• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

G. Pendekatan Non Parametrik Data Envelopment Analysis

1. Pendektan Non Parametik Metode DEA (Data Envelopment Analysis) Data Envelopment Analysis (DEA) yang akan digunakan sebagai metode analisa dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini untuk mengukur efisiensi Bank Syariah dan Bank Konvensional dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Dalam buku Kinerja Keuangan dan Efisiensi Perbankan oleh Zainal Abidin dkk, 2008: 11-12, Metode DEA merupakan salah satu metode frontier berbasis non parametrik dengan menggunakan program linier. Tujuan dari penggunaan metode ini adalah untuk mengukur tingkat efisiensi dari decision-making units (DMUs) relatif terhadap DMU sejenis,

ketika semua unit berada pada atau dibawah “kurva” efisien frontier -nya. Metode ini bisa digunkan untuk mengevaluasi efisiensi relatif dari beberapa objek. Selain menghasilkan nilai efisiensi masing-masing DMU, DEA juga menunjukkan unit-unit yang menjadi referensi bagi unit-unit yang tidak efisien.

Dasar pengukuran efisiensi dengan DEA adalah program linier, transformasi program linier yang kita sebut dengan DEA adalah sebagai berikut :

maksimumkan m maxsimasi ht=∑ vrtqrt

r=1

Dengan batasan atau kendala

m n

kendala ∑ vrtqrs- ∑ uitxit≤ 0 , r = 1,2 …… m

r=1 i=1

n

∑ uikxik = 1 , dan Ui dan Vr≥ 0, dimana:

i=1

qrt: adalah jumlah output r pada bidang t

xit: adalah jumlah input i pada bidang t qrs: adalah jumlah input r pada bidang s

xit: adalah jumlah ouput i pada bidang t

m : adalah jumlah sampel yang dianalisis s : Jumlah input yang digunakan

uik: nilai terbesar input I pada bidang k

uit :nilai tertimbang dari output r yang dihasilkan pada bidang t ht: adalah nilai yang dioptimalisasikan sebagai indikator efisiensi

Dalam menggunakan DEA, perlu diperhatikan beberappa hal penting, yaitu positivity, jumlah DMU, homogeneity, isotonicity, windows analysis dan bobot. Karena menggunakan program linier, maka DEA mensyaratkan variable input dan outputnya bernilai positif (>0). Dan untuk memastikan terpenuhinya degree of freedo, DEA mensyaratkan jumlah DMU yang dianalisis minimal 3 unit, yang seluruhnya mempunyai kesamaan input dan outputnya. Isotonicity berarti bahwa setiap terdapat kenaikan pada variable input, harus mendapatkan respon berupa kenaikan setidaknya satu variabel output dan tidak ada

39 variabel output yang mengalami penurunan. Mengingat bahwa nilai produktivitas DMU seringkali dipengaruhi oleh waktu, maka perlu dilakukan windows analysis ketika terjadi pemecahan data DMU (tahunan menjadi triwulan atau bulanan misalnya).

Beberapa keunggulan serta keterbatasan DEA

Beberapa hal yang menjadi keunggulan Pendekatan DEA adalah : a. Metode DEA merupakan prosedur yang dirancang secara khusus

untuk mengukur efisiensi relative suatu DMU yang menggunakan banyak input dan output sehingga dapat menhasilkan suatu skor atau nilai.

b. Metode DEA tidak memerlukkan aasumsi hubungan fungsional antara variabelinputdanoutput.

c. DMU (decision making unit) dapat dibandingkan secra langsung dengan sesamanya.

d. Satuan pengukuran input dan output dapat berbeda. Keterbatasan DEA di antaranya adalah :

a. Metode DEA mensyaratkan semua input dan output harus spesifik dan dapat diukur. Kesalahan dalam memasukkan input dan output akan memberikan hasil pengukuran yang bias.

b. Nilai-nilai yang dihasilkan dari DEA merupakan nilai relative bukan nilai absolute.

d. Menggunakan perumusan linear programming terpisah untuk tiap DMU (perhitungan secaramanual sulit dilakukan apalagi untuk masalah berskala besar).

