Laporan Pendahuluan
B. Pendekatan Konseptual
Pendekatan konseptual merupakan metode yang dilakukan dengan berdasar pada kepustakaan atau data sekunder, dimana dalam pendekatan konseptual ini dimaksudkan untuk menyusun kriteria dan indikator yang akan digunakan dalam menelusuri potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh daerah perencanaan yang berguna untuk merencanakan, mengembangkan, merawat, dan membangun sehingga menjadi suatu kawasan yang lebih terintegrasi dengan sistem lingkungannya. Oleh karena itu melalui pendekatan konseptual akan terlihat bagaimana pola hubungan yang terbentuk dalam melaksanakan perencanaan dan pembangunan sanitasi komunal diharapkan tercipta kawasan yang layak huni (tidak banjir), berkeadilan sosial, dan berwawasan budaya dan lingkungan.
Dalam hubungannya dengan pendekatan konsepsional ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami dan mendekati permasalahan Penyusunan Perencanaan Sanitasi Komunal mencakup antara lain:
P e n d e k a t a n d a n
M e t o d o l o g i
1. Pendekatan Teoritis
Pendekatan ini dilakukan dengan cara melaksanakan studi literatur (desk study) terhadap faktor-faktor yang sangat kuat relevansinya dengan perencanaan ini seperti standar/kriteria/parameter/indikator yang digunakan dalam penilaian kehandalan suatu fisik infrastruktur sanitasi bagi lingkungan hunian.
2. Pendekatan Proses Berpikir
Pendekatan teknokratik didasarkan pada proses berpikir sebagian orang yang dinilai memiliki keahlian dan otoritas untuk membahas dan menentukan justifikasi yang tepat untuk menilai suatu keadaan, yang nantinya akan menghasilkan hasil karya bersifat ilmiah. Konsultan ditugaskan untuk merumuskan dan memilih indikator yang sesuai dan dianggap netral dan obyektif terhadap berbagai kepentingan yang muncul.
3. Pendekatan Praktis
Pendekatan ini dilakukan dengan cara melaksanakan uji coba terhadap rancangan kriteria dan indikator yang diperoleh dari hasil studi.
Tabel 4.1 : Pola Pikir Perencanaan Teknis Sanitasi Komunal Masukan Tim Teknis Perhitungan Teknis Gambar Teknis Spek Teknis RAB O&M DED Lokasi Terpilih PemodelanTerpilih Sanitasi komunal
Kebutuhan Sarana Sektor terkait Sektor Yang Terkait Air Bersih Persampahan Drainase
Air Limbah Sosial Budaya Peraturan KebijakanTeknologi Pemodelan Sanitasi
komunal di 3 Daerah Spesifik
4.2
METODE PELAKSANAANMetoda pelaksanaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan adalah minimal sesuai dengan arahan yang telah disampaikan dalam KAK,yakni sebagai berikut:
1. Studi Literatur
Dalam studi literatur ini akan dicari semua informasi mengenai rancangan mengenai Ipal Komunal, baik dari literatur dan karya ilmiah yang ada maupun best practise yang ada dan berfungsi baik dan juga yang gagal. Dalam konteks ini akan dicari informasi yang sangat penting yakni bagaimana suatu infrastuktur yang telah siap dioperasikan bahkan terkadang sudah sempat dioperasikan menjadi tidak berfungsi.Faktor apa yang menyebabkannya. Dengan demikian informasi ini akan menjadi dasar dalam melakukan langkah selanjutnya.
2. Koordinasi dengan instansi terkait
Koordinasi dengan instansi terkait dan seluruh pemangku kepentingan akan dilakukan oleh Konsultan, baik di Pusat maupun di ke 3 wilayah yang menjadi objek studi ini yakni P. Bintan, Banjarmasin dan Kota Sorong. Hal ini sangat penting dalam menyerap aspirasi di wilayah terkait yang mana akan sangat penting dalam hal Konsultan memberikan judgement dalam menetukan rekomendasi kebijakan yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan di Pusat dan di daerah.
