• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Kebutuhan Transportasi

Kebutuhan transportasi merupakan kebutuhan turunan akibat aktifitas ekonomi, sosial, dan sebagainya. Kegiatan ekonomi dan transportasi memiliki keterkaitan yang sangat erat, dimana keduanya dapat saling mempengaruhi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Tamin (1997:4) bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan dengan transportasi, karena akibat pertumbuhan ekonomi maka mobilitas seseorang meningkat dan kebutuhan pergerakannya pun menjadi meningkat melebih kapasitas prasarana transportasi yang tersedia.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa transportasi dan perekonomian memiliki keterkaitan yang erat. Di satu sisi transportasi dapat mendorong peningkatan

kegiatan ekonomi suatu daerah, karena dengan adanya infrastruktur transportasi maka suatu daerah dapat meningkat kegiatan ekonominya. Namun di sisi lain, akibat tingginya kegiatan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi meningkat maka akan timbul masalah transportasi, karena terjadinya kemacetan lalu lintas, sehingga perlunya penambahan jalur transportasi untuk mengimbangi tingginya kegiatan ekonomi tersebut.

Permasalahan transportasi menurut Tamin (1997:5) tidak hanya terbatas pada terbatasnya prasarana transportasi yang ada, namun sudah merambah kepada aspek-aspek lainnya, seperti pendapatan rendah, urbanisasi yang cepat, terbatasnya sumber daya, khususnya dana, kualitas dan kuantitas data yang berkaitan dengan transportasi, kualitas sumber daya manusia, disiplin yang rendah, dan lemahnya perencanaan dan pengendalian, sehingga aspek -aspek tersebut memperparah masalah transportasi.

Dalam hal pendidikan, transportasi menjadi begitu diperhitungkan jika melihat fungsi terhadap disiplin dan kebutuhan siswa setiap hendak berangkat sekolah. Menurut Soesilo (1999:11) transportasi memiliki manfaat yang sangat besar dalam mengatasi permasalahan suatu kota atau daerah. Beberapa manfaat yang dapat disampaikan adalah penghematan biaya operasi, penghematan waktu, pengurangan resiko kecelakaan, dan lain-lain.

Namun, justru hal yang tersebut di atas yang menjadi konflik dalam novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara. hal-hal yang harusnya menjadi manfaat bagi pendidikan Dahlan malah menjadi masalah besar yang harus ia tanggung sebab kenyataan hidup yang terbalut dalam kemiskinan tidak kunjung selesai.

Bukan perjuangan mudah baginya karena jarak antara rumah dengan sekolah yang di tuju memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Dalam novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara juga membicarakan betapa pentingnya transportasi untuk bisa sampai ke sekolah. Dengan jarak 6 kilometer Dahlan harus berjalan dari rumahnya ke sekolah hanya dengan bertelanjang kaki. Meski ia tahu bahwa sepeda akan sangat membantunya dalam perjalanan ke sekolah. Namun karena masalah kemiskinan yang akrab dengannya sejak lahir, Dahlan harus melupakan salah satu mimpinya itu.

Seperti yang terlihat pada penggalan teks dalam novel tersebut:

“Dulu aku juga sering memikirkan enaknya memperpendek jarak

tempuh dengan sebuah sepeda, dan ku pikir akan sangat menghemat waktu di banding jalan kaki, hingga aku sangat

menginginkan sebuah sepeda” (Sepatu Dahlan:337)

Sepeda merupakan salah satu alat transportasi yang hingga kini masih begitu akrab dan disenangi oleh anak-anak, terutama bagi kalangan pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun tidak semua anak dapat memiliki sepeda ini. Begitulah yang terlihat dalam kenyataan sosial masyarakat Indonesia, jika bertolak pada kemiskinan sebagai masalah utama Negara. Hal tersebut juga terjadi dalam novel Sepatu Dahlan.

Mimpi bersepeda yang terus tertanam dalam benak Dahlan terus ia jaga. Meski tetap berharap bahwa takdir suatu saat akan memihak padanya dengan tetap bersabar dan ikhtiar, serta berdoa agar Allah SWT mengabulkan doa dan harapannya kelak. Bukan membeli sepeda keren dari hasil keringat sendiri, keadaan justru semakin memburuk dalam perjalanan usahanya untuk

mendapatkan mimpi bersepeda. Hingga suatu ketika ia harus mengorbankan tiga ekor dombanya. Kekecewaan bapak Dahlan terhadap dirinya harus ia terima karena kelalaiannya.

Hal ini dipaparkan dalam penggalan novel tersebut:

“Ibu, lagi-lagi aku bikin Bapak kecewa. Tiga ekor domba kita terpaksa ditukarkan dengan sebuah sepeda karena kelalaianku. Ya, aku melanggar larangan Bapak agar memakai sepeda orang lain. Padahal sungguh, aku tak mau bapak bersedih lagi.

Maafkan Dahlan ya, bu...”(Sepatu Dahlan:138)

Kelalaian Dahlan terhadap nasihat Bapaknya yang telah melarangnya untuk meminjam barang orang lain, terutama dalam hal bersepeda. Bukan karena untuk untuk menghindari luka, namun karena kekhawatiran sang Bapak bila sepeda yang di pinjam itu rusak dan malah pemilik menuntut ganti rugi. Hingga pada akhirnya kekhawatiran Bapaknya pun menjadi kenyataan. Sepeda Maryati yang rela dipinjamkan kepada Dahlan untuk dikendaraipun akhirnya rusak pada bagian setang sepeda, dan keesokan harinya Bapak Maryati malah menuntut ganti rugi kepada Bapak Dahlan. Tiga ekor Domba pun menjadi alat tukar dengan sepeda yang dirusakkan Dahlan sebagai ganti rugi.

4.1.2 Kebutuhan Primer

Menurut Matias (2012:25) jika ditinjau dari standar kebutuhan hidup yang layak atau pemenuhan kebutuhan pokok, maka kemiskinan adalah suatu kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok atau kebutuhan-kebutuhan dasar yang disebabkan kekurangan barang-barang dan pelayanan yang dibutuhkan

Friedmann (Setiadi dan Kolip, 2011:794) pernah merumuskan kemiskinan sebagai minimnya kebutuhan dasar seperti halnya yang juga dilakukan pada konferensi ILO tahun 1976 yang salah satunya berisikan tentang “kebutuhan minimum dari suatu keluarga akan konsumsi privat seperti pangan, sandang, dan papan”. Ketiga hal tersebut merupakan bagian dari kebutuhan primer yang harus terpenuhi bagi sebuah keluarga. Jika hal yang pokok saja sudah tidak terpenuhi, keluarga tersebut dapat dikatakan sebagai keluarga miskin. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok ini akan semakin memperburuk keadaan keluarga miskin yang bersangkutan. Kebutuhan primer tersebut merupakan masalah negara yang telah menjadi perhatian sejak lama. Masalah tersebut ternyata juga dapat kita temukan dalam karya sastra, seperti halnya yang terjadi pada novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara.

Berikut ini merupakan contoh kecil dari kemiskinan akan kebutuhan pokok yang terdapat dalam novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara:

“Upah nguli nyeset terus ku tabung demi dua mimpi besarku –

sepatu dan sepeda. Namun seringkali ku serahkan sebagian besar kepada ibuku dengan sepenuh-penuh kebahagiaan. Kebutuhan kami untuk mengisi perut lebih mendesak ketimbang mimpi

sederhanaku itu” (Sepatu Dahlan:73)

Dokumen terkait