KABUPATEN GOWA
(Analisis Pembelajaran Pendidikan Agama Islam)
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister
Program Studi Magister Manajemen
Kekhususan: Manajamen Pendidikan Islam
Disusun dan Diajukan oleh
ST. RUKIYATI
Nomor Induk Mahasiswa: 01.14.368.2013
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2015
KABUPATEN GOWA
(Analisis Pembelajaran Pendidikan Agama Islam)
PARADIGM STUDYING THE SUBJECT OF ISLAMIC
RELIGIOUS EDUCATION IN THE DISTRICT KANREAPIA
SDN TOMBOLO PAO GOWA
(Analysis Teaching Islamic Education)TESIS
Oleh
ST. RUKIYATI
Nomor Induk Mahasiswa: 01.14.368.2013
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2015
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI KANREAPIA
KECAMATAN TOMBOLOPAO
KABUPATEN GOWA
(Analisis Pembelajaran Pendidikan Agama Islam)
Yang disusun dan diajukan oleh
ST. RUKIYATI NIM: 01.14.368.2013
Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Tesis pada tanggal 17 Nopember 2013
Menyetujui Komisi Pembimbing
Pembimbing I, Pembimbing II,
Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng, M.A Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum
Mengetahui
Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi
Magister Pendidikan Islam
Prof. Dr. H.M. Ide Said, D. M, M. Pd. Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng, M.A.
َا
َْﳊ
ْﻤ ُﺪ
ﷲ
بر
،ﲔﳌﺎﻌﻟا
،
.
ةﻼﺼﻟا
مﻼﺴﻟاو
ﻰﻠﻋ
فﺮﺷأ
ءﺎﻴﺒﻧﻷا
ﲔﻠﺳﺮﳌاو
ﻰﻠﻋو
ﻪﻟا
ﻪﺑﺎﺤﺻاو
ﲔﻌﲨا
.
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur yang tiada terhingga hanya ke hadirat Allah Swt., atas karunia, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul: “Paradigma
Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa (Analisis Pembelajaran Pendidikan Agama Islam)”.
Sebagai sebuah studi, tesis adalah buah dari sejumlah amanah yang diemban dalam menempuh pendidikan Pascasarjana UNISMUH Makassar sejak tahun 2013. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materiil guna kesuksesan studi penulis. Oleh karena itu, ucapan terima kasih disampaikan dan ditujukan terutama kepada:
Pembimbing I bapak Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng, M.A dan Pembimbing II bapak Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum, dengan ikhlas telah meluangkan waktunya yang sangat berharga demi membimbing dan mengarahkan penulis berdasarkan metodologi yang berlaku di lingkungan Unismuh Makassar, sehingga tesis ini dapat mendekati kesempurnaan.
perkuliahan penulis.
Dr. H. Irwan Akib, M. Pd., Rektor Unismuh Makassar, dengan kepemimpinan manajerial beliau sehingga penulis dapat melanjutkan studinya pada Program Magister (S-2) Pascasarjana Unismuh Makassar dengan aman, nyaman, tertib, dan indah sesuai standar pembelajaran aktif.
Seluruh Guru Besar dan para Staf Pengajar PPs, Kepala Perpustakaan, Kepala Tata Usaha dan seluruh teman pada Program Pascasarjana Unismuh Makassar yang tidak sempat penulis sebutkan satu per satu dan banyak memberikan dukungan dan dorongan kepada penulis, sehingga tesis ini terwujud.
Basri B., S. Pd., M. Si., Kepala Sekolah Dasar Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa serta seluruh nara sumber (informan) yang tabah dan ikhlas menyediakan waktunya yang sangat berharga demi membantu penulis dalam mengumpulkan data untuk penyusunan tesis ini.
Sebagai persembahan utama tesis ini, penulis tujukan kepada kedua orang tua tercinta yang dengan ketulusan, keikhlasan, doa dan restu dari beliau terpatri ke dalam diri sanubari penulis sehingga mampu mencapai cahaya “Kebenaran”. Kepada suami tercinta, yang tak pernah kenal lelah mendampingi penulis senyum dan tawanya menjadi inspirasi
berlayar menuju samudra hari akhir. Juga kupersembahkan khusus buat putra-putri tercinta, semoga kalian menjadi anak saleh-salehah yang berbakti kepada orang tua, taat beragama dan berjuang untuk bangsa dan negara.
Penulis berusaha untuk memberikan yang terbaik dari apa yang penulis miliki atas terwujudnya tesis ini. Namun, pada akhirnya akan tampak juga kekurangan-kekurangan sebagai bukti keterbatasan penulis, terutama dalam menghimpun dan menganalisis data yang mendukung tesis ini.
Akhirnya, penulis berserah diri kepada Allah Swt., karena hanya dengan ridha dan ampunan-Nya sehingga tulisan ini dapat terwujud, sekaligus memohon ampun semoga jasa-jasa mereka yang telah membantu penulis dari awal hingga akhir penyelesaian studi pada Program Pascasarjan Unismuh Makassar mendapatkan imbalan setimpal dari Allah Swt. Dengan tesis ini semoga bermanfaat adanya. Terima kasih. Makassar, Nopember 2015 Penulis,
ST. Rukiyati
ST. RUKIYATI, 2013. Paradigma Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa (Analisis Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam), dibimbing oleh: H. Abd. Rahman Getteng dan Andi Sukri Syamsuri
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui paradigma pembelajaran dan metode Pendidikan Agama Islam pada SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan jenis data adalah data primer dan data sekunder. Dalam mengumpulkan data pada penelitgian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data lalu dianalisis secara analisis Domain (Domain
Analysis), analisis Taksonomi, dan analisis Komponensial. Penyajian
datanya direduksi dan disajikan dengan teks yang bersifat narasi.