3. Survey lapangan, Sosialisasi ke masyarakat
Survey lapangan akan dilakukan untuk terutama untuk mengetahui kebiasaan masyarakat setempat dalam perlakuannya terhadap limbah cair nya selama ini. Hal ini sangat penting pula, karena akan menjadi titik tolak mulainya sosialisasi, promosi maupun advokasi yang perlu dilakukan terhadap masyarakat yang menjadi target sasaran penerima manfaat dan pelayanan pengelolaan limbah Ipal Komunal ini. Pada waktu survey lapangan ini, pemeriksaan kualitas air limbah akan juga dilakukan secara bersamaan.
4. Diskusi dan sosialisasi dengan para pemangku kepentingan
Setelah didapat hasil survey lapangan dan Konsultan sudah bisa “memotret” keadaan lapangan secara jelas, maka hasil ini akan segera disampaikan dan didiskusikan dengan Pemberi Tugas dan para pemangku kepentingan lainnya. Hal ini akan disampaikan pada laporan interim. Tentunya setelah diskusi ini, input atau masukan yang didapat pada saat diskusi nanti, akan menjadi masukan untuk melakukan analisis dan rekomendasi,baik teknis yang menyangkut konstruksi dan sistem Ipal Komunal, maupun terhadap kebutuhan biaya terutama operasional dan perawatan. Dalam laporan interim ini akan disampaikan juga perkiraan kebutuhan lahan dan potensi adanya lahan di masing-masing wilayah rancangan, sebagai informasi awal bagi pemda untuk bisa segera merealisasikannya.
5. Melakukan analisis permasalahan merumuskan pengembangan, dan memformulasikannya menjadi suatu Perencanaan Teknis
Semua informasi lapangan, hasil diskusi dengan seluruh pemangku kepentingan dan informasi lainnya yang signifikan akan digunakan untuk mendukung keakuratan dan keserasian informasi dalam merumuskan rencana pengembangan pelayanan sistem sanitasi komunal ini. Dalam konteks rancangan Ipal Komunal ini, tentunya pendalaman
terhadap semua informasi harus komprehensiv, karena kendala dan tantangan untuk dari karakteristik fisik dan geograsfis ke 3 wilayah studi ini sangat berbeda.
Misalnya untuk daerah P. Bintan, yang merupakan representasi dari daerah muara dan pantai, akan didapat kendala berupa kemiringan lahan yang sangat landai, sehingga area cakupan pelayanan relativ akan lebih sempit (kecuali dibantu dengan pompa).
Di daerah Banjarmasin, sistem Ipal Komunal akan menemui kendala, berupa pasang surut dan air tanah yang tinggi dan juga kemiringan lahan yang landai. Disamping itu dengan muka air tanah tinggi dan pasang surut akan menuntut upaya yang lebih keras terutama bagi Pemda setempat untuk “merubah” persepsi dan kebiasaan masyarakat dalam perlakuan terhadap air limbahnya.
Di daerah Sorong Papua yang merupakan representasi daerah tandus, pegunungan dan berbatu, akan ditemui adalah perkolasi tanah yang sangat kecil, sehingga bisa diduga Ipal Komunal yang dirancang tidak bisa menggunakan bidang resapan biasa. Disamping itu akan ditemui kemiringan lahan yang relativ curam, sehingga akan mengharuskan banyak “drop mahole” yang harus disiapkan untuk mengantisipasi kecepatan aliran dalam pipa yang terlalu tinggi.
Semua yang disampaikan ini merupakan asumsi dan perkiraan awal, yang sementara berdasarkan pengalaman konsultan di bidang air limbah selama ini.
Metode pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan melalui pentahapan yang sistematis yang ditangani dalam susunan alur kegiatan, agar lebih memudahkan pemahaman tentang rangkaian kegiatan yang harus dilakukan Konsultan menuju sasarannya dan dilakukan secara skematis. Proses Pola Pikir Penyusunan Perencanaan Teknis Sanitasi Komunal diberikan dalam bentuk bagan alir seperti diberikan pada Gambar 4.1. Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
4.2.1 Tahap Persiapan
Tahapan pekerjaan persiapan ini perlu dilakukan untuk menunjang kelancaran pekerjaan– pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam tahapan ini adalah: