• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membahas mengenai pendidikan yang meliputi sarana dan prasarana pendidikan, tingkat pendidikan yang ditamatkan, serta partisipasi sekolah. 7. Bab VII – Ketenagakerjaan

Membahas mengenai ketenagakerjaan yang meliputi angkatan kerja, lapangan pekerjaan utama, sektor informal, dan angka pengangguran. 8. Bab VIII – Perumahan

Membahas mengenai perumahan yang meliputi kondisi fisik tempat tinggal dan fasilitas tempat tinggal.

9. Bab IX – Penutup

BAB II

METODOLOGI

2.1 KONSEP DAN DEFINISI

Kebutuhan untuk melihat fenomena atau masalah sering menuntut adanya ukuran baku dengan menyusun indeks agregat yang memungkinkan diturunkannya satu angka yang merangkum berbagai dimensi masalah yang sedang menjadi topik bahasan.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pemberdayaan masyarakat yang telah dicapai adalah dengan menggunakan indikator komposit. Beberapa indikator komposit yang telah dikembangkan dan direkomendasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Jender (IPJ), Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ), dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Dalam publikasi ini hanya IPM yang akan dibahas lebih lanjut.

IPM dapat dijadikan salah ukuran untuk melihat tingkat pencapaian pembangunan manusia secara keseluruhan. Meskipun demikian ukuran komposit ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran bagi para perencana pembangunan di daerah tentang kualitas pembangunan manusia yang telah dicapai selama ini. Langkah yang ditempuh untuk menghadapi perkembangan fenomena yang sifatnya kuantitatif, dimulai dengan memahami konsep dan definisi serta batasan baku masalah yang hendak diukur. Oleh sebab itu dalam publikasi ini disajikan konsep dan

definisi dari beberapa indikator yang digunakan serta sumber data yang dibutuhkan.

IPM merupakan indeks komposit yang dihitung sebagai rata-rata sederhana dari Indeks Kesehatan (Harapan Hidup e0), Indeks Pendidikan (Melek Huruf dan Rata-Rata Lama Sekolah), dan Indeks Standar Hidup Layak (Indeks Paritas Daya Beli), yang dirumuskan sebagai berikut:

Dimana,

IPM = Indeks Pembangunan Manusia X(1) = Indeks Kesehatan

X(2) = Indeks Pendidikan

= 2/3 (Indeks Melek Huruf) + 1/3 (Indeks Rata-Rata Lama Sekolah) X(3) = Indeks Standar Hidup Layak

Nilai indeks hasil hitungan masing-masing komponen tersebut adalah antara 0 (keadaan terburuk) dan 1 (keadaan terbaik). Dalam penulisan ini, indeks tersebut dinyatakan dalam angka ratusan (dikalikan 100) untuk mempermudahkan penafsiran, seperti yang disarankan oleh BPS dan UNDP tahun 1996.

Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai minimum indikator yang bersangkutan. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Dimana,

X(i) = Indikator ke-i, dengan i = 1, 2, dan 3 X(i) maks = Nilai Maksimum X(i)

X(i) min = Nilai Minimum X(i)

Tabel 1. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM yang Digunakan Dalam Penghitungan Indikator Komponen IPM [=X(i)] Nilai Catatan Maksimum Minimum (1) (3) (4) (5)

Angka Harapan Hidup 85 25 Sesuai Standar Global (UNDP)

Angka Melek Huruf 100 0 Sesuai Standar Global (UNDP)

Rata-Rata Lama Sekolah 15 0 Sesuai Standar Global (UNDP)

Konsumsi Perkapita yang Disesuaikan (Pendekatan Terhadap Daya Beli) 732.720 300.000 (1996) UNDP Menggunakan PDB Perkapita Riil yang Disesuaikan 360.000 (1999)

Sumber : Indonesia Human Development Report 2001 – Towards a New Consensus (Democrasy and Human Development in Indonesia) – BPS, BAPPENAS, UNDP

X(i) – X(i) min Indeks X(i) =

Seperti dalam rekomendasi UNDP, meskipun telah muncul berbagai kritik dan masukan berkaitan dengan rumusan indikator variabel IPM, hingga saat ini masih digunakan ketiga komponen diatas, yaitu komponen kesehatan