Adapun hasil penelitian yang ditemukan menunjukkan bahwa paradigma pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa adalah kemampuan yang dimiliki murid adalah untuk membentuk kesalehan pribadi dan kesalahan sosial, sehingga Pendidikan Agama Islam yang mereka pelajari diharapkan jangan sampai menumbuhkan semangat kefanatikan berlebihan sehingga bersikap intoleran yang tentunya akan memperlemah
kerukunan hidup beragama dan persatuan nasional. Metode
pembelajaran yang diterapkan guru bidang studi Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Kanreapia tersebut adalah (1) Metode Ceramah, (2) Metode Tanya Jawab, (3) Metode Kerja Kelompok, (4) Metode Diskusi, (5) Metode Pemberian Tugas (PR), (6) Metode Pembiasaan, dan (7) Metode Keteladanan.
HALAMAN JUDUL ……… i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ……… ii
PENGESAHAN TESIS ……… iii
KATA PENGANTAR ……… iv
ABSTRAK ……… vii
ABSTRACT ……….. viii
DAFTAR ISI ……… ix
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Penelitian ……….. 1
B. Fokus Penelitian/Rumusan Masalah ………. 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ……… 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……….. 9
A. Tinjauan Hasil Penelitian ……….. 9
B. Tinjauan Teori dan Konsep ……… 12
1. Pengertian Paradigma Proses Pembelajaan …… 12
2. Prinsip-prinsip Belajar ……….. 19
3. Pendidikan Agama Islam ………. 20
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam ……… 19
b. Karakteristik Pendidikan Agama Islam ... 26
c. Tujuan Pendidikan Agama Islam ……… 27
d. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam …… 32
4. Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam ……… 40
C. Lokasi dan Waktu Penelitian ……….. 50
D. Teknik Pengumpulan Data ……… 51
E. Teknik Analisis Data ……… 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……… 55
A. Hasil Penelitian ……….. 55
1. Profil SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa ……….. 55
2. Paradigma Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa ……. 63
3. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa ……… 80
B. Pembahasan ………. 100
BAB V Simpulan dan Saran ……….. 110
A. Simpulan ……… 110
B. Saran ………. 111
DAFTAR PUSTAKA ………. 113
RIWAYAT HIDUP ……….. 118
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Bila menelaah peta kebangkitan pemikiran umat Islam pada beberapa dekade terakhir ini, sebenarnya banyak hal yang perlu ditanggapi secara positif dan digarap secara serius oleh kalangan intelektual muslim. Upaya tersebut salah satu tujuannya adalah menemukan paradigma baru bagi pengembangan pemikiran pendidikan agama Islam dan mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dinamika perubahan sosial budaya lainnya.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja
dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah (menyuluruh).
Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah
mencanangkan “Gerakan peningkatan mutu pendidkan” pada tanggal 2 Mei 2002; dan diamanatkan dalam Undang-Undang Sisdiknas (2003)
bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Bangsa” (Himpunan Peraturan Perundang-undangan N0. 20, 2003 : 75).
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, tangguh, kreatif, mandiri dan professional pada bidangnya masing-masing. Dalam pelaksanaan pendidikan ada beberapa komponen yang saling berhubungan di antaranya kepala sekolah, guru, siswa, dan sebagainya (stakeholder).
Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan nonformal, dan informal di sekolah, dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan individu, agar di kemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat. Pendidikan sebagai sebuah bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.
Begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju ke arah cita-cita tertentu, maka
yang merupakan masalah pokok bagi pendidikan adalah memilih arah atau tujuan yang akan dicapai. Kebutuhan akan pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, bahkan semua itu merupakan hak semua warga negara, berkenaan dengan ini, di dalam UUD 45 Pasal 31 ayat (1) secara tegas disebutkan bahwa: “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran”. Tujuan pendidikan Nasional dinyatakan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan nasional suatu bangsa menggambarkan manusia yang baik menurut pandangan hidup yang dianut oleh bangsa itu, dan tujuan pendidikan sesuatu bangsa mungkin tidak akan sama dengan bangsa lainnya, karena pandangan hidup mereka biasanya tidak akan sama dengan bangsa lainnya, karena pandangan hidup mereka biasanya tidak akan sama. Tetapi pada dasarnya pendidikan setiap bangsa tentu sama, yaitu semua menginginkan terwujudnya manusia yang baik yaitu manusia yang sehat, kuat serta mempunyai keterampilan, pikirannya cerdas serta pandai, dan hatinya berkembang dengan sempurna.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirumuskan, maka proses pembelajaran siswa perlu adanya motivasi yang dapat dijadikan
pendorong terhadap daya serap siswa, sebab siswa diharapkan dapat menyerap materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum, agar dapat meningkatkan prestasi belajar. Dari prestasi belajar, guru dapat mengetahui kedudukan siswa yang pandai, sedang atau kurang. Hal ini dirasa penting oleh karena rendahnya prestasi siwa dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain ketidakpuasan terhadap prestasi yang diperoleh dan kurangnya ransangan baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa.
