BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Pengertian Efisiensi dan Konsep Efisiensi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, efisiensi yaitu tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya), mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat, berdaya guna, bertepat guna (http://kamusbahasaindonesia.org/efisiensi)
Konsep efisiensi berasal dari konsep mikro ekonomi, yaitu teori konsumen dan teori produsen. Sudut pandang teori konsumen mencoba untuk memaksimalkan kegunaan atau kepuasan individu, sedangkan sudut pandang teori produsen mencoba untuk memaksimalkan profit atau meminimalkan biaya. (Ascarya dan Diana Yumanita, 2007:97)
Efisiensi juga dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input), atau jumlah yang dihasilkan dari satu input yang dipergunakan. Suatu perusahaan dapat dikatakan efisiensi apabila mempergunakan jumlah unit yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah unit input yang dipergunakan perusahaan lain untuk menghasilkan jumlah output yang lebih besar. (Permono dan Darmawan dalam Priyonggo, 2008 : 34).
Dikutip dalam Priyonggo (2008), Efisiensi juga bisa diartikan sebagai rasio sebagai rasio antara input dan output. Ada tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu (1). Apabila dengan input yang sama dapat menghasilkan output yang lebih besar, (2). Input yang lebih kecil dapat menghasilkan output yang lebih besar lagi, (3). Dengan input yang lebih besar dapat menghasilkan output yang lebih besar lagi. (Ghofur dalam Atmawardhana, 2006 ; 40).
Terdapat dua macam pengertian efisiensi, yaitu efisiensi teknik dan efisiensi ekonomi. Efisiensi ekonomi mempunyai sudut pandang makro, karena menganggap harga sudah ditentukan (given) dan dipengaruhi oleh kebijakan makro yang jangkauannya lebih luas dibanding efisiensi teknik. Pengukuran efisiensi teknik mempunyai sudut pandang ekonomi mikro, karena terbatas pada pengkuran proses konversi input menjadi output. (Sarjana dalam Zaenal Abidin dkk, 2008 : 4)
Farrel (1957) dalam Zaenal Abidin dkk, 2008:5 membagi efisiensi perusahaan menjadi dua, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis mencerminkan kemampuan dari perusahaan dalam menghasilkan output dengan sejumlah input yang tersedia. Sedangkan efisiensi alokatif mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan inputnya, dengan struktur harga dan teknologi produksinya. Kedua ukuran ini yang kemudian dikombinasikan menjadi efisiensi ekonomi(economic efficiency).
Kumbhaker dan Lovell (2000) dalam Ascarya dan Diana Yumanita, 2007:98 berpendapat bahwa efisiensi teknis hanya merupakan satu komponen dari efisiensi ekonomi secara keseluruhan. Namun, syarat untuk efisiensi ekonominya, sebuah perusahaan harus efisien secara teknis. Dengan demikian, dalam rangka mencapai tingkat keuntungan yang maksimal, sebuah perusahaan harus memproduksi output yang maksimal dengan jumlah input tertentu (efisiensi teknis) dan memproduksi output dengan kombinasi yang tepat dengan tingkat harga tertentu (efisiensi alokatif)
33 Menurut Yi-Kai Chen (2001) seperti yang dikutip oleh Zaenal dkk, 2008:5 dalam penelitiannya mengenai efisiensi lembaga perbankan memberikan konsep efisiensi yang agak berbeda dari yang telah dikemukan diatas. Efisiensi perbankan dapat dibagi menjadi empat macam efisiensi yaitu :
1. Scale efficiency : Pengukuran tingkat efisiensi dikaitkan dengan skala usaha bank yang ditunjukkan oleh jumlah asetnya. Semakin besar aset yang dimiliki, maka semakin efisien sebuah bank, karena biaya rata-rata yang ditanggung menjadi lebih rendah.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Humprey (1990) dalam Zaenal, 2008 mengungkapkan bahwa kurva biaya rata-rata industri perbankan berbentuk U-shape agak datar, dimana kelompok bank berskala medium terlihat lebih sedikit efisien dibandingkan dengan kelompok bank berskala besar dan kecil. Namun demikian, penelitian ini tidak dapat menunjukkan secara tepat, bahwa titik terendah dari kurva U-shapetersebut merupakan titik efisiennya(Scale efficien point).
2. Scope efficiency : Efisiensi diukur berdasarkan dengan tingkat scope economics dari sebuah bank. Jika terdapat Scope economics, yaitu bank yang mempunyai berbagai produk sebagai outputnya, maka bank tersebut akan lebih efisien dari pada bank spesialis. Sebaliknya, dikatakan dalam keadaan Scope economies, jika bank spesialis beroperasi secaralebih efisien dibandingkan dengan produk beragam. 3. Pure technical efficiency : Mengukur efisiensi dari maksimalisasi
efisisensi teknis yang dikemukakan oleh Farrel (1957). Sebagian besar hasil penelitian ini meninjau tingkat efisiensi suatu perusahaan (ie.bank) menurut pengertian tersebut.
