• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Berbasis Keterlibatan dan Tindakan Nyata

Inisiatif PKB Dalam Pendidikan Non-Formal dapat memperkaya pengetahuan peserta mengenai konsumsi berkelanjutan dengan

E. Pendidikan Berbasis Keterlibatan dan Tindakan Nyata

1. Climate Smart Leaders Program – Aksi Nyata Pemuda

The Climate Smart Leaders (CSL) Program bertujuan untuk mendorong generasi muda (usia 15- 24 tahun) untuk melakukan tindakan nyata dalam situasi perubahan iklim dengan membuat proposal proyek aksi nyata, sebagai upaya mereka untuk terlibat aktif membangun masa depan mereka. Diluncurkan oleh Yayasan Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2010, program ini telah menarik lebih dari 150 proposal tiap tahunnya. Ternyata para pemuda kreatif dan bersedia untuk aktif mengatasi dampak perubahan iklim. Setelah terseleksi 24 finalis mereka mengikuti CSL Camp selama 5 hari. Selama Camp mereka belajar lebih banyak mengenai pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, kepemimpinan, manajemen proyek, dan bisnis dengan misi sosial dan lingkungan. Juga ada sesi tentang daya dukung lingkungan terkait konsumsi berkelanjutan. Mereka juga melakukan kunjungan lapangan, melihat proyek aksi yang nyata untuk mendapat inspirasi dan membuat mereka lebih berkomitmen pada proyek aksi mereka. Pemenangnya akan menerima sejumlah dana untuk mendukung proyek mereka selain juga menerima Penghargaan Emil Salim bagi Generasi Muda yang merupakan penghargaan bergengsi dari tokoh yang diakui di Indonesia maupun di tingkat internasional sebagai pemimpin di bidang lingkungan dan mantan Menteri Lingkungan Hidup yang pertama. Program semacam ini mendorong kreativitas dan inovasi dari generasi muda, membangun tradisi penelitian, dan mendorong keterlibatan dalam mencari solusi untuk masalah yang dihadapi negara dan kelestarian lingkungan. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi website Climate Smart Leaders Program www.cli- matesmartleaders.net

PKB dalam hal ini berperan memberi inspirasi kepada kelompok generasi muda untuk menerjemahkan PKB dalam tindakan nyata, memasukkan materi PKB ke dalam pelatihan Camp, dan juga menyebar-luaskan gagasan yang sudah terbukti berhasil dilaksanakan,

Pemanfaatan limbah udang untuk bahan obat penu- run kolestrol dengan harga relatif murah, penggunaan bakau sebagai pewarna alami, pemanfaatan sampah kelapa sawit sebagai sumber energi, ampas teh untuk pakan ternak dsbnya, adalah beberapa gagasan yang dapat dikembangkan dan direplikasi.

2. Clean Batik Indonesia – Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan

Clean Batik Indonesia adalah usaha batik rumah-tangga yang memperhatikan tanggung- jawab lingkungan dan sosial. Batik yang merupakan kain dengan desain batik, diproses dengan cara manual (ditulis atau dicap yang prosesnya menggunakan tangan), menggunakan pewarna alami, memakai sumber energi yang ramah lingkungan dan aman bagi pekerja, limbah cair dan bahan kimia dikelola dengan tepat, serta pembatik diberi ruangan dengan sirkulasi udara yang baik, dan gaji yang wajar. Proyek binaan dari European Union ini, masih memerlukan promosi yang lebih luas, agar konsumen bisa memilih batik tulis dan cap, yang secara budaya memelihara warisan tradisi melukis kain (membatik), menggunakan bahan yang aman lingkungan (pewarna alami), dengan pembatik yang diperlakukan sesuai hak buruh (mendapat upah wajar, ruang kerja dan alat kerja yang sehat).

