• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periode Dewasa Akhir (Late Adulthood). Ini adalah fase per

Dalam dokumen DARI MEJA REDAKSI. Redaksi 2 EUANGELION 190 (Halaman 94-97)

BELAJAR SEUMUR HIDUP DALAM ERA DIGITAL

8. Periode Dewasa Akhir (Late Adulthood). Ini adalah fase per

-kembangan dalam psikologi per-kembangan yang berada pada masa de wasa akhir atau pada usia 60-70 tahun hingga kematian. Di sini wak-tunya penyesuaian diri ketika ke-kuatan dan kesehatan berkurang, me nata kehidupan, pensiun dan ju ga menyesuaikan diri dengan pe-ranan sosial baru yang mungkin sa-ja dialami. Periode ini kritis antara in tegritas, yakni penyatuan atau per siapan menyongsong kematian de ngan keputusasaan. Tahun-tahun se nior ini seringkali dianggap sebagai pe riode kesehatan yang menurun, te tapi masih banyak orang usia lan-jut mampu tetap aktif dan sibuk di usia 80 tahun dan bahkan sampai 90 tahun. Masalah kesehatan yang me ningkat mulai menandai periode per -kem bangan ini dan ada orang mung-kin mengalami penurunan mental se perti demensia dan alzheimer.

Selain perkembangan psikososial yang disampaikan oleh Erik Erikson, ada psikologi perkembangan moral yang dipopulerkan oleh Lawrence Kohl berg. Sewaktu membahas yang di sebut perkembangan, selalu ada mak na tersirat bahwa seseorang itu belajar dalam tahap tersebut.

Ta hapan perkembangan moral ada-lah ukuran dari tinggi rendahnya

mo ral seseorang berdasarkan per-kembangan penalaran moralnya.

Teo ri ini berpandangan bahwa pe-na laran moral, yang merupakan da sar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang da pat teridentifikasi. Ia mengikuti per kembangan dari keputusan moral se iring penambahan usia yang semula di teliti Jean Piaget, yang menyatakan bah wa logika dan moralitas ber-kem bang melalui tahapan-ta ha p-an konstruktif. Kohlberg mem per-luas pandangan dasar ini de ngan menentukan bahwa proses per-kem bangan moral pada prinsipnya ber hubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut se-panjang kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan im pli-ka si filosofis dari penelitiannya.

Tahapan­tahapan

Keenam tahapan perkembangan mo ral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-kon ven-sional, konvenven-sional, dan pasca-kon-ven sional.

Pra­Konvensional. Tingkat pra-kon vensional dari penalaran moral umum nya ada pada anak-anak, walau-pun orang dewasa juga dapat me-nunjukkan penalaran dalam tahap ini.

Se seorang yang berada pada tingkat pra-konvensional menilai moralitas da ri suatu tindakan berdasarkan kon sekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua ta-hapan awal dalam perkembangan mo ral dan murni melihat diri dalam ben tuk egosentris.

Dalam tahap pertama, individu-in dividu memfokuskan diri pada kon-sekuensi langsung dari tindakan me-reka yang dirasakan sendiri. Se bagai contoh, suatu tindakan di anggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Se makin keras hukuman diberikan, di anggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bah wa sudut pandang orang lain ber beda dari sudut pandang dirinya. Ta hap an ini bisa dilihat sebagai sejenis oto-riterisme.

Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya. Perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran ta hap dua kurang menunjukkan per ha tian pada kebutuhan orang lain, ha nya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap ke bu-tuhannya sendiri, seperti “kamu ga-ruk punggungku, dan akan kugaga-ruk ju ga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian kepada orang lain tidak di-dasari oleh loyalitas atau faktor yang ber sifat intrinsik. Ada kekurangan pers pektif tentang masyarakat dalam ting kat pra-konvensional, berbeda de ngan kontrak sosial (tahap lima).

Semua tindakan dilakukan untuk me-layani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi me reka dari tahap dua, perspektif du nia dilihat sebagai sesuatu yang ber sifat relatif secara moral.

Konvensional. Tingkat kon ven-sio nal umumnya ada pada seorang re maja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas da ri suatu tindakan dengan mem ban-dingkannya dengan pandangan dan

harapan masyarakat. Tingkat kon-vensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan mo ral.

Dalam tahap tiga, seseorang me masuki masyarakat dan memiliki pe ran sosial. Individu mau menerima per setujuan atau ketidaksetujuan da ri orang lain karena hal tersebut me-re fleksikan persetujuan masyarakat ter hadap peran yang dimilikinya.

Me reka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan ter sebut, karena mengetahui ada gu nanya melakukan hal tersebut.

Pe nalaran tahap tiga menilai mo-ra litas dari suatu tindakan dengan me ngevaluasi konsekuensinya dalam ben tuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti ra sa hormat, rasa terima kasih, dan golden rule. Keinginan untuk me ma-tuhi aturan dan otoritas ada hanya un tuk membantu peran sosial yang ste reotip ini. Maksud dari suatu tin-dakan memainkan peran yang lebih sig nifikan dalam penalaran di tahap ini: “mereka bermaksud baik”.

Dalam tahap empat, adalah pen ting untuk mematuhi hukum, ke -putusan dan konvensi sosial ka rena berguna dalam memelihara fung si dari masyarakat. Penalaran mo ral dalam tahap empat lebih dari se-kadar kebutuhan akan penerimaan in dividual seperti dalam tahap ti ga.

