bih lengkap, seorang penulis men -definisikannya sebagai berikut: the task of developing and sharing ar
guments for the truth and rationality of Christianity and the falsehood and irrationality of alternatives with the aim of strengthening the faith of believers and provoking nonbe lie vers to consider Christ (suatu tugas mem-bangun dan membagikan argumen ten tang kebenaran dan rasionalitas Ke kristenan dan kepalsuan dan ira-sio nalitas alternatif (keyakinan) lain dengan tujuan memerkuat iman orang percaya dan memicu orang yang belum percaya untuk mem-pertimbangkan percaya Kris tus).
Isu yang diangkat misalnya, men-jawab pendapat skeptis tentang ke beradaan Tuhan. Isu lain misalnya, ten tang inspirasi dan ineransi (ke ti-dak bersalahan) Alkitab dan lain-lain.
Me nurut sejarah, Yustinus Martir (c.
100-c. 165) adalah apologet Kristen per tama. Seiring perubahan zaman, apa kah apologetika sebagai cabang teo logi masih dibutuhkan?
Ada baiknya kita menjawab be-be rapa pertanyaan lain lebih dahulu se belum menjawab pertanyaan di atas. Pertama, apakah kebenaran iman Kristen perlu dipertahankan/
di bela? Kedua, apakah upaya
memer-ta hankan iman secara intelektual itu te pat? Ketiga, apakah apologetika efek tif mencapai tujuan yang di ha-rap kan?
Ayat yang seringkali dipakai se -bagai dasar apologetika adalah 1 Petrus 3:15, “Dan siap sedialah pa da segala waktu untuk memberi per
tanggungan jawab kepada tiaptiap orang yang meminta pertanggungan ja wab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah de
ngan lemah lembut dan hormat.” Ber-da sarkan ayat ini, maka apologetika di anggap penting sebagai bentuk per tanggungjawaban iman Kristen ter hadap berbagai isu yang di ma -salahkan oleh orang-orang ber ke-yakinan lain. Tentu saja kita ha rus ber upaya menjelaskan apa yang ki ta percaya secara rasional. Akan te tapi, tidak semua isu dalam Ke-kris tenan dapat dijelaskan secara ra sional dan tuntas. Ada isu-isu yang penjelasannya tak pernah me-muaskan dan pada akhirnya di-terima dengan iman. Isu seperti Al lah Tritunggal misalnya, terus akan menjadi pertanyaan yang tidak per-nah terselesaikan. Dalam hal ini, ki ta harus jujur bahwa apologetika me miliki keterbatasan.
Soal perlu tidaknya memer ta-han kan iman secara intelektual, ki ta menemukan bahwa Alkitab ti dak bersikap tegas dalam hal ini. Be be-rapa kali Tuhan Yesus menjawab
per-Perlukah Membela Iman Kristen?
OBROLAN RINGAN
di bandingkan keagungan Allah yang ti dak terbatas. Upaya mengupas tun-tas iman dengan rasio manusia akan ber akhir sia-sia.
Bagi orang tertentu, argumentasi atau penjelasan rasional me no long-nya untuk percaya pada Kristus.
Pen jelasan itu menjadi semacam jem batan bagi Injil. Itulah sebabnya ada yang menganggap apologetika se bagai pra penginjilan atau ba gi an dari proses penginjilan. Ia ber peran menyingkirkan hambatan un tuk percaya dan memersiapkan ta nah bagi benih Injil yang akan di taburkan.
Dalam hal ini, apologetika mung kin bi sa efektif sebagai sarana pe ng-injilan.
Akan tetapi, seseorang bisa sa ja diyakinkan secara intelektual ten-tang kredibilitas dan kebenaran iman Kristen, tetapi tidak tidak mau per-caya. Hal percaya bukan hanya soal ra sional tetapi juga emosional dan ke hendak. Menang berargumentasi sa ja tidak cukup. Pertobatan terjadi ke tika rasio, hati dan kehendak di-tanyaan ahli Taurat, orang Saduki dan
orang Farisi soal isu-isu tertentu. Da-lam kesempatan lain, Ia diam dan me-ninggalkan mereka tanpa jawaban.
Ra sul Paulus pernah berapologetika de ngan orang Yahudi dan Yunani (mis:
Kis 17), tetapi kebanyakan waktunya ia gunakan untuk penginjilan, bukan ber debat teologi.
Persoalan kedua adalah soal ra-sio nalitas dan iman. Apakah iman Kris ten membutuhkan penjelasan ra sionalitas? Sebagai mahluk berakal bu di, manusia tidak mungkin terlepas da ri rasio. Meskipun Kekristenan ter-uta ma adalah perkara iman, namun iman tidak terlepas dari rasio. Tokoh Ge reja Anselmus mengatakan, "Fides quaerens intellectum", artinya iman mencari pemahaman. Iman ti dak sekadar kepercayaan tanpa da sar atau alasan. Iman mencari pen jelasan rasional. Tentu saja seperti di singgung di atas, kita tidak mungkin meng-harapkan semua aspek iman dapat di jelaskan secara rasional dengan tun tas. Rasio manusia sangat terbatas
quotesgram.com
tundukkan pada Allah. Jadi, sebagus apa pun argumentasi atau penjelasan di sampaikan, sepintar apapun orang yang menyampaikan, jika hati tidak per caya, tetap saja nihil hasilnya.