Ada dua model yang sering digunakan dalam pendekatan ini, yaitu: a. Model CCR (1978)

Disebut CCR karena dikembangkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (Model CCR) pada tahun 1978. Model ini mengasumsikan bahwa rasio antara penambahan input dan output adalah sama (constant return to scale). Artinya, jika ada penambahan input sebesar x kali, maka output juga akan meningkat sebesar x kali. Asumsi lain yang digunakan dalam model ini adalah setiap perusahaan (bank) beroperasi pada skala yang optimal (optimum scale)

b. Model BCC 1984

Model yang dikembangkan oleh Banker, Charnes dan Chooper pada tahun 1984 ini merupakan pengembangan dari model CCR. Model ini beranggapan bahwa perusahaan tidak atau belum beroperasi dalam skala yang optimal. Persaingan dan kendala-kendala keuangan dapat menyebabkan perusahaan untuk tidak beroperasi pada skala optimalnya. Asumsi dari model ini adalah bahwa rasio antara penambahan input dan output tidak sama (variabel return to scale). Artinya penambahan input sebesar x kali tidak akan menyebabkan output meningkat sebesar x kali, bisa lebih kecil atau lebih besar dari x kali.

41 2 . Penentuan Variabel Input dan Output

Mengutip dari pendapat Leong et al. (2003) dan Barrr et al. (2002) dalam Zainal Abidin dkk, 2008:18, terdapat tiga pendekatan dalam konsep variabel input dan output yaitu :

a. Pendekatan Produksi dimana dalam pendekatan ini bank sebagai produser dari rekening tabungan dan kredit pinjaman. Dengan demikian, definisi output pada pendekatan ini adalah penjumlahan dari rekening-rekening tersebut. Sedangkan inputnya adalah jumlah tenaga kerja, pengeluaran modal pada aktiva tetap dan material lainnya. Pendekatan ini lebih cocok untuk mengevaluasi kinerja efisiensi untuk suatu cabang pada suatu bank.

b. Pendekatan Intermediasi dimana pendekatan ini mendefinisikan bank sebagai perantara, yang mengubah dan mentransfer aset-aset keuangan, dari unit-unit yang kelebihan dana ke unit-unit yang kekurangan dana. Output dalam pendekatan ini diukur melalui kredit pinjaman dan investasi keuangan, sedang inputnya adalah biaya tenaga kerja dan modal serta pembayaran bunga pada deposit. Pendekatan ini lebih tepat untuk mengevaluasi kinerja efisiensi bank sebagai lembaga intemediasi atau DMU.

c. Pendekatan Aset dimana pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan intermediasi, yaitu melihat fungsi primer sebuah bank sebagai pencipta kredit pinjaman. Sehingga, output dari pendekatan ini adalah kemampuan perbankan dalam menanamkan dana dalam bentuk kredit, surat-surat berharga dan alternatif aset

lainnya. Sedangkan inputnya adalah harga tenaga kerja, harga dana, dan harga fisik modal.

Menurut Kwan (2002) dan Berger dan Humprey (1997) dalam Zainal Abidin dkk, 2008:18, pendekatan intermediasi ini banyak digunakan dalam penelitian efisiensi bank. Mereka menyarakan bahwa pendekatan intermediasi adalah yang paling sesuai untuk mengevaluasi efisiensi seluruh bank karena termasuk didalamnya beban bunga yang jumlahnya setengah atau dua pertiga dari total biaya. Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan pendekatan intermediasi dalam pengambilan keputusan variabel output dan input, karena dinilai lebih sesuai mengevaluasi kinerja efisiensi bank secara keseluruhan.

