan untuk meneliti desa, kota besar, sekelompok manusia drop out, tahanan-tahanan, pemimpin-pemimpin, dan sebagainya. Jika studi kasus ditujukan untuk meneliti kelompok, maka perlu dipisahkan atau diisolasikan kelompok-kelompok dalam onggokan yang homogen.9
Sasaran dalam penelitian studi kasus dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dokumen, kemudian sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas, sesuai dengan lataratau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk memahami berbagai kaitan yang ada diantara variabel-variabelnya.10
Senada dengan pendapat di atas, dalam penelitian ini, objek yang akan diteliti adalah sesosok manusia atau salah seorang yang menjabat sebagai pimpinan di Yayasan Bani Hasyim karena mereka yang berperan penting dalam mengembangkan lembaga pendidikan Islam di Yayasan Bani Hasyim di Singosari – Kabupaten Malang.