ANALISIS KEPEMIMPINAN D SIROJUDDIN AR
A. Pendekatan Kepemimpinan D Sirojuddin AR
Pendekatan kepemimpinan D. Sirojuddin. AR yang dipraktekkan adalah
beliau selalu berusaha untuk menjadi teladan atau contoh bagi para kaligrafer atau pelukis, jadi menurut beliau kalau beliau mengajak orang untuk berbuat sesuatu maka beliau sudah berbuat terlebih dahulu memperbuatnya. Ust. Apifuddin Syarif menambahkan bahwa pak Sirojuddin sosok pemimpin yang patut diteladani, dimana pak Sirojuddin seorang yang pragmatis (yang bisa menuliskan kaligrafi secara keahlian kaligrafi) tetapi pak Sirojuddin juga seorang konseptor (yang mampu menciptakan ide-ide pengembangan secara konsep baik melalui buku maupun media) menurutnya ini sebuah teladan sekali yang perlu dicontoh dan diteladani oleh para kaligrafer.1 Kemudian dalam kepemimpinannya beliau juga berusaha untuk menjadi
icon atau lambang dalam pengembangan kaligrafi khususnya di Indonesia, dan pada kenyataannya beliau memang banyak kalangan yang menganggap khususnya kaligrafer/pengamat kaligrafi termasuk penulis sendiri bahwa beliau sebagai tokoh
1
atau boleh dibilang sebagai bapak kaligrafinya Indonesia.2 Ini karena banyaknya peran beliau dalam pengembangan kaligrafi khususnya di Indonesia. Sehingga, dengan ketokohannya tersebut gagasan-gagasan pengembangan kaligrafi yang beliau sampaikan dengan mudah untuk diterima dan diikuti, ini terlihat dengan semakin meningkatnyan jumlah santri pada pesantren kaligrafinya yang merupakan laboraturium dari LEMKA pada setiap angkatan atau setiap tahunnya dan semakin padatnya jadwal beliau untuk memenuhi undangan untuk membina di daerah-daerah di tanah air bahkan di luar negeri yakni di Brunai Darussalam.3 Dalam hal ini beliau mengatakan bahwa beliau mencontoh kepemimpinan Rasulullah tentunya sebagai pemimpin teladan yang utama, menurut beliau apa yang dilakukan Rasulullah sebenarnya memberikan keteladanan dan akibatnya mereka mengikuti Rasulullah karena Rasulullah memang teladan.4 D. Sirojuddin AR dapat memobilisasi para kaligrafer mencontoh dari ayahnya. Beliau melihat bagaimana ayahnya mengajar ngaji dengan tekun, menjadi imam di surau, dan bagaimana ia harus ronda setiap malam mengatur atau memimpin rakyatnya saat jadi kepala desa. Tetapi kesukaannya membaca lakon para petualang, pelopor, dan penemu memberikannya pengaruh sangat mendalam. Nabi Muhammad SAW adalah yang patut dijadikan contoh beliau mencontoh kepemimpinan Rasulullah tentunya sebagai pemimpin teladan yang utama, menurut beliau apa yang dilakukan Rasulullah sebenarnya memberikan keteladanan dan akibatnya mereka mengikuti Rasulullah karena Rasulullah memang teladanDFDFDFDF. Dengan menghimpun pengikutnya dari satu orang, tiga, ratusan, ribuan. Tertarik pula dengan kitab
Ramayana yang menggambarkan Rama mencari Shinta dengan memobilisasi seekor
2
Momon A Syarif, Pengurus, Pengajar LEMKA dan Dewan Juri Kaligrafi, Wawancara Pribadi, 27 November 2008
3
Lihat halaman, 37
4
