Pada sebuah lembaga pendidikan atau sekolah, bidang study atau sering disebut juga dengan mata pelajaran merupakan sesuatu yang wajib ada dan wajib dipelajari serta dikuasai oleh setiap siswa di tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Sehingga demikian, bidang pendidikan agama Islam adalah mata pelajaran wajib yang harus dipelajari dan dikuasai oleh siswa yang beragama Islam.
Anak merupakan amanat yang diberikan Allah Swt lewat tali perkawinan yang sah. Oleh karena itu, anak harus dididik dan diarahkan sesuai dengan aturan yang telah ada. Karena anak baru dilahirkan secara biologis dan psikologis keadaannya masih lemah. Untuk itu, mereka masih sangat membutuhkan bantuan dari kedua orang tuanya sebagai orang pertama yang memberikan bantuan dan bimbingan sepenuhnya dalam perkembangan menuju kedewasaan.
Pada dasarnya, anak lahir hanya dibekali kelengkapan panca indera dan hati yang berfungsi sebagai sarana pengembangan diri dan penerima pengetahuan yang diberikan kepada mereka melalui pendidikan. Dalam kaitan ini Allah Swt berfirman dalam Surat An-Nahl, ayat 78 yang berbunyi:
ُﻜ ﱠﻠ َﻌ َﻟ َة َﺪ ِﺌ ْﻓ َﻷ ْا َو َر ﺎ َﺼ ْﺑ َﻷ ْا َو
َن ْو ُﺮ ُﻜ ْﺸ َﺗ ْﻢ
)
ﻞ ﺤ ّﻨ ﻟ ا
:
78
(
38Abu Hamid Muhammad bin Al-Ghazali,Ilya Ulum Al-Din, III (Birut: Darul Al-Fikri, 2009), h. 52
Artinya: “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (QS. An- Nahl: 78).39
Pendidikan adalah sarana yang baik bagi orang tua untuk memberikan arahan dalam mencapai kemajuan di masa yang akan datang dan matangnya kepribadian. Itulah sebabnya, dalam pandangan Arifin, ada tiga hal yang memang perlu diperhatikan oleh setiap pendidik baik orang tua maupun guru dalam kaitannya dengan pembinaan pendidikan agama anak khususnya dan pendidikan secara umumnya yaitu antara lain: “pertumbuhan secara biologis, pertumbuhan yang bersifat psikologis dan pertumbuhan paedagogis.”40
Keseimbangan proses pertumbuhan ketiga aspek di atas saling berintegrasi dalam menuju kesempurnaan jiwa dan perkembangan anak dalam pendidikannya. Secara psikologis, perkembangan agama dalam jiwa anak senantiasa dibentuk oleh latihan dan pendidikan yang diperolehnya baik melalui sekolah, keluarga maupun masyarakat. Hal ini senada dengan pendapat Daradjat yang menyatakan bahwa: “pembinaan moral/mental agama harus dilaksanakan terus menerus sejak seseorang itu lahir sampai matinya, terutama sampai usia pertumbuhannya sempurna (menurut pendapat kebanyakan ahli jiwa agama sampai umur 24 tahun).”41
Andai kata pembinaan akhlak agama pada seorang anak tidak terjadi pada umur pertumbuhan yang dilaluinya dan dia menjadi dewasa tanpa mengenal agama dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi dewasa tanpa ada kecenderungan kepada nilai-nilai agama, bahkan akan sukar baginya untuk merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya serta ia akan
39
Departemen Agama RI,h. 413 40
Arifin,Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga, (Jakarta: Bulan Bintang),1986, h. 26
41
Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), h. 68
menjadi acuh tak acuh terhadap agama yang dianutnya yang pada akhirnya akan menjauhkan dirinya dari pengamalan agama itu sendiri.
Seharusnya, pembinaan dan penanaman agama kepada anak dimulai secara dini, sehingga agama dapat menjadi pengendali moral bagi anak. Sebab, apabila agama itu tidak masuk dalam pembinaan pribadinya, maka pengetahuan agama yang dicapai kemudian, akan merupakan ilmu pengetahuan yang tidak ikut mengendalikan tingkah laku dan sikapnya dalam hidup. Jika hal ini terjadi, kita akan mendapati orang yang pandai berbicara tentang hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan agama, akan tetapi ia tidak terdorong untuk mematuhinya. Karena pengertian tentang agama tidak otomatis mendorong orang untuk bertindak sesuai dengan pengertian itu.
