• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP AHMAD DAHLAN A Biografi K.H Ahmad Dahlan

B. Pendidikan Ahmad Dahlan

3. Pendidikan Ahmad Dahlan Masa Dewasa

Ketika Ahmad Dahlan berusia 40 tahun 1909, K.H Ahmad Dahlan membuat trobosan strategi. Beliau bergabung dengan Budi Utomo dan Jami‟at kahair. Secara personal Ahmad Dahlan mengenal Budi Utomo melalui pembicaraan atau diskusi dengan Joyosumarto, seorang anggota Budi Utomo di Yogyakarta sekaligus pembantu di bidang kedokteran, Dr. Wahidin Sudirohusodo salah seorang pemimpin Budi Utomo yang tinggal di Ketandan Yogyakarta. Ia mempuyai banyak keluarga di kauman. Suatu hari ketika ia bersilaturahim di kauman Dahlan mengajak untuk singgah kerumah. Dari pertemuan itulah ia mulai mengenal Budi Utomo. Kemudian keinginannya bertemu dengan pengurus Budi Utomo disampaikan kepadanya (Suharto, 2006: 295).

Melalui joyosumarto ia berkenalan dengan dr. Wahidin Sudirohusodo secara pribadi. Ia pun sering hadir dalam rapat anggota maupun pengurus yang diselenggarakan Budi Utomo. Setelah banyak mendengar tentang aktivitas dan tujuan Budi Utomo melalui pembicaraan langsung dan pribadi secara resmi Ahmad Dahlan sebagai anggota Budi Utomo pada tahun 1909. Keterlibatannya di Budi Utomo memberikan pengetahuan yang banyak kepada Ahmad Dahlan perihal keorganisasian dan mengatur organisasi secara modern (Nizar, 2002:108-109).

24

Dalam perkembangan selanjutnya Ahmad Dahlan tidak hanya menjadi anggota biasa, melainkan pengurus kring kauman dan salah satu komisariat Budi Utomo cabang Yogyakarta. Melalui perkumpulan ini Ahmad Dahlan bisa menyampaikan pelajaran Agama pada anggotanya. Lebih dari pada itu, oleh karena anggota Budi Utomo pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah, di kantor-kantor pemerintahan. Pada akhirnya membuat Ahmad Dahlan dapat mengajar ilmu-ilmu Agama di sekolah- sekolah. Terbukti dengan apa yng diajarkan kepada anggota-anggota Budi Utomo di terima degan baik. Beliau juga diterima sebagai tenaga pengajar di Kweekschool Jetis akan tetapi megajarnya diluar jam pelajaran resmi, yang biasanya dilakukan pada hari sabtu sore (Nata, 1997: 205).

Selanjutnya pada tanggal 1 Desember tahun 1911, Ahmad Dahlan berhasil mendirikan sebuah sekolah agama di lingkungan kraton, dengan sistem pendidikan Gubernemen yang memberikan pelajaran umum. Di sekolah ini, Dahlan menerapkan segala gagasan fikirannya mengenai pendidikan. Dengan menggunakan metode pendidikan barat memakai kursi, meja dalam bentuk klasikal, sekolah ini sebagai cikal bakaal tumbuhnya gagasan pendirian Muhammadiyah. Raden Sosrosoegondo dan Mas Radji juga menyarankan Ahmad Dahlan mendirikan sekolah sendiri secara terpisah. Sekolah tersebut hendaknya didukung oleh suatu organisasi atau kumpulan yang bersifat permanen.

