MODEL PENDEKATAN SISTEM
1) Pendelegasian Kewenangan
Di dalam manajemen terdapat berbagai prinsip antara lain adanya pendelegasian kewenangan dari pucuk pimpinan kepada orang atau unit yang berada dibawahnya. Pendelegasian kewenangan adalah pelimpahan kewenangan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, yang diberikan dari pihak atasan kepada bawahan dengan ketentuan :
a). kewenangan tersebut tidak beralih menjadi kewenangan dari penerima delegasi;
b). penerima delegasi wajib bertanggung jawab kepada pemberi delegasi;
c). pembiayaan untuk melaksanakan wewenang tersebut berasal dari pemberi delegasi kewenangan.
Dikaitkan dengan pendelegasian sebagian kewenangan pemerintahan Bupati/Walikota kepada camat, dapat dibedakan adanya dua pola yaitu :
1. Pola seragam
2. Pola beranekaragam.
Pendelegasian dengan pola seragam yaitu mendelegasikan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota kepada camat secara seragam tanpa melihat karakteristik wilayah dan penduduknya. Pola ini dapat digunakan untuk kecamatan yang wilayah dan penduduknya relatif homogen. Menurut Sadu Wasistiono (2004:22) Pola pendelegasian secara seragam memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
Kelebihan Pola Pendelegasian Kewenangan Secara Seragam a. Relatif lebih mudah membuatnya;
b. Relatif lebih mudah dalam pengaturan dan pengendaliannya;
c. Relatif lebih mudah dalam pembinaan personil, penentuan anggaran dan logistik.
Kekurangan Pola Pendelegasian Kewenangan Secara Seragam a. Kurang responsif terhadap kebutuhan masyarakat;
b. Penyediaan personil, anggaran dan logistik tidak sesuai dengan kebutuhan nyata kantor camat sehingga sulit untuk mencapai efektivitas dan efisiensi. c. Sulit untuk mengukur kinerja organisasi secara obyektif.
Pendelegasian dengan pola beranekaragam yaitu mendelegasikan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota kepada camat dengan memperhatikan karakteristik wilayah dan penduduk masing-masing kecamatan. Pada pola ini ada dua macam kewenangan yang dapat didelegasikan yakni kewenangan generik, yakni kewenangan yang sama untuk semua kecamatan, serta kewenangan kondisional yaitu kewenangan yang sesuai dengan kondisi wilayah dan penduduknya.
Kewenangan atributif yang bersifat generik misalnya dapat ditetapkan dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri, seperti yang diamanatkan pasal 12 ayat (5) PP Nomor 8 Tahun 2003. Di dalam Lampiran I Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 158 Tahun 2004 tentang Pedoman Organisasi Kecamatan antara lain dimuat kewenangan-kewenangan pemerintahan yang didelegasikan kepada Camat yaitu sebagai berikut :
1) Bidang pemerintahan mencakup 17 aktivitas ;
2) Bidang ekonomi dan pembangunan mencakup 8 aktivitas; 3) Bidang pendidikan dan kesehatan mencakup 8 aktivitas; 4) Bidang sosial dan kesejahteraan rakyat mencakup 6 aktivitas; 5) Bidang pertanahan mencakup 4 aktivitas.
Kewenangan atributif yang diatur di dalam Kepmendagri tersebut di atas bersifat ATRIBUTIF TENTATIF, karena Bupati/Walikota diberi peluang untuk memilih sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan daerah.
Di dalam pasal 2 ayat (2) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 158 Tahun 2004, dikemukakan kedudukan tambahan bagi Camat yaitu sebagai koordinator pemerintahan di wilayah kerjanya. Kedudukan tambahan tersebut menimbulkan konsekuensi logis adanya kewenangan atributif lainnya yakni mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintah baik instansi vertikal maupun dinas daerah yang ada di wilayah kecamatan.
Telah dijelaskan bahwa pola pendelegasian kewenangan yang serba seragam maupun yang beraneka ragam memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan pola beranekaragam dapat diinventarisasi sebagai berikut :
Kelebihan Pola Pendelegasian Kewenangan Secara Beranekaragam : a. Lebih responsif terhadap kebutuhan pelayaanan masyarakat ;
b. Kebutuhan personil, anggaran dan logistik dapat dihitung secara obyektif dan rasional;
c. Memudahkan dalam pengukuran kinerja.
Kelemahan Pola Pendelegasian Kewenangan Secara Beranekaragam : a. Memerlukan waktu dan tenaga untuk menyusunnya;
b. Agak sulit dalam pengendalian dan pengawasan;
c. Memerlukan personil yang memiliki kualifikasi sesuai dengan kebutuhan pelayanan masyarakat.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mendelegasikan kewenangan dengan menggunakan pola beranekaragam yaitu sebagai berikut : 1. Karakteristik geografis (daratan atau kepulauan, dataran atau pegunungan) ;
2. Karateristik penduduk dilihat dari mata pencaharian dan tingkat pendidikannya;
3. Karakteristik wilayahnya (perkebunan, perhutanan, perindustrian, perumahan, pariwisata dlsb).
Adapun jenis-jenis kewenangan yang dapat didelegasikan kepada camat dapat dikelompokkan menjadi 9 (sembilan) macam sebagai berikut:
1. kewenangan perijinan; 2. kewenangan rekomendasi; 3. kewenangan koordinasi; 4. kewenangan pembinaan; 5. kewenangan pengawasan; 6. kewenangan fasilitasi; 7. kewenangan penetapan;
8. kewenangan pengumpulan data dan penyampaian informasi; 9. kewenangan penyelenggaraan.