Dengan demikian mengajar Pendidikan Agama Islam tidak hanya memberikan sejumlah materi tentang Pendidikan Agama kepada siswa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena Pendidikan Agama Islam bukan hanya materi saja, melainkan yang lebih penting bagaimana agar materi-materi tersebut dapat dipahami dan dapat mempengaruhi dalam proses pembelajaran mengajar. Agar dalam proses pembelajaran mengajar itu lebih efektif.
Jadi, Pendidikan Agama Islam merupakan suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh umat manusia dalam rangka meningkatkan penghayatan dan pengalaman Agama dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara. Menurut Ahmad D Marimba (1998: 9) : Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum Agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain seringkali ia mengatakan
kepribadian utama tersebut dengan istilah Kepribadian Muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai Agama Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas pengawas adalah sebagai supervisor, yaitu menyupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. (Syafaruddin, 2005 : 111).
Lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek “guru” dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalan dan kompetensinya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang profesional. Oleh karena itu, supervisor merupakan hal yang sangat penting dalam mengawasi peningkatan kompetensi guru khususnya.
Pendidikan Agama Islam sebagai usaha membina dan
mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek kerohanian dan jasmaninya juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena suatu pematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan al-Qur’an terhadap anak-anak agar terbentuk kepribadian muslim yang sempurna. Agar anak mempunyai akhlak yang mulia, anak didik diharapkan dapat memperhatikan pelajaran berbasis Agama sebagai kontrol dalam kehidupan anak didik agar mampu belajar mandiri.
Jadi, pembelajaran Agama Islam di SD Negeri Kanreapia Tombolopao adalah seluruh aktivitas secara sadar yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam kepada anak didik terhadap semua aspek perkembangan kepribadian secara formal, informal, maupun nonformal berdasarkan nilai-nilai al-Qur'an dan hadis serta berjalan terus-menerus untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis akan membahas tentang hal yang berkaitan dengan “Paradigma dalam Proses pembelajaran Peserta Didik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
B. Fokus Penelitian/Rumusan Masalah
Berdasarkan pada beberapa fenomena di atas, maka dalam penelitian ini akan dikemukakan permasalahan pokok sebagai berikut:
1. Bagaimanakah paradigma pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
2. Bagaimana metode pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
C. Tujuan Penelitian
Dari fokus penelitian di atas, maka penulis dapat memaparkan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui paradigma pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
2. Untuk mengetahui metode pembelajaran mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam pada murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Untuk memudahkan pembahasan yang akan dibahas dalam tesis ini, maka peneliti mengemukakan manfaat / kegunaan penelitian yaitu:
1. Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru untuk lebih meningkatkan aktivitas pembelajaran pendidikan agama Islam bagi murid SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
2. Sebagai pegangan atau patokan dalam menelaah proses pembelajaran mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
3. Hasil penelitian ini dapat menjadi komparatif atas hasil penelitian yang ingin dicapai sehingga memperoleh wawasan yang lebih luas.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Hasil Penelitian
Dari berbagai hasil penelitian berupa tesis yang telah dilakukan para peneliti sebelumnya, ditemukan beberapa karya ilmiah yang memiliki korelasi dengan penelitian yang peneliti lakukan.
Sebuah hasil penelitian berjudul Madrasah Model sebagai
Alternatif Peningkatan Mutu Madrasah; Studi tentang Pengembangan Madrasah di Sulawesi Selatan, merupakan judul penelitian yang
dilakukan oleh Iskandar Idy (2002: 7) dengan mengemukakan hasil penelitiannya, Pertama, mengapa Madrasah Model lahir, dan kedua bagaimana sistem pengelolaan manajemennya serta bagaimana manfaatnya dalam peningkatan mutu Madrasah secara keseluruhan. Masalah kedua, terkait dengan masalah manajemen mutu terpadu yang kemudian dapat dijadikan sebagai dasar proses peningkatan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam pada setiap lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan dasar Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SMP), Madrasah Aliyah (SMA) bahkan Perguruan Tinggi (PT). Juga yang tak kalah pentingnya dalam peningkatan mutu pendidikan adalah pencapaian tingkat profesionalitas guru pada sebuah lembaga pendidikan.
Guru yang profesional adalah guru yang senantiasa memiliki paradigma baru dalam menyajikan materi pembelajaran, sehingga
siswa senantiasa termotivasi mengikuti proses pembelajaran yang disajikan guru profesional tersebut.
Ditemukan juga hasil penelitian berupa yang berjudul Studi Mutu
Peningkatan pada Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Kabupaten Gorontalo; Suatu Kajian Manajemen Pendidikan Islam, ditulis oleh
Arman Lumoto. Hasil penelitian ini Arman Lumoto ini mengacu pada pola manajemen yang dilakukan oleh pihak MAN Insan Cendekia Gorontalo dalam upaya meningkatan mutu pendidikan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mutu pendidikan pada MAN Insan Cendekia Gorontalo berkategori tinggi yakni baik sekali oleh karena didukung proses pembelajaran yang baik. (Arman Lumoto, 2004: 121).
Hubungannya dengan penelitian yang penulis lakukan adalah pada bahasan tentang proses pembelajaran pendidikan agama Islam di
Sekolah Dasar, walaupun penulis berfokus pada masalah
profesionalisme guru pendidikan agama Islam, sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, namun di dalamnya juga ditemukan adanya upaya peningkatan kompetensi guru sehingga dalam setiap saat dapat menjadi guru yang inovator dan kreatif sebagai pengejewantahan dari paradigma baru pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam.
