• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, di mana informasi yang diperoleh dan disajikan tidak berupa angka-angka yang dikuantifikasikan, melainkan hanya merupakan informasi yang akan dianalisis dan diorganisasi sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, dan akan dideskripsikan dalam bentuk narasi kalimat, bukan angka. Penelitian jenis ini memiliki beberapa cirri yang membedakan dengan penelitian jenis lainnya. Borgdan dan Biklen mengajukan lima ciri111 dalam hal: latar penelitian, instrument penelitian, metode, analisis, dan teknik penelitian yang digunakan. Mendasarkan kepada pendapat Borgdan dan Biklen, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif karena mengandung lima ciri dari penelitian kualitatif.

Ciri pertama, latar penelitian ini bersifat alamiah (naturalistik), yang berada

pada satu konteks utuh secara alami, tanpa rekayasa, yang tidak dapat dfahami jika dipisahkan dari konteksnya.

Menurut Lincoln & Guba yang dikutip oleh Moleong112, latar alamiah menjadi salah satu cirri penelitian kualitatif didasarkan kepada beberapa asumsi: (1) Tindakan pengamatan memperngaruhi apa yang dilihat. Oleh karena itu, peneliti dituntut mampu memposisikan diri untuk keprluan memahami konteks alami tersebut; (2) Konteks kemungkinan saling mempengaruhi terhadap konteks lain. Oleh karena itu, peneliti dituntut mampu menetapkan apakah suatu penemuan memiliki kaitan dengan kontkes lain, atau apakah suatu penemuan sangat relevan dengan fokus penelitian; (3) Sebagian struktut nilai kontekstual biasanya bersifat determinative terhadap apa yang akan dicari. Oleh karena itu, peneliti dituntut memiliki kecerdasan dalam memahami nilai-nilai kontekstual yang terjadi dalam fenomena sosial.

Latar alamiah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi objektif model pendidikan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Santi Asromo di Desa

111Robert C. Borgdan & Sari Knopp Biklen. Qualitative Research for Education: An

Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon Inn. (1982: 27-30).

Pasir Ayu Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka dan Madrasah Mualllimat di Majalengka sejak berdiri sampai kurun waktu tahun 1980 dan dipelajari serta dikomparasikan dengan kondisi objektif di kedua lembaga tersebut sampai saat ini di mana penelitian ini dilakukan sekarang.

Meskipun penelitian ini mengambil latar alamiah, tentu peneliti memiliki keterbatasan untuk mendeskripsikan secara detail kedua lembaga tersebut karena beberapa alasan: (1) Sebagian besar pelaku sejarah yang langsung mengelola di kedua lembaga tersebut sudah meninggal dunia, dan sekarang yang dapat ditemui oleh peneliti merupakan generasi penerus ketiga (cucu) K.H.Abdul Halim, K.H. Chalid Fadlullah dan seorang guru yang sudah bertugas sejak tahun 1978 di Madrasah Muallimat Majalengka, Hj.Uum Ummayah; (2) Peneliti memiliki keterbatasan untuk secara intens mengunjungi kedua lembaga tersebut karena persoalan jarak dan kesempatan; (3) Awalnya penelitit belum tergerak untuk melakukan penelitian di kedua lembaga tersebut, namun setelah sekian tahun berselang dan kedua lembaga tersebut masih eksis bahkan tetap mempertahankan ciri unik model pendidikan yang diidealkan oleh pendiri PUI, K.H. Abdul Halim, di samping keperluan untuk mengekspos secara lebih luas keberadaan lembaga tersebut yang dimungkinkan dapat menjadi bahan inspirasi bagi formulasi model pendidikan di tempat lain, maka peneliti mulai intensif melakukan penelitian meskipun dalam waktu yang sangat singkat.

Keterbatasan-keterbatasan yang telah dipaparkan tersebut, mendorong peneliti melakukan beberapa upaya agar hasil penelitian ini dapat mendeskripsikan sesuai dengan latar alamiah. Upaya-upaya yang dilakukan peneliti antara lain: (1) Peneliti dapat menemui dua orang tokoh yang diasumsikan mengetahui perkembangan di kedua lembaga tersebut, yaitu H.Toto Syatori Nasehuddin dan H. Halim Faletehan; (2) Peneliti banyak didukung oleh studi dokumen organisasi dan studi literer; (3) Peneliti pernah terlibat sebagai siswa di Madrasah Muallimat dari tahun 1972 – 1979 dan sering mengunjungi pondok pesantren Santi Asromo dalam kurun waktu tersebut, sehingga memperoleh gambaran yang cenderung objektif dan memadai sampai kurun waktu tersebut; (4) Peneliti juga senantiasa menghadiri acara re-uni di Madrasah Muallimat, terutama re-uni pertama kali yang diselenggarakan pada tahun 1980 di mana para tokoh PUI, pendiri, dan dewan guru masih ada dan menjadi saksi sejarah berdiri kedua lembaga tersebut; (5) Peneliti juga sekali-sekali

mengunjungi kedua lembaga tersebut untuk memberi motivasi kepada adik-adik kelas di awal tahun ajaran atau pada peringatan hari besar Islam, di samping berkorespondensi dan berkomunikasi langsung atau tidak langsung dalam kegiatan PUI, baik kegiatan PUI di tingkat wilayah Jawa Barat maupun Pusat.

