• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Islam Kontemporer Pemikiran Ahmad Dahlan

PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER PEMIKIRAN AHMAD DAHLAN

C. Pendidikan Islam Kontemporer Pemikiran Ahmad Dahlan

Ahmad dahlan mengatakan bahwa, selain dalam sekolah-sekolah islam yang hanya mengajarkan peserta didiknya tentang pelajaran agama Islam juga penting bagi mereka mendapat pengajaran tentang pengetahuan umum. Pendidikan ini digunakan dalam konteks yang luas tidak hanya terbatas pada sekolah formal melainkan mencangkup semua usaha yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan. Nilai dari generasi terdahulu kepada generasi yang maasih produktif. Berorientasi pada pendidikan modern dengan menggunakan klasikal secara tradisionl dan secara integral (Hafner, 2008: 18).

Menurut Ahmad Dahlan dalam kiprahnya di dunia pendidikan adanya modernisasi sudah seharusnya membawa pembaharuan dan kemajuan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik lagi karena dengan demikian pendidikan Indonesia akan lebih repentatif dalam bersaing dan menambah ilmu pengetahuan dari dunia luar.

Maka pada masa itu pada abad ke 20-an didirikan sekolah HIS dan Schakelschool yang dikembangkan oleh Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan kedua sekolah itu adalah 10 % dan 20 % sekolah

59

Muhammadiyah secara nasional atau 0.3 atau 2 % pendidikan setingkat diseluruh Indonesia.

Adanya modernisasi pendidikan mengubah pola pemurnian Islam kebetuk Inklusif dan kultural dengan mengakomodasi budaya lokal dan sufiisme teoritis, tanpa struktur tarekat. (Mulkhan. 2013:189)

Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan dalam organisasi Muhammadiyah ada 2 rumusan tujuan Muhammadiyah yang didalamnya terdapat pemikiran nya mengenai mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan agama Islam di Sekolah-sekolah yang isinya antara lain:

1. “ Menyebarkan pegajaran agama Kanjeng Nabi Muhammad saw kepada penduduk bumi putera didalam Residensi Yogtakarta”

2. “ Memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya”. Kegiatanya meliputi: (1) “ Memperdirikan dan memelihara atau menolong dalam pengajaran biasa disekolah, juga dipelajari pengajaran agama Islam seperlunya”. (2) “ Mengadakan perkumpulan anggota-anggota dan lain anggota yang suka dating, yaitu membicarakan perkara-perkara agama Islam, (3) “ Memperdirikan dan memelihara atau menolong langgar- langgar (wakaf dan masjid), yang mana terpakai melakukan hal-hal agama atau menetapi keperluan agama Islam seperlunya”. Dan (4) “ mengeluarkan sendiri atau memeberi pertolongan kepada mengeluarkan buku-buku, surat sebaran, surat terbitan atau surat kabar, yang didalamnya termuat perkara-perkara agama Islam, hal kebaikannya kelakuan pengajaran dan kepercayaan yang baik, yang masing-masing tujuannya

60

bisa mendapatkan maksudnya perhimpunan itu, tetapi sekali-kali tidak boleh menerjang wet-wetnya Negeri atau melanggar peraturan-peraturan umum atau hal yang baik-baik” ( Hefner. 2008: 37).

Jelas dijelaskan dalam tujuan yang kedua poin pertama yang isinya mendirikan dan memelihara pendidikan agama didalam sekolah-sekolah umum, hal tersebut bisa menjadi bukti pemikiran Ahmad Dahlan tentang pengintegrasian pendidikan umum dengan pendidikan agama Islam yang dilakukan didalam sekolah-sekolah umum yang pada masa dahulu pendidikan agama hanya dilakukan di Masjid, Pondok Pesantren dan Madrasah namun dengan pemikiran yang demikian dapat menumbuhkan semangat pembangunan pendidikan agama Islam yang lebih berkompetitif dalam pengembangan pendidikan sains ataupun pendidikan umum lainnya. Dari keseluruhan penjelasan tentang pemikiran Ahmad Dahlan tentang konsep pendidikan agama Islam kontemporer berisikan sebagai berikut:

a. Bersikap Inklusif

Adanya modernisasi pendidikan membuat Ahmad Dahlan lebih inklusif dalam hal beragama sehingga membuat pendidikan agama yang dibawanya dapat berkembang pesat didalam berbagai lingkungan baik itu lingkungan elit ataupun lingkungan pedesaan. Sehingga tidaklah susah untuk memulai pendidikan agamanya dalam lingkungan pendidikan umum.