Hasil penelitian selanjutnya berjudul Implementasi Manajamen
Mutu Terpadu (Total Quality Management) pada Madrasah Aliyah Negeri Pangkep, ditulis oleh Sudirman. Secara sepintas, judul tersebut
tidak memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis lakukan karena di samping lokasi penelitiannya berbeda juga objek lembaga pendidikannya beda, ada MA dan ada SD. Namun bila dicermati masalah yang diteliti oleh Sudirman dalam hasil peneliannya itu tidak banyak perbedaan dengan penelitian ini. Pada intinya Sudirman meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi manajemen mutu terpadu pada MAN Pangkep dan upaya yang dilakukan Kepala MAN Pangkep untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan agama Islam (Sudirman, 2007: 124).
Sementara penulis dalam penelitian ini meneliti paradigma proses pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai salah satu harapan dari upaya pengarahan agar guru dapat menjadi guru profesionalisme yang dapat melahirkan paradigma baru dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Hal ini dimaksudkan agar mata pelajaran pendidikan agama Islam khususnya di tingkat sekolah dasar, dapat melahirkan sebuah paradigma baru yang dapat lebih meningkatkan konsentrasi siswa mengikuti proses pembelajaran pendidikan agama Islam.
Selain dari beberapa hasil penelitian yang disebutkan di atas, tentu masih ada lagi karya ilmiah lainnya berupa buku-buku yang obyek kajian dan atau penelitiannya memiliki hubungan dengan penelitian penulis dalam tesis ini. Yang jelasnya bahwa, buku-buku atau karya ilmiah yang dimaksud, serta hasil penelitian sebelumnya yang telah
disebutkan tadi banyak dapat mensugesti peneliti untuk lebih fokus pada paradigma pembelajaran yang dihasilkan guru profesional dalam menyajikan materi pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam.
B. Tinjauan Teori dan Konsep
1. Pengertian Paradigma Proses Pembelajaran
Kata paradigma berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu model, teladan, dan ideal. Berasal dari kata para yang berarti di samping memperlihatkan dirinya.
Menurut C. J Ritzer (1996 : 43) mengatakan bahwa “paradigma merupakan pandangan mendasar para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang seharusnya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan”.
Paradigma adalah konstruk berfikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu permasalahan dengan menggunakan teori formal, experimentasidan metode keilmuan yang terpercaya. Paradigma adalah suatu pandangan terhadap dunia alam sekitarntya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya
menjadi persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut.
Adapun kata proses bukan merupakan istilah yang asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita pasti melakukan proses yang bisa jadi berupa rutinitas atau bukan. Namun, pahamkan kita mengenai definisi proses? Bagaimana pula dengan pengertian proses menurut para ahli.
Istilah proses memiliki cakupan makna yang sangat luas karena bisa diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan dalam ilmu pengetahuan. Bahkan dalam dunia teknologi dan perkembangan sosial budaya, proses juga mengambil peranan penting. Itulah sebabnya membahas mengenai proses tidak bisa bila dikaji dalam bentuk umum karena masing-masing ilmu dalam pandangan kehidupan memiliki makna proses yang berbeda-beda. Mendefinisikan istilah proses bukanlah perkara mudah. Cakupannya yang terlalu luas membuat pengertian mengenai proses ikut beragam. Secara umum, proses diartikan sebagai sebuah urutan pelaksanaan atau peristiwa yang terjadi secara alami atau direkayasa (didesain).
Dalam sebuah proses kemungkinan menggunakan waktu, ruang, keahlian, atau sumber daya lainnya yang nantinya bisa menghasilkan suatu hasil tertentu. Mungkin bisa dikenali oleh perubahan yang dibuat pada sifat-sifat dari satu atau lebih objek di bawah pengaruh proses itu sendiri. Setiap proses yang telah berjalan selalu menghasilkan sesuatu, hasil yang diciptakan tersebut bisa berupa hasil yang memang diinginkan
atau hasil yang atau hasil yang tidak diinginkan. Contoh dari hasil yang tidak diinginkan adalah limbah, polusi, sampah, dan lain sebagainya.
Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktifitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio. Anugerah Tuhan tuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah Swt. Hingga dalam al-Qur’an dinyatakan Tuhan dalam Qs. Al-Mujadilah Ayat 11 sebagai berikut:
Terjemahnya:Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Departemen Agama RI. 2001: 111).
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperang penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005:40) mengatakan bahwa sebagian besar perkembangan sindividu berlangsung melalui kegiatan belajar.
Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli: Menurut Thursan Hakim (2005:1) mengatakan bahwa:
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan
kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman,
keterampilan, daya pikir, dan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hal senada juga dikatakan oleh Moh. Surya (1997:20) beliau mengemukakan bahwa:
Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya serta mengemukakan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang yang memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya sehingga dapat menjadi manusia yang dapat dijadikan panutan terhadap bangsa dan Negara.
a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya telah bertambah
atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses pembelajaran. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang Psikologi Pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
b. Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimamfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh: seorang mahasiswa belajar tentang Psikologi Pendidikan maka pengetahun dan keterampilannya dalam Psikologi Pendidikan dapat dimamfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
c. Perubahan yang bersifat aktif
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang Psikologi Pendidikan, maka mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang Psikologi Pendidikan, sehingga mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan
membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang Psikologi Pendidikan dan sebagainya.
d. Perubahan yang bersifat permanen
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses pembelajaran cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan keterampilan tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
e. Perubahan yang bertujuan dan terarah
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar Psikologi Pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
f. Perubahan perilaku secara keseluruhan
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengatahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar
tentang “Teori-teori belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-teori belajar”.
g. Perubahan yang bersifat positif
Perubahan perilaku yang bersifat normatif dan menunjukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang psikologi pendidikan menganggap bahwa dalam proses pembelajaran mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran psikologi pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip-prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya. Jika di dalam proses pembelajaran tidak mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan bahwa orang tersebut mengalami kegagalan di dalam proses pembelajarannya.
