• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pendidikan Agama Islam

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Islam secara etimologis berasal dari kata bahasa

Arab yang umumnya digunakan untuk menunjukkan istilah pendidikan,

yaitu tarbiyah, ta‟lim, dan ta‟dib. Istilah tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, rabba yarbu, yang artinya bertambah dan tumbuh. Kedua, rabbiya yarba yang artinya menjadi besar. Ketiga, rabba yarabbu yang yang artinya memperbaiki, menguasahi urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara (Nahlawi, 1992:31). Istilah ta‟lim

berasal dari kata „allama yang berarti mengajar (pengajaran), yaitu transfer ilmu pengetahuan (Bawani dan Anshori, 1991:72). Istilah

ta‟dib berasal dari kata addaba yang artinya mendidik yang lebih tertuju pada penyempurnaan akhlaq atau budi pekerti (Achmadi,

1987:4).

Berdasarkan pada ketiga pengertian pendidikan agama Islam

secara etimologi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan

11

dalam aspek pengetahuan, sikap, praktis dan akhlaq agar mencapai

kesempurnaan.

Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan

seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal

sesuai dengan ajaran agama Islam (Abdul Majid & Dian Andayani,

2005: 130). Pendidikan Agama Islam adalah mengasuh, membimbing,

mendorong, mengusahakan, menumbuh kembangkan, manusia takwa

(Lisnawati, 2012:1). Menurut D Marimba dalam Mansur (2005:328)

Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani

berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya

kepribadian utama menurut aturan-aturan Islam. Pendidikan Agama

Islam merupakan usaha sadar dan terencana untuk membentuk peserta

didik agar memiliki keseimbangan jasmani dan rohani, serta memiliki

iman, ilmu, dan amal sekaligus (Heri Gunawan, 2014: 9). Jadi

Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk seseorang menjadi

pribadi yang baik dan mempunyai akhlaqul karimah.

Menurut Syafaat (2008: 175) bahwa Agama Islam adalah agama

universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai

aspek kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Salah satu diantaranya

ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan

pendidikan, karena menurut ajaran Islam, pendidikan adalah kebutuhan

hidup manusia dan mutlak yang harus dipenuhi, demi tercapainya

12

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwasanya

pendidikan agama Islam wajib diterapkan bagi sebuah keluarga.

Pendidikan adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbangan dan

asuhan terhadap anak agar kelak selesai pendidikannya dapat

memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam.

Remaja dapat mengetahui baik buruk yang dilakukanya menurut

agama. Jadi remaja harus dibekali tentang Pendidikan Agama yang

kuat.

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Proses mendidik anak atau remaja Pendidikan Agama Islam

mempunyai tujuan. Menurut Gunawan (2014: 10) tujuan Pendidikan

Agama Islam adalah terciptanya orang yang berkepribadian muslim.

Ada beberapa tujuan pendidikan. Tujuan umum ialah pendidikan yang

akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan

pengajaran atau cara lain (Daradjat, 2011:30). Tujuan khusus dari akhir

Pendidikan Agama Islam dapat dipahami dalam QS. Adz- Dzariyat ayat

56:

ِىوُدُبْعَيِل َّلَِّإ َشًِْ ْلْاَو َّيِجْلا ُتْقَلَخ اَهَو

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Tujuan diciptakan manusia hanya untuk beribadah dan

13

ajaran-ajaran agama. Sedangkan menurut Nur Ahid (2010: 45) tujuan

Pendidikan Islam biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya “kepribadian muslim”.

Al-Qur’an juga sudah menjelaskan tentang diciptakannya manusia oleh Allah SWT agar beribadah kepadanya. Jadi pendidikan

agama Islam mempunyai peran yang sangat hebat dalam membentuk

kepribadian seorang remaja, khususnya di era yang modern seperti ini.

c. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Agama mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan

manusia. Menurut Darajat (2001: 56) fungsi agama memberikan

bimbingan hidup, menolong dalam menghadapi kesukaran serta dapat

menentramkan batin.

Fungsi Pendidikan Islam yang sekaligus menjadi suatu proses

pendidikan dalam keluarga, menurut Zakiyah Daradjat dalam Aat

Syafaat (2008: 173-174) antara lain sebagai berikut:

1) Pembekalan, yaitu untuk membimbing anak dalam memiliki

akhlak

2) Penerangan, yaitu membantu anak untuk mengetahui

prinsip-prinsip dan hukum agama agar dalam pelaksanaanya sesuai

dengan ajaran islam.

