BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
5. Pendidikan Agama Katolik (PAK)
Agama merupakan pegangan hidup setiap manusia yang seharusnya dilaksanakan dengan baik. Gereja Katolik berpandangan bahwa PAK merupakan salah satu bentuk katekese. Negara Indonesia menempatkan PAK sebagai bagian dari pendidikan nasional dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Secara khusus PAK dan agama lainnya diposisikan oleh negara untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta membina kerukunan hidup demi mewujudkan persatuan nasional (Sewaka, 1991:10).
Menurut Dapiyanta (2018: 1) bahwa PAK di sekolah merupakan sarana atau pelaksanaan pewartaan Kristus demi perubahan batin dan pembaharuan hidup secara langsung bagi kaum muda baik di sekolah negeri maupaun sekolah swasta. Dalam proses pembelajaran PAK iman kepada Kristus dibicarakan dan diolah secara bersama dan langsung. Dalam pertemuan lokakarya mengenai tempat dan peranan PAK di sekolah yang dilakukan oleh Komisi Kateketik di Malino (1981), dikemukakan bahwa PAK merupakan bagian dari katekese yang berusaha membantu peserta didik agar mampu menggumuli hidupnya dari segi
kristiani sehingga dapat menjadi manusia yang beriman. Mengutip Jacob dalam Dapiyanta (2008: 5) PAK di sekolah merupakan salah satu bentuk komunikasi iman yang meliputi pengetahuan, pergumulan dan penghayatan dalam berbagai bentuk. Dengan komunikasi iman itu maka pengetahuan peserta didik diperluas serta penghayatan iman peserta didik diperkaya (Wulung, 2008: 23).
Selain itu, Wulung (2008: 23) mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan suatu proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan oleh Gereja, sekolah, keluarga dan kelompok lainnya yang membantu peserta untuk semakin beriman. Pendidikan Agama Katolik membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan merupakan suatu usaha yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran peserta didik secara aktif dan mengembangkan potensi diri peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang digunakan untuk masyarakat, bangsa, negara dan diri peserta didik. Melalui PAK peserta didik dibantu dan dibimbing agar semakin mampu memperteguh iman terhadap Tuhan sesuai dengan ajaran Agama Katolik dan tetap mempehatikan dan mengusahakan penghormatan terhadap agama dan kepercayaan lainnya. Pada kurikulum 2013, Pendidikan Agama Katolik
menekankan agar peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap membangun hidup yang semakin beriman.
Dalam sekolah, Pendidikan Agama Katolik merupakan salah satu jembatan untuk mengembangkan iman peserta didik dan tingkah laku peserta didik serta semakin memperteguh iman mereka. PAK juga lebih mengutamakan peserta didik untuk menemukan iman mereka dan tidak hanya sekedar pengetahuan saja yang diterima oleh peserta didik. Dengan demikian, PAK merupakan suatu usaha yang dikembangkan secara terencana untuk mengembangkan kemampuan peserta didik khususnya dalam hal penghayatan iman mereka. Selain itu peserta didik juga diajak untuk selalu memperhatikan serta menghargai agama yang lainnya.
b. Model-model Pendidikan Agama Katolik
Model PAK saat ini bersifat plural dan secara terus menerus mengalami perkembangan. Dari kedua sifat tersebut menunjukkan bahwa proses penyelenggaraan PAK di sekolah berjalan secara dinamis dan progresif sehingga semakin berpusat pada peserta didik yang bersifat kontekstual (keadaan nyata) dan sungguh membantu peserta didik dalam perkembangan imannya (Wulung, 2008, p. 49). Adapun maksud dari model - model PAK adalah untuk membantu peserta didik memahami berbagai pendekatan PAK yang telah banyak digunakan oleh para guru. Model pendidikan PAK digunakan tidak untuk mengganti istilah pola pendidikan iman.
Wulung (2008: 52) mengemukakan ada 3 model pendidikan iman yang digunakan di sekolah maupun di lingkungan jemaat yakni:
1) Model Transmisi/ Transfer
Dalam model ini, pendidik (guru) menyampaikan atau mentransfer materi secara instruksional kepada peserta didik. Pendidik meyakini bahwa informasi tersebut sebagai suatu kebenaran yang harus dijaga dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Kebenaran tersebut biasa disampaikan dalam bentuk cerita dan pengakuan iman yang formal. Model ini juga mengikuti cara katekismus yaitu suatu pendekatan pengajaran iman dalam bentuk tanya jawab yang menitikberatkan pada penyampaian kebenaran ajaran Gereja yang dikemas secara singkat dengan maksud agar mudah dipahami, dihafal dan diulangi.
Model ini lebih berpusat pada pendidik yang mentransfer seluruh pengetahuannya pada peserta didik dengan menerapkan relasi guru dan peserta didik. Guru dan peserta didik saling melengkapi yang mana guru sebagai subyek dan peserta didik sebagai obyek. Model ini lebih pada segi kognitif karena peserta didik diajak untuk menghafal dan dari hafalan tersebut berkembang menjadi suatu pemahaman dan kemudian diterapkan.
2) Model yang Berpusat Pada Pengalaman Hidup
Model ini merupakan reaksi yang ekstrem terhadap model pendidikan yang dogmatis. Sifat yang ditekankan bukan lagi kognitif
melainkan kualitatif dan subyektif, yang artinya dalam proses yang ditekankan bukan lagi tentang menambah wawasan dan juga bukan menyampaikan materi sebanyak-banyaknya akan tetapi secara kualitatif berusaha memanusiakan manusia dan memperkembangkan kepribadiannya. Karena model ini sangat ekstrem memusatkan pada pengalaman peserta didik akibatnya juga semakin sempit. Secara pedagogis model ini dikritik karena hanya berkutat dan berhenti pada pengalaman. Selain itu, karena modelnya banyak menekankan pada sesi diskusi maka arahnya kurang jelas.