Ciri kedua, manusia sebagai instrument. Dalam hal ini peneliti langsung

menjadi alat pengumpul data utama yang secara langsung terlibat dalam penelitian, dari mulai menyusun rancangan penelitian, melaksanakan penelitian, sampai menyusun laporan dan mempertanggung-jawabkan hasil penelitian secara formal dalam seminar proposal, seminar progress hasil penelitian, dan seminar akhir penelitian, maupun publikasi kepada pembaca. Peneliti sebagai instrument dituntut mampu memahami kaitan kenyataan-kenyataan di lapangan secara langsung. Berkaitan dengan ciri ini, peneliti tidak menggunakan bantuan lain selain peneliti sendiri yang bekerja secara individu, baik dalam menggunakan teknik wawancara, studi dokumen organisasi, maupun studi literer.

Ciri ketiga, metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Menurut

Moleong113, metode kualitatif memiliki beberapa kelebihan: (1) lebih fleksibel dan lebih mudah menyesuaikan dengan kenyataan ganda atau kenyataan yang lebih kompleks, (2) mampu menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, (3) lebih dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pola-pola nilai yang dihadapi di lapangan, (4) lebih mudah melakukan penajaman pada beberapa hal yang relevan sesuai dengan kenyataan yang bergulir dan dapat berubah setiap saat di lapangan.

Dalam penelitian ini, ternyata tidak terhindarkan terjadi perubahan-perubahan. Misalnya, ketika sudah diseting secara terjadual akan melakukan wawancara, ternyata di lembaga tersebut sedang berlangsung rapat guru-guru, dan di kesempatan lain, untuk mewawancarai informan kunci, K.H. Chalid Fadlullah, beliau sedang tidak berada di tempat, sehingga harus mencari waktu lagi. Fleksibilitas metode kualitatif memberi kelonggaran, keluasan, keragaman, dan kekayaan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Ciri keempat, analisis data menggunakan analisis induktif. Teknik analisis

induktif memiliki beberapa kelabihan, yaitu: (1) analisis penelitian ini lebih

akuratdan lebih actual karena data yang diperoleh benar-benar ditemukan di lapangan atau berdasarkan dokumen yang menggambarkan kondisi objektif di lapangan, (2) hasil analisis lebih kontekstual karena menyangkut data kekinian dan di sini, (3) hasil analisis data lebih implementatif jika diperlukan untuk bahan mengambil kebijakan. Berdasarkan kelebihan-kelabihan tersebut, penelitian ini mampu menyajikan data secara actual karena peneliti langsung berhadapan dengan responden dan terlibat di lapangan. Hasil penelitian dapat diambil sebagai bahan kebijakan oleh pihak-pihak terkait yang berkepentingan untuk menyusun formula model pendidikan Islam di Indonesia sesuai dengan potensi local cultural di mana lembaga pendidikan itu berada.

Ciri kelima, penelitian ini menggunakan teknik deskriptif. Teknik deskriptif

adalah suatu teknik penelitian yang berusaha mendeskripsikan kondisi apa adanya secara alami di lapangan, tanpa memanipulasi. Data yang dikumpulkan dengan teknik deskripsi berupa kata-kata, gambar, dan keadaan nyata di lapangan. Semua yang dikumpulkan itu berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti. Data tersebut mungkin berasal dari hasil wawancara, catatan lapangan, dokumen organisasi, atau dokumen resmi lainnya.

Teknik deskriptif digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk: (1) mencari informasi faktual secara detail tentang penyelenggaraan pendidikan di Pondok Pesantren Santi Asromo dan Madrasah Muallimat di masa yang lalu dan dikomparasi dengan masa sekarang, (2) mengindentifikasi beberapa persoalan menyangkut sistem pendidikan di kedua lembaga tersebut sebelum tahun 1980 dan dikomparasi dengan sistem pendidikan sesudah kurun waktu itu untuk mendapat justifikasi keadaan dan kegiatan yang diberlakukan, (3) mengetahui hal-hal yang dilakukan oleh unsur-unsur pengelola pendidikan sebagai sasaran penelitian, sebagai bahan penyusunan laporan penelitian.