Dalam musyawarah dengan kepala Kweekschool, Budiharjo dan sekertaris Budi Utomo Dwidjosewodjo memberikan beberapa saran kepada

25

Ahmad Dahlan. Budi Utomo siap membantu mendirikan organisasi baru. Apabila Ahmad Dahlan didukung tujuh angggota Budi Utomo, setelah melalui diskusi pada akhirnya tujuh anggota Budi Utomo menyutujui di bentuknya organisasi baru diantaranya, Ahmad Dahlan, Raden Haji Syarkawi, Haji Mohammad soedja, haji Moehammad Hisja, Haji Moehammad Fachruddin, dan Haji Moehammad Tamim. Dengan kesepakatan itu tanggal 18 oktober 1912 berdirilah organisasi Muhammadiyah. Sejak awal Ahmad Dahlan sudah menetapkan organisasi muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak dibidang pendidikan. Tujuan organisasi ini untuk menyebarkan pengajaran Rosulullah kepada peduduk bumi putera dan memajukan hal agama Islam kepada para anggota-anggotanya (Suharto.2006:296-297).

Tepat pada tangal 20 desember 1912 Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah hindia belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada 1914 dengan surat ketetapan No.81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta, meskipun begitu Muhammadiyah berhasil tersebar keberbagai daerah, diantaranya Sradakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain.

Berdirinya organisasi Muhammadiyah ini padaa awalnya hanya ada delapan pengurus diantaranya Ahmad Dahlan sebagai ketua, sekertaris:

26

Abdullah Sirrat, Angggota: Ahmad, Abdul Rahman, Sarkawi, Muhammad, Jaelani, Akis dan Muhammad Fakih.

Agar dapat mengatasi permasalahan yang timbul karena dipersempitnya ruang gerak organisasi ini maka diambil jalan keluar dengan membuka cabang baru diluar Yogyakarta. Dan pada akhirnya dengan jalan keluar yang dipilih tersebut organisasi ini dapat berkembang ke berbagai daerah diantaranya Nurul Islah di pekalongan, Al Munir di Ujung Padang, dan Sidiq Amanah Tabligh Fatonah (SATF) di solo.

Semakin berkembangnya organisasi ini pada akhirnya semakin banyak jamah nya dan tidak hanya itu pergerakannnya semakin di gencarkan dalam bidang dakwah yakni dengan mengadakan pegajian dan perkumpulan yang membahas kepentingan Islam, perkumpulan- perkumpulan yang membahas kepentingan Islam mendapat dukungan penuh dari Muhamadiyah. Perkumpulan-perkumpulan yang mendapat dukungan Muhammaddiyah diantaraanya Ihwanul Muslimin, Taqwimmudin, Cahaya Muda, Hambudi Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-aba, Ta‟awanu alal birri, Ta‟aruf bima kanu wal-Fajri, Wal- Ashri, Jamiatul Muslimin, dan Syahrotul Mubtadi.

Semakin lama Muhammadiyah yang dipimpin Ahmad Daahlan semakin berkembang di seluruh pelosok negri Indoneia. Maka pada tanggal 7 Mei 1921 Ahmad Dahlan mengajukan surat permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang

27

Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Hingga pada akhirnya permohonan ini disetujui tepatnya pada tanggal 2 September 1921.

Selain itu Ahmad Dahlan pada tahun 1910, juga aktif di Jami‟at Khair sebagaii Anggota, ia menjadi anggota ke 7770 perkumpulan masyarakat Arab Indonesia bersama Husein Jayadiningrat. dalam Organisasi ini memuat tentang sekolah agama, Bahasa Arab serta bergerak dibidang sosial, juga sangat giat membangun jaringan dengan pemimpin- pemimpin di Negara-negara Islam yang maju.

Selain di muhammadiyah, Budi Utomo, Jami‟at Khair, Ahmad Dahlan juga aktif di Serekat Islam (SI) sejak tahun 1913. Bahkan ia menjadi komisaris sentral SI dan adviser (penasehat pusat) SI sekaligus sebagai ahli propaganda dari aspek dakwwah bagi SI. Ia termasuk rombongan yang mewakili pengurusan pengesahan Badan Hukum Serekat Islam (BHSI) bersama Cokroaminoto (Sucipto, 2010: 69-76)

Dokumen terkait