wholedude.com
ni lai-nilai spiritual. Secara historis, pen didikan holistik sebetulnya bukan hal yang baru.
Beberapa tokoh klasik perintis pen didikan holistik, diantaranya: Jean Rousseau, Ralph Waldo Emerson, Hen ry Thoreau, Bronson Alcott, Jo-hann Pestalozzi, Friedrich Froebel dan Francisco Ferrer. Pemikiran dan ga gasan inti dari para perintis pen-di pen-dikan holistik sempat tenggelam sam pai dengan terjadinya loncatan pa radigma kultural pada tahun 1960-an. Memasuki tahun 1970-an mu-lai ada gerakan untuk menggali kem bali gagasan dari kalangan pe-ng anut aliran holistik. Kemajuan yang signifikan terjadi ketika di lak sanakan konferensi pertama pen -didikan Holistik Nasional yang di-selenggarakan oleh Universitas Ca-lifornia pada bulan Juli 1979 dengan meng hadirkan The Mandala Society dan The National Center for the Ex-plo ration of Human Potential.
Enam tahun kemudian, para pe ng-anut pendidikan holistik mulai mem-perkenalkan dasar pendidikan ho lis tik dengan sebutan 3 R’s, akronim d a ri relationship, responsibility dan re ve
ren ce. Berbeda dengan pen didikan pa da umumnya, dasar pendidikan 3 R’s ini lebih diartikan sebagai wri
ting, reading dan arithmetic atau di In donesia dikenal dengan sebutan ca listung (membaca, menulis dan ber hitung).
Pengertian Pendidikan Holistik Penggunaan istilah “holistic” pada da sarnya diambil dari kata “whole”
yang memiliki arti keseluruhan.
Dalam hal ini, holistik dapat diartikan sebagai ke seluruhan aspek yang dinamis, kom pleks, sistematik dan non linier. Un tuk itu, pendidikan holistik dapat di artikan sebagai penyusunan metode pen didikan de ngan mengembangkan ke se-lu ruhan potensi setiap individu.
Pen didikan holistik adalah sebuah pro ses belajar yang bisa diterapkan pa da anak-anak dengan metode se imbang. Model pembelajaran ini ti dak hanya fokus pada pelajaran sa ja, melainkan anak didik bisa me-la kukan kegiatan tertentu untuk mem bantu proses belajar lebih me-nye nangkan. Proses belajar sambil ber aktivitas ini membantu anak-anak me ngembangkan kemampuannya se kaligus memiliki perspektif baru sa at menyelesaikan masalah.
Orangtua dan juga guru yang akan me nerapkan sistem pendidikan ini ha rus memperhatikan keseluruhan po tensi setiap individu. Orangtua dan gu ru juga perlu memperhatikan aspek fi sik, emosional, spiritual, artistik hing ga intelektual. Uniknya, strategi pen didikan ini juga menerapkan pen dekatan transformatif, ke-giatan pembelajaran yang flek si bel, pembelajaran bermakna, pem be-la jaran komunitas dan pemecahan ma salah lintas disiplin ilmu.
Tujuan Pendidikan Holistik
Tujuan pendidikan holistik adalah mem bantu mengembangkan potensi in dividu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan meng-gairahkan, demoktaris dan hu manis melalui pengalaman dalam
ber-in teraksi dengan lber-ingkungannya.
Me lalui pendidikan holistik, anak di harapkan dapat menjadi dirinya sen diri (learning to be), dalam arti da pat memperoleh kebebasan psi-kologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang se-suai dengan dirinya, memperoleh ke cakapan sosial, serta dapat me-ngembangkan karakter dan emo sio-nal nya (Basil Bernstein).
Jika merujuk pada pemikiran Ab raham Maslow, pendidikan ha rus dapat mengantarkan anak un tuk memperoleh aktualisasi diri (self
actualization) yang ditandai de-ngan adanya kesadaran, kejujuran, ke bebasan atau kemandirian dan ke percayaan. Pendidikan ini dapat meng hadirkan manfaat untuk me-ngembangkan anak dengan baik.