3) Perbaikan, yaitu untuk menolong anak dalam membina akidah

yang baik dan benar serta pembentukan jiwa keagamaan yang

14

4) Penyadaran, yaitu untuk memberikan penyadaran anak-anak

atau remaja agar memahami dan mampu menjaga kesehatan,

baik jasmani dan rohani.

5) Pengajaran, yaitu untuk menyiapkan peluang dan suasana

praktis untuk mengamalkan nilai-nilai agama dan akhlak dalam

kehidupan.

Pada hakikatnya seorang remaja membutuhkan pendidikan

agama Islam. Ini disebabkan karena agama berfungsi sebagai

pembimbing atau petunjuk dalam kehidupan. Pendidikan agama dapat

membantu remaja dalam menghadapi segala macam persoalan yang

dihadapinya.

d. Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga

Menurut Mufatihatut Taubah (2015:124-136) dalam pelaksanaan

pendidikan agama dalam keluarga dapat menggunakan pola atau

metode pendidikan Qurani. Adapun pendidikan Qurani yang dapat

dilakukan dalam pendidikan agama dalam keluarga di antaranya

sebagai berikut:

1) Pendidikan keteladanan

Yaitu suatu pola atau metode pendidikan dengan cara

memberikan contoh yang baik kepada anak didik, baik dalam

ucapan maupun perbuatan. Keteladanan merupakan salah satu

metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah SAW dan dianggap

paling banyak pengaruhnya terhadap keberhasilan menyampaikan misi da’wahnya. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya mencontoh

15

perilaku Nabi Muhammad SAW, karena dalam dirinya telah ada

keteladanan yang mencerminkan ajaran al-Quran.

2) Pendidikan dengan adat kebiasaan

Setiap manusia yang dilahirkan membawa potensi, salah

satunya berupa potensi beragama. Potensi beragama ini dapat

terbentuk pada diri anak (manusia) melalui 2 faktor, yaitu: faktor

pendidikan Islam yang utama dan faktor pendidikan lingkungan

yang baik. Faktor pendidikan Islam yang bertanggung jawab

penuh adalah bapak ibunya. Faktor lingkungan harus menunjang

terhadap pengajaran tersebut, yakni orang tua senantiasa

memberikan aplikasi pembiasaan ajaran agama dalam lingkungan

keluarganya. Sebab pembiasaan merupakan upaya praktis dan

pembentukan (pembinaan) dan persiapan.

3) Pendidikan dengan nasehat

Pemberi nasihat seharusnya orang yang berwibawa dimata

anak. Pemberi nasihat dalam keluarga tentunya orang tuanya

sendiri selaku pendidik bagi anak. Anak akan mendengarkan

nasihat tersebut, apabila pemberi nasihat juga bisa memberi

keteladanan. Sebab nasihat saja tidak cukup bila tidak diikuti

dengan keteladanan yang baik. Anak tidak akan melaksanakan

nasihat tersebut apabila didapatinya pemberi nasihat tersebut juga

tidak melaksanakannya. Anak tidak butuh segi teoretis saja, tapi

segi praktislah yang akan mampu memberikan pengaruh bagi diri

16 4) Pendidikan dengan Perhatian

Orang tua berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan– kebutuhan anaknya, baik kebutuhan jasmani ataupun kebutuhan

yang berbentuk ruhani. Di antara kebutuhan anak yang bersifat

ruhani adalah anak ingin diperhatikan dalam perkembangan dan

pertumbuhannya. Pendidikan dengan perhatian adalah

mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti

perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral,

persiapan spiritual dan sosial, disamping selalu bertanya tentang

situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmiahnya.

5) Pendidikan dengan memberikan hukuman

Hukuman diberikan, apabila metode-metode yang lain

sudah tidak dapat merubah tingkah laku anak, atau dengan kata

lain cara hukuman merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh

pendidik, apabila ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan

ajaran Islam.