kera Hanoman, lalu lima ekor, jadi lima ratus, sepuluh ribu, lima ratus ribu, sepuluh juta.5 Ia begitu yakin bahwa sejarah benar-benar dapat dijadikan sebagai pelajaran dan bahkan teladan. Dalam pengembangan kaligrafi lewat lembaga yang beliau pimpin beliau lebih kepada menghidupkan sistem kaderisasi misalkan seperti dalam pengajaran di LEMKA, beliau tidak menghabiskan waktu untuk mengajar sendiri tetapi lebih pada memposisikan diri untuk mengawasi dalam artian mengawasi secara terbuka untuk tujuan evaluasi pemberian motivasi dan sebagainya kepada para pengajar atau sebagai
supervisor. Beliau berusaha untuk ”ber-Tutwuri Handayani” kemudian juga bisa terlihat dari misalnya beliau dalam memimpin pesantrennya beliau lebih pada memberikan pengasuhan dan motivasi-motivasi maka di pesantren kaligrafi yang beliau dirikan ada yang menangani tersendiri dalam menjalankan program- programnya misalnya program pendidikan dan latihan (Diklat) ada direktur tersendiri
yang menjalankan program-program tersebut. Dalam kepemimpinannya D. Sirojuddin. AR juga selalu bersifat terbuka, misalnya dalam pengambilan keputusan beliau selalu mengadakan musyawarah dengan para pengurus maupun anggota. Selain itu selanjutnya beliau lebih suka membiarkan bawahannya untuk berinisiatif dan berkreasi. Keteladanan pak Sirojuddin juga terlihat pada kepribadiannya yang gigih, tekun, dan sabar misalnya di mana seringkali ketika penulis datang di kediamannya selalu saja beliau ada yang dikerjakan seperti selalu lagi ngetik dihadapan Laptop atau lagi menulis maupun melukis kaligrafi. Selain itu beliau juga seorang yang dermawan dimana penulis tahu sendiri misalnya hampir setiap hari minggu selalu ada
5
Tim 7 Lemka, Pak Didin Menabur Ombak Kaligrafi, (Jakarta : LEMKA Studio, 2006), cet. Ke-5, h. vii-xix
yang datang untuk minta sumbangan dan pak Sirojuddin selalu memberinya. Penulis sendiri banyak merasakan kedermawanan beliau.
a. Gaya Kepemimpinan D. Sirojuddin. AR
Gaya kepemimpinan sebagaimana dikatakan T. Hani Handoko dalam bukunya
Manajemen membagi gaya kepemimpinan menjadi dua yaitu gaya dengan orientasi tugas (task oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (employer orented) pimpinan berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkan. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan pelaksana pekerjaan dari pada pengembangan dan pertumbuhan bawahan. Manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan, serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok. Berdasarkan pemaparan di atas penulis yang juga aktif di LEMKA dapat
penulis kemukakan bahwa gaya kepemimpinan D. Sirojuddin. AR adalah lebih kepada gaya kepemipinan yang berorientasi karyawan atau bawahan, anggota dan para kaligrafer. Ini dapat dilihat misalnya dalam hal kebijakan-kebijakan terkait pengembangan kaligrafi maupun lembaga yang dipimpinnya, beliau selalu mengakomodir pendapat-pendapat bawahannya dan juga kemudian memberikan para anggotanya untuk berinisiatif dan kreatif. b. Tipe Kepemipinan D. Sirojuddin. AR Sebagai mana yang telah dijelaskan di atas bahwa yang dimaksud tipe kepemimpinan adalah suatu bentuk atau pola seseorang dalam memimpin, tindak
tanduk dari seorang pemimpin dapat dijadikan sebagai pola untuk mencocokkan tipe apa yang dipakai oleh seorang pemimpin dalam menjalankan roda kepemimpinannya tersebut Tipe kepemimpinan D. Sirojuddin. AR adalah bersifat demokratis, kharismatis