4. Allocative efficiency berkaitan dengan pemilihan kombinasi input yang tetap.
Tobin menyebutkan ada empat faktor yang menyebabkan efisiensi dalam lembaga keuangan. Faktor utama adalah efisiensi karena arbitrase informasi, kedua efisiensi karena ketepatan penilaian asset-asetnya, ketiga adalah efisiensi karena lembaga keuangan bank mampu mengantisipasi resiko yang muncul, dan yang keempat adalah efisiensi fungsional, yaitu berkaitan dengan administrasi dan mekanisme pembayaran yang dilakukan oleh sebuah lembaga keuangan. Termasuk didalam efisiensi fungsional ini adalah risk pooling, general insurance, administrasi, dan mobilisasi dana masyarakat. (Atmawardhana dalam Priyonggo,2008 : 34-35).
Sebuah perusahaan (termasuk bank) dapat dikatakan efisien secara ekonomi jika perusahaan tersebut dapat meminimalkan biaya produksi untuk menghasilkan output tertentu dengan suatu tingkat teknologi yang umumnya digunakan serta harga pasar yang berlaku. (Zaenal Abidin dkk, 2008 : 5)
Dikutip dalam Priyonggo (2008:35) Efisiensi bank merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisa suatu performa suatu bank dan juga sebagai sarana untuk lebih meningkatkan efektifitas kebijakan moneter. Efisiensi dilihat dari dua sisi, yaitu : dari sisi biaya (cost efficiency) dan keuntungan (profit efficiency). Profit efficiency sendiri dibedakan menjadi
35 dua yaitu Standar profit efficiency dan Alternatif profit efficiency. Secara umum ada tiga pendekatan konsep dasar model efisiensi sektor finansial (perbankan) yaitu Cost Efficiency, Standard Profit Efficiency dan Alternative Profit Efficiency. (Berger dan Mester dalam Siti Aisyah dan Jardin A. Husman, 2006:532)
Cost efficiency pada dasarnya mengukur tingkat biaya suatu bank dibandingkan dengan bank yang memiliki biaya operasi terbaik (best
practice bank’s cost) yang menghasilkan output yang sama dengan teknologi yang sama. Profit efficiency mengukur tingkat efisiensi dari kemampuan bank dalam menghasilkan laba untuk setiap unit input yang digunakan. (Priyonggo Suseno, 2008:35)
Masalah efisiensi berkaitan dengan masalah pengendalian biaya. Efisiensi berarti biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan keuntungan lebih kecil daripada keuntungan yang diperoleh dari penggunaan aktiva tersebut. Sebuah bank dituntut untuk memperhatikan masalah efisiensi karena meningkatnya persaingan dan standar hidup konsumen. Bank yang tidak mampu untuk memperbaiki tingkat efisiensinya maka akan menurunkan kinerja bank sehingga bank tersebut dapat kehilangan daya saing yang baik dalam hal mengerahkan dana masyarkat maupun dalam hal penyaluran dana tersebut dalam bentuk usaha modal.
Menurut Muharram dan Purvitasari (2007) dikutip dalam Ahmad Iqbal, 2011:24, pengukuran efisiensi bisa dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan Rasio : Mengukur Efisiensi dengan cara menghitung perbandingan output dan dengan input yang digunakan. Pendekatan rasio akan dinilai efisien yang tinggi jika memproduksi output yang maksimal dengan input yang minimal. Efisiensi = input output. Menurut Chu-Fen Li (2007) melihat pendekatan rasio sebagai”the most critical limitation of the financial ratio is that they fail to consider the multiple input-output.” Oleh karena itu pendekatan ini belum mampu menilai kinerja lembaga keuangan secara menyeluruh.
2. Pendekatan regresi : Pendekatan ini dalam mengukur efisiensi menggunakan sebuah model dari tingkat output tertentu sebagai fungsi dari berbagai tingkat input tertentu. Persamaan regresi dapat ditulis sebagai berikut:
Dimana : Y = output, X = input
Pendekatan ini juga tidak dapat mengatasi kondisi banyak output, karena hanya satu indikator output yang dapat ditampung dalam sebuah persamaan regresi.
3. Pendekatan frontier : Pendekatan frontier dalam mengukur efisiensi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Pendekatanfrontier non parametrik dapat diukur dengan tes non parametrik yaitu dengan menggunakan Data Envelopment Analysis(DEA) dan Pendekatan frontierparametrik dapat diukur dengan tes parametrik yaituStockhastic Frontier Analysis (SFA) dan Distribution Free Analysis (DFA). Persamaan perhitungan menggunakan metode non parametrik dan metode parametrik yaitu
37 sama-sama menggunakan input dan output sebagai variabel. Dalam penelitian ini digunakan metode parametrik non parametrik Data Envelopment Analysis(DEA).