Sis tem pendidikan ini bahkan mampu me ngembangkan aspek fisik untuk men jaga stamina dan kesehatan.
Selain itu, juga dapat mengajak anak untuk mengontrol diri sendiri da-ri sikap dan perbuatan negatif. Anak bah kan akan lebih percaya diri dan ber empati terhadap lingkungannya.
Da lam konteks sosial budaya, anak ju ga akan lebih peduli terhadap ber-bagai masalah sosial, dapat bekerja da lam tim dan mematuhi aturan yang ber laku.
Pendidikan holistik ini bahkan mam pu meningkatkan kreativitas anak untuk memecahkan segala ma-sa lah. Selain itu, juga dapat me ngem-bangkan aspek spiritual anak agar anak lebih dapat memahami arti dari tu juan hidup. Menariknya, anak yang
te lah menempuh sistem pendidikan ini dapat berpikir logis, menarik ke-sim pulan dan membahasakannya kem bali dengan baik.
Perkembangan aspek yang baik da pat mengembangkan potensi diri yang baik pula. Sistem pendidikan ini juga dapat menjamin kesuksesan anak dari kecil. Pelatihan kebiasaan yang diterapkan oleh pendidikan ini akan membentuk pribadi anak men jadi lebih baik. Tentunya, hal ini dapat terjadi karena pendidikan holistik mengedepankan arahan, bim bingan dan lingkungan positif agar anak dapat menentukan pilih an yang terbaik sesuai dengan pe ma ha-man nya.
Pendidikan Di “Mata” Tuhan Siapa yang bisa memungkiri pen-ting nya pendidikan? Firman Tuhan me nuliskan tentang pentingnya pen didikan seperti yang dituliskan da lam Am sal 1:7a, “Takut akan TUHAN ada lah permulaan pengetahuan.” Ju-ga dalam UlanJu-gan 6:7-9 dituliskan,
“ha ruslah engkau mengajarkannya ber ulangulang kepada anakanakmu dan membicarakannya apabila eng kau duduk di rumahmu, apabila eng kau sedang dalam perjalanan, apa bila engkau berbaring dan apabila eng
kau bangun. Haruslah juga engkau me ng ikatkannya sebagai tanda pa da tanganmu dan haruslah itu men jadi lambang di dahimu, dan ha ruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu ger
bangmu.” Tuhan tidak ingin anak-anak-Nya memiliki pendidikan yang
ab strak tanpa diterapkan dalam ke hidupan sehari-hari. Tuhan me-nekankan bahwa pendidikan se ha-rusnya bukan hanya diajarkan, tetapi di latih (diajarkan) secara berulang-ulang sehingga ‘meresap’ dan dapat di praktekkan dalam kehidupan se ha-ri-hari.
Berdasarkan kitab Perjanjian La-ma, ada dua istilah “belajar” dalam ba hasa Ibrani, yaitu:
1. “Law-mad”, yang diterjemahkan da lam Bahasa Inggris “to learn”, yang artinya proses mendalami, me mahami sampai mampu me-la kukan atau menerapkannya da lam kehidupan.
2. “laºhag”, yang dalam Bahasa Ing grisnya adalah “to study”.
Is ti lah ini cenderung berarti me-nye rap pengetahuan hanya dari bu ku-buku tanpa memaknai pe-ngetahuan itu dalam kehidupan yang nyata (Peng 12:12).
Ada sebuah kutipan dalam Bu-ku Charlotte Mason Vol 1, “Home Edu cation”, “When it shaping per
son’s destiny, educating the will is far more important than educating the intellect”. Ungkapan ini berarti bah-wa untuk membentuk masa de pan yang bahagia bagi seseorang, me-la tih kemampuan mengendalikan ke hendak/kemauan lebih penting da ri pada pendidikan intelektual.