Pembaharuan Ahmad Dahlan merupakan fungsionalisasi ajaran Islam dengan sikap terbuka atas tradisi lokal, peradaban

61

sekuler dan iptek yang dikembangan bangsa barat. Latar belakang dari Ahmad Dahan yang merupakan elite priayi jawa, yang memegang jabatan sebagai abdi dalem (pejabat) dalam sistem kekuasaan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Membuatnya banyak bergaul secara intens dengan pejabat-pejabat kolonial belanda dan pastur-pastur Kristiani.

Gagasan terpentingnya yang tidak banyak diketahui oleh aktivis Muhammadiyah dan khalayak ramai yakni penempatan iptek modern dan pengalaman bangsa barat sebagai pengalaman universal yang kompatibel dengan Al Qur‟an dan praktis ajaran Islam. Ahmad Dahlan berpendapat semua orang Islam harus selalu menjalankan dua fungsi, yaitu murid dan guru. Maksudnya sebagai murid harus selalu mencari ilmu dan sebagai guru harus selalu menyebarkan ilmu yang diperoleh.(Hefner. 2008: 18)

Gagasan ini dimulai dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) meimbulkan problem berbeda dengan masa kenabian dan generasi salafi. Pada akhirnya menciptakan pembaharuan yang dibawa Kiai Ahmad Dahlan yang dijadikan sebagai fungsionalisasi ajaran Islam dengan sikap terbuka dan tradisi local, peradaban sekuler dan duniawi ialah ajang kreativitas dalam merealisasi fungsi utama manusia sebagai khalifah.

Hal tersebutlah yang membuat Ahmad Dahlan di catat sebagai orang yang inklusif, dengan sifat inklusifnya itulah yang

62

membuat Ahmad Dahlan dapat dengan mudah memasukkan Pendidikan Agama Islam dalam pendidikan umum.

Dalam sidang tahunan 1992, kiai Ahmad Dahlan menyatakan, kebahagiaan dunia-akhirat harus dicapai dengan pengetahuan yang benar dari hasil penelitian. Kecerdasan ialah kemampuan mengatasi penderitaan disertai selalu ingat kepada Allah. Dalam kongres Islam Cirebon, kiai Ahmad Dahlan menyatakan, karena persamaan kedudukan, tidak perlu perantara dalam ibadah.(Hafner2008: 42)

Karena itu, menurut pandangan Kiai, manusia harus bekerjasama dengan semua pihak, walaupun berbeda agama.yang pada akhirnya kiai Ahmad Dahlan dapat memasukkan pendidikan agama Islam dalam pendidikan umum pada masa nya di sekolah- sekolah colonial belanda diantaranya, HIS, Schakelschool (3 th, sekolah angka 2), Vorvogschool (2 th, lanjutan Schakelschool), Volksschool (3th, semula khusus wanita) atau standart school(pria wanita) MULO dan sekolah Guru Islam (Kweekschool Islam), HIK, Normaalschool, AMS, HIS Mide Qur‟an, kursus Guru dan Mubaligh, serta Madrasah khusus malam hari.

b. Penggunaan metode pengajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa.

63

Ahmad Dahlan mengusung metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa sehingga mampu menarik perhatian siswa untuk memahaminya (Sucipto. 2010: 123).

Dengan demikian Ahmad Dahlan sudah menerapkan pemahaman tentang multiintelegent (bermacam-macam kecerdasan ) dimana setiap siswa memiliki kecerdasan masing-masing dan tidak memaksakan pendidikan yang yang diajarkannya. Sehingga para peserta didik yang mengikuti pendidikan yang dselenggarakan Ahmad Dahlan merasa senang dan tertarik untuk mengikuti setiap pembelajaraan yang diselenggarakan Ahmad dahlan.

D. Relevansi Pemikiran Ahmad Dahlan tentang Pendidikan Agama Islam

Dokumen terkait