• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah

DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

JENIS PERILAKU

F. Pendekatan Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah

Setiap jenjang pendidikan seni diikuti oleh peserta didik dengan karakteristik dan motivasi yang berbeda-beda. Akan tetapi secara umum dapat diungkapkan bahwa pembimbingan di bidang seni sangat fleksibel sehingga perilaku terhadap peserta didik dengan karateristik dan motivasi belajar yang beragam tersebut dapat dilaksanakan secara individual maupun klasikal.

Para ahli humanistic mengkaitkan motivasi para peserta didik dengan keberartian kurikulum itu bagi siswa sendiri. Mereka juga percaya bahwa tiap individu memiliki motivasi yang mendasar dari dalam dirinya, yaitu mendorong ingin tahu (Prayitno, 1989). Guru dapat memanfaatkan dorongan yang bersifat alamiah ini dengan cara menyajikan bahan ajar yang cocok dan menarik, sesuai dengan karakteristik siswa mereka serta mengundang rasa ingin tahu. Oleh karena itulah maka bahan ajar ditulis dengan menggunakan strategi yang sama seperti yang digunakan dalam kelas biasa. (Degeng, 2001).

Disamping karakteristik siswa, karakteristik bahan ajar juga menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan strategi penyampaian pembelajaran. Hal ini

39 disebabkan karena kegiatan inti dalam proses pembelajaran sebenarnya terletak pada strategi penyampaiannya, dengan pengertian tidak meninggalkan arti pentingnya perencanaan dan evaluasi.

Berikut ini adalah pendekatan pendekatan yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik bahan ajar seni budaya.

1. Pendekatan Bahan Pembelajaran Pengenalan Seni

a) Ekspositorik, dimana pengelolaan pesan dilakukan oleh guru, sehingga peserta didik cenderung pasif, sehingga harus digabung dengan strategi lain yang mengaktifkan peserta didik.

b) Heuristik, dimana pengolahan pesan dilakukan oleh peserta didik, sehingga mereka menjadi aktif.

c) Induktif dan deduktif, yang dapat diprogram agar peserta menjadi lebih aktif. Proses pengenalan dimulai dari penemuan hal-hal yang khusus menuju yang umum atau sebaliknya dari umum ke khusus.

2. Pendekatan Bahan Pembelajaran Penikmatan Seni

Pendekatan yang efektif untuk pembimbing bahan penikmatan seni adalah :

a) Pendekatan analitik yang terdiri dari pendekatan induktif, interaktif dan

deduktif. Pendekatan induktif merupakan kegiatan perorangan dalam menganalisis karya-karya seni yang artistik berdasarkan penalaran yang bergerak dari hal-hal yang khusus menuju ke yang umum. Pendekatan interaktif adalah pendekatan induktif yang dilakukan oleh oleh kelompok dengan cara diskusi. Pendekatan deduktif merupakan kegiatan perorangan dalam menganalisis karya-karya seni yang artistik berdasarkan penalaran yang bergerak dari hal-hal yang prinsip atau umum menuju ke hal-hal yang khusus. Pada pendekatan analisis tersebut di atas, guru perlu membekali peserta didik dengan pengetahuan teoritik yang dapat diberikan sambil melaksanakan bimbingan atau pengarahan.

a) Pendekatan empatik (pengakraban). Berdasarkan teori empati dalam seni, pengamat/penonton dalam hal ini adalah peserta didik, turut berperan

40 dalam adegan yang dilukiskan atau dipentaskan oleh seniman. Seakan-akan dia menjadi pelaku sebenarnya, sehinga perasaannya menjadi terkungkung oleh suasana yang diamati. Siswa sebagai pengamat yang dapat bertindak demikian adalah siswa yang peka (sensitive) terhadap seni, dan kepekaan ini diperolehnya dari pengalaman mengakrabi seni. Contohnya dalam melihat suatu pameran atau pagelaran, keakraban akan tumbuh dan sensifitas pun sedikit demi sedikit akan berkembang. Guru dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk melihat pertunjukan/pameran tanpa memberikan bekal pengetahuan.

3. Pendekatan Bahan Pembelajaran Produksi Seni

Pendekatan yang efektif untuk pembimbingan bahan ajar praktek atau produksi seni adalah

a) Pendekatan formal yang merupakan kegiatan belajar atau bekerja.