Men jawab pertanyaaan kehendak yang bagaimana? Tentunya kehendak un tuk memilih apa yang baik sesuai Fir man Tuhan, dengan tujuan untuk me muliakan Tuhan.
Lalu apa yang terjadi dalam pen-di pen-dikan kita saat ini? Saat ini banyak orang tua yang resah anak-anaknya ke lak tidak dapat memiliki kompetensi yang cukup untuk memperoleh pe-kerjaan yang baik. Akibatnya, ba nyak anak-anak dipaksa untuk be lajar dan belajar agar memperoleh ni lai
‘sempurna’, demi mendapat pe-kerjaan dengan gaji yang terbaik di ma sa depan. Sayangnya, orang tua lu pa bahwa pendidikan bukan hanya me ngenai “to study” saja, namun se harusnya secara holistik, yaitu “to learn”. Belajar yang berkutat pada pe-nyerapan pengetahuan tanpa diikuti la tihan untuk memilih yang baik de-ngan tujuan memuliakan nama Tuhan adalah sia-sia.
Masalah yang terjadi dalam dunia pen didikan saat ini disebabkan karena prak tek pendidikan tidak diterapkan se cara holistik. Pendidikan hanya ter batas pada teori dan hafalan, la lu diterapkan hanya untuk ujian se-ma ta agar mendapatkan nilai yang ter baik. Bahkan, pelajaran agama pun diterapkan seperti itu. Padahal, pen didikan seharusnya menjadi da-sar untuk mengasihi Tuhan dengan se genap hati, jiwa dan kekuatan.
Pen didikan perlu direnungkan, dilatih siang dan malam, dan diterapkan da lam memutuskan pilihan-pilihan hi dup. Pendidikan diharapkan juga di terapkan secara kontekstual agar anak mampu menyelesaikan masalah da lam hidupnya sesuai konteks ling-ku ng an kehidupannya.
M. Yuni Megarini C (Dari berbagai sumber)
Saat ini pendidikan mempunyai pe ranan yang sangat penting dalam me majukan dan mengembangkan ke hidupan manusia, karena pada da sarnya manusia dalam realisasi ke hidupannya tidak dapat dipisahkan da ri pendidikan. Hal ini karena pen-didikan berfungsi meningkatkan kua litas manusia itu sendiri.
Secara umum, pendidikan di ka-te gorikan dalam tiga jalur utama, ya itu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Semasa hidupnya se-seorang pasti mengalami proses pen didikan, paling tidak pendidikan in formal. Sebagai contoh, pendidikan per tama dan dasar yang diperoleh di lingkungan keluarga (pendidikan in formal). Pendidikan semacam ini ten tu dilalui oleh setiap orang dan me rupakan fondasi dalam melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Se bagai bagian yang tak ter-pi sahkan dari kehidupan manusia, tu juan utama pendidikan itu sen di ri adalah menjadi sarana untuk me-ngembangkan potensi dan men-cerdaskan manusia agar siap meng-hadapi kehidupan di masa de pan.
Da pat pula dikatakan bahwa pen di-dikan diharapkan dapat mengem-bang kan potensi dan mencerdaskan in dividu menjadi lebih baik. Dengan tu juan tersebut, diharapkan orang-orang yang terdidik akan memiliki ke mampuan menjadi pribadi yang
krea tif, berilmu, berkepribadian, man diri dan menjadi pribadi yang le bih bertanggung jawab.
Pendidikan Formal Vs Pendidikan Nonformal
Pendidikan sebagai sarana un-tuk “memanusiakan manusia” da pat diwujudkan melalui berbagai ca ra.
Telah disebutkan sebelumnya bah-wa secara umum pendidikan di bagi ke dalam tiga jalur utama, ya itu pendidikan formal, pendidikan non-for mal dan pendidikan innon-formal. Pa da ke sempatan kali ini kita hanya akan mem bahas tentang pendidikan for-mal dan pendidikan nonforfor-mal.