TINJAUAN TEORITIS
B. Pengembangan Kaligrafi 1 Pengertian Pengembangan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian pengembangan adalah "perihal", perkembangan, berasal dari kata "kembang" yang mempunyai proses,
cara, perbuatan pengembangan”.33
32
Menurut Malayu SP Hasibuan dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia mengatakan bahwa pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan, teknis, teoritis, konseptual, melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan latihan harus sesuai dengan pekerjaan masa kini, maupun masa depan. Kata pengembangan mengarah pada penciptaan dalam bentuk perluasan dan peningkatan.34 AA. Anwar Prabu Mangkunegara dalam bukunya yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan mengatakan bahwa "pengembangan merupakan suatu proses pendidikan jangka panjang yang menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir dimana pegawai manajerial mempelajari pengetahuan konseptual atau teoritis guna mencapai tujuan yang umum".35 Menurut T Hani Handoko dalam bukunya yang berjudul Manajemen Personalia berpendapat bahwa ”pengembangan (development) adalah mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dalam rangka untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan sikap dan sifat-sifat kepribadian".36 Dalam beberapa pengertian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa pengembangan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan melalui proses
pendidikan jangka panjang yang sistematis dan terorganisir.
2. Pengertian Kaligrafi
Kaligrafi secara etimologis berasal dari bahasa inggris, calligraphy yang berasal dari dua suku kata bahasa Yunani, yaitu kallos: beauty (indah) dan
33
Tim penysun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 1995), h. 414
34
Malayu SP Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Bumi Aksara 2000), h. 10
35
AA. Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia perusahaan
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2001), cet. Ke-3, h. 44
36
graphein: to write (menulis) yang berarti: tulisan yang indah atau seni tulisan indah. Dalam bahasa arab biasa disebut khat yang berari garis atau coretan pena yang membentuk tulisan tangan, dan disebut fann al-khath yang berarti seni memperhalus tulisan atau memperbaiki coretan.37
Secara terminologis, Syeikh Syam al-Din al-Afkani mengatakan : "kaligrafi adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan tata cara merangkainya menjadi sebuah kata yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan bagaimana cara menggubahnya".38
Adapula yang mengatakan bahwa kaligrafi merupakan apa-apa yang ditulis para ahli dengan dengan sentuhan kesenian. Kaligrafi melahirkan ilmu tersendiri tentang tata cara menulis, yang meneliti tentang tanda-tanda bahasa yang biasa dikomunikasikan, yang ditorehkan secara proporsional dan harmonis, yang dapat dilihat secara kasat mata dan diakui sebagai susunan yang dihasilkan lewat kerja kesenian.39
Muhammad Thahir ibn ‘Abd al-Qodir al-Kurdi dalam karyanya Tarikh al- Khath al-‘Arabi wa Adabihi pernah mengumpulkan sekitar tujuh macam pengertian kaligrafi atau khat dan kemudian menyimpulkan bahwa yang dimaksud kaligrafi adalah suatu kepandaian untuk mengatur gerakan ujung-ujung jari dengan memanfaatkan pena dengan tata cara tertentu. “Pena” di sini adalah pusat
37
Al-Mu’jam al-Wajiz, (Majma al-Lughah al-‘Arabyah, 1995), h. 203. Di kutif pulaoleh Ilham Khoiri. Dalam: al-Quran dan Kaligrafi Arab, (Jakarta, PT. Logos, 1999), h. 49-50.
38
Irsyad al-Qasid bab Hasr al-Ulum oleh Abu al-Abbas Ahmad ibn ‘Ali alQalqassyandi dalam
subh al-Asyafi Syina ,ah al-insya, (Kairo: Kustatasumas wa Syarikahu, tth), h. 3-4. dikutif oleh D. Sirojuddin.AR. dalam: Seni Kaligrafi Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000),
h. 3
39
gerakan ujung-ujung jari, semantara “tata cara tertentu” merujuk pada semua jenis kaidah-kaidah penulisan.40
Menurut penulis sendiri kaligrafi adalah suatu ilmu yang mempelajari bentuk huruf-huruf tunggal, cara merangkainya, dan cara menyusunnya menjadi sebuah
kata dan kalimat yang kemudian untuk menjadi sebuah tulisan yang indah.
3. Konsep Pengembangan Kaligrafi
Pembinaan kaligrafi dapat diwujudkan secara intensif, terstrutur, dan propesional.41 Di Indonesia pembinaan yang dipelopori oleh D. Sirojuddin. AR misalnya dengan mendirikan Lembaga Kaligrafi al-Quran (LEMKA) pada 17 April 1985 pembinaan melalui lembaga ini dapat diwujudkan melalui pendidikan dan latihan (diklat) atau yang bersifat kursus-kursus terpadu ditambah dengan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya mendukung kearah pengembangan dan tujuan yang ingin dicapai. Pengembangan kaligrafi khususnya yang dikembangkan Lembaga Kaligrafi al-Quran (LEMKA), mengambil gaya tersendiri, yaitu didasarkan pada dimensi skill dan pengembangan wawasan. Pelaksanaan keempat dimensi tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan:42 a. Pembinaan kreativitas, pengembangan minat dan bakat melalui kursus
kaligrafi terpadu.
b. Kompetisi, perlombaan-perlombaan kaligrafi yang dapat dilaksanakan di sekolah, kampus, pesantren, karang taruna, even-even hari besar Islam dan nasional.
40
Muhammad Thahir ibn ‘Abd al-Qodir al Kurdi , Tarikh al-Khath al-‘Arabi wa Adabihi, (Hijaz, 1982), cet. Ke-3, h. 17. Dikutip oleh: Ilham Khoiri: al-Quran dan Kaligrafi Arab, (Jakarta, PT. Logos, 1999), h. 50
41
D. Sirojuddin. AR, Makalah Training para Pembina Kaligrafii, ( Banten: LPTQ, 2008), h. 1
42
c. Pergelaran, pameran, dan pengembangan galeri untuk memotivasi supaya mereka berkarya. Dan
d. Diskusi wawasan seni budaya, guna menyeimbangkan antara skill dan wawasan.
Pengembangan kaligrafi berdasarkan buku Desain Pengembangan Seni Kaligrafi Islam di Indonesia yang disusun oleh LEMKA bahwa pengembangan
kaligrafi dapat ditempuh melalui : a. Melangsungkan penataran/pengkaderan para khattat dan guru-guru khat di
berbagai sekolah dan pesantren. b. Menawarkan beberapa kegiatan yang menarik gairah para khattat, seperti : penulisan kitab atau buku-buku agama, penulisan mushaf-mushaf al- Quran, melatih para utusan daerah untuk diikutkan dalam lomba-lomba kaligrafi nasional (seperti MTQ), ASEAN (seperti Peraduan Menulis Khat ASEAN) di Brunai Darussalam, atau internasional (seperti, Internasional Calligraphy Competition). c. Bertukar pengalaman dan ilmu di antara para khattat dan pelukis. Pelukis mengajarkan tekhnik pengolahan media dan cat, sebaliknya mereka dapat
menulis ragam-ragam khat kepada para khattat. d. Membuka sanggar-sanggar pengembangan kaligrafi di sekolah-sekolah (madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah), pesantren atau di tempat-
tempat di luar lembaga pendidikan formal. Penulis sendiri berdasarkan konsep pengembangan di atas menyimpulkan bahwa konsep pengembangan kaligrafi yang terpenting adalah penumbuhan semangat para kahattat/kaligrafer melalui kegiatan-kegiatan yang terkonsep dan menarik
BAB III
PROFIL D. SIROJUDDIN. AR DAN