• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian Teori

5. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut Hallahan dan Kauffman (dalam Abdul Hadis, 2006: 5)

mengungkapkan bahwa anak berkebutuhan khusus (dulu disebut sebagai anak

luar biasa) didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan

khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna.

Menurut Abdul Hadis (2006: 5-6) mengungkapkan bahwa anak luar biasa

disebut sebagai anak berkebutuhan khusus karena dalam rangka memenuhi

layanan sosial, bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya

yang bersifat khusus.

Sementara menurut Frieda Mangunsong (2014: 4) mengungkapkan bahwa

anak yang tergolong berkebutuhan khusus adalah anak yang menyimpang dari

rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan

sensorik, fisik dan neuromoskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan

berkomunikasi, maupun kombinasi dua atau lebih dari hal-hal di atas sejauh ia

memerlukan modifikasi dari tugas-tugas sekolah, metode belajar atau pelayanan

terkait lainnya, yang ditujukan untuk mengembangkan potensi atau kapasitas

secara maksimal.

Berdasarkan teori yang telah disampaikan di atas maka dapat disimpulkan

bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memerlukan layanan

khusus karena menyimpang dari rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental,

kemampuan sesorik, fisik maupun neuromoskular, perilaku sosial dan emosional,

kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasinya untuk dapat dikembangkan

potensi kemanusiaan mereka secara sempurna melalui layanan pendidikan,

layanan sosial, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.

b. Klasifikasi anak berkebutuhan khusus

Menurut Abdul Hadis (2006: 6) mengungkapkan bahwa dalam dunia

pendidikan anak berkebutuhan khusus diklasifikasikan ke dalam delapan

kelompok sesuai dengan jenis kelainan anak meliputi: (1) keterbelakangan

mental, (2) ketidakmampuan belajar, (3) gangguan emosional, (4) kelainan fisik,

(5) kerusakan atau gangguan pendengaran, (6) kerusakan atau gangguan

Sementara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 72 Tahun

1991 tentang Pendidikan Luar Biasa mengemukakan klasifikasi sebagai berikut:

1. Kelainan fisik, meliputi: tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa

2. Kelainan mental, meliputi: tunagrahita ringan, dan tunagrahita sedang. 3. Kelainan perilaku, meliputi: tunalaras

4. Kelainan ganda

Sementara menurut Dembo (dalam Abdurrachman dan Sudjadi, 1994: 9)

mengklasifikasikan anak berkebutuhan belajar untuk keperluan pembelajaran

sebagai berikut:

1. Tunagrahita (mental reterdation)

2. Berkesulitan belajar (learning disabilities)

3. Gangguan perilaku dan emosi (behavior disorders)

4. Gangguan bicara dan bahasa (speech and leangue disorders) 5. Kerusakan pendengaran (hearing impairment)

6. Kerusakan penglihatan (visual impairment)

7. Kerusakan fisik dan gangguan kesehatan (physical and other development) 8. Cacat berat atau cacat ganda (severe and multiplehandicaps)

9. Berkecerdasan luar biasa tinggi atau berbakat (gifted and talented)

Berdasarkan teori yang telah disampaikan di atas maka dapat disimpulkan

bahwa klasifikasi anak berkebutuhan khusus hanya dilakukan untuk keperluan

pembelajaran. Klasifikasi tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis kelainan

yang dimiliki anak tersebut meliputi: (1) kelainan fisik (gangguan penglihatan,

pendengaran, wicara dan cacat kesehatan), (2) Ketidakmampuan belajar, (3)

kelainan mental (tunagrahita), (4) kelainan perilaku (tunalaras), (5) kelainan

emosinal, (6) kelainan ganda, serta (7) kelompok anak berkecerdasan tinggi atau

berbakat.

c. Pendidikan anak berkebutuhan khusus

Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional (UUSPN) pada pasal 32 butir 1 disebutkan bahwa pendidikan khusus

mengikuti pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/

atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Menurut Abdul Hadis (2006: 30) mengungkapkan bahwa program

pendidikan berkebutuhan khusus adalah rencana kegiatan pendidikan yang akan

diberikan kepada anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah khusus maupun

di sekolah-sekolah regular yang menerapkan sistem pendidikan inklusif.