dan juga pathernalistis yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Demokratis, tipe kepemimpinan demokratis adalah tipe kepemimpinan
dimana pemimpin menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap organisasi. Tipe ini diwujudkan dengan dominasi prilaku pelindung dan penyelamat dan prilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi.6 Tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepemimpinn kelompok
dibandingkan dengan kepemimpin individu. Beberapa ciri dari kepemimpinan demokratis di antaranya adalah :
1. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia didunia. 2. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan
kepentingan organisasi. 3. Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya. 4. Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan memberikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi
daya kreativitas, inisiatif dan prakarsa dari bawahan 5. Lebih metitik beratkan kerja sama dalam mencapai tujuan. Tipe kepemimpinan D. Sirojuddin AR adalah sifatnya yang demokratis, tipe demokratis ini terlihat pada saat rapat-rapat dengan pengurus maupun anggota yaitu dengan memberikan kebebasan berpendapat pada saat rapat berlangsung,
6
Fitriah, "Kepemimpinan Ahmad Zairofi dalam Upaya Pengembangan Dakwah Melalui Majalah Tarbawi", Skripsi Sarjana Sosial Islam, (Jakarta: Perpustakaan UIN, 2006), h. 27
menselaraskan ide atau pemikiran-pemikirannya dengan pengurus lainnya untuk tujuan organisasi, kemudian dalam pergantian kepengurusan sebenarnya beliau juga menyerahkan kepada forum yang ada di musyawarah untuk memilih ketua baru, namun lagi-lagi tidak ada atau belum ada yang mampu seperti pak Sirojuddin yang seorang konseptor yang mempunyai konsep-konsep pengembangan kaligrafi yang strategis dan cemerlang yang juga dibarengi dengan talenta secara pkaktek tentunya. Kemudian beliau juga sangat senang menerima saran pendapat, maupun kritikan bahkan kritikan yang tidak benarpun beliau dengan senang hati menerimanya dari bawahannya maupun orang-orang di luar LEMKA. Beliau tidak pernah membawa atau mencampurkan masalah pribadi dengan tujuan organisasi.7 Tipe kedua yang ada pada D. Sirojuddin AR yaitu, tipe kepemimpinan Kharismatik, Tipe kepemimpinan ini adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan orang lain dengan mendayagunakan keistimewaan dalam aspek kepribadian yang dimiliki pemimpin sehingga menimbulkan rasa hormat, segan dan kepatuhan pada orang yang dipimpinnya.8 Tipe kepemimpinan kharismatik D. Sirojuddin AR ini terlihat ketika beliau
berada dimanapun khususnya dikalangan khattat maupun pelukis kaligrafi. Khattat yang juga seorang imam masjid AsCCCsalam ini dikenal sebagai pribadi yang religius yang seringkali mananamkan nilai-nilai agama pada bawahannya seperti keikhlasan, keberkahan dan lain lain. Ia selalu disegani dan sangat dihormati, walaupun beliau tidak pernah menonjolkan dirinya untuk dihormati. D. Sirojuddin AR mempunyai kharisma tetapi tidak seperti sebagian orang
bahwa kharisma itu ditakuti dan sebagainya, tetapi pak Sirojuddin kharismanya itu
7
D. Sijuddin AR Log.Cit,.
8
Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari, Kepemimpinan yang Efektif, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 2000), cet. Ke-3, h. 94-10
bagaimana ketika beliau berbicara kemudian orang memperhatikan semua, ingin mendengarkannya, tetapi di tengah pembicaraan beliau bisa membuat orang tertawa. Kharisma bukan berarti tidak canda, bukan berarti pasif dalam arti tidak ada tawa atau canda sehingga seolah-olah beliau membuat image bahwa saya tidak boleh bercanda supaya kelihatan kharismatik. Pak Sirojuddin berkarakter "lentur" yang bisa membaur dengan bawahannya maupun denga orang lain. Tipe Kharismatik pak Sirojuddin berbeda dengan kebanyakan yang ada di pesantren-pesantren yang terlalu bahwa santri harus seperti ini, tidak boleh seperti ini dan itu. Beliau tidak ada sekat seperti itu. Ust. Apifuddin Syarif, MA menambahkan, apalagi kalau beliau berbicara melalui teks, kalau sudah menulis bahasanya sangat "nyastra" bahasanya mengandung sastra, terbukti dalam buku-bukunya, khutbah, ceramah/seminar, ini karena memang karena beliau yang berlatar belakang sarjana sastra dan disamping beliau sebagai mantan wartawan bahasanya indah dan enak didengarkan sehingga Ust. Apifuddin sendiri pun mengaku pernah mengutip sebagian/pembukaan dari khutbah beliau karena sangat indah dan enak didengar. Ketika membaca buku orang berpikir seolah-olah atau jangan-jangan orangnya sangat kharismatik dan kenyataannya beliau memang punya kharisma. 9 Kemudian tipe kepemimpinan yang ada pada D. Sirojuddin AR yaitu tipe
kepemimpinan Fathernalistis, Tipe kepemimpinan fathernalistis mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kebapakan. Kepemimpinan seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapakan dalam menggerakkan bawahan untuk mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil. Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diperlukan akan tetapi ditinjau dari segi negatifnya pemimpin fathernalistis kurang
9
menunjukkan kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya. Tipe kepemimpinan
Fathernalistik juga terdapat dalam diri D. Sirojuddin AR dalam artian Faternalistik yang positif, ini terlihat dari sifatnya yang selalu mengayomi, membimbing dan menasehati anggotanya yang memang kebanyakan mereka adalah para muridnya atau binaannnya. Kalau dilihat ketika pak Sirojuddin memberikan kata-kata yang bermutukan pembekalan kepada bawahannya pasti akan menganggap bahwa beliau adalah guru besar di organisasi ini yang omongannya atau pembicaraannya mesti benar dan diakui keabsahannya artinya kalau seperti demikian bisa saja beliau bapaknya LEMKA. Misal kecil dari nasehat beliau "teruslah berkarya melukis dan seterusnya karena suatu saat akhirnya buat kita juga" ini salah satu kalimat yang bersifat kebapakan yang seolah-olah beliau melihat ini bukan lagi bawahan saya tetapi benar-benar anak saya. Contoh lain ketika ada pekerjaan beliau seringkali membaginya, karena banyak organisasi yang ketika ada kepentingan dikumpulkan bawahannya, tetapi ketika ada proyek diambil sendiri seolah-olah tidak ada hubungan emosional. Karena yang menjadikan anak dan bapak bisa menyatu dikarenakan ada hubungan emosional dan itu selalu dibangun oleh D. Sirojuddin AR.10
c. Fungsi Kepemimpinan D. Sirojuddin. AR Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam
interaksi dalam individu dalam situasi sosial suatu kelompok atau organisasi.11 Dalam hal ini lebih lagi, J. Reberu dalam bukunya Dasar-dasar Kepemimpinan,
telah menjelaskan dan membagi fungi kepemimpinan kepada tiga bagian yaitu :
10
Ibid,.
11
Veithezal Rivai, Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi, (Jakarata: PT, Raja Grafindo Persada, 2004), cet. Ke-2, h. 53
a. Tugas menanggapi situasi hidup masyarakat. b. Tugas menilai hidup masyarakat.
c. Tugas menentukan sikap atau tindakan terhadap situasi hidup.12
Berbicara mengenai fungsi kepemimpinan, Kartini Kartono dalam bukunya,
Pemimpin dan Kepemimpinan, menjelaskan: ”fungsi kepemimpinan ialah: memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi, atau membangunkan motivasi- motivasi kerja. Mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik memberikan supervisi atau pengawasan yang efesien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu perencanaan".13
Dalam hal ini fungsi kepemimpinan D. Sirojuddin AR dalam hal pengembangan kaligrafi melalui LEMKA adalah dengan cara memandu, membimbing dan memotivasi bawahannya kepada pencapaian tujuan dari visi dan misi LEMKA salah satunya yaitu turut memasyarakatkan seni kaligrafi di Indonesia. Selain itu fungsi kepemimpinan D. Sirojuddin AR adalah bahwa beliau mampu membangun komunikasi yang baik dengan para pelukis dan khattat di daerah-daerah serta mampu membangun komunikasi yang baik dengan berbagai instansi seperti pemerintah daerah maupun pusat. Dan ini merupakan salah satu syarat untuk menunjang perkembangan seni kaligrafi di Indonesia.