Penelitian ini menggunakan tiga variabel input dan satu variabel output. Variabel inputnya terdiri dari:

a. Jumlah Aset Tetap

Aset tetap adalah aset bank dengan masa pakai di atas satu tahun, dimaksudkan untuk tidak dijual guna menunjang kegiatan operasional bank, antara lain berupa tanah, gedung, dan peralatan yang dimiliki atau disewa (kamus BI). Alasan penggunaan variabel ini adalah karena aset tetap bagi perbankan mempunyai pengaruh terhadap dana yang dapat dialokasikan untuk kredit/pembiayaan. b. Simpanan

Adalah sejumlah dana masyarakat baik individu maupun badan hukum yang berhasil dihimpun oleh bank melalui produk penghimpunan dana. Simapanan ini berupa giro, tabungan, dan

43 deposito. Alasan penggunaan variabel ini adalah karena seberapa besar fungsi intermediasi bank nampak dari seberapa besar dana pihak ke tiga (simpanan yang dihimpun dapat disalurkan kembali dalam bentuk kredit /pembiayaan) yang digunakan sebagai variabel inputdari penelitian ini.

c. Beban operasional lain

Merupakan biaya langsung yang berhubungan langsung dengan kegiatan operasional bank. Beban operasinal lain adalah selain biaya atas simpanan, yang mencakup biaya tenaga kerja, biaya valuta asing, biaya administrasi, biaya promosi, beban penyusutan dan amortisasi, dan biaya lai-lain. Alasan penggunaan variabel ini adalah karena beban operasional lain digunakan sebagai ukuran beban biaya yang dikeluarkan bank dalam kegiatan operasionalnya.

Sementara itu dalam penelitian ini menggunakan variabel output berupa:

1. Kredit atau pembiayaan

Merupakan produk penyaluran dana perbankan kepada masyarakat, baik individu maupun badan hukum yang digunakan untuk investasi, perdagangan ataupun konsumsi, yang dapat memberikan keuntungan bagi bank dengan adanya bunga ataupun bagi hasil. Pemilihan variabel ini sebagai output karena produk utama bank sebagai lembaga intermediary adalam kredit atau pembiayaan.

d. Pengaruh Total Aset tetap Terhadap Total Kredit atau Pembiayaan Aset tetap adalah aset bank dengan masa pakai di atas satu tahun, dimaksudkan untuk tidak dijual guna menunjang kegiatan operasional bank, antara lain berupa tanah, gedung, dan peralatan yang dimiliki atau disewa (kamus BI). Semakin tinggi nilai aset tetap yang dimiliki oleh bank, semakin rendah kredit/pembiayaan yang bisa diberikan. Hal ini karena ketika bank memutuskan untuk mengadakan atau menambah aset tetap, maka bank telah menggunakan dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pemberian kredit atau pembiayaan. Secara otomatis dana untuk kredit atau pembiayaan menjadi berkurang.

e. Pengaruh Total Simpanan terhadap Kredit/ Pembiayaan

Menurut Antonio (2003), simpanan merupakan titipan murni dari nasabah kepada bank, yang untuk kemudian dipergunakan oleh bank dalam aktivitas kegiatan ekonomi tertentu dengan catatan bank menjamin akan mengembalikannya secara utuh kepada nasabah. Simpanan merupakan dana utama bagi bank dalam menyalurkan kredit atau pembiayaan. Semakin besar jumlah dana simpanan akan meningkatkan kemampuan bank untuk menyalurkan kredit atau pembiayaan ke masyarakat.

f. Pengaruh Beban Operasional lainnya terhadap Kredit/Pembiayaan Menurut Rivai (2007), biaya operasional lain merupakan semua biaya yang berhubungan dengan kegiatan operasional bank kecuali biaya bagi hasil untuk bank syariah dan biaya bung untuk bank

45 konvensional. Semakin baik bank dalam mengelola biaya operasional lain maka semakin efisien bank tersebut. Layaknya biaya yang merupakan beban yang harus benar-benar diperhatikan besar-kecil jumlahnya dalam setiap kegiatan perusahaan, biaya operasional lain dalam bank juga sama seperti itu. Seamakin tinggi nilai biaya operasional lain maka semakin tinggi pula beban yang ditanggung oleh bank yang akhirnya akan mempengaruhi jumlah kredit atau pembiayaan yang dapat disalurkan ke masyarakat.

Dokumen terkait