BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5. Pendeteksian Kecurangan
Ramaraya (2008) menyatakan bahwa pendeteksian kecurangan bukan merupakan tugas yang mudah dilaksanakan oleh auditor, dari literatur yang ada beberapa faktor yang teridentifikasi yang menjadikan pendeteksian kecurangan menjadi sulit dilakukan, sehingga auditor gagal dalam usaha mendeteksi kecurangan tersebut. Faktor-faktor penyebab tersebut diantaranya: karakteristik terjadinya kecurangan, standar pengauditan mengenai pendeteksian kecurangan, lingkungan pekerjaan audit yang mengurangi kualitas audit, metode dan prosedur audit yang tidak efektif dalam pendeteksian kecurangan. Identifikasi atas faktor-faktor penyebab, menjadi dasar untuk kita memahami kesulitan dan hambatan auditor menjalankan tugasnya dalam mendeteksi kecurangan.
SA Seksi 312.2 (PSA No. 25) paragraph 03 dan 04 menyatakan, “konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik secara individual atau keseluruhan, adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU) di Indonesia”. Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila dampaknya secara individual atau keseluruhan cukup signifikan sehingga mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU) di Indonesia. Salah saji dapat terjadi sebagai akibat kekeliruan dan kecurangan.
39 Kecurangan (fraud) perlu dibedakan dengan kekeliruan (error). Kekeliruan dapat di deskripsikan sebagai “unintentional mistake” (kesalahan yang tidak disengaja). Kekeliruan dapat terjadi pada setiap tahap dalam pengelolaan transaksi, dari terjadinya transaksi, pendokumentasian, pencatatan, pengikhtisaran hingga proses menghasilkan laporan keuangan.
Kekeliruan (error) berarti salah saji (misstatement) atau hilangnya jumlah pengungkapan dalam laporan keuangan yang tidak disengaja. Boynton dan Kell (1996:55) dalam Ferdinand dan Na’im (2006: 6) membagi kekeliruan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Kekeliruan dalam mengambil atau memproses data akuntansi yang akan digunakan untuk membuat laporan keuangan.
2. Kekeliruan perkiraan akuntansi yang diakibatkan oleh kekeliruan interprestasi terhadap fakta.
3. Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi terkait dengan jumlah, klasifikasi, tujuan dan pengungkapan.
Sementara irregularities atau kecurangan adalah salah saji atau hilangnya jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan yang disengaja (Yusuf, 2001:66 dalam Ferdinand dan Na’im, 2006: 6). Kekeliruan dan kecurangan dibedakan melalui apakah tindakan yang mendasarinya dan berakibat pada terjadinya salah saji dalam laporan keuangan berupa tindakan yang disengaja atau tidak disengaja. Menurut SA Seksi 316.2 (PSA No. 70), kecurangan berarti” salah saji atau
40 penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabui pemakai laporan keuangan”. Kecurangan (irregularities) meliputi:
1. Manipulasi, pemalsuan atau mengubah catatan akuntansi atau dokumen pendukung dari laporan keuangan yang disajikan.
2. Salah interpretasi atau penghasilan keterangan atas suatu kejadian, transaksi atau informasi lain yang signifikan
3. Salah penerapan yang disengaja atas prinsip-prinsip akuntansi yang berhubungan dengan jumlah tertentu, klasifikasi dan penyajian serta pengungkapan.
Secara umum penyebab terjadinya kecurangan diakibatkan oleh faktor utama (faktor internal atau dari diri orang yang bersangkutan) dan faktor sekunder atau faktor eksternal. Penyebab utama (internal) terjadinya kecurangan, antara lain adalah (Vanables and Impey, 1988 dalam Ferdinand dan Na’im, 2006: 8):
1. Penyembunyian (concealment). Kesempatan yang ada tidak terdeteksi oleh pengendalian internal perusahaan, sehingga kesempatan tersembunyi ini diketahui oleh seorang yang kemudian melakukan kecurangan.