Oleh sebab itu, agama menganjurkan kepada kita untuk senantiasa belajar. Sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam (QS: Al-Alaq, 96:1-5):
Terjemahnya :Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Depag RI,2005 : 597).
Ayat di atas menggambarkan bahwa Allah Swt., sangat peduli terhadap hambanya. Hal ini terbukti ketika ayat pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw., beliau diperintahkan untuk membaca dengan menyebut nama Allah Swt. Perintah membaca ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, maka modal pertama yang harus dimiliki seseorang adalah membaca. Melalui aktivitas membaca inilah kemudian seseorang dapat memahami, mengerti dan mengetahui atau memperoleh ilmu pengetahuan.
2. Prinsip-prinsip Belajar
Agar aktifitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran terarah pada upaya peningkatan potensi siswa secara khonperensif, maka pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, yang bertolak dari kebutuhan internal siswa untuk belajar.
Davies (1991:32): mengingatkan beberapa hal yang dapat menjadikan kerangka dasar bagi penerapan prinsip-prinsip belajar dalam proses pembelajaran yaitu:
a). Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya.
b). Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuk setiap kelompok umur, terdapat pariasi dalam kecepatan belajar.
c).
Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement).d). Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran, memungkinkan murid belajar secara lebih berarti.
e).
Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajarisendiri, maka ia termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat lebih baik.
3. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebelum membahas pengertian Pendidikan Agama Islam, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti pendidikan pada umumnya. Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu
paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah
yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah, yang berarti pendidikan. (Ramayulis, 2004:12).
Secara normatif, Islam telah memberikan landasan kuat bagi pelaksanaan pendidikan.
Pertama, Islam menekankan bahwa pendidikan merupakan
kewajiban agama, dimana proses pembelajaran dan transmisi ilmu sangat bermakna bagi kehidupan manuia (QS, Al-alaq, 96:1-5).
Kedua, seluruh rangkaian pelaksanaan pendidikan adalah ibadah
kepada Allah SWT seperti pada QS. al-Haj (22): 54:
Terjemahnya:
Dan agar orang-orang yang Telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Depag RI : 471).
Sebagai sebuah ibadah, maka pendidikan merupakan kewajiban individual sekaligus kolektif.
Ketiga, Islam memberikan derajat tinggi bagi kaum terdidik, sarjana
Terjemahnya:Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Depag RI: 793).
Sedangkan dalam QS. al-Nahl [16] : 43 Allah berfirman sebagai berikut:
Terjemahnya:
Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempurjenyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Depag RI: 370).
Keempat, Islam memberikan landasan bahwa pendidikan merupakan aktivitas sepanjang hayat.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk membimbing,
mengarahkan, membina serta mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek jasmaniah dan rohaniah yang harus berlangsung secara
bertahap, yang dilakukan secara sadar agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Urgensi Pendidikan Agama Islam dapat dilihat dari pengertian Pendidikan Agama Islam itu sendiri. Di dalam UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat, antara lain Pendidikan Agama. Dan dalam penjelasannya dinyatakan bahwa Pendidikan Agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormat Agama lain dalam hubungan kerukunan agar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan Persatuan Nasional.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Quran dan hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Jadi upaya pembelajaran yang dilakukan dengan cara sengaja untuk menyiapkan peserta didik guna mengamalkan al-Qur'an dan hadis. (Mira Gustina, 2013: 27).
Dalam konsep Islam, Iman merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan dalam bentuk amal shaleh, sehingga menghasilkan prestasi rohani (iman) yang disebut taqwa. Amal saleh itu menyangkut keserasian dan keselarasan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang membentuk kesalehan pribadi, hubungan manusia dengan sesamanya yang membentuk kesalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan alam yang
membentuk kesalehan terhadap alam sekitar. Kualitas amal saleh akan menentukan derajat ketaqwaan prestasi rohani iman seseorang dihadapan Allah Swt.
Lebih lanjut Ahmat Tafsir (1994: 28) mengemukakan pengertian Pendidikan Islam adalah “bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai ajaran Islam”. Zakiah Darajat, (1994: 86) mengemukakan pengertian pendidikan Agama Islam adalah:
a. Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. b. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan melalui
ajaran-ajaran Agama Islam yaitu berupa bimbingan dan arahan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran Agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran Agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Menurut Muhaemin (2003:105), bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa prespektif, yaitu:
1. Pendidikan menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkan Islam, dan atau sistem pendidikan yang Islami yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al-qur’an dan al-Sunnah/Hadist.
2. Pendidikan ke Islaman atau Pendidikan Agama Islam yakni upaya pendidikan Agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.
3. Pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam, dalam arti proses bertumbuh kembangnya Islam dan ummatnya, baik Islam Nabi Muhammad saw.