Penampilan peserta didik berdasarkan pola yang diberikan oleh guru seni budaya, yang dapat diklasifikasi menjadi pola berupa contoh, pola berupa patra atau notasi, pola berupa model, dan pola berupa deskripsi verbal. Pola berupa contoh, merupakan kegiatan membuat atau melakukan duplikat bentuk bentuk yang telah ada. Pola berupa patra atau notasi, merupakan kegiatan membuat atau melakukan tiruan bentuk yang sudah ada. Pola berupa deskripsi verbal, merupakan kegiatan untuk mewujudkan tema atau judul yang telah diberi rambu-rambu lengkap atau ketentuan-ketentuan yang mengikat, sehingga peserta didik tidak memperoleh peluang untuk membuat penafsiran sendiri.

b) Pendekatan Informal (ekspresi bebas), merupakan kegiatan berkarya atau penampilan yang dilakukan peserta didik berdasarkan idenya sendiri. Kegiatan ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan mencipta.

c) Pendekatan fungsional, merupakan kegiatan berkarya atau penampilan yang

41 dikategorikan sebagai kegiatan mencipta atau mengubah, tetapi hasilnya tidak murni penemuan siswa. Dimungkinkan berupa bentuk baru yang diubah dari bentuk bentuk lama atau tradisional. Selanjutnya aplikasi di dalam kelas sangat tergantung pada karakteristik peserta didik/siswa.

Pendekatan apapun yang dipilih guru akan mewujudkan bentuk dan model pengembangan isi bahan ajar. Namun perwujudan pendekatan tersebut akan terlihat menyatu dalam keseluruhan isi pembelajaran yang akan termuat dalam media pembelajaran yang dibuat guru untuk mata pelajaran tertentu. Misalnya ketika guru mengembangkan bahan ajar dengan kompetensi ekspresi yaitu mencipta seni rupa , seni tari, atau seni musik maka guru dapat memilih pendekatan ekspresi bebas. Dengan demikian langkah prosedur penyampaian bahan ajarnyapun harus menunjukkan kesempatan seluas luasnya kepada siswa untuk mengembangkan ide yang paling murni. Oleh karena itu ketika guru merancang pembelajaran yang berupa RPP, semua itu harus muncul secara jelas tertuang padea kegiatan inti. Cobalah anda membuat kalimat kalimat kegiatan yang memunculkan pendekatan yang dipilih.

G. Ringkasan

1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Seni Budaya di Sekolah, adalah pertama : Ilmiah, ke dua : Relevan, ke tiga : Sistematis, ke empat : Konsisten, ke lima : Memadai, ke enam : Aktual dan Kontekstual, ke tujuh : Fleksibel, dan ke delapan : Menyeluruh

2. Penerapan dua belas pilar pendidikan yang dapat dimasukkan ke dalam kompetensi sikap pembelajaran seni budaya di sekolah, adalah Penghargaan terhadap tubuh, Transendental; Keunggulan akademik; Penguasaan diri; Keberanian; Cinta kebenaran; Terampil; Demokratis; Menghargai perbedaan; Tanggungjawab; Keadilan; serta Integritas moral.

3. Tujuan Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah yang sangat esensial untuk diperhitungkan dalam pembelajaran seni budaya adalah tujuan ekspresif.

42 Pencapaian tujuan ekspresif akan menunjukkan kebermaknaan dalam belajar seni yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan kreatifitas individu peserta didik. Perkembangan manusia yang kreatif ditandai oleh penalaran dan prakarsa yang menampilkan keterlekatan (Commitment) terhadap apa yang diprakarsai.

4. Tipe bahan ajar pendidikan seni terdiri atas dua karakteristik, yaitu bahan ajar

tipe su yek da aha ajar tipe kegiata .

5. Bahan ajar pengetahuan seni mencakup pembahasan tentang karakteristik masing masing cabang seni yang berkenaan dengan jenis seni, bahan, alat, teknik, unsur, prinsip desain, komposisi, corak, sejarah perkembangannya, dan proses pembuatan karya seni.

6. Jenis bahan ajar apresiasi berdasarkan masing-masing cabang seni meliputi apresiasi terhadap karya seni: lokal/setempat, nusantara dan mancanegara; sedangkan berdasarkan coraknya meliputi apresiasi seni terhadap karya seni primitif, tradisional, klasik, modern dan kontemporer.

7. Bentuk bahan ajar pengalaman berkarya seni meliputi: kegiatan mencipta karya seni rupa, mencipta lagu, aktivitas menyanyi, bermain musik, mengarasemen musik, aktivitas menari, menciptakan tarian, bermain drama dan sejenisnya.

H. Daftar Pustaka

Cooper, James M. 1994. The Teacher As a Decision Maker. Classroom Teaching Skills. Toronto: D.C. Health and Company.

Degeng, I Nyoman Sudana. 1989. Taksonomi Variable. Jakarta : Depdikbud Degeng, I Nyoman Sudana. 2001. Pedoman Penulisan Buku Ajar. Malang : LP3 Eisner, Elliot W. 1972. Education Artistik Vision. New York: Macmilan Company. Prayitno. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta : Depdikbud.

Soehardjo, A.J. 2005. Pendidikan Seni. Malang: Bayumedia Publishing.

Stout, Condance. 1990. Emphasis on Expressive Outcomes in Yeaching Art Appreciation. Art Education. 43 (5), 57-65

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017

MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN

[SENI BUDAYA]

BAB 3

PENGEMBANGAN RANCANGAN DAN

Baca selengkapnya