• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Dengan memperhatikan tujuan penelitian ini, maka metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif, sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Deskriptif Analitis yang dirancang untuk mendeskripsikan fakta dan data serta melakukan analisis dan prediksi tentang apa yang dilakukan untuk mencapai keadaan yang akan datang. Sementara kerangka prosedur penelitian yang penuh pertimbangan dilakukan dalam setting alami yang bersifat “circular” (melingkar). Artinya, pemilihan metode deskriptif kualitatif karena tidak melakukan penelitian di laboratorium.

Tujuan pokok penelitian ini lebih ditekankan untuk memperoleh informasi dan mengkaji tentang implementasi kebijakan pengembangan pendidikan berbasis kewilayahaan di Kabupaten Indramayu dalam konteks Otonomi Daerah, di mana fokusnya perihal Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) sebagai penopang Indek Pendidikan yang bermuara pada upaya pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam menghadapi tantangan persaingan global.

Lexy J. Maleong mengutip pendapat Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan, bahwa:

Metode kualitatif / naturalistik sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tertentu secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan (Lexy J. Maleong, 2000:3).

datanya dikumpulkan, dianalisis dan dilaporkan, bercorak kualitatif bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur. Disebut naturalistik, karena situasi lapangan bersifat “natural” atau “alamiah” / ”wajar”, sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi, tanpa diatur dengan eksperimen atau test.

Pendekatan Deskriptif Analitis dengan menggunakan metode “kualitatif / naturalistik” ini, didasarkan pada hal-hal yang nyata berdasarkan pengamatan, akan tetapi label atau tafsiran masih dapat berubah bila kita peroleh data baru yang mungkin membantah tafsiran itu. Hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna dari pada generalisasi.

Penelitian “Deskriptif Analitis”, menuturkan / menguraikan sesuatu secara sistematis tentang data atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat, menganalisis serta menginterpretasikan data yang ada pada saat penelitian dilakukan.

Metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan inquiry qualitative interactive, yaitu suatu studi mendalam yang menggunakan teknik berhadapan langsung dengan orang di dalam latar alamiah mereka dalam pengumpulan data (MCMillan dan Schumacher, 2001 : 35). Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini cenderung mencari informasi yang tepat tentang tujuan penelitian sehingga ditemukan informasi akurat tentang bagaimana implementasi kebijakan pengembangan pendidikan berbasis kewilayahan di Kabupaten Indramayu.

dan menafsirkan makna dari peristiwa interaksi perilaku manusia dalam situasi tertentu. Dengan karakteristik seperti itu, maka pendekatan penelitian ini lebih tepat jika menggunakan pendekatan kualitatif. Bogdan dan Biklen (1982 : 27-30) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif memiliki karakteristik :

(1) Qualitatif research has the natural setting as direct of data and the researchers are the keys instrument.

(2) Qualitative research is descriptive.

(3) Qualitative research are concerned with process rather than simply with outcomes or products.

(4) Meaning is of essential concern to the qualitative approach.

Penelitian kualitatif interaksi yang dilakukan tidak bermaksud untuk menguji suatu teori, meskipun kenyataannya tidak dapat melepaskan diri dari telaah atau kajian teori, namun perlu dinyatakan bahwa telaah dan kajian teoritis tersebut hanya digunakan untuk membantu peneliti dalam merumuskan sejumlah permasalahan bayangan (foreshadowed problems) dan alat bantu analisis. Kerena itu, perlu ditegaskan bahwa penelitian ini lebih diarahkan kepada upaya memahami bagaimana implementasi kebijakan pengembangan pendidikan berbasis kewilayahaan di Kabupaten Indramayu dalam konteks Otonomi Daerah untuk mencapai Indeks Pendidikan bisa direalisasikan dengan baik. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, penulis sangat antusias untuk menganalisis dan menemukan faktor-faktor kebijakan sebagaimana yang penulis kemukakan pada tujuan penelitian ini.

