BAB II TINJAUAN TEORETIS
D. Pendekatan Pelayanan Masyarakat
1. Latar belakang dan Pengertian Pendekatan Pelayanan Masyarakat.
Pendekatan pelayanan masyarakat merupakan salah satu model intervensi makro dalam ilmu kesejahteraan sosial, dan juga merupakan pendekatan intervensi makro dalam metode bimbingan penyuluhan
21
Arif “Bimbingan Penyuluhan Sosial” artikel diakses pada 12 mei 2008 dari http// elearning.unej.ac.id.
22
sosial. Sebagai salah satu bentuk intervensi terhadap masyarakat, Glen menyatakan bahwa pendekatan ini sekurang kurangnya mempunyai tiga perhatian utama23, yaitu:
a. Mengembangkan layanan dan organisasi yang responsipf terhadap kebutuhan masyarakat.
Organisasi yang sangat responsif dan responsif secara menyeluruh dicirikan dengan komitmen lembaga secara utuh terhadap kebutuhan dan kepuasan masyarakat penerima layanan. Hal ini berarti organisasi menempatkan kebutuhan dan kepuasan komunitas sasaran sebagai proritas lembaga. Organisasi yang sangat responsif pada umumnya akan berusaha menghilangkan semampu mungkin batas kami-mereka yang menyelimuti relasi antara lembaga dan masyarakat penerima layanan.
Glen melihat bahwa organisasi seperti ini akan berupaya menghilangkan hambatan komunikasi antara klien dan lembaga melalui upaya penjangkauan, pengembangan berbagai saluran informasi dengan klien, dan pengembangan skema advokasi diri yang memungkinkan para penerima layanan untuk menjangkau berbagai jenis layanan secara lebih merata dan bebas24.
b. Memaksimalkan kesempatan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan organisasi. Dalam kaitan dengan keterlibatan dengan masyarakat, Glen menyetujui pendapat Broady dan Hedley yang melihat bahwa dalam upaya meningkatkan keterlibatan suatu organisasi harus mendorong berkembangannya provisi dari komunitas (community provision), konsultasi dari komunitas (community consultations), kerja sama komunitas (community cooption), kemandirian dalam menejemen lembaga-swa kelolah (self management), dan kontrol masyarakat (community control)25.
Glen menyatakan community provision, dicirikan dengan pelibatan otoritas lokal yang formal, seperti, pejabat dan petugas di tingkat kelurahan maupun kecamatan). Atau tokoh-tokoh informal sebagai penyedia layanan langsung terhadap masyarakat serta berbagai pengelolah fasilitas umum dan sosial untuk masyarakat. Sedangkan community consultations di dalamnya mencakup upaya untuk mengkaji opini masyarakat terhadap suatu proposal rencana pembangunan masyarakat di tingkat lokal.
23
Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, h. 165-173.
24
Ibid., h.170.
25
Dalam kaitannya dengan community cooption, Glen melihat tergambar dalam kaitan dengan kelompok swadaya masyarakat yang berupaya memobilisasi tenaga relawan untuk aktif terlibat dalam berbagai bentuk usaha kesejahteraan sosial (layanan sosial) di tingkat lokal. Sedangkan untuk community control dan self management, menurut Glen merupakan salah satu pengejawatahan kekuasaan komunitas untuk mengelolah dan mengawasi sumber daya yang mereka miliki yang merupakan salah satu inti masyarakat madani.
c. Mendukung terciptanya kolaborasi antar beberapa organisasi guna memenuhi minat masyarakat.
Dalam kaitannya dengan kerja sama antar lembaga, petugas pelayanan masyarakat diharapkan dapat membantu terciptanya jalinan hubungan antar organisasi dimana ia bernaung dengan berbagai organisasi yang mempunyai minat dan kajian yang sama. Jalinan kerjasama antar lembaga ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masing-masing staf, terutama dalam kaitan dengan isu tertentu, seperti: bagaimana cara yang terbaik untuk menangani masalah-masalah tertentu, bagaimana menciptakan suatu program yang dapat memaksimalkan keterlibatan masyarakat, bagaimana mengembangkan suatu bentuk layanan masyarakat yang lebih baik, dan bagaimana cara mengelolah sumber daya yang sangat terbatas dengan baik.
Dalam kaitannya dalam hal ini, Glen menyatakan bahwa kerjasama antar lembaga ini sangat penting, terutama dalam upaya mempromosikan suatu perencanaan sosial dan koordinasi antar lembaga26.
2. Strategi dan Prisip dalam Intervensi Pendekatan Pelayanan Masyarakat
Strategi pendekatan pelayanan masyarakat pada umumnya dilandasi pada upaya pengoptimalan fungsi manajemen. Dari berbagai fungsi manajemen yang ada, terdapat dua fungsi manajemem yang sangat berperan dalam upaya meningkatkan kinerja lembaga27. Kedua fungsi manajemen tersebut, yaitu:
a. Fungsi Perencanaan. 26 Ibid., h.173. 27 Ibid., h. 174-187.
