BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori dan Konsep
3. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebelum membahas pengertian Pendidikan Agama Islam, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada umumnya. Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu
paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah
yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan. (Ramayulis, 2004:12).
Secara normatif, Islam telah memberikan landasan kuat bagi pelaksanaan pendidikan.
Pertama, Islam menekankan bahwa pendidikan merupakan
kewajiban agama, dimana proses pembelajaran dan transmisi ilmu sangat bermakna bagi kehidupan manuia (QS, Al-alaq, 96:1-5).
Kedua, seluruh rangkaian pelaksanaan pendidikan adalah ibadah
kepada Allah SWT seperti pada QS. al-Haj (22): 54:
Terjemahnya:
Dan agar orang-orang yang Telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Depag RI : 471).
Sebagai sebuah ibadah, maka pendidikan merupakan kewajiban individual sekaligus kolektif.
Ketiga, Islam memberikan derajat tinggi bagi kaum terdidik, sarjana
Terjemahnya:Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Depag RI: 793).
Sedangkan dalam QS. al-Nahl [16] : 43 Allah berfirman sebagai berikut:
Terjemahnya:
Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempurjenyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Depag RI: 370).
Keempat, Islam memberikan landasan bahwa pendidikan merupakan aktivitas sepanjang hayat.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk membimbing,
mengarahkan, membina serta mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek jasmaniah dan rohaniah yang harus berlangsung secara
bertahap, yang dilakukan secara sadar agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Urgensi Pendidikan Agama Islam dapat dilihat dari pengertian Pendidikan Agama Islam itu sendiri. Di dalam UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat, antara lain Pendidikan Agama. Dan dalam penjelasannya dinyatakan bahwa Pendidikan Agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormat Agama lain dalam hubungan kerukunan agar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan Persatuan Nasional.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Quran dan hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Jadi upaya pembelajaran yang dilakukan dengan cara sengaja untuk menyiapkan peserta didik guna mengamalkan al-Qur'an dan hadis. (Mira Gustina, 2013: 27).
Dalam konsep Islam, Iman merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan dalam bentuk amal shaleh, sehingga menghasilkan prestasi rohani (iman) yang disebut taqwa. Amal saleh itu menyangkut keserasian dan keselarasan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang membentuk kesalehan pribadi, hubungan manusia dengan sesamanya yang membentuk kesalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan alam yang
membentuk kesalehan terhadap alam sekitar. Kualitas amal saleh akan menentukan derajat ketaqwaan prestasi rohani iman seseorang dihadapan Allah Swt.
Lebih lanjut Ahmat Tafsir (1994: 28) mengemukakan pengertian Pendidikan Islam adalah “bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai ajaran Islam”. Zakiah Darajat, (1994: 86) mengemukakan pengertian pendidikan Agama Islam adalah:
a. Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. b. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan melalui
ajaran-ajaran Agama Islam yaitu berupa bimbingan dan arahan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran Agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran Agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Menurut Muhaemin (2003:105), bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa prespektif, yaitu:
1. Pendidikan menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkan Islam, dan atau sistem pendidikan yang Islami yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al-qur’an dan al-Sunnah/Hadist.
2. Pendidikan ke Islaman atau Pendidikan Agama Islam yakni upaya pendidikan Agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.
3. Pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam, dalam arti proses bertumbuh kembangnya Islam dan ummatnya, baik Islam Nabi Muhammad saw.
Pendidikan Agama memelihara anak-anak, supaya mereka tidak menuruti nafsu yang murka, dan menjaga mereka supaya jangan jatuh kelembah kehinaan dan kesesatan. Pendidikan Agama menerangi anak-anak supaya melalui jalan yang lurus, jalan kebaikan, jalan ke Surga. Sebab itu mereka patuh mengikuti perintah Allah, serta berhubungan baik dengan teman sejawatnya dan bangsanya, berdasarkan cinta-mencintai, tolong-menolong dan nasehat-menasehati. Oleh sebab itu Pendidikan Agama harus diberikan mulai dari taman kanak-kanak sampai keperguruan tinggi. (Mahmud Yunus,1983:7-8).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu proses bimbingan jasmani dan rohani yang berlandaskan ajaran Islam yang terangkum dalam kitab suci al-Qur'an dan hadis Rasulullah Saw., dan dilakukan dengan kesadaran untuk mengembangkan potensi anak menuju perkembangan yang maksimal baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam.
b. Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan lainnya. Hal yang membedakan Pendidikan Agama Islam dengan pendidikan lainnya dapat dilihat dengan adanya perbedaan prinsip dan karakter masing-masing.
Karakteristik pendidikan Agama Islam sebagaimana disebutkan oleh Azyumardi Azra (1994:15) adalah penguasaan ilmu pengetahuan. Penekanan pada nilai-nilai akhlak dan pengembangan ilmu pengetahuan. Secara spesifik karakteristik pendidikan Agama Islam sebagai berikut :
a). Pendidikan Islam memiliki dua dimensi yakni Al-quran dan Hadist, untuk dunia dan akhirat.
b). Pendidikan Islam mewujudkan aturan-aturan yang positif. c). Pendidikan Islam berisi pendidikan moral dan etika, budi
pekerti.
d). Pendidikan Islam sebagai tugas suci bagi penganutnya.
e). Pendidikan Islam sebagai Taqarruf Ilallah. (Azyumardi Azra, 1994: 15).
Dari karakteristik pendidikan Agama Islam di atas, dapat dijadikan sebagai suatu bata pembeda yang dapat membedakan dengan pendidikan yang lain, sehingga eksistensi pendidikan Islam ditengah pendidikan lain dapat dilihat dan dibedakan dengan jelas karena pendidikan Agama Islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
c. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Secara umum, pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang Agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt., serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari tujuan tersebut dapat ditarik bebrapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam yaitu: (1) dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran Agama Islam, (2) dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran Agama Islam, (3) dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Agama Islam, dan (4) dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran Agama Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan dan menaati ajaran Agama dan niali-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah Swt serta mengaktualisasikan dan
merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. ( Muhaimin. 1983:78).
Adapun Muhammad Athiyah Al-Abrasy (1987:10) merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mencapai akhlak yang sempurna.pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan
Islam, dengan mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.
Tujuan pendidikan Agama dalam segala tingkat pengajaran umum adalah sebagai berikut (Mahmud Yunus, 1983:13) :
a. Menanamkan perasaan cinta dan taat kepada Allah dalam hati kanak-kanak yaitu dengan mengingatkan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya.
b. Menanamkan i’tikad yang benar dan kepercayaan yang betul dalam kanak-kanak.
c. Mendidik kanak-kanak dari kecilnya, supaya mengikuti seruan Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya, baik terhadap Allah ataupun terhadap masyarakat, yaitu dengan mengisi hati mereka, supaya takut kepada Allah dan ingin akan pahalanya. d. Mendidik kanak-kanak dari kecilnya, supaya membiasakan
akhlak yang mulia dan adat kebiasaan yang baik.
e. Mengajar pelajaran-pelajaran, supaya mengetahui macam-macam ibadah yang wajib dikerjakan dan cara melakukannya, serta mengetahui hikmah-hikmah dan faedah-faedahnya dan pengaruhnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Begitu juga mengajarkan hukum-hukum Agama yang perlu diketahui oleh tiap-tiap orang Islam, serta taat mengikutinya. f. Memberi petunjuk mereka untuk hidup di dunia dan menuju
akhirat.
g. Memberikan contoh dan tiru teladan yang baik, serta pengajaran dan nasehat-nasehat.
h. Membentuk warga Negara yang baik dan masyarakat yang baik yang berbudi luhur dan berakhlak mulia, serta berpegang teguh dengan ajaran Agama.
Dari berbagai penelitian tentang tujuan pendidikan Agama Islam di atas, bahwa pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan. Karena itu terdapat beberapa konsep dari tujuan pendidikan Agama Islam itu sendiri, diantaranta bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah untuk membina serta memelihara Islam sesuai dengan syari’ah serta memamfaatkannya sesuai dengan aqidah dan akhlak Islami. Sebagimana firman Allah Swt., dalam QS. Adz-Dzariyaat : 56 sebagai berikut:
Terjemahnya:Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Depag RI: 756)
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah untuk menyempurnakan hubungan manusia dengan Allah, menyempurnakan hubungan manusia dengan
sesamanya, memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antar manusia dan lingkungan.
Tim penyusun buku ilmu pendidikan Islam dalam (Nur Uhbyati, 1987: 60-61) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam ada 4 macam, yaitu:
1) Tujuan Umum
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi aspek kemanusiaan seperti sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama.
Bentuk insan kamil dengan pola taqwa kepada Allah harus tergambar dalam pribadi seseorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkah-tingkah tersebut.
2) Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan intruksional yang dikembangkan menjadi Tujuan Intruksional Umum dan
3) Tujuan Operasional
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan ini disebut juga tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan
Instruksioanal Khusus (TIU dan TIK). Tujuan instruksional ini merupakan
tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit kegiatan pengajaran. 4) Tujuan Akhir
Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami naik turun, bertambah dan berkurabg dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah membimbing dan membentuk manusia menjadi hamba Allah yang saleh, teguh imannya, taat beribadah dan berakhlak terpuji.
Jadi, tujuan pendidikan Agama Islam adalah berkisar kepada pembinaan pribadi muslim yang terpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial atau lebih jelas lagi, ia berkisar pada pembinaan warga Negara muslim yang baik, yang percaya pada Tuhan dan Agamanya, berpegang teguh pada ajaran Agamanya, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani.
Oleh karena itu berbicara tentang pendidikan Agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak-anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak.
Dengan demikian tujuan pendidikan merupakan pengalaman nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi muslim melalui proses akhir yang dapat membuat peserta didik memiliki kepribadian Islami yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan.
d. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam sebagai ilmu, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, karena di dalamnya banyak pihak yang terlihat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Adapun ruang lingkup pendidikan Islam (Imam Al-Gashali dalam Ramayulis, 2000:40) adalah sebagai berikut :
a. Perbuatan mendidik itu sendiri
Yang dimaksud dengan perbuatan mendidik adalah seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan dari sikap yang dilakukan oleh pendidikan sewaktu mengasuh anak didik. Atau dengan istilah yang lain yaitu sikap atau tindakan menuntun, membimbing, memberikan pertolongan dari seseorang pendidik kepada anak didik menuju kepada tujuan pendidikan Islam.
b. Peserta didik
Yaitu murid atau siswa yang merupakan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan perbuatan atau tindakan mendidik itu dilakukan untuk membawa peserta didik kepada tujuan pendidikan agama Islam yang dicita-citakan.
c. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Yaitu landasan yang menjadi fundamen serta sumber dari segala kegiatan pendidikan Agama Islam ini dilakukan adalah al-Qur'an dan hadis, ijma’ ulama dan UUD 1945 serta Peraturan Pemerintah. Tujuannya yaitu ingin membentuk peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertaqwa kepada Allah dan kepribadian Islam.
d. Pendidik
Yaitu orang yang memiliki pekerjaan sebagai tenaga pendidik (guru). Pendidik (guru) mempunyai peran penting untuk berlangsungnya proses pendidikan. Jadi pendidik adalah guru (orang) yang kerjanya mengajar, terutama di sekolah.
e. Materi Pendidikan Agama Islam
Yaitu bahan-bahan, pengalaman-pengalaman belajar ilmu Agama Islam yang disusun sedemikian rupa untuk disajikan atau disampaikan kepada peserta didik.
f. Metode Pendidikan Agama Islam
Yaitu cara yang dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Agama Islam kepada peserta didik. Metode di sini merupakan manhaj atau cara mengelola, menyusun dan menyajikan materi sehingga dengan mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik.
g. Evaluasi Pendidikan
Yaitu memuat cara-cara bagaimana mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap hasil belajar anak didik. Tujuan pendidikan Islam umumnya tidak dapat dicapai sekaligus, melainkan melalui proses atau pentahapan tertentu. Apabila tahap ini telah tercapai maka pelaksanaan pendidikan dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya dan berakhir dengan terbentuknya kepribadian muslim.
h. Alat-alat Pendidikan Islam
Yaitu alat-alat yang dapat digunakan selama melaksanakan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil.
i. Lingkungan
Yaitu keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanaan serta hasil pendidikan Islam.
Selain ruang lingkup tersebut di atas, juga ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah Swt, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan ketiga hubungan manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam juga identik dengan aspek-aspek Pengajaran Agama Islam karena materi yang terkandung didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Apabila dilihat dari segi pembahasannya maka ruang lingkup Pendidikan Agama Islam yang umum dilaksanakan di sekolah, termasuk di dalamnya sekolah dasar atau sederajat adalah :
1) Pengajaran keimanan
Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang aspek kepercayaan, dalam hal ini tentunya kepercayaan menurut ajaran Islam, inti dari pengajaran ini adalah tentang rukun Islam.
2) Pengajaran akhlak
Pengajaran akhlak adalah bentuk pengajaran yang mengarah pada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya, pengajaran ini berarti proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajarkan berakhlak baik.
3) Pengajaran ibadah
Pengajaran ibadah adalah pengajaran tentang segala bentuk ibadah dan tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran ini agar siswa mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Mengerti segala bentuk ibadah dan memahami arti dan tujuan pelaksanaan ibadah.
4) Pengajaran fiqih
Pengajaran fiqih adalah pengajaran yang isinya menyampaikan materi tentang segala bentuk-bentuk hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar'i yang lain. Tujuan pengajaran ini adalah agar siswa mengetahui dan mengerti tentang hukum-hukum Islam dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pengajaran al-Qur’an
Pengajaran al-Qur’an adalah pengajaran yang bertujuan agar siswa dapat membaca al-Qur’an dan mengerti arti kandungan yang terdapat di setiap ayat-ayat al-Qur’an. Akan tetapi dalam prakteknya hanya ayat-ayat tertentu yang di masukkan dalam materi Pendidikan Agama Islam yang disesuaikan dengan tingkat pendidikannya.
6) Pengajaran sejarah Islam
Tujuan pengajaran dari sejarah Islam ini adalah agar siswa dapat mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga siswa dapat mengenal dan mencintai agama Islam.
Prinsip-prinsip Pendidikan Agama Islam, (Zainuddin Ali, 2008: 37) antara lain:
a. Pendidikan Agama Islam sebagai suatu proses pengembangan diri Manusia adalah makhluk paedagogik, yaitu makhluk Allah yang dapat dididik dan dapat mendidik. Potensi ini merupakan pemberian Allah berupa akal-pikiran, perasaan, nurani, yang akan dijalankan manusia baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk yang bermasyarakat.
Potensi yang besar tidak akan bisa dimanfaatkan jika tidak berusaha untuk mengaktifkan, mengembangkan dan melatihnya. Hal itu membutuhkan sebuah proses yang akan memakan waktu, tenaga bahkan biaya, tetapi mengingat potensi yang luar biasa yang dimiliki akan sulit diraih sehingga hal itu tidak ada arti apa-apanya. Jadi pendidikan merupakan suatu proses untuk mengembangakan potensi diri yang dimiliki manusia (peserta didik).
b. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang bebas
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang diberikan kebebasan dalam berkehendak dan memilih,namun kebebasan yang dimiliki oleh manusia harus tetap berada dalam aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai pencipta dari manusia tersebut agar kehidupan manusia berjalan di atas rel yang telah ditentukan Allah untuk mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat nanti. Dalam hal ini pendidik bertugas mengarahkan dan menuntun peserta didik dalam kehidupannya.
c. Pendidikan Agama Islam penuh dengan nilai insaniah dan ilahiyah. Sumber akhlak manusia yang terbaik adalah agama Islam dimana kedudukan akhlak sangatlah penting sebagai pelengkap dalam menjalankan fungsi kemanusiaan di bumi. Pendidikan merupakan proses pembinaan akhlak pada jiwa. Meletakkan nilai-nilai moral pada anak didik harus diutamakan. Nilai-nilai ketuhanan harus dikedepankan, pendidikan Islam haruslah memperhatikan pendidikan akhlak atau nilai dalam setiap pelajaran dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi dan mengutamakan fadhilah dan sendi moral yang sempurna.
Prinsip Keseimbangan hidup dalam pendidikan agama Islam, meliputi prinsip keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kebutuhan jasmanai dan rohani, keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial, dan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal. Prinsip ini telah ditegaskan dalam al-Qur'an Surat al-Qashas (28): 77 sebagai berikut:
Terjemahnya:Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu