• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Kurikulum 2013

2.1.1.5 Pendekatan Saintifik

Menurut Sudarwan (2013: 23), pendekatan saintifik merupakan

pendekatan yang bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran,

penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran.

Pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 menurut Faiq (2013: 42)

pada hakikatnya merupakan titian emas perkembangan dan

pengembangan sikap (ranah afektif), keterampilan (ranah psikomotorik),

dan pengetahuan (ranah kognitif) siswa. Hal tersebut memperlihatkan

bahwa pendekatan ilmiah merupakan ciri khas dari Kurikulum 2013 dan

menjadi kekuatan tersendiri bagi eksistensi Kurikulum 2013 terbukti dari

Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan

Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses

pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/

ilmiah (Sudrajat, 2013:15).

Penerapan pendekatan saintifik menurut Kemendikbud (2013:

2-3) memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi diantaranya adalah

sebagai berikut.

1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat

dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas

kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa

terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau

3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis,

analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami,

memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.

4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik

dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari

materi pembelajaran.

5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami,

menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan

objektif dalam merespon materi pembelajaran.

6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat

dipertanggungjawabkan.

7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas,

namun menarik sistem penyajiannya.

Pendekatan saintifik dalam pembelajaran sebagaimana

dimaksud meliputi: mengamati, menanya, menalar, mencoba,

membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran

sejarah. Jika dibuat skema seperti yang terdapat dalam powerpoint dari

Gambar 2. (Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran-Kemdikbud)

Pembelajaran pada pendekatan saintifik dimulai dari proses

mengamati. Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses

pembelajaran (meaningfull learning). Konsep pembelajaran bermakna

dapat dirancang sebelumnya oleh guru, hal ini seperti yang dijelaskan

oleh Mulyasa (2013: 103) bahwa dalam pembelajaran bermakna peserta

didik perlu dilibatkan secara aktif, karena mereka adalah pusat dari

kegiatan pembelajaran serta pembentukan kompetensi dan karakter.

Metode mengamati sangat baik untuk memenuhi rasa ingin tahu dari

siswa walaupun tak dapat disangsikan memerlukan tenaga dan persiapan

yang matang. Selanjutnya setelah mengamati adalah menanya. Fungsi

dari menanya seperti yang terdapat dalam Kemdikbud (2013: 21) salah

satunya adalah membangkitkan keterampilan peserta didik dalam

berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis,

sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Hal tersebut

memperlihatkan bahwa dengan pendekatan ilmiah dapat mengasah

Questioning (menanya) Associating (menalar) Observing (mengamati) Networking (membentuk Jejaring) Experimen ting (mencoba)

kemampuan siswa tidak hanya dalam berpikir tetapi juga menuangkan

pemikirannya dalam kata-kata dengan bahasa yang baik dan benar.

Bagian ketiga dari pendekatan saintifik adalah menalar, menalar

merupakan proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata

empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa

pengetahuan. Menalar dalam Kurikulum 2013 merupakan padanan dari

associating bukan terjemahan reasoning (Kemdikbud, 2013: 27). Bagian

selanjutnya adalah mencoba, kegiatan ini tentu saja harus diiringi dengan

penggunaan metode ilmiah dan sesuai dengan kaidah-kaidah serta sikap

ilmiah. Kemudian yang terakhir adalah Membentuk Jejaring, dalam hal

ini siswa dituntut untuk partisipatif dan guru bertindak sebagai mediator,

dalam membentuk jejaring dianjurkan kepada guru untuk membentuk

kelompok yang heterogen.

Komponen-komponen yang meliputi mengamati, menanya,

menalar, mencoba dan membentuk jejaring menjadi tantangan tersendiri

bagi pelaksana kurikulum diantaranya sekolah utamanya adalah guru

mata pelajaran. Sejarah sebagai pelajaran yang memiliki porsi lebih

banyak dalam Kurikulum 2013 diharapkan menjadi salah satu mata

pelajaran yang dapat membentuk karakter peserta didik. Penerapan

pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran sejarah memberikan

tantangan besar terhadap guru sejarah. Keterbatasan sumber dan

kompetensi guru dalam mengondusifkan kondisi pembelajaran menjadi

mata pelajaran sejarah. Selanjutnya, problematika tersebut akan dijelskan

ditinjau dari berbagai aspek.

Aspek pertama yang ditinjau adalah aspek kognitif, dalam

penerapan Kurikulum 2013 aspek kognitif berkaitan dengan mengamati

dan menalar. Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses

pembelajaran (meaningful learning) dapat dilakukan dengan

mengunjungi atau melihat langsung objek. Seperti yang telah dipaparkan

sebelumnya, problematika yang diangkat adalah keterbatasan sumber.

Kegiatan mengamati yang harus melihat langsung objek menjadi

problematika tersendiri karena tidak semua objek dapat dilihat secara

nyata. Apabila tidak ada media yang memadai maka ini menyulitkan

proses pembelajaran sehingga perlu adanya dukungan kreativitas dari

guru. Selanjutnya menalar, penalaran pun perlu ditekankan bahwa

sumber yang tersedia bukanlah hasil yang fix sebagai historiografi yang

mutlak namun hal tersebut adalah interpretasi sejarawan yang bisa saja

berbeda atau ditemukan fakta baru. Guru tidak menyatakan mutlak salah

satu historiografi sebagai sejarah yang mutlak terhadap sumber yang

tersedia. Dengan demikian, ranah kognitif peserta didik diberi

kesempatan untuk mencari sendiri dan guru bertindak sebagai mediator,

agar pengetahuan itu menjadi bermakna.

Aspek selanjutnya yaitu aspek afektif, dalam hal ini kaitannya

dengan mencoba. Mencoba yang sebelumnya dijelaskan perlu memiliki

dengan mencoba siswa dituntut untuk lebih aktif. Dalam hal ini misalnya

diadakan penelitian kecil-kecilan, tentu saja sumber juga terbatas dan

kesulitan karena untuk sekolah menengah ini menjadi salah satu kendala.

Mengkaji dari hal ini, kegiatan mencoba juga merupakan kegiatan yang

memiliki kendala cukup besar uatamanya dalam pembelajaran sejarah,

jadi menurut saya tidak semua kompetensi dalam pembelajaran sejarah

dapat melakukan kegiatan mencoba, untuk itu perlu menjadi perhatian

bagi guru dalam pembuatan RPPTH dan pelaksanaanya.

Aspek yang terakhir yaitu aspek psikomotor, aspek ini berkaitan

dengan membentuk jejaring dan menanya. Menanya seperti yang

diungkapkan sebelumnya, dilakukan untuk mengembangkan

keterampilan berbicara dan membentuk jejaring yang dalam hal ini saya

artikan menjadi ‘mencipta’ jadi diharapkan setelah proses pembelajaran

siswa menghasilkan produk.

Dokumen terkait