Dengan promosi yang luas maka konsumen dididik untuk memilih Clean Batik, PKB dalam hal ini mempopulerkan batik tulis dan dengan pewarna alami, agar konsumen memilih batik jenis ini, yang produksinya bertanggung-jawab secara lingkungan dan secara sosial, dibanding batik pabrik yang tidak memperhatikan dampak lingkungan maupun nasib buruh. Semakin banyak konsumen memilih batik ini, maka insentif bagi industri rumah tangga

Gambar 3.39: Batik tulis dengan pewarna alami

3. Mebel Bersertifikasi “Sustainable Furniture” – menggunakan kayu dari hutan dengan manajemen berkelanjutan

Java Furni Lestari adalah perusahaan mebel di Jawa Tengah yang mengadaptasikan kerangka kerja berkelanjutan (sustainability) sebagai model bisnis sehingga konsumen dari pasar ekspor dapat membeli furnitur yang dibuat secara bertanggung-jawab (sustainable furniture). Kayu yang digunakan untuk membuat mebel dijamin berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan (sustainable forest management). Lebih dari itu, pembeli dapat melacak asal kayu dari mebel yang dibelinya. Seluruh mebel yang diproduksi telah disertifikasi oleh lembaga internasional seperti TUV Rheinland dan Forest Stewardshi Council. Harga dari mebel yang disertifikasi dan berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan lebih mahal dari mebel sejenis yang tidak mendapat sertifikat serupa. Produk semacam ini dijamin telah melalui proses yang layak yang melestarikan lingkungan (kayu bukan berasal dari perambahan hutan tapi dari hutan bersertifikasi). Untuk informasi lebih lanjut hubungi www.javacer- tifiedwood.com dan www.javafurniture.com. Materi PKB perlu mempromosikan produk semacam ini kepada konsumen domestik sehingga konsumen lokal mempunyai pilihan ketika mencari produk yang tepat, yang diproduksi dengan cara yang bertanggung- jawab.

Dengan makin dikenalnya produk mebel berkelanjutan yang bersertifikasi maka dengan konsumen yang beralih ke produk semacam ini akan perlahan-lahan menurunkan produksi mebel dari kayu yang tidak jelas asal-usulnya. Di pasar domestik mebel ini belum populer meski sudah memiliki sertifikasi ramah lingkungan. PKB mendidik publik tentang produk berkelanjutan dan PKB dapat mempromosikan praktek keberlanjutan ini kepada usaha batik lainnya. Selain itu PKB dapat mendidik konsumen agar memilih produk yang dihasilkan dengan cara yang bertanggung jawab.

Gambar 3.40: Eco-label pada produk Java Furniture

Info lebih lanjut tentang pelatihan Clean Batik bagi para pembatik dapat dilihat di www.cleanba- tik.com. Informasi ini penting karena belum ada eco label untuk Clean Batik. PKB dapat mendidik pengetahuan tentang clean batik kepada komunitas pembatik dalam industri rumah di seluruh Indonesia, dan mempromosikan produk clean batik kepada konsumen.

Boks 3.5: Pertanian dan Perikanan untuk Pemenuhan Kebutuhan Sendiri:

Sebuah Skema Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan

Dalam kegiatan pertanian dan perikanan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (self-subsistence), maka produksi yang berkelanjutan sangat erat terkait dengan konsumsi berkelan- jutan. Bila dalam produksi tidak berkelanjutan maka dampak langsung terjadi pada konsumsi yang tidak berkelanjutan. Sebagai contoh: petani kecil yang menggantungkan hidup keluarganya pada hasil padi dari sawah yang terbatas tidak akan mendapatkan beras sebagai konsumsi keluarga bila proses produksi padi terganggu. Tidak cukupnya air, salah memakai pestisida (sehingga terserang hama, dan hilang nya musuh alami hama), kurangnya pupuk organik, akan berakibat pada berkurangnya jumlah produksi yang bila berlanjut maka seluruh keluarga tidak mendapat cukup beras untuk dikonsumsi demi hidup sehat. Hal ini menunjukkan ketergantungan konsumsi berkelanjutan pada produksi berkelanjutan.Situasi yang sama bisa terjadi pada kelu- arga nelayan, dan pedagang kecil yang bila tangkapan ikan atau produksi rumah tangganya dan perdagangan terganggu maka secara langsung konsumsi keluarga terganggu. Dapat dikatakan, kelompok ini rentan terhadap goncangan perubahan. Pada masyarakat tertentu mereka menyim- pan hasil panen di lumbung padi untuk menghadapi musim kering atau bila beruntung dan ada kelebihan mereka menabung sedikit untuk keadaan darurat, atau bila dalam komunitas terdapat mekanisme solidaritas sosial dimana yang berlebihan berbagi dengan yang kekurangan dan saling bergantian membantu dan sistem arisan (tabungan bersama) yang dibagi bergilir.