Berdasarkan teori yang telah disampaikan di atas maka dapat simpulkan

bahwa pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah rencana kegiatan

pendidikan yang ditujukan kepada anak yang berkebutuhan khusus yang

mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,

emosional, mental, sosial, dan memiliki potensi kecerdasan/ bakat istimewa yang

dilaksanakan di sekolah khusus maupun sekolah regular yang mengadakan

sistem pendidikan inklusif.

d. Kurikulum pendidikan anak berkebutuhan khusus

Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional (UUSPN) pada pasal 1 butir 19 disebutkan bahwa kurikulum adalah

seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran,

serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Menurut Abdul Hadis (2006: 33-34) mengemukakan bahwa setiap satuan

pendidikan dalam penyelenggaraannya harus berpegangan pada kurikulum

terbaru yang berlaku saat ini. Dalam pelaksanaannya, kurikulum harus

disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus bagi peserta didik di

Bentuk kurikulum pada pendidikan berkebutuhan khusus berbeda dengan

kurikulum di pendidikan regular/ umum. Perbedaan antara kurikulum di SMA

reguler dengan SMALB dapat diuraikan pada tabel berikut ini.

Tabel 05. Perbedaan Kurikulum SMA LB dengan SMA Reguler

No Perbedaan

SMA LB SMA Reguler

1 Menggunakan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

2 kurikulum di SMALB Tunagrahita Ringan atau SMALB/C lebih ditekankan pada penguasaan su-atu jenis pekerjaan karena sedikit kemungkinan/ tidak dapatnya anak tunagrahita melanjutkan pedidikan ke jenjang yang lebih tinggi

Kurikulum di SMA reguler kurikulum ditekankan pada keseimbangan an- tara penguasaan lapangan peker-jaan tertentu dengan kemungkinan melanjutkan ke perguruan tinggi

3 Strategi pembelajaran menggu- nakan strategi pembelajaran diindividualisasikan.

Strategi pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran untuk anak normal

4 Jumlah siswa yang cenderung sedikit karena dalam sistem pengajaran menitikberatkan pada sistem individual

Jumlah siswa cenderung banyak

5 Modifikasi kurikulum dilakukan terhadap isi, alokasi waktu, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, lingkungan belajar dan pengelolaan kelas

Tidak ada modifikasi kurikulum.

(Sumber:SLBNegeriSemarang.blogspot.com)

Isi kurikulum di SMALB/C meliputi: kelompok bina diri, kelompok akademis

(Pendidikan agama, kewarganegaraan, bahasa, berhitung, IPA, IPS), kelompok

sensorimotor, dan kelompok keterampilan vokasional/ teknologi informasi dan

komunikasi. Pada jenis keterampilan vokasional yang dikembangkan, diserahkan

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan maka dapat disimpulkan

bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,

isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan

tertentu. Kurikulum yang digunakan di setiap jenjang pendidikan haruslah

kurikulum yang terbaru dan telah disesuaikan untuk anak berkebutuhan khusus.

Di SMA Luar Biasa Negeri 1 Yogyakarta mengacu pada kurikulum KTSP

Khusus dimana isinya disesuaikan dengan memperhatikan perbedaan individual

dan MA (Mental Age) yang sama dengan anak biasa dan pokok bahasan yang

dianggap penting mendapat bobot yang lebih banyak. Kegiatan pembelajaran di

SMA Luar Biasa Negeri 1 Yogyakarta menggunakan proporsi mata pelajaran

akademis 30% dan mata pelajaran keterampilan 70% karena sekolah ini lebih

menekankan pada kesiapan siswa tunagrahita ringan dalam memasuki dunia

kerja. Mata pelajaran keterampilan yang disediakan di sekolah ini sangat

beragam termasuk salah satunya adalah mata pelajaran keterampilan

menyulam.