Untuk dapat mengidentifikasi kewenangan pemerintahan yang dapat didelegasikan kepada Camat, dapat dibuat matriks sebagai berikut:
Matrik Indentifikasi Kewenangan yg Mungkin Dilimpahkan dari Bupati/Walikota kepada Camat
Bidang Jenis Kewenangan Pem. Umum Pertanian Pekerjaan Umum ---dst s/d 21 bid Perijinan Rekomendasi Koordinasi Pembinaan Pengawasan Fasilitasi Penetapan
Pengumpulan Data & Penyampaian Informasi Penyelenggaraan
Matriks di atas disusun dengan memadukan antara jenis kewenangan (ada 9 jenis) dengan bidang kewenangan yang dijalankan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota (ada 21 bidang kewenangan). Melalui matriks tersebut barulah diadakan rapat teknis antara dinas daerah dan atau badan/kantor dengan camat untuk mencocokkan kewenangan yang mungkin dan mampu dilaksanakan oleh camat.
Pendelegasian sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota kepada camat dilakukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Bupati/Walikota, bukan dengan Peraturan Daerah. Pertimbangannya adalah bahwa yang didelegasikan adalah kewenangan pejabat (Bupati/Walikota) kepada pejabat bawahannya (camat).
Untuk menjalankan kewenangan yang telah didelegasikan oleh Bupati/ Walikota, camat memerlukan dukungan organisasi. Tugas pokok dan fungsi organisasi kecamatan diatur dengan Peraturan Daerah, sama seperti pengaturan tugas, pokok dan fungsi perangkat daerah lainnya, sebab pembentukan organisasi akan berkaitan dengan personil dan pembiayaan yang memerlukan persetujuan DPRD.
Pendelegasian sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota kepada camat dapat dilaksanakan apabila memenuhi empat prasyarat sebagai berikut:
1). Adanya keinginan politik dari Bupati/Walikota untuk mendelegasikan sebagian kewenangan pemerintahan kepada camat;
2). Adanya kemauan politik dari Bupati/Walikota dan DPRD Kabupaten/Kota untuk menjadikan kecamatan sebagai pusat pelayanan masyarakat bagi jenis- jenis pelayanan yang mudah, murah, dan cepat.
3). Adanya kelegawaan dari dinas dan atau lemtekda untuk melimpahkan sebagian kewenangan teknis yang dapat dijalankan oleh camat, melalui keputusan Kepala Daerah.
4). Adanya dukungan anggaran dan personil untuk menjalankan kewenangan yang telah didelegasikan.
Adapun langkah-langkah teknis yang perlu dilakukan untuk dapat merumuskan dan mengimplementasikan pendelegasian sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota kepada camat yaitu sebagai berikut :
1. Melakukan inventarisasi bagian-bagian kewenangan dari Dinas dan atau Lemtekda yang dapat didelegasikan kepada camat melalui pengisian daftar isian.
2. Mengadakan rapat teknis antara pimpinan dinas daerah dan atau lemtekda dengan camat untuk mencocokkan bagian-bagian kewenangan yang dapat didelegasikan dan mampu dilaksanakan oleh camat.
3. Menyiapkan rancangan keputusan Bupati/Walikota untuk dijadikan Keputusan.
4. Menata-ulang organisasi kecamatan sesuai dengan besaran dan luasnya kewenangan yang didelegasikan untuk masing-masing kecamatan.
5. Mengisi organisasi dengan orang-orang yang sesuai kebutuhan dan kompetensinya, apabila perlu diadakan pelatihan teknis fungsional sesuai kebutuhan.
6. Menghitung perkiraan anggaran untuk masing-masing kecamatan sesuai dengan beban tugas dan kewenangannya, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan pemerintah daerah bersangkutan.
7. Menghitung perkiraan kebutuhan logistik untuk masing-masing kecamatan. 8. Menyiapkan tolok ukur kinerja organisasi kecamatan.
Kebijakan pendelegasian sebagian kewenangan dari beberapa Bupati/ Walikota Kepada Camat sebagaimana terdapat dalam contoh berikut ini:
TABEL 2.1
PENDELEGASIAN SEBAGIAN KEWENANGAN BUPATI/WALIKOTA KEPADA CAMAT
No Lokasi Dasar Hukum Bidang Kewenangan
1 Kota Bandung Keputusan Walikota
No. 1342/2001
19 Bidang Kewenangan meliputi 96 rincian kewenangan
2 Kota Surabaya Keputusan Walikota
No. 55/2001
15 Bidang Kewenangan meliputi 68 rincian kewenangan
3 Kota Ternate Keputusan Walikota
No.27/2001
Masih menggunakan pola lama tanpa ada rincian kewenangan yang didelegasikan
4 Kabupaten Bandung
Keputusan Bupati
No.21/2001
27 Bidang Kewenangan meliputi 109 rincian kewenangan
5 Kabupaten Sumedang
Keputusan Bupati No. 44/2001
9 Bidang Kewenangan meliputi 18 rincian kewenangan
6 Kabupaten Agam Keputusan Bupati No. 182/2001
1 Bidang Kewenangan yaitu pengelolaan pajak & retribusi daerah meliputi 12 rincian jenis pajak & retribusi daerah
7 Kabupaten Lampung Uatara
Keputusan Bupati No. 299/2001
23 Bidang Kewenangan meliputi 317 rincian kewenangan