Dalam dunia pekerjaan sosial dan ilmu kesejahteraan saat ini, perencanaan dikenal sebagai salah satu unsur yang penting dalam pengembangan pemberian layanan yang efektif terhadap klien ataupun kelompok sasaran. Skidmore, mendefinisikan 7 tahapan dalam proses perencanaan28. Tahap-tahap ini tidak berjalan secara garis lurus, kadangkala terjadi suatu lompatan baik ke depan maupun ke belakang dalam suatu proses perencanaan. Ketujuh tahapan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Tentukan objektif. Objektif merupakan hal yang relatif dan sangat tergantung dengan sasaran dan tujuan umum dari organisasi. Pada dasarya, Skidmore melihat ada dua macam objektif: Pertama, objektif yang menyeluruh dan berjangka panjang. Kedua, adalah yang bersifat khusus dan berjangka pendek.
Tujuan jangka panjang terkait dengan pertayaan mengapa suatu lembaga didirikan, apa maksud keberadaannya?. Sedangkan objektif jangka pendek lebih membahas pada operasionalisasi dari keseluruhan tujuan jangka panjang dengan mempertimbangkan keadaan masa kini dan esok hari. Dengan pertimbangan bahwa perencanaan adalah suatu proses antisipasi, maka akan sangat baik bila target sasaran dikembangkan secara spesifik, sederhana, dan dapat terwujud.
2) Pertimbangan sumber daya lembaga. Skidmore, beragumentasi bahwa langkah kedua dalam suatu proses perencanaan adalah mempertimbangkan sumber daya fisik dan ekonomis dari lembaga, termasuk juga mempertimbangkan ketersediaan staf dan para pengurus lembaga29. Suatu hal yang penting bagi lembaga untuk mengaitkan antara sasaran yang akan dicapai dengan fasilitas, staf, dan dana yang tersedia, dan juga aspek dukungan masyarakat.
3) Penghitungan berbagai alternatif. Skidmore percaya bahwa seorang administrator yang kurang cakap akan langsung memilih suatu cara yang ia lihat sebagai jalan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Akan tetapi, seorang administrator lembaga yang baik akan selalu berusaha untuk mengembangkan
28
Ibid., h. 177.
29
beberapa alternatif pemecahan masalah terlebih dahulu sebelum ia memilih jalan mana yang akan ia lalui30.
4) Antisipasi Hasil dari masing-masing Alternatif. Sebagai suatu proses antisipasi, perencanaan harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan di masa datang agar dapat memilih dan memperkirakan apa yang akan terjadi bila suatu langkah tertentu akan dilakukan
5) Pilih rencana yang terbaik. Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif yang ada dengan seksama, Skidmore melihat bahwa dalam kaitan dengan perkembangan di masa yang akan datang, data dan pemikiran harus dikumpulkan dalam rangka membandingkan dan mengkontraskan berbagai jalan untuk mengatasi suatu masalah. Setelah itu barulah diputuskan jalan yang akan dipilih berdasarkan jalan yang paling logis dan paling mungkin untuk dilakukan31.
6) Rencana suatu program aksi yang lebih rinci. Setelah memutuskan yang mana rencana yang terbaik, sang manager harus memformalisasikan rencana tersebut menjadi suatu program yang akan dijalankan. Skidmore menyatakan, bahwa tahapan ini merupakan tahap pembuatan cetak biru, dimana kegiatan dijabarkan tahap-demi tahap, karena itu fungsi kerangka waktu untuk mencapai tujuan program memerankan peranan penting dalam tahapan ini, terutama agar semua tahapan dapat diarahkan pada upaya untuk mencapai tujuan32.
7) Bersikap terbuka terhadap perubahan. Skidmore percaya bahwa keluwesan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses perencanaan. Rencana awal memang harus selalu diikuti, kecuali bila fakta-fakta yang ada telah berubah atau telah ditemukan prosedur-prosedur yang lebih baik dari apa yang telah dikembangkan sebelumnya.
b. Fungsi Pengawasan.
Fungsi pengawasan pada suatu organisasi, umumnya terkait dengan proses pemantauan dan evaluasi. Istilah pemantauan dikenal juga dengan nama evaluasi proses. Sedangkan untuk istilah evaluasi 30 Ibid., h. 179. 31 Ibid., h. 180. 32 Ibid., h.182.
mempunyai dua makna yang berbeda. Bila istilah evaluasi muncul bersama dengan pemantauan maka evaluasi yang dimaksud di sini adalah evaluasi hasil. Pengertian yang kedua dari kata evaluasi jika ia berdiri sendiri tampa diikuti kata pemantauan, maka evaluasi di sini dapat berarti evaluasi masukan (Input evaluation), evaluasi proses (Proses evaluation), dan evaluasi hasil (Outcome evaluation).