Pendidikan Agama memelihara anak-anak, supaya mereka tidak menuruti nafsu yang murka, dan menjaga mereka supaya jangan jatuh kelembah kehinaan dan kesesatan. Pendidikan Agama menerangi anak-anak supaya melalui jalan yang lurus, jalan kebaikan, jalan ke Surga. Sebab itu mereka patuh mengikuti perintah Allah, serta berhubungan baik dengan teman sejawatnya dan bangsanya, berdasarkan cinta-mencintai, tolong-menolong dan nasehat-menasehati. Oleh sebab itu Pendidikan Agama harus diberikan mulai dari taman kanak-kanak sampai keperguruan tinggi. (Mahmud Yunus,1983:7-8).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu proses bimbingan jasmani dan rohani yang berlandaskan ajaran Islam yang terangkum dalam kitab suci al-Qur'an dan hadis Rasulullah Saw., dan dilakukan dengan kesadaran untuk mengembangkan potensi anak menuju perkembangan yang maksimal baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam.
b. Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan lainnya. Hal yang membedakan Pendidikan Agama Islam dengan pendidikan lainnya dapat dilihat dengan adanya perbedaan prinsip dan karakter masing-masing.
Karakteristik pendidikan Agama Islam sebagaimana disebutkan oleh Azyumardi Azra (1994:15) adalah penguasaan ilmu pengetahuan. Penekanan pada nilai-nilai akhlak dan pengembangan ilmu pengetahuan. Secara spesifik karakteristik pendidikan Agama Islam sebagai berikut :
a). Pendidikan Islam memiliki dua dimensi yakni Al-quran dan Hadist, untuk dunia dan akhirat.
b). Pendidikan Islam mewujudkan aturan-aturan yang positif. c). Pendidikan Islam berisi pendidikan moral dan etika, budi
pekerti.
d). Pendidikan Islam sebagai tugas suci bagi penganutnya.
e). Pendidikan Islam sebagai Taqarruf Ilallah. (Azyumardi Azra, 1994: 15).
Dari karakteristik pendidikan Agama Islam di atas, dapat dijadikan sebagai suatu bata pembeda yang dapat membedakan dengan pendidikan yang lain, sehingga eksistensi pendidikan Islam ditengah pendidikan lain dapat dilihat dan dibedakan dengan jelas karena pendidikan Agama Islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
c. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Secara umum, pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang Agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt., serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari tujuan tersebut dapat ditarik bebrapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam yaitu: (1) dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran Agama Islam, (2) dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran Agama Islam, (3) dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Agama Islam, dan (4) dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran Agama Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan dan menaati ajaran Agama dan niali-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah Swt serta mengaktualisasikan dan
merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. ( Muhaimin. 1983:78).
Adapun Muhammad Athiyah Al-Abrasy (1987:10) merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mencapai akhlak yang sempurna.pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan
Islam, dengan mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.
Tujuan pendidikan Agama dalam segala tingkat pengajaran umum adalah sebagai berikut (Mahmud Yunus, 1983:13) :
a. Menanamkan perasaan cinta dan taat kepada Allah dalam hati kanak-kanak yaitu dengan mengingatkan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya.
b. Menanamkan i’tikad yang benar dan kepercayaan yang betul dalam kanak-kanak.
c. Mendidik kanak-kanak dari kecilnya, supaya mengikuti seruan Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya, baik terhadap Allah ataupun terhadap masyarakat, yaitu dengan mengisi hati mereka, supaya takut kepada Allah dan ingin akan pahalanya. d. Mendidik kanak-kanak dari kecilnya, supaya membiasakan
akhlak yang mulia dan adat kebiasaan yang baik.
e. Mengajar pelajaran-pelajaran, supaya mengetahui macam-macam ibadah yang wajib dikerjakan dan cara melakukannya, serta mengetahui hikmah-hikmah dan faedah-faedahnya dan pengaruhnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Begitu juga mengajarkan hukum-hukum Agama yang perlu diketahui oleh tiap-tiap orang Islam, serta taat mengikutinya. f. Memberi petunjuk mereka untuk hidup di dunia dan menuju
akhirat.
g. Memberikan contoh dan tiru teladan yang baik, serta pengajaran dan nasehat-nasehat.
h. Membentuk warga Negara yang baik dan masyarakat yang baik yang berbudi luhur dan berakhlak mulia, serta berpegang teguh dengan ajaran Agama.
Dari berbagai penelitian tentang tujuan pendidikan Agama Islam di atas, bahwa pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan. Karena itu terdapat beberapa konsep dari tujuan pendidikan Agama Islam itu sendiri, diantaranta bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah untuk membina serta memelihara Islam sesuai dengan syari’ah serta memamfaatkannya sesuai dengan aqidah dan akhlak Islami. Sebagimana firman Allah Swt., dalam QS. Adz-Dzariyaat : 56 sebagai berikut:
Terjemahnya:Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Depag RI: 756)
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah untuk menyempurnakan hubungan manusia dengan Allah, menyempurnakan hubungan manusia dengan
sesamanya, memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antar manusia dan lingkungan.
Tim penyusun buku ilmu pendidikan Islam dalam (Nur Uhbyati, 1987: 60-61) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam ada 4 macam, yaitu:
1) Tujuan Umum
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi aspek kemanusiaan seperti sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama.
Bentuk insan kamil dengan pola taqwa kepada Allah harus tergambar dalam pribadi seseorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkah-tingkah tersebut.
2) Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan intruksional yang dikembangkan menjadi Tujuan Intruksional Umum dan
3) Tujuan Operasional
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan ini disebut juga tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan
Instruksioanal Khusus (TIU dan TIK). Tujuan instruksional ini merupakan
tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit kegiatan pengajaran. 4) Tujuan Akhir
Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami naik turun, bertambah dan berkurabg dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah membimbing dan membentuk manusia menjadi hamba Allah yang saleh, teguh imannya, taat beribadah dan berakhlak terpuji.
Jadi, tujuan pendidikan Agama Islam adalah berkisar kepada pembinaan pribadi muslim yang terpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial atau lebih jelas lagi, ia berkisar pada pembinaan warga Negara muslim yang baik, yang percaya pada Tuhan dan Agamanya, berpegang teguh pada ajaran Agamanya, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani.
Oleh karena itu berbicara tentang pendidikan Agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak-anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak.
Dengan demikian tujuan pendidikan merupakan pengalaman nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi muslim melalui proses akhir yang dapat membuat peserta didik memiliki kepribadian Islami yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan.
d. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam sebagai ilmu, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, karena di dalamnya banyak pihak yang terlihat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Adapun ruang lingkup pendidikan Islam (Imam Al-Gashali dalam Ramayulis, 2000:40) adalah sebagai berikut :
a. Perbuatan mendidik itu sendiri
Yang dimaksud dengan perbuatan mendidik adalah seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan dari sikap yang dilakukan oleh pendidikan sewaktu mengasuh anak didik. Atau dengan istilah yang lain yaitu sikap atau tindakan menuntun, membimbing, memberikan pertolongan dari seseorang pendidik kepada anak didik menuju kepada tujuan pendidikan Islam.
b. Peserta didik
Yaitu murid atau siswa yang merupakan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan perbuatan atau tindakan mendidik itu dilakukan untuk membawa peserta didik kepada tujuan pendidikan agama Islam yang dicita-citakan.
c. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Yaitu landasan yang menjadi fundamen serta sumber dari segala kegiatan pendidikan Agama Islam ini dilakukan adalah al-Qur'an dan hadis, ijma’ ulama dan UUD 1945 serta Peraturan Pemerintah. Tujuannya yaitu ingin membentuk peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertaqwa kepada Allah dan kepribadian Islam.
d. Pendidik
Yaitu orang yang memiliki pekerjaan sebagai tenaga pendidik (guru). Pendidik (guru) mempunyai peran penting untuk berlangsungnya proses pendidikan. Jadi pendidik adalah guru (orang) yang kerjanya mengajar, terutama di sekolah.
e. Materi Pendidikan Agama Islam
Yaitu bahan-bahan, pengalaman-pengalaman belajar ilmu Agama Islam yang disusun sedemikian rupa untuk disajikan atau disampaikan kepada peserta didik.
f. Metode Pendidikan Agama Islam
Yaitu cara yang dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Agama Islam kepada peserta didik. Metode di sini merupakan manhaj atau cara mengelola, menyusun dan menyajikan materi sehingga dengan mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik.
g. Evaluasi Pendidikan
Yaitu memuat cara-cara bagaimana mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap hasil belajar anak didik. Tujuan pendidikan Islam umumnya tidak dapat dicapai sekaligus, melainkan melalui proses atau pentahapan tertentu. Apabila tahap ini telah tercapai maka pelaksanaan pendidikan dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya dan berakhir dengan terbentuknya kepribadian muslim.
h. Alat-alat Pendidikan Islam
Yaitu alat-alat yang dapat digunakan selama melaksanakan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil.
i. Lingkungan
Yaitu keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanaan serta hasil pendidikan Islam.
Selain ruang lingkup tersebut di atas, juga ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah Swt, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan ketiga hubungan manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam juga identik dengan aspek-aspek Pengajaran Agama Islam karena materi yang terkandung didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Apabila dilihat dari segi pembahasannya maka ruang lingkup Pendidikan Agama Islam yang umum dilaksanakan di sekolah, termasuk di dalamnya sekolah dasar atau sederajat adalah :
1) Pengajaran keimanan
Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang aspek kepercayaan, dalam hal ini tentunya kepercayaan menurut ajaran Islam, inti dari pengajaran ini adalah tentang rukun Islam.
2) Pengajaran akhlak
Pengajaran akhlak adalah bentuk pengajaran yang mengarah pada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya, pengajaran ini berarti proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajarkan berakhlak baik.
3) Pengajaran ibadah
Pengajaran ibadah adalah pengajaran tentang segala bentuk ibadah dan tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran ini agar siswa mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Mengerti segala bentuk ibadah dan memahami arti dan tujuan pelaksanaan ibadah.
4) Pengajaran fiqih
Pengajaran fiqih adalah pengajaran yang isinya menyampaikan materi tentang segala bentuk-bentuk hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar'i yang lain. Tujuan pengajaran ini adalah agar siswa mengetahui dan mengerti tentang hukum-hukum Islam dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pengajaran al-Qur’an
Pengajaran al-Qur’an adalah pengajaran yang bertujuan agar siswa dapat membaca al-Qur’an dan mengerti arti kandungan yang terdapat di setiap ayat-ayat al-Qur’an. Akan tetapi dalam prakteknya hanya ayat-ayat tertentu yang di masukkan dalam materi Pendidikan Agama Islam yang disesuaikan dengan tingkat pendidikannya.