2. Keluarga

Pencegahan kenakalan remaja yang difokuskan oleh peneliti adalah

keluarga petani yang ada di Dusun Karang Talun Desa Mlilir Bandungan,

sehingga peneliti tertarik meneliti untuk mengetahui seberapa besar

Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Pencegahan Kenakalan

17 a. Pengertian Keluarga

Menurut Rifa Hidayah (2009: 16) orang tua mempunyai

tanggung jawab untuk mengantarkan putra putrinya menjadi seorang

yang sukses dan bagi orang tua penting memahami dan

memperhatikan perkembangan anak. Keluarga merupakan lingkungan

pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek

perkembangan anak. Kondisi dan tatacara kehidupan keluarga

merupakan lingkungan yang kondusif bagi anak. Orang tua

memegang peran yang istimewa dalam hal informasi dan cermin

tentang diri seseorang.

Keluarga adalah kelompok kecil yang memiliki pemimpin dan

anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan

kewajiban masing-masing anggotanya. Keluarga adalah tempat yang

pertama dan yang utama di mana anak-anak belajar. Dari keluarga

mereka memepelajari sifat keyakinan, sifat-sifat mulia, komunikasi

dan interaksi sosial, serta ketrampilan hidup (Helmawati, 2014:42-43).

Keluarga sebagai institusi atau lembaga pendidikan ditunjukkan oleh

hadits nabi yang menyatakan bahwa keluarga merupakan tempat

pendidikan anak paling awal dan yang memberikan warna dominnan

bagi anak. Sejak anak dilahirkan, ia menerima bimbingan kebaikan

dari keluarga yang memungkinkannya berjalan dijalan keutamaan

sekaligus bisa berperilaku dijalan kejelekan sebagai akibat dari

pendidikan yang salah (Roqib, 2009:123). Sikap ini bisa memupuk

18

menyuburkan proses pendidikan dalam lingkungan keluarga

(Mustaqim, 2005: 35).

Suatu keluarga dianggap suatu sistem sosial, oleh karena

memiliki sistem sosial yang ada pokoknya mencakup kepercayaan,

perasaan, tujuan, kaidah-kaidah, kedudukan dan peranan, tingkatan

atau jenjang, sanksi, kekuasaan dan fasilitas (Soekanto, 2004:1).

Jadi dari pengertian di atas bahwasanya keluarga adalah

pendidikan yang pertama bagi seorang anak atau remaja. Dari

keluarga seorang anak dapat belajar. Lebih mengerti mana yang boleh

dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

b. Peran Keluarga

Keluarga merupakan pendidik moral yang pertama dan utama

bagi anak-anak. Orang tua adalah guru moral pertama anak-anak,

pemberi pengaruh yang paling dapat bertahan lama, anak-anak

berganti guru setiap tahunnya, tetapi mereka memiliki satu orang tua

sepanjang masa hidup. Hubungan orang tua anak juga mengandung

signifikansi emosional khusus, yang bisa menyebabkan anak-anak

merasa dicintai dan berharga atau sebaliknya merasa tidak dicintai dan

tidak berharga (Lickona, 2014:42). Perkembangan agama pada

anak-anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam

keluarga. Keluarga harus melakukan pendidikan, mengharuskan orang

tua mendidik anak-anaknya akan iman dan akidah yang betul dan membiasakan mengajarkan syari’at agama (Ahid, 2010: 140-142).

19

Oleh karena itu, keluarga memiliki peranan yang penting

dalam perkembangan anak, keluarga yang baik akan berpengaruh

positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan

berpengaruh negatif (Sudarsono, 2006: 125). Jadi peran keluarga

sangat penting dalam memberikan pendidikan agama bagi seorang

anak atau remaja. Keluarga harus berperan lebih untuk memberikan

pendidikan dan pengajaran agama bagi anak remajanya.

c. Fungsi Keluarga

Menurut Koentjraningrat dalam Robbayani (2012:96) lebih

melihat pada pokok fungsi keluarga dari segi keamanan hidup dan

pengasuhan anak. Lebih lanjut Koenjtraningrat mengatakan pada

semua keluarga inti dalam semua masyarakat dunia, kita lihat adanya

dua fungsi pokok yang sama, yaitu:

1) Keluarga inti merupakan kelompok di mana si individu pada

dasarnya dapat menikmati bantuan utama dari sesamanya serta

keamanan dalam hidup.

2) Keluarga inti merupakan kelompok di mana si individu itu, waktu

ia sebagai anak-anak masih belum berdaya, mendapat pengasuhan

dan permulaan dari pendidikannya.