2. Kesempatan (opportunity). Pelaku perlu berada pada tempat yang tepat, waktu yang tepat agar dapat mendapatkan keuntungan atas kelemahan khusus dalam sistem dan juga menghindari deteksi dini.
41 3. Motivasi (motivation). Pelaku membutuhkan motivasi untuk
melakukan aktivitas demikian, suatu kebutuhan pribadi seperti ketamakan/ kerakusan dan motivasi lain.
4. Daya Tarik (attraction). Sasaran kecurangan akan direncanakan biasanya jika merupakan sesuatu yang menarik atau yang menguntungkan pelaku.
5. Keberhasilan (success). Pelaku perlu menilai peluang berhasil atau tidaknya suatu tindakan kecurangan, yang dapat menghindari penuntutan atau deteksi.
Adapun penyebab sekunder terjadinya kecurangan, antara lain: 1. Kurangnya pengendalian internal perusahaan, yaitu dengan
memanfaatkan fasilitas perusahaan yang dianggap sebagai suatu tunjangan karyawan
2. Hubungan antara pemberi kerja dan pekerja yang jelek, yaitu kurang adanya saling pecaya dan penghargaan yang tidak semestinya. Pelaku dapat menemukan alasan bahwa kecurangan hanya merupakan kewajiban.
3. Balas dendam (revenge), yaitu ketidaksukaan yang berlebihan terhadap organisasi dapat mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi tersebut.
4. Tantangan (challenge), yaitu karyawan yang bosan dengan lingkungan kerja mereka dapat mencari stimulasi dengan berusaha
42
untuk “merusak sistem”, sehingga mendapatkan kepuasan sesaat atau pembebasan prustasi.
B. Keterkaitan Antar Variabel Penelitian dan Perumusan Masalah 1. Variabel pendeteksian kecurangan dengan penerapan aturan etika.
Etika pada dasarnya berkaitan dengan moral yang merupakan kristalisasi dari ajaran-ajaran, patokan-patokan, kumplan aturan dan suatu ketetapan baik lisan maupun tertulis. Etika dinyatakan tertulis yang disebut kode etik. Pengembangan kesadaran terhadap aturan etika memainkan peran kunci dalam semua area profesi akuntan. Seorang auditor harus mentaati aturan etika dalam melaksanakan tugasnya untuk memudahkan auditor dalam mendeteksi adanya kecurangan (Louwers, 1997 dalam Gusti dan Ali, 2006). Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam penelitian ini akan dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ha1: Penerapan aturan etika berpengaruh signifikan terhadap pendeteksian kecurangan.
2. Variabel pendeteksian kecurangan dengan pengalaman.
Penelitian dalam psikologi (Hayes-Roth and Hayes-Roth 1975; Hutchinso 1983; Murphy and Wright 1984) telah menunjukan bahwa seseorang dengan pengalaman lebih pada suatu bidang kajian tertentu, mempunyai lebih banyak hal yang disimpan dalam ingatannya. oleh karena itu, dengan bertambahnya pengalaman auditing, jumlah kecurangan yang diketahui oleh auditor diharapkan akan bertambah. Berdasarkan
43 penjelasan tersebut, dalam penelitian ini akan dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ha2: Pengalaman berpengaruh signifikan terhadap pendeteksian kecurangan .
3. Variabel pendeteksian kecurangan dengan skeptisme profesional auditor. Standar Profesional Akuntan Publik menyatakan skeptisme profesional sebagai sikap auditor yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit. Auditor yang skeptis tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, tetapi akan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh alasan, bukti, dan konfirmasi mengenai objek yang dipermasalahkan, tanpa menerapkan skeptisme profesional, auditor hanya akan menemukan salah saji yang disebabkan oleh kekeliruan kekeliruan saja dan sulit untuk menemukan salah saji yang disebabkan oleh kecurangan, karena kecurangan biasanya akan disembunyikan oleh pelakunya (Novyanti, 2008: 2). Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam penelitian ini akan dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ha3: Skeptisme professional auditor berpengaruh signifikan terhadap pendeteksian kecurangan.
44