6) Pengajaran sejarah Islam
Tujuan pengajaran dari sejarah Islam ini adalah agar siswa dapat mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga siswa dapat mengenal dan mencintai agama Islam.
Prinsip-prinsip Pendidikan Agama Islam, (Zainuddin Ali, 2008: 37) antara lain:
a. Pendidikan Agama Islam sebagai suatu proses pengembangan diri Manusia adalah makhluk paedagogik, yaitu makhluk Allah yang dapat dididik dan dapat mendidik. Potensi ini merupakan pemberian Allah berupa akal-pikiran, perasaan, nurani, yang akan dijalankan manusia baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk yang bermasyarakat.
Potensi yang besar tidak akan bisa dimanfaatkan jika tidak berusaha untuk mengaktifkan, mengembangkan dan melatihnya. Hal itu membutuhkan sebuah proses yang akan memakan waktu, tenaga bahkan biaya, tetapi mengingat potensi yang luar biasa yang dimiliki akan sulit diraih sehingga hal itu tidak ada arti apa-apanya. Jadi pendidikan merupakan suatu proses untuk mengembangakan potensi diri yang dimiliki manusia (peserta didik).
b. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang bebas
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang diberikan kebebasan dalam berkehendak dan memilih,namun kebebasan yang dimiliki oleh manusia harus tetap berada dalam aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai pencipta dari manusia tersebut agar kehidupan manusia berjalan di atas rel yang telah ditentukan Allah untuk mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat nanti. Dalam hal ini pendidik bertugas mengarahkan dan menuntun peserta didik dalam kehidupannya.
c. Pendidikan Agama Islam penuh dengan nilai insaniah dan ilahiyah. Sumber akhlak manusia yang terbaik adalah agama Islam dimana kedudukan akhlak sangatlah penting sebagai pelengkap dalam menjalankan fungsi kemanusiaan di bumi. Pendidikan merupakan proses pembinaan akhlak pada jiwa. Meletakkan nilai-nilai moral pada anak didik harus diutamakan. Nilai-nilai ketuhanan harus dikedepankan, pendidikan Islam haruslah memperhatikan pendidikan akhlak atau nilai dalam setiap pelajaran dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi dan mengutamakan fadhilah dan sendi moral yang sempurna.
Prinsip Keseimbangan hidup dalam pendidikan agama Islam, meliputi prinsip keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kebutuhan jasmanai dan rohani, keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial, dan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal. Prinsip ini telah ditegaskan dalam al-Qur'an Surat al-Qashas (28): 77 sebagai berikut:
Terjemahnya:Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Depag RI. 556).
d. Prinsip persamaan.
Kesempatan belajar dalam Islam sama antara laki-laki dan perempuan, oleh karena itu kewajiban untuk menuntut ilmu juga sama. Sistem pendidikan tidak mengenal perbedaan dan tidak membeda-bedakan latar belakang orang itu jika dia mau menuntut ilmu. Semua punya potensi yang sama untuk di didik dan punya kesempatan yang sama untuk memproses diri dalam pendidikan.
e. Prinsip seumur hidup, sepanjang masa.
Pendidikan yang dianjurkan tidak mengenal batas waktu, tidak mengenal umur. Seumur hidup manusia harunya terdidik, mulai dari lahir sampai ke liang lahat. Seluruh kehidupan kita digunakan sebagai proses pendidikan, sebagai proses untuk menjadi hamba yang baik, menjadi insan kamil.
f. Prinsip diri.
Orang telah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Sebenarnya sudah mati sebeluhm mereka hidup, sebab tidak bisa melihat dunia dengan potensi panca indranya sendiri. Manusia adalah makhluk
yang sempurna dengan berbekal akal, perasaan yang bisa
dikembangkan. dengan inilah harkat manusia lsebih tinggi di banding makhluk lainya. Atau bahkan karena akalnyapun manusia bisa unggul dari manusia satu dengan manusia lainya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pendidikan Islam itu sangat luas, sebab meliputi segala aspek yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan Islam.
4. Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam
Perkembangan dunia pendidikan saat ini memang
perkembangannya sangatlah cepat. Seluruh komponen pendidikan harus terus-menerus diinovasi dan dikembangkan sesuai dengan paradigma baru yang terus berkembang. Paradigma ialah kerangka berfikir atau konsep yang dirangkai untuk menuju masa depan yang lebih baik atau juga disebut dengan mainstream. Paradigma baru dalam pendidikan sangat dibutuhkan guna menjadikan pola pikir kedepan dan proses dalam pembelajaran lebih berfikir intelektual. Paradigma pendidikan disesuaikan dengan cita-cita kedepan ingin meraih target yang bagaimana. Oleh
karena itu, diperlukan konsep-konsep baru untuk menghadapi
kemungkinan yang akan terjadi kedepan tentang pendidikan di negara kita ini. Paradigma pendidikan di Indonesia ini termasuk yang terlambat dalam menerapkan paradigma baru dalam melihat keunggulan suatu bangsa dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
Kesadaran dan keinginan yang kuat dari pemerintah dan rakyat Indonesia untuk memperbaiki sistem pendidikan adalah hal yang terpenting untuk mewujudkan pendidikan intelektual di Indonesia yang bisa merubah segala sistem yang berada di Indonesia. Kini bangsa Indonesia hidup di era globalisasi dan era reformasi yang keadaannya