Hanya dengan menanamkan dasar-dasar pendidikan Agama kedalam kepribadian anak, maka akhlak seorang anak akan terbentuk sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam itu sendiri. Hal ini perlu diperhatikan bagi setiap orang tua khususnya maupun para pendidik umumnya, sebab akhlak dalam ajaran agama Islam merupakan hal yang sangat urgen. Hanya dengan akhlak yang baiklah manusia akan mempunyai harkat dan martabat di sisi Allah SWT dan di hadapan manusia lainnya. Bahkan persoalan akhlak ini juga banyak ditegaskan oleh Rasulullah SAW, seperti yang disinggung beliau dalam sebuah Hadisnya:
ْا َم ِر ﺎ َﻜ َﻣ َﻢ ﱢﻤ َﺗ ُﻷ ِ ُﺖ ْﺜ ِﻌ ُﺑ َﺎ ﻤ ﱠﻧ ِإ
ِق َﻼ ْﺧ َﻷ
)
ﺪ ﻤ ﺣ أ ه ا و ر
(
Artinya:“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)42
Maka jelaslah bahwa untuk menjadikan anak memiliki akhlak yang mulia, pendidikan agama merupakan syarat mutlak untuk ditanamkan ke dalam kehidupan mereka sehingga benih-benih pendidikan agama secara mutlak terinternalisasi ke dalam kepribadian anak yang pada gilirannya akan menjadi
42
Mohammad Rifa’i, 300 Hadits Bekal Dakwah dan Pembinaan Pribadi Muslim,
ukuran dalam setiap perbuatan anak itu sendiri di dalam hidupnya. Untuk itu, menurut Langgulung, orang tua perlu melakukan hal-hal yang memberi tauladan baik bagi anaknya dengan cara, antara lain:
1. Memberi tauladan yang baik kepada mereka tentang kekuatan iman kepada Allah Swt dan berpegang dengan ajaran-ajaran agama.
2. Membiasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama semenjak kecil sehingga penunaian itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging, mereka melakukan dengan kemauan sendiri.
3. Menyiapkan suasana agama dan spiritual yang sesuai di rumah di mana mereka berada.
4. Membimbing mereka membaca bacaan-bacaan agama yang berguna dan memikirkan ciptaan-ciptaan dan makhluk-makhluk untuk menjadi bukti kehalusan sistem ciptaan itu dan atas wujud dan kegunaannya.
Ketika keluarga (orang tua) menunaikan hal-hal tersebut di atas, sebenarnya ia menurut kepada petunjuk dari Alquran dan Sunnah Nabi yang semuanya mengajak untuk melaksanakan pendidikan, mengharuskan orang tua mendidik anaknya akan iman dan akidah yang benar dan membiasakannya mengerjakan syari’at, terutama shalat. Sebab dengan membiasakan anak mengerjakan shalat, maka akan dapat menghaluskan budi pekertinya. Itulah sebabnya Rasulullah Saw menginstruksikan kepada setiap orang tua yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt untuk mengajarkan shalat kepada anak sejak kecil, yakni sejak anak berusia 7 (tujuh) tahun.
Sebenarnya proses pembinaan pendidikan agama anak cukup banyak, bukan sekedar mengerjakan shalat saja, namun shalat dalam sistem pembinaan akhlak anak merupakan hal yang sangat efektif sebab di dalam shalat sudah terkandung nilai-nilai luhur dari pendidikan akhlak itu sendiri. Tentunya, selain membiasakan anak mengerjakan shalat orang tua harus berusaha memberikan pendidikan agama anak secara lebih luas lagi sehingga melalui proses pembinaan pendidikan agama itu diharapkan anak mampu memiliki wawasan ilmu pengetahuan agama dan
dapat menghayati serta mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan pribadi dan sosialnya.
Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam bersifat integral dan komprehensife, yakni meliputi pendidikan fisik dan psikis seperti yang ditegaskan oleh Syahnan Zaini, yang antara lain:
1. Berbadan kuat dan sehat 2. Terampil
3. Berilmu yang banyak 4. Bercita-cita yang tinggi 5. Berakhlak mulia, dan
6. Taat kepada peraturan Allah saja. Sebab dengan keenam syarat ini manusia sudah pasti mampu mengembangkan tugasnya itu.43
Bila kita analisa uraian di atas, maka jelaslah bahwa fungsi pendidikan agama dalam pembentukan akhlak karimah merupakan suatu hal yang tidak dapat dinafikan dalam proses kehidupan seorang anak. Oleh karena itu, sebagai kepala keluarga atau rumah tangga harus mampu memahami dan melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pucuk pimpinan bagi segenap anak-anaknya. Untuk itu “pembinaan kesejahteraan keluarga dilakukan melalui pendidikan yang bertujuan supaya keseluruhan anggota keluarga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ridha Allah Swt sehingga terwujud keluarga yang sakinah.”44
Dari gambaran di atas, menunjukkan bahwa orang tua berfungsi sebagai pendidik yang harus memberikan pengetahuan di samping para pendidik secara formal di sekolah-sekolah, juga menunjukkan sikap dan keterampilan terhadap anggota keluarga yang lain di dalam kehidupannya, baik yang bersifat fisik materil maupun mental spiritual keseluruhan anggota keluarga.