Dengan demikian, output dan outcome serta impact (pengaruh) yang diharapkan dari hasil penelitian adalah untuk mencari pemecahan masalah atau kebijakan yang terbaik berkaitan dengan implementasi kebijakan pengembangan

Otonomi Daerah.

B. Lokus dan Informan Penelitian 1. Lokus Penelitian

Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian, maka secara umum lokasi dalam penelitian ini adalah wilayah Kabupaten Indramayu khususnya di Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu. Mengingat fokus penelitian yang penulis lakukan bertujuan untuk menganalisis empirik berkenaan dengan Implementasi Kebijakan Pengembangan Pendidikan dalam Kerangka Otonomi Daerah di Kabupaten Indramayu yang pada awal diterapkannya kebijakan Otonomi Daerah (2001/2002) termasuk kabupaten yang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nya sangat rendah di Provinsi Jawa Barat, maka selain eksitensi Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu menjadi lokasi sentral dalam peneltian ini, keberadaan UPTD Pendidikan Kecamatan dan Sekolah (Kepala Sekolah, Guru) menjadi tempat dalam penelitian ini.

Hal ini urgen dilakukan mengingat betapa pentingnya eksistensi mereka dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan berbasis kewilayahan di Kabupaten Indramayu. Dari merekalah sumber data dapat diperoleh, sehingga dengan mengakses semua informasinya, diharapkan hasil penelitian juga dapat ditemukan data-data yang sempurna sehingga eksistensi penelitian benar-benar bisa mendatangkan hasil yang diharapkan.

Informan utama peneilitian ini adalah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu sebagai pemimpin di Institusi Pendidikan tersebut. Namun demikian, karena yang menjadi obyek penelitian adalah implementasi kebijakan pendidikan berbasis kewilayahan kabupaten, maka melibatkan pula Staf Dinas Kabupaten, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan, Kepala Sekolah, dan guru sebagai pelakasana kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Dapat ditegaskan di sini bahwa informan penelitian dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan sitilah populasi, oleh Spradley (dalam Sugiyono, 2005:49) dinamakan “social situation” atau situasi social yang terdiri atas tiga elemen yaitu tempat (place), pelakau (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis sebagaimana diperlihatkan pada gambar 3.1. :

Place

Actor Activity

Sumber : Sugiyono (2005 : 50)

Gambar 3.1.

Social Situation (Situasi Sosial)

Pada penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransfer ke tempat lain

Social Situation

dipelajari.

Sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (1989:34) populasi adalah “totalitas semua nilai yang mungkin, hasil perhitungan ataupun ukuran kuantitatif maupun kualitatif dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan obyek yang lengkap dan jelas serta mengetahui sifat-sifat sebagaimana mestinya”. Selanjutnya dikemukakan lagi, bahwa sampel adalah sebagian dari populasi baik anggota maupun karakteristik yang ingin dipelajari (Sudjana, 1989 : 35). Sampel bisa berupa informan, yaitu orang yang dimanfaatkan untuk memberikan sejumlah informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian, dan masalah penelitian yang dirinci menjadi sejumlah pertanyaan penelitian (Moelong, 1990 : 59), bahwa sampel bertujuan memiliki sejumlah kriteria sebagai berikut :

1) Rancangan sampel yang muncul, artinya penentuan suatu sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik terlebih dahulu;

2) Penentuan sampel ecara berurutan; 3) Penyusunan berkelanjutan dari sampel;

4) Pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan.

Dengan demikian, penggalian data dan informan (subjek penelitian) akan berkembang menjadi internal sampling yang benar-benar mengetahui permasalahan yang sedang diteliti. Oleh karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran atau membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subyek lainnya, maka termasuk populasi dan sampel atau sebagai subyek utama adalah Pimpinan Knator Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu,

Pendidikan Kecamatan, Kepala Sekolah dan Guru sebagai cross check terhadap self assessment pimpinan kantor Unit Pelayanan Teknis Dinas Kabupaten Indramayu.