Kebutuhan masyarakat harus me-lebihi kebutuhan pribadi. Idealisme uta ma sering menentukan apa yang be nar dan apa yang salah, seperti da lam kasus fundamentalisme. Bila se seorang bisa melanggar hukum,

mung kin orang lain juga akan begitu - se hingga ada kewajiban atau tugas un tuk mematuhi hukum dan aturan.

Bi la seseorang melanggar hukum, ma ka ia salah secara moral, sehingga ce laan menjadi faktor yang signifikan da lam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

Pasca­Konvensional. Tingkatan pas ca konvensional juga dikenal se-bagai tingkat berprinsip, terdiri da ri tahap lima dan enam dari per kem-ba ngan moral. Kenyataan kem-bahwa in dividu-individu adalah entitas yang ter pisah dari masyarakat kini menjadi se makin jelas. Perspektif seseorang ha rus dilihat sebelum perspektif ma syarakat. Akibat ‘hakikat diri men dahului orang lain’ ini membuat ting katan pasca-konvensional se ring tertukar dengan perilaku pra-kon ven-sio nal.

Dalam tahap lima, individu-in-di vidu individu-in-dipandang memiliki pen da-pat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting me reka dihormati dan dihargai tanpa me-mi hak. Permasalahan yang tidak di-ang gap relatif seperti kehidupan dan pi lihan, jangan sampai ditahan atau di hambat. Kenyataannya, tidak ada pi lihan yang pasti benar atau absolut - “memang anda siapa membuat ke putusan kalau yang lain tidak?”

Se jalan dengan itu, hukum dilihat se bagai kontrak sosial, bukannya ke putusan kaku. Aturan-aturan yang ti dak mengakibatkan kesejahteraan so sial harus diubah bila perlu demi ter penuhinya kebaikan terbanyak un tuk sebanyak-banyaknya orang.

Hal tersebut diperoleh melalui ke

pu-tusan mayoritas, dan kompromi. Pe-me rintahan yang demokratis tampak ber landaskan pada penalaran tahap li ma.

Dalam tahap enam, penalaran mo-ral berdasar pada penalaran abstrak meng gunakan prinsip etika universal.

Hu kum hanya valid bila berdasar pada ke adilan, dan komitmen terhadap ke-adilan juga menyertakan keharusan un tuk tidak mematuhi hukum yang ti dak adil. Hak tidak perlu sebagai kon trak sosial dan tidak penting untuk tin dakan moral deontis. Keputusan di hasilkan secara kategoris dalam ca ra yang absolut, bukannya se ca ra hipotetis secara kondisional. Hal ini bisa dilakukan dengan mem ba yang-kan apa yang ayang-kan dilakuyang-kan se se-orang saat menjadi se-orang lain, dan ju ga memikirkan apa yang dilakukan bi la berpikiran sama. Tindakan yang di ambil adalah hasil konsensus. De-ngan cara ini, tindakan tidak pernah men jadi cara tapi selalu menjadi ha sil;

seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada mak-sud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

Wa lau Kohlberg yakin bahwa ta-hapan ini ada, ia merasa kesulitan un tuk menemukan seseorang yang meng gunakannya secara konsisten.

Tam paknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap enam da ri model Kohlberg ini.

Untuk memperlengkapi teori be lajar manusia seperti teori psi-ko sosialnya Erik Erikson dan teori be lajar/perkembangan moral oleh Law rence Kohlberg, ada juga teo ri

per kembangan iman yang di po-pu lerkan oleh James W. Fowler.

Ber dasarkan penelitiannya , Fowler mem bagi perkembangan iman atau ke percayaan dalam 7 tahapan:

ber dasarkan kesan-kesan inderawi-emo sional yang kuat sehingga per-sepsi dan perasaan bercampur dan menimbulkan gambaran-gam bar an intuitif dan konkret yang men dalam Tahap Usia/Tahun Tahap Iman

0 0 - 3 Iman elementer awal 1 3 - 7 Iman intutif - proyektif 2 7 ­ 12 Iman mitos ­ harafiah 3 12 - 20 Iman sintetis - konvensional 4 20 ­ 35 Iman individuatif ­ refleftif 5 35 - 45 Iman eksistensial - konjungtif

6 45 - ke atas Iman eksistensial mengacu pada universalitas Tahap 0: Iman Elementer Awal.

Ta hap ini disebut juga tahap iman/

ke percayaan eksistensial yang tak terdiferensiasi. Benih-benih ke-percayaan, keberanian, harapan, dan cinta terlebur dalam suatu cara tak terpisahkan serta menghadapi ba haya ancaman rasa ditinggalkan, ke tidaktetapan dan dirampas yang dialami dalam lingkungan anak.

Keberhasilan pada tahap ini me ru-pakan modal bagi kepercayaan dasar dan bagi pengalaman mutualitas yang bersifat relasional dengan orang yang memberikan cinta dan perhatian pertama. Bila tahap ini mengalami kegagalan dalam mu tua-li tas relasional, maka dapat muncul nar sisisme yang berlebihan atau rasa ter isolasi.

Dalam dokumen DARI MEJA REDAKSI. Redaksi 2 EUANGELION 190 (Halaman 94-97)