Menurut Kadarman SJ dan Jusuf Udaya dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Manajemen menjelaskan tentang fungsi kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin, agar suatu kelompok dapat dipimpin dengan efektif, 2 (dua) fungsi utamanya ialah :
12
Riberu, Dasar-Dasar Kepemimpinan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), h. 13
13
a. Fungsi pemecahan masalah (problem solving function). Fungsi ini berhubungan dengan tugas atau pekerjaan yaitu memberikan jalan keluar, pendapat dan informasi terhadap masalah yang dihadapi kelompok. Dalam hal ini kepemimpinan D. Sirojuddin AR berusaha untuk memberikan saran, tanggapan serta solusi atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahannya maupun Khattat di daerah-daerah. Selain itu beliau yang selalu mengamati dan mengkaji dunia seni kaligrafi beliau juga memberikan informasi-informasi mengenai perkembangannya dan lain sebagainya.
b. Fungsi sosial. Fungsi ini berhubungan dengan kehidupan kelompok, yaitu memberikan dorongan kepada anggota kelompok untuk mencapai tujuan dan menciptakan suasana kerja bagi kelompoknya.14 Dalam hal ini D. Sirojuddin AR selalu berusaha memberikan dorongan baik kepada bawahannya maupun Khattat-khattat di tanah air untuk mengembangkan seni kaligrafi yang merupakan seni Islam.
d. Hakikat Kepemimpinan D. Sirojuddin AR Hakikat kepemimpinan berdasarkan tinjauan teoritis pada bab II di atas adalah kepengikutan bawahan pada atasan atau pimpinan, yang dimana seorang pemimpin harus memahami bawahannya supaya tujuan bersama dalam organisasi dapat dicapai. Tingkah laku bawahan searah dengan kemauan pemimpin karena pengaruh interpersonal pemimpin terhadap bawahannya tersebut. Sebab sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan memerlukan seorang pemimpin (leader) agar
14
Kadarman SJ dan Jusuf Udaya, Pengantar Ilmu Manajemen, (Jakarta: PT. Prenhalindo, 2000), h. 143
kerja sama tersebut bisa mejadi efektif. Sehingga menurut pengamatan penulis kepemimpinan D. Sirojuddin AR bisa dikatakan berhasil karna kegiatan beliau dalam mempengaruhi orang lain bisa dikategorikan sangat banyak pengikutnya ini bisa kita lihat dari sejarah perjalanan LEMKA yang dipimpinnya hingga sekarang.15 Dan inilah hakikat kepemimpinan.
e. Efektifitas Kepemimpinan D. Sirojuddin AR Terkait efektivitas kepemimpinan D. Sirojuddin AR berdasarkan penelitian kualitatif. Penulis dapat menjelaskan bahwa kepemimpinan yang efektif tergantung
bagaimana kemampuan seorang pemimpin dapat menyesuaikan gaya
kepemimpinannya pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Makin efektif interakksi pimpinan dengan bawahan terutama melalui pendekatan manusiswi (human approach), menunjukkan kecendrungan semakin tinggi dan terbina satu sikap saling pengertian dan keeratan hubungan emosional antara pimpinan dengan bawahan dan keadaan ini menjadi potensi untuk bersama terciptanya kepemimpinan yang efektif. Efektivitas kepemimpinan D. Sirojuddin. AR berdasarkan asumsi di atas sudah cukup efektif dilihat dari segi interaksinya dengan bawahannya dimana pak Sirojuddin selalu menjaga interaksi yang baik dengan bawahannya. Beliau tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan urusan organisasi atau kepemimpinannya. Sehingga hubungan emosional dengan bawahannya terjalin dengan baik dan itu selalu dibangun oleh pak Sirojuddin.16
15
Lihat bab III.
16
B. Peran D. Sirojuddin. AR dalam Pengembangan Kaligrafi di Indonesia