Secara keseluruhan informan yang akan diteliti berada pada lokasi/obyek penelitian sebagai berikut :

1. Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu

Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Hal ini sesuai dengan Undang Undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan Undang Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menyatakan bahwa “Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan tenaga kerja”.

Khusus dalam bidang pendidikan Kabupaten Indramayu diberi kewenangan untuk menyelenggarakan desentralisasi pendidikan secara optimal. Hal ini mengacu pada penyerahan kewenangan pemerintahan dalam bidang pendidikan kepada daerah / kota untuk menyelenggarakan pendidikan dengan tidak melepaskan kebijakan-kebijakan dari tingkat provinsi maupun kebijakan nasional.

Upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Indramayu khususnya dalam bidang pendidikan sejak diberlakukannya Undang Undang No. 22 tahun 1999

Daerah, sangat terasa dampak positifnya. Hal ini terbukti dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Indramayu, seperti:

a) Diberlakukannya Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) di lingkungan Dinas Pendidikan yang terdiri dari lima Subdin dan satu bagian, yaitu : (1).Sub Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas);

(2).Sub Dinas Pendidikan Menengah (Dikmen); (3).Sub Dinas Pendidikan Masyarakat (Dikmas); (4).Sub Dinas Pendidikan Keagamaan (Dikag); (5).Sub Dinas Olahraga dan Kesiswaan (Orsis); dan (6).Bagian Tata Usaha

b) Diangkatnya Kepala SD, SMP, SMA, SMK Negeri/Diperbantukan (DPK) dan Pengawas (TK, SD, SMP, SMA, SMK) oleh Bupati Indramayu atas pertimbangan / saran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, yang sebelumnya pengangkatan ini dilakukan di tingkat Provinsi Jawa Barat melalui Kepala Kantor Wilayah Pendidikan Provinsi Jawa Barat;

c) Meningkatnya dana untuk kebutuhan pendidikan Kabupaten Indramayu, mencapai di atas 30 % mulai tahun anggaran 2004.

2. Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan

Berdasarkan data dari Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu dan Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu tahun 2008, bahwa jumlah UPTD

(Kecamatan Sukra) ke Timur (Kecamatan Karangampel), sebagai berikut : Tabel 3.1.

Daftar UPTD Pendidikan di Kabupaten Indramayu Tahun 2008

NO. NAMA UPTD PENDIDIKAN

KECAMATAN ALAMAT 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. INDRAMAYU SINDANG PASEKAN ARAHAN CENTIGI BALONGAN JUNTINYUAT KARANGAMPEL KEDOKAN BUNDER KRANGKENG JATIBARANG SLIYEG TUKDANA BANGODUA WIDASARI LOHBENER KERTASEMAYA SUKAGUMIWANG LELEA LOSARANG KANDANGHAUR CIKEDUNG TERISI KROYA GABUSWETAN BONGAS PATROL SUKRA ANJATAN HAURGEULIS GANTAR Jl. Song-Indramayu Desa Sindang Desa Pasekan Desa Arahan Desa Centig Desa Sukaurip Desa Juntikebon Desa Karangampel Desa Kedokan Bunder Desa Krangkeng Desa Bulak Desa Sliyeg Desa Karangkerta Desa Wanasari Desa Ujunghaya Desa Lohbener Desa Teluk Agung Desa Sukagumiwang Desa Lelea

Desa Puntang Desa Ilir

Desa Cikedung Lor Desa Cibereng Desa Kroya Desa Gabuswetan Desa Bongas Desa Patrol Desa Sukra Desa Anjatan Desa Haurgeulis Desa Gantar

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu tahun 2008, bahwa jumlah sekolah menurut jenjang dan jenis tertulis sebagaimana tabel berikut :

Tabel 3.2.

Daftar Jumlah Sekolah Menurut Jenjang Dan Jenis Tahun Pelajaran : 2007/2008

N0. JENJANG

Dokumen terkait