Gambar 3.41: Anak-anak Masa Depan: Konsumsi Berkelanjutan untuk Kehidupan Generasi Mendatang

Untuk merancang materi adalah sangat penting untuk melihat konteks dimana kelompok sasaran itu tinggal sehingga PKB menjadi relevan, dapat mudah dipahami, dan berpotensi untuk mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan dalam membangun materi PKB:

1. Formulasi masalah dan prioritas berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Identifikasi apa yang merupakan tantangan utama dan masalah yang ada terkait topik PKB. Masalah dapat terkait kesehatan, kebiasaan hidup bersih, cara penangkapan ikan/praktek pertanian, efisiensi energi, perilaku konsumerisme, dan sebagainya, yang mempengaruhi produksi dan konsumsi. Pilihlah persoalan mana yang menjadi prioritas dan perlu dijadikan materi PKB yang dapat memberi manfaat terbesar bagi masyarakat dan lingkungan.

2. Keterlibatan pakar dalam merancang kurikulum PKB.

Libatkan pakar yang relevan dengan masalah yang diprioritaskan (no. 1) untuk merancang kurikulum dan modul PKB, dalam subtansi dan pendekatan (me- tode penyampaian), dan identifikasi sumber masalah dan potensi solusi di lokasi tertentu. Pakar ini bisa jadi sudah pernah melakukan hal yang sama sehingga akan sangat membantu. Program pendidikan yang

3. Adaptasi konteks lokal ke dalam materi PKB. Profil individu yang menjadi peserta PKB, tradisi sosial budaya, kondisi geografis, kelas sosial ekonomi, ketersediaan keaneka-ragaman hayati dan sebagainya, merupakan beberapa penentu substansi dan pendekatan yang tepat.

4. Kisah sukses sebagai rujukan.

Gunakan studi kasus dari kisah sukses dari masyarakat untuk mengatasi masalah yang sama sebagai rujukan: strategi yang digunakan, pendekatan yang digunakan, dan sebagainya. Masukkan kunjungan lapangan dan kumpulan dari kejadian yang memperlihatkan dampak negatif dari konsumsi tidak berkelanjutan sebagai ilustrasi dari masalah yang sama.

5. PKB yang sensitif terhadap konteks lokal bagi pendidikan formal dan non-formal.

Setelah topik PKB ditetapkan, maka topik tersebut dapat dikemas dalam pendidikan formal atau non- formal, tergantung pada kelompok sasaran dan profil individu (seperti umur, gender, tingkat pendidikan) dan konteks eksternal (seperti kebudayaan setempat, sumber alam lokal, wilayah geografis, dsb).

6. Pendekatan partisipatori untuk komitmen yang lebih kuat.

Bila memungkinkan, akan sangat baik bila dalam merancang materi PKB melibatkan kelompok sasaran untuk mengungkapkan aspirasi dan gagasan mereka dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Formulasikan usulan aksi nyata sebagai keputusan bersama (antara perancang materi PKB dan peserta pendidikan), sehingga memungkinkan komitmen yang lebih kuat untuk membuat perubahan dalam perilaku konsumen untuk bisa membuat keputusan ketika membeli produk dan jasa.