Samsul Nizar dalam Helmawati (2016:44-48) menyatakan bahwa

dalam memberdayakan pendidikan keluarga sangat relevan untuk

dibahas beberapa fungsi keluarga. Selanjutnya ia membagi fungsi

keluarga menjadi delapan fungsi:

20

Fungsi agama dilaksanakan melalui penanaman nilai-nilai

keyakinan berupa iman dan takwa. Penanaman iman dan takwa

mengajarkan kepada anggota keluarga untuk selalu menjalankan

perintah Tuhan Yang Maha esa dan menjauhi larangan-Nya.

b). Fungsi Biologis

Fungsi biologis adalah fungsi pemenuhan kebutuhan agar

keberlangsungan hidupnya tetap terjaga termasuk secara fisik.

Maksudnya pemenuhan kebutuhan yang berhubungan dengan

jasmani manusia.

c). Fungsi Ekonomi

Fungsi ini berhubungan dengan bagaimana pengaturan

penghasilan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan dalam

rumah tangga.

d) Fungsi Kasih Sayang

Fungsi ini menyatakan bagaimana sikap anggota keluarga

harus menyayangi satu sama lain.

e). Fungsi Perlindungan

Setiap anggota keluarga berhak mendapat perlindungan

dari anggota lainnya.

f). Fungsi Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat

penting untuk meningkatkan martabat dan peradaban manusia.

21

Selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan

makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri untuk memenuhi

semua kebutuhan hidupnya.

h). Fungsi Rekreasi

Manusia tidak hanya perlu memenuhi kebutuhan

biologisnya atau fisiknya saja, tetapi juga perlu memenuhi

kebutuhan jiwa atau rohaninya.

3. Remaja

Menurut Lailia (2017:52-58) ada beberapa karakteristik remaja yaitu:

1) Pengertian Remaja

Remaja adalah mereka yang telah meninggalkan masa

kanak-kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa

pembentukan tanggung jawab. Masa remaja ditandai dengan

pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah

terbayangkan dan dialami. Dalam bidang fisik-biologis maupun psikis

atau kejiwaan. Menstruasi pertama bagi wanita dan keluarnya sperma

dalam mimpi basah pertama bagi laki-laki. Istilah asing yang sering

digunakan untuk menunjukkan masa remaja menurut Yulia S.D.

Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa (1991) antara lain: (a) puberteit, pubertydan (b) adolescentia. Istilah puberty (bahasa inggris) berasal dari istilah latin, pubertas, yang berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian. Pubescence

22

kemaluan (genital), maka pubescence berarti perubahan yang dibarengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.

2) Ciri-Ciri Remaja

Ciri-ciri fisik remaja atau perubahan fisik yang terjadi pada

masa

remaja di antaranya yaitu seperti: karakteristik fisik remaja,

perubahan hormonal remaja, tanda kematangan seksual, serta

reaksi terhadap

menarche/spermarche.

a) Karakteristik Perubahan Fisik Remaja

Pertumbuhan fisik yang dialami remaja diperkirakan pada

usia 18 tahun dan setelah masa itu diperkirakan tidak terjadi

pertumbuhan atau penambahan tinggi badan lagi (Turner dan

Helms, 1995: Papalia, Olds dan Feldman, 2001).

b) Perubahan Hormonal Remaja

Perubahan hormonal merupakan awal dari masa pubertas

remaja yang terjadi sekitar usia 11-12 tahun. Perubahan ini erat

hubungannya dengan perubahan di dalam otak yakni

hypothalamus, suatu bagian organ otak yang bertugas untuk mengkoordinasi atau mengatur fungsifungsi seluruh sistem

jaringan organ tubuh. Salah satu di antaranya, ialah merangsan

hormon luteinizing hormone releasing hormone (LHRH) dan kelenjar pituitary (pituitary gland) untuk melepaskan hormon

23

Hormon gonadotropin ini merangsang gonades (testes dan ovaries) untuk memproduksi hormon seksual. Hormon seks pada remaja wanita disebut estrogen atau estradiol, sedangkan hormon remaja laki-laki disebut androgen atau testosteron. Hal ini yang dianggap sebagai faktor penyebab kematangan seksual

seorang remaja. Hormon androgen atau testosteron bekerja mempengaruhi pertambahan berat badan maupun perubahan

suara, sedangkan hormon estrogen/estradiol mempengaruhi pertumbuhan (makin membesarnya) payudara, uterine

(produksi sel telur), dan perkembangan tulang-tulang (skeletal

development) (Santrock, 1999).

c) Reaksi Remaja Wanita terhadap Menarche

Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih Dirga Gunarsa

(1991) secara umum mengungkapkan 2 jenis reaksi remaja

wanita terhadap datangnya haid pertama (menarche), yaitu reaksi negatif dan reaksi positif. Reaksi negatif, yaitu suatu

pandangan yang kurang baik dari seorang remaja wanita ketika

dirinya memandang terhadap munculnya menstruasi. Ketika

muncul menstruasi pertama, seorang individu akan merasakan

adanya keluhan-keluhan fisiologis (sakit kepala, sakit

pinggang, mual-mual, muntah) maupun kondisi psikologis

yang tidak stabil (bingung, sedih, stres, cemas, mudah

tersinggung, marah, emosional). Hal ini kemungkinan karena

24

yang terjadi pada awal kehidupan seorang remaja wanita, maka

menstruasi dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak baik.

Reaksi positif, yang dimaksud dengan reaksi positif remaja

wanita ialah individu yang mampu memahami, menghargai dan

menerima adanya menstruasi pertama sebagai tanda

kedewasaan seorang wanita. Sikap yang positif akan menjadi

salah satu tolok ukur kedewasaan seseorang (the maturity of personality). Umumnya, mereka yang dewasa ditandai dengan konsep diri (self-concept) yang positif, yakni memiliki kemampuan untuk melihat gambaran diri mengenai kelebihan

dan kekurangan diri sendiri, artinya mereka mampu untuk

mengevaluasi diri (self-awareness).

d) Reaksi Remaja laki-laki terhadap Spermarche

Para ahli seperti Gunarsa dan Gunarsa (1991) dan Berk

(1993) berpendapat para remaja laki-laki akan memiliki sikap

yang beragam yakni ada yang merasa biasa-biasa saja, senang,

gembira, bingung, atau

merasa berdosa. Mereka menganggap positif yaitu bahwa

spermarche

(ejakulasi pertama, nocturno emission) merupakan sesuatu

yang wajar

yang terjadi pada setiap remaja laki-laki. Di sisi lain,

pengalaman tersebut dirasakan sangat menyenangkan

25

berkeinginan untuk dapat mengulangi pengalaman tersebut.

Sedangkan bagi remaja yang merasa terkejut (shock) atau

merasa berdosa (guilty feeling) biasanya dilatarbelakangi oleh kehidupan keluarga yang memegang nilai-nilai agama dan

bersikap kaku dalam pendidikan seks terhadap anak

(puritanisme).

Beberapa pendapat di atas definisi remaja adalah perubahan

dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Dalam hal ini ada

beberapa perubahan yang dialami seorang remaja. Orang tua harus

bisa memberikan pengarah terhadap perubahan yang terjadi pada

anak remaja mereka.

3) Remaja dalam Keluarga

Menurut Dariyo ( 2004: 95-98) ada beberapa ciri remaja dalam

keluarga yaitu:

a) Konflik-konflik Remaja dalam Keluarga

Salah satu ciri perkembangan kehidupan seorang remaja

diwarnai dengan adanya perubahan-perubahan fisiologis maupun

psikologisnya. Hal itu menyebabkan kondisi emosinya mengalami

ketidakstabilan. Akibatnya seringkali remaja banyak mengalami

benturan-benturan dalam lingkungan, misalnya dengan orang tua,

saudara kandung, teman-teman, atau masyarakat. Konflik dalam

diri remaja anataranya:

(1) Konflik pemilihan teman/pacar

26

(3) Konflik dengan saudara kandung

b) Pola Asuh Orang Tua

Baumrind ahli psikologi perkembangan membagi pola asuh

menjadi 3 yakni:

1) Pola asuh otoriter

Ciri-ciri pola asuh ini, menekankan segala aturan

orang tua harus ditaati oleh anak.

2) Pola asuh permisif

Sifat pola asuh ini, children centered yakni segala aturan dan ketetepan keluarga ditangan anak. Apa yang

dilakukan anak diperbolehkan orang tua.

3) Pola asuh demokratis

Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu

keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan

kedua belah pihak.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwasnya

keluarga sangat mempengaruhi pendididikan seseorang. Dalam hal ini

seorang anak atau remaja mempunyai pembentukan perilaku yang baik

dari keluarga karena diajarkan tentang norma-norma dan mendapatkan

pendidikan agama yang baik.

Dokumen terkait