3) Model Praktis
Model praktis merupakan sintesis antara teori yang ditekankan pada model pertama dengan pengalaman hidup yang digarisbawahi oleh model kedua. Tujuan dari model ini yakni memperjuangkan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus di tengah kehidupan manusia.
Dalam lingkup dunia pendidikan, model yang biasa digunakan yakni model yang berpusat pada pengalaman hidup dan juga berpusat pada sumber belajar. Dalam proses pembelajaran PAK, pengalaman hidup peserta didik maupun guru sedemikian mungkin digunakan sebagai contoh konkret sehingga pengalaman hidup dan sumber belajar saling berkaitan.
Kurikulum 2013 ialah kurikulum yang terpadu sebagai suatu konsep sebuah sistem pendekatan pembelajaran yang melibatkan
beberapa disiplin ilmu untuk memberikan pengalaman yang bermakna pada peserta didik. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik aktif sesuai dengan 5 tahapan, yakni:
1. Mengamati
Pada proses mengamati, peserta didik merasa senang dan tertantang dalam pelaksanaanya. Peserta didik mengamati suatu hal sesuai dengan tema pembelajaran yang dibahas. Proses mengamati yakni membaca, mendengar dan melihat.
2. Menanya
Pada proses menanya menunjukan rasa ingin tahu peserta didik, perhatian peserta didik terhadap tema pembelajaran tersebut. 3. Mengumpulkan informasi/ eksperimen
Dalam proses mengumpulkan informasi, mengajak peserta didik untuk mengumpulkan pengetahuan dari berbagai sumber.
4. Mengasosiasikan
Dalam proses mengasosiakikan ini, peserta didik diajak untuk dapat merumuskan ide sesuai dengan informasi yang diperoleh.
5. Mengkomunikasikan
Dalam proses mengkomunikasikan ini, peserta didik diajak untuk dapat menunjukan hasil pekerjaannya dihadapan peserta didik lainnya.
c. Tujuan Pendidikan Agama Katolik
Wulung (2008: 23) mengungkapkan bahwa tujuan PAK harus bersifat holistik, menyeluruh yang dalam artian mencakup seluruh aspek hidup beriman peserta didik. Bersifat holistik artinya, sesuai dengan kepentingan hidup peserta didik. Tujuan PAK di sekolah mencakup 3 pokok yaitu:
1) Kognitif
Kognitif merupakan rana yang mencakup pemikiran. Tujuan dari aspek kognitif ini, mencakup kemampuan intelektual yang dapat dikatakan sederhana yakni memahami, mengingat hingga tahap memecakan masalah.
2) Afeksi
Afeksi merupakan rana yang mencakup tentang suara hati dan perasaan. Rana afeksi dalam pendidikan Agama Katolik mengajak peserta didik untuk menyakini iman yang mereka percayai.
3) Praksis
Praksis merupakan rana yang mencakup skil, tindakan atas iman yang dipercayai.
Ketiga unsur tersebut merupakan unsur pokok dari kehidupan orang beriman dan oleh sebab itu ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan.Yesus Kristus dalam sabda, karya dan seluruh hidupNya memiliki keprihatinan pokok mewartakan dan mewujudkan kerajaan Allah Wulung (2008:24). Terwujudnya kerajaan Allah merupakan visi dasar
atau tujuan utama seluruh kegiatan pendidikan iman dalam PAK demi terwujudnya Kerajaan Allah ditengah-tengah kehidupan manusia, yang merupakan kehendak Allah sendiri. Kerajaan Allah merupakan kondisi masyarakat yang adil, damai dan penuh cinta kasih. Terciptanya Kerajaan Allah ditengah-tengah masyarakat kaum lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD) sama dengan menyelamatkan hidup manusia. Terwujudnya kerajaan Allah merupakan inti dari tujuan PAK karena seluruh manusia dan ciptaan merupakan kehendak Allah sendiri, inti dari segala pewartaan dan tindakan Yesus Kristus , Kerajaan Alah menjadi inti injil dan inti hidup orang Katolik. Tujuan PAK dalam jangka panjang yakni kedewasaan iman yang mana kedewasaan iman dapat diartikan sebagai iman yang semakin matang secara penuh dan bersifat holistik serta mencakup segi meyakini (believing), mempercayai (trusting) dan melakukan kehendak Allah (doing God’s will). Pendidikan iman di sekolah merupakan suatu jembatan pendewasaan iman peserta didik secara seimbang dan mencakup tiga segi tersebut.
Dari pembahasan tujuan PAK di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan PAK yaitu membantu peserta didik dalam berproses membentuk kedewasaan iman mereka sesuai dengan ajaran agama Katolik. Adanya pelajaran PAK membantu peserta didik membangun diri dalam beriman, yang dalam artian kehadiran PAK membantu peserta didik terus menerus bertumbuh dalam iman dan mewujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 dan sesuai dengan pendekatan saintifik, media pembelajaran dalam bentuk aplikasi Logos dapat digunakan saat awla dan akhir pembelajaran. Aplikasi Logos digunakan diawal untuk membantu peserta didik dalam mencari informasi tentang tema yang akan dibahas, jadi peserta didik sudah terlebih dahulu membaca dan memahami tema tersebut di rumah. Aplikasi Logos juga dapat digunakan diakhir pembelajaran untuk mengingat kembali pembahasan tema yang sudah berlangsung di dalam kelas. Adanya quiz dan game yang ada dalam aplikasi Logos membantu peserta didik untuk mengingat kembali materi yang sudah dibahas.