Kembali ke pertanyaan awal, apa-kah apologetika masih dibutuhkan pa da masa kini, terutama dalam kon teks Indonesia yang pluralis?
Me nurut saya pribadi, apologetika ma sih dibutuhkan untuk menjawab per tanyaan tentang keunikan iman Kristen, tetapi bukan untuk me nun-jukkan kesalahan atau kepalsuan ke yakinan lain. Budaya sebagian ma syarakat Indonesia yang cen-de rung “fanatik” dan tidak bisa me nerima keyakinannya dikupas tun tas harus membuat orang Kris-ten di Indonesia bijak dalam
ber-apologetika. Apologetika sebagai alat penginjilan hanya dapat dipakai da lam situasi khusus dan hanya un tuk orang tertentu. Apologetika yang digunakan secara tidak tepat ma lah akan merugikan Kekristenan di Indonesia karena sebagian besar ma syarakat Indonesia masih mudah ter sulut emosinya. Dan terakhir, sa ya tidak punya data, seberapa efek tif apologetika dipakai sebagai alat penginjilan. Berapa banyak orang yang percaya Kristus karena pi kirannya dimenangkan melalui ar gumen apologetik. Dalam pe ng-amatan saya, upaya dialog antar iman di media sosial misalnya, justru se ringkali berakhir dengan caci-maki dan saling menghujat.
Pdt. Bong San Bun
Sekarang saya menjadi sukare la-wan di sekolah Leon untuk mem bantu anak-anak membaca. Tu juannya un tuk meningkatkan ke mampuan mem baca anak-anak yang di anggap ku rang. Saya belum pernah men-de ngar program seperti ini, apa lagi ber partisipasi. Tapi meskipun ti dak ta hu apa-apa, saya mengajukan di ri sa ja. Awalnya karena saya takjub me-li hat perkembangan membaca Leon di sekolah. Waktu ia pertama ma suk se kolah bulan September ta hun lalu, ia sama sekali belum bisa mem baca.
ABC saja ia belum hafal. Ta pi dalam wak tu tiga bulan saja, ia su dah bisa mem baca sendiri buku-bu ku pendek se derhana. Sungguh ajaib, pikir saya, ia baru empat tahun dan sudah bisa mem baca sendiri!
Anak-anak sekolah di Inggris, ter masuk Leon, belajar membaca de ngan program phonics (kalau Anda per nah membaca tulisan-tulisan saya se belumnya, istilah ini pasti sudah ti dak asing lagi). Jadi, ia tidak belajar hu ruf secara berurut mulai dari A, B, C, dan seterusnya tapi ia mulai de ngan bunyi huruf yang paling se-ring muncul yaitu s,a,t,p,i,n. Enam bu nyi ini kemudian bisa digabung-ga bungkan untuk membentuk ber-ma cam-ber-macam kata misalnya “in”,
“pin”, “tin”, “sit” dan sebagainya.
Bu ku-buku pertama yang dibaca Leon isinya adalah cerita pendek yang dirangkai dari keenam huruf
di atas. Selain kata-kata yang dapat di eja dengan phonics, ada beberapa ka ta yang disebut “tricky words” alias kata yang pengucapannya ha rus dihafalkan karena tidak bisa di eja.
Misalnya “I” (kata ganti orang per-tama/saya) tidak dibaca sebagai bunyi /i/ seperti dalam kata “in” melainkan di baca sebagai /ai/.
Ini berbeda sekali dengan pelajaran per tama Bahasa Inggris saya di se-kolah dulu. Saya pertama belajar Ba-hasa Inggris di kelas tiga SD dan saya ingat pelajaran pertama kami adalah ang ka satu sampai sepuluh. One, two, three dan seterusnya. Saya ingat be-ta pa frusbe-tasinya saya karena tidak bi sa mengerti mengapa “one” dibaca se bagai /wan/. Saya kebingungan da-rimana datangnya bunyi /w/ dan /a/
di awal kata. Tulisan dan bunyi huruf, kok sama sekali tidak nyambung, pi-kir saya dan saat itu tidak ada yang bi sa menjelaskan mengapa demikian.
Sa ya jadi merasa Bahasa Inggris itu sulit dan tidak punya pola yang bi sa ditebak. Nilai pelajaran Bahasa Ing-gris saya buruk sampai akhirnya saya ha rus les privat.
Tapi sekarang, Leon akan bisa men jelaskan bahwa “one” adalah sa lah satu “tricky word” yang harus di hafalkan. Seseorang entah kapan dan di mana satu kali memutuskan bah wa “one” dibaca sebagai “wan”
dan anehnya semua orang setuju, ja di kita tidak bisa protes sekarang