(longevity) yang diwakili dengan usia harapan hidup (life expectancy at age 0; e0), komponen pengetahuan atau kecerdasan diwakili oleh dua buah indikator yaitu angka melek huruf (literacy rate; Lit) dan rata-rata lama sekolah (mean years of schooling; MYS), dan komponen hidup layak (decent living) atau kemakmuran yang diwakili oleh paritas daya beli (purchasing power parity; PPP). Berhubung data PPP sulit diperoleh, maka terkadang sering digunakan PDRB riil perkapita.

a. Angka Harapan Hidup (e0)

Seperti yang telah disebutkan dalam BPS-UND, bahwa sebenarnya agak sedikit berlebihan mengatakan variabel e0 dapat mencerminkan lama hidup sekaligus hidup sehat, mengingat angka morbiditas tampaknya lebih valid dalam mengukur hidup sehat. Meskipun demikian, karena keterbatasan data dan hanya sedikit negara yang memiliki data morbiditas yang dapat dipercaya maka variabel tersebut tidak digunakan untuk tujuan perbandingan. Penggunaan angka harapan hidup didasarkan atas pertimbangan bahwa angka ini merupakan resultante dari berbagai indikator kesehatan. AHH merupakan cerminan dari ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu tentang kesehatan, gaya hidup masyarakat, pemenuhan gizi ibu dan bayi, dan lain-lain. Oleh karena itu, AHH untuk sementara bisa mewakili indikator lama hidup.

Indeks Harapan Hidup, dihitung berdasarkan angka harapan hidup sejak seseorang dilahirkan dengan mempertimbangkan angka harapan hidup terendah dan tertinggi (UNDP). Secara matematik dapat ditulis sebagai berikut:

Ahh – 25

X1= --- X 100 ……… (3) 85-25

Keterangan :

X1 : Indeks harapan hidup Ahh : angka harapan hidup 25 : nilai terendah 85 : nilai tertinggi

Angka Harapan Hidup dapat diperoleh melalui suatu paket program Mortpack (metode Trussel dengan model West), dengan meng-input data hasil Susenas yaitu rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup (ALH) dan rata-rata jumlah anak yang masih hidup (AMH) per wanita yang berumur 15-49 tahun. Rumus untuk memperoleh rata-rata anak yang dilahirkan hidup (children ever born), adalah sebagai berikut:

7 Σ alhi i=1 Ralh = --- ……… (4) 7 Σ wi i=1 Keterangan :

Ralh : rata-rata anak lahir hidup

alh : anak lahir hidup menurut kelompok umur ibu ke-i w : wanita menurut kelompok umur ke-i

I : kelompok umur 15-19; 20-24; 25-29;30-34; 35- 39;40-44; 45-49

Rumus untuk memperoleh rata-rata anak yang masih hidup (children surviving), adalah sebagai berikut:

7 Σ amshi i=1 Ramsh = --- ……… (5) 7 Σ wi i=1 Keterangan :

Ramsh : rata-rata anak yang masih hidup

Amsh : anak yang masih hidup menurut kelompok umur ibu ke-i w : wanita menurut kelompok umur ke-i

Angka harapan hidup dianggap sebagai resultan dari berbagai indikator kesehatan. Angka harapan hidup merupakan cerminan dari ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu tentang kesehatan, gaya hidup masyarakat, dan pemenuhan gizi ibu & bayi.

b. Angka Melek Huruf dan Rata-Rata Lama Sekolah

Indeks Pendidikan, dihitung berdasarkan dua komponen yaitu indeks melek huruf dan indeks rata-rata lama sekolah. Rumus untuk mendapatkan angka tersebut adalah sebagai berikut:

2X2.1 + X2.2 X2 = --- X 100 ……… (6) 3 Keterangan : X2 : Indeks pendidikan X2.1 : Indeks melek huruf

X2.2 : Indeks rata-rata lama sekolah

Indeks melek huruf diperoleh dengan cara membandingkan angka melek huruf di suatu daerah dengan standar UNDP. Rumusnya adalah sebagai berikut:

amh – 0 X2.1 = --- X 100 ……… (7) 100 – 0 Keterangan :

X2.1 : Indeks melek huruf amh : angka melek huruf

0 : angka melek huruf terendah 100 : angka melek huruf tertinggi

Indeks rata-rata lama sekolah, rumusnya adalah sebagai berikut: rls – 0

X2.2 = --- X 100 ……… (8) 15 – 0

Keterangan :

X2.2 : Indeks rata-rata lama sekolah rls : rata –rata lama bersekolah 0 : angka melek huruf terendah 15 : angka melek huruf tertinggi

Angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah dihitung berdasarkan data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yang dilakukan BPS, dalam tulisan ini menggunakan penduduk 15 tahun ke atas. Indikator angka melek huruf diperoleh dari variabel kemampuan membaca dan menulis baik huruf latin maupun huruf lainnya.

Penghitungan indikator rata-rata lama sekolah dilakukan dengan cara penghitungan tidak langsung. Langkah pertama adalah memberikan bobot variabel ijazah atau STTB tertinggi yang dimiliki sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Langkah selanjutnya adalah menghitung rata-rata tertimbang dari variabel tersebut sesuai bobotnya. Secara sederhana, prosedur penghitungan tersebut dapatdirumuskan sebagai berikut:

Dimana,

MYS = Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) i = Jenjang Pendidikan (1, 2, 3, …, 10)

fi = Frekuensi Penduduk yang Berumur 15 Tahun ke Atas untuk Jenjang Pendidikan ke-i.

Si = Skor Masing-Masing Jenjang Pendidikan ke-i. LSi = 0 (Bila Tidak/Belum Pernah Sekolah) LSi = Si (Bila Tamat)

LSi = Si + Kelas yang Diduduki – 1

(Bila Masih Bersekolah dan Pernah Tamat) LSi = Kelas yang Diduduki – 1

Tabel 2. Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung Rata-Rata Lama Sekolah (MYS)

Jenjang Pendidikan Skor

(1) (2) Tidak Punya 0 SD/MI/Sederajat 6 SLTP/MTs/Sederajat/Kejuruan 9 SMU/MA/Sederajat/Kejuruan 12 Diploma I/II 14

Diploma III/Sarjana Muda 15

Diploma IV/S1 16

S2 18

S3 21

Sumber : BPS RI

c. Purchasing Power Parity (PPP)

Komponen standar hidup layak atau dikenal juga sebagai Purchasing Power Parity (PPP) yang digunakan dalam laporan ini adalah PDRB riil perkapita yang telah disesuaikan (adjusted real GRDP percapita), seperti juga yang digunakan oleh UNDP. Berbeda dengan laporan IPM 1996 yang telah menggunakan komponen yang lebih baik yaitu dengan menggunakan konsumsi riil perkapita dari hasil SUSENAS Modul Konsumsi yang disesuaikan dengan indeks PPP. Dengan menggunakan PDRB riil perkapita ini berarti mengasumsikan bahwa hasil dari PDRB daerah dapat dinikmati oleh sebagian besar penduduk wilayah ini.

Rumus Atkinson yang digunakan untuk penyesuaian rata-rata konsumsi riil, yang dianggap kemampuan daya beli (U), secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

U(y) = y’ jika y = y’ = y’ + 2(y-y’)(1/2) jika y’ < y-2y’ = y’+ 2(y-y’)(1/2) + 3(y-2y’) (1/3) jika 2y’ < y-3y’ = y’ + 2(y-y’)(1/2) + 3(y-2y’)(1/3) + 4(y-3y’)(1/4) jika 3y’ < y-4y’ dan seterusnya

Dimana,

y = PDRB Riil Perkapita

y’ = Threshold atau Tingkat Pendapatan Tertentu yang Digunakan Sebagai Batas Kecukupan (Garis Kemiskinan) yang Dalam Laporan Ini Nilai y Ditetapkan Sebesar Rp. 540.378,00 Perkapita Setahun

BAB III

TINJAUAN UMUM

3.1 GEOGRAFIS

Kota Parepare terletak di bagian tengah Provinsi Sulawesi Selatan dengan posisi antara 03o.57 39”„- 04o.04‟ 49” Lintang Selatan dan 119o.36‟ 24”-119o.43‟ 40” Bujur Timur. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Luas wilayah Kota Parepare adalah sekitar 99,33 km2, yang terdiri dari 4 kecamatan dan 22 kelurahan. Sekitar 20 persen dari luas Kota Parepare merupakan daerah pantai dan 80 persen merupakan daerah yang berbukit- bukit, dengan ketinggian antara 0-500 meter di atas permukaan laut. Selama tahun 2013, Kota Parepare memiliki iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 182,75 mm.

3.2 KEPENDUDUKAN

Penduduk Kota Parepare pada tahun 2013 sekitar 135.200 jiwa yang terdiri dari 66.274 jiwa laki-laki dan 68.926 jiwa perempuan. Sex rasionya adalah sekitar 96 yang berarti terdapat sekitar 96 orang laki-laki diantara 100 perempuan. Diduga salah satu penyebabnya adalah karena penduduk laki-laki di daerah ini lebih banyak keluar daerah untuk sekolah, bekerja dan mencari pekerjaan.

Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 1980,1990, dan 2000,2010, laju pertumbuhan penduduk Kota Parepare pada kurun waktu 1980-1990 adalah 1,62 persen pertahun, 1990-2000 turun menjadi 0,66 persen pertahun. Sementara pada tahun 2013 pertumbuhan penduduknya adalah sekitar 1,39 persen per tahun. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut, oleh banyak pihak dianggap sebagai suatu hal yang merisaukan apalagi bila tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tapi tidak merata juga berpotensi menimbulkan kesenjangan sosial, terutama bila tidak diimbangi dengan pertambahan lapangan kerja. Dengan kata lain apabila pertumbuhan penduduk lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan ekonomi maka pertumbuhan penduduk akan menjadi masalah, terlebih bila terdapat kesenjangan pendapatan yang cukup tinggi. Pertumbuhan penduduk yang positif akan memperluas lahan hunian dan mengurangi lahan usaha bagi penduduk itu sendiri.

Tren data yang ada memperlihatkan bahwa kepadatan penduduk Kota Parepare semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 kepadatan penduduk Kota Parepare adalah sekitar 1.329 orang/km2 naik menjadi 1.361 orang/km2 pada tahun 2013. Peningkatan kepadatan penduduk tentunya akan menambah beban pemerintah dalam penyediaan berbagai macam fasilitas, tetapi jika hal itu diikuti dengan peningkatan potensi penduduk terutama dari segi ekonomi, maka peningkatan kepadatan penduduk justru akan memberikan dampak yang positif.

Pada tahun 2013 jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun) di Kota Parepare adalah sekitar 42.479 orang, penduduk usia produktif (15-64 tahun) sekitar 86.546 orang, dan penduduk usia lanjut (65

tahun keatas) sekitar 6.175 orang. Angka beban tanggungan penduduk Kota Parepare pada tahun 2013 adalah sebesar 56,21 artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung beban ekonomi sekitar 56 orang usia tidak produktif. Angka beban tanggungan ini meningkat dibanding tahun 2012 yang berkisar 54 orang.

3.3 EKONOMI

Perkembangan maupun petumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB (atas dasar harga konstan) yang berhasil diperoleh pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya. Penggunaan angka atas dasar harga konstan ini dimaksudkan untuk menghindari pengaruh perubahan harga. Perubahan yang diukur adalah perubahan produksi sehingga menggambarkan pertumbuhan riil ekonomi. Sejak Tahun 2000 pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun regional provinsi dan kabupaten/kota dihitung dengan menggunakan harga konstan 2000 sebagai tahun dasar.

Tabel di bawah ini menyajikan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Kota Parepare Tahun 2009-2013. Bila diperhatikan selama periode 2009-2013, terlihat bahwa perekonomian Kota Parepare semakin meningkat. Pada tahun 2009 tumbuh sekitar 7,93 persen, kemudian pada tahun 2010 sekitar 8,41 persen, dan pada tahun 2013 mengalami pertumbuhan sekitar 8,47 persen.

Tabel 3. Produk Domestik Regional Bruto Kota Parepare, Tahun 2009 – 2013

Tahun

ADH Berlaku ADH Konstan 2000

PDRB (Juta Rupiah) Perkembangan Ekonomi (Persen) PDRB (Juta Rupiah) Pertumbuhan Ekonomi (Persen) (1) (2) (3) (4) (5) 2009 1.519.156,10 16,97 707.234,86 7,93 2010 1.795.963,76 18,22 766.745,34 8,41 2011 2.073.555,94 15,46 826.486,23 7,79 2012* 2.376.521,26 14,61 891.923,09 7,92 2013** 2.771.804,96 16,63 967.507,82 8,47 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Parepare

Catatan : * Angka Sementara ** Angka Sangat Sementara

Struktur ekonomi Kota Parepare dalam kurun waktu tahun 2009-2013 tampaknya tidak mengalami pergeseran dan masih didominasi oleh sektor-sektor sekunder dan tersier dalam pembentukan angka PDRB. Sektor sekunder memberikan andil sebesar 54,8 persen, sedangkan sektor tersier memberikan andil sebesar 38,59 persen. Sebagai Kota Niaga, andil tertinggi PDRB di Kota Parepare adalah dari sektor Perdagangan, Hotel & Restoran, yaitu sekitar 25,02 persen pada tahun 2012, dan sedikit mengalami penurunan menjadi sekitar 24,92 persen pada tahun 2013. Sektor lain yang juga memberikan andil cukup tinggi bagi struktur ekonomi Kota Parepare adalah sektor jasa-jasa dan sektor angkutan & komunikasi. Pada tahun 2013, masing-masing sektor tersebut memberikan andil sebesar 21,14 persen dan 17,94 persen. Sektor yang memberikan kontribusi terkecil di Kota Parepare adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu hanya 0,31 persen.

PDRB perkapita Kota Parepare dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. PDRB perkapita merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemakmuran dan kesejahteraan penduduk di suatu daerah pada kurun waktu tertentu. Selama tahun 2009– 2013 PDRB Perkapita Kota Parepare meningkat dari Rp. 12.782.990,02 menjadi Rp. 20.502.729,16. Walaupun demikian, angka tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan PDRB perkapita Provinsi Sulawesi Selatan yang sebesar Rp.22.150.805,32 pada tahun 2013. Kenaikan pendapatan perkapita secara makro belum tentu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata, tergantung dari sektor pekerjaan masing-masing.

3.4. POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM

Kota Parepare memiliki areal seluas 99,33 km², terbagi menjadi 4 Kecamatan dan 22 Kelurahan. Dari empat Kecamatan yang ada, hanya Kecamatan Bacukiki yang memiliki potensi di sektor pertanian tanaman pangan. Pada tahun 2013 produksi padi sawah di Kota Parepare adalah sekitar 6.109 ton, sedikit meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu sekitar 4.937 ton, dikarenakan tahun ini luas panen lebih luas 35 persen dari tahun lalu. Meskipun begitu, lahan (sawah) di Kota Parepare meupakan sawah tadah hujan yang tidak dapat berproduksi secara optimal dan luas areal persawahan tidak lebih dari 10 persen terhadap luas total Kota Parepare. Selain itu, topografi Kota Parepare 85 persen merupakan daerah berbukit-bukit dan sisanya merupakan wilayah dataran yang umumnya digunakan sebagai pusat pemukiman maupun kegiatan ekonomi penduduk. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa hasil produksi yang ada belum cukup memenuhi permintaan

konsumsi penduduk Kota Parepare, sehingga harus dipenuhi dengan mendatangkannya dari daerah lain.

Di subsektor tanaman hortikultura, ada beberapa jenis komoditi tanaman sayuran yang cukup potensi di Kota Parepare yaitu petsai/sawi, kangkung, dan bayam. Tanaman tersebut terutama berada di Kecamatan Soreang. Selain sayuran, terdapat pula berbagai jenis tanaman buah-buahan yang dihasilkan seperti manga, pisang dan nangka. Berdasarkan penelitian agrocultumate, untuk jenis tanah yang ada di Kota Parepare memang cocok untuk ditanami pohon mangga dan nangka.

Ikan sebagai salah satu bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani merupakan komoditas yang cukup banyak di Kota Parepare. Pada tahun 2013 produksi perikanan laut di Kota Parepare mencapai 3.380,06 Ton atau meningkat sebesar 0,20 persen dibandingkan tahun lalu. Di sub sektor peternakan, secara keseluruhan populasi ternak besar (sapi, kerbau, dan kuda) maupun ternak kecil pada tahun 2013 mengalami fluktuasi.

BAB IV

POSISI PEMBANGUNAN MANUSIA

4.1 KOMPONEN IPM

Pembangunan manusia merupakan model pembangunan yang menurut United Nations Development Programm (UNDP) ditujukan untuk memperluas pilihan-pilihan yang dapat ditumbuhkan melalui upaya pemberdayaan penduduk. Pemberdayaan penduduk ini dicapai melalui upaya yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan dasar manusia yaitu meningkatnya derajat kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan agar dapat digunakan untuk mempertinggi partisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif, sosial budaya, dan politik.

Model pembangunan manusia telah menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan yang berarti bahwa pembangunan yang dilaksanakan adalah dari rakyat (of people), untuk rakyat (for people), dan oleh rakyat (by people). Pembangunan dari rakyat mengandung makna pemberdayaan yaitu peningkatan kapabilitas melalui pendidikan, pelatihan, pemeliharaan kesehatan yang lebih baik, perumahan layak huni dan perbaikan gizi. Pembangunan untuk rakyat berarti hasil pembangunan benar-benar diterima semua rakyat secara adil, buah pertumbuhan ekonomi harus terlihat pada kehidupan rakyat sehari-hari, tidak terjadi ketimpangan dalam masyarakat. Proses ini biasanya tidak secara otomatis tampak, akan tetapi memerlukan waktu serta manajemen kebijakan yang hati-hati. Pembangunan oleh rakyat berarti rakyat harus benar-benar ikut mengambil bagian dan berperan aktif dalam pembangunan, bukan sebagai penonton dan penerima

hasil pembangunan. Dengan berperan aktif berarti ikut serta berkontribusi dalam pengambilan keputusan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupannya.

Dua hal yang ditekankan pada konsep pembangunan manusia, yaitu peningkatan kapabilitas atau pemberdayaan, dan penciptaan peluang. Antara kapabilitas dan peluang harus imbang. Bila kapabilitas berhasil ditingkatkan melalui pembangunan SDM, namun tidak ada peluang atau sebaliknya bila peluang telah tercipta tapi tidak ditopang oleh kemampuan SDM maka akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik.

IPM dapat digunakan sebagai ukuran kebijakan dan upaya yang dilakukan dalam kerangka pembangunan manusia khususnya upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan partisipasi dalam pembangunan. Namun indeks ini hanya akan memberikan gambaran perbandingan antar waktu dan perbandingan antar wilayah. Sebelum pembahasan mengenai perbandingan IPM antar waktu, perlu diuraikan terlebih dahulu mengenai keadaan dari masing-masing indikator (komponen) pembentuk IPM. Masing-masing komponen tersebut adalah indeks kesehatan, indeks pendidikan, dan indeks paritas daya beli.

Model pembangunan adalah suatu model pembangunan yang memiliki konsep yang lebih luas mengenai pilihan-pilihan manusia yang sangat tidak terbatas jumlahnya dan bahkan cenderung berubah setiap waktu. Namun sejumlah pilihan ini, ada 3 pilihan yang sangat esensial untuk dipenuhi yaitu, (1) pilihan untuk hidup sehat dan berumur panjang, (2) pilihan untuk memiliki ilmu pengetahuan, dan (3) pilihah untuk mempunyai akses ke berbagai sumber yang diperlukan agar dapat memenuhi standar

kehidupan yang layak. Apabila ketiga pilihan mendasar ini dapat terpenuhi maka seseorang akan mudah meningkatkan kemampuannya dalam aktifitas sehari-hari serta memiliki kemampuan pula untuk meraih pilihan-pilihan lain yang juga tidak kalah pentingnya seperti pilihan untuk berpartisipasi dalam bidang politik, kebebasan mengeluarkan pendapat dan sebagainya.

Ketiga pilihan yang esensial tersebut di atas dapat tercermin dari komponen-komponen indeks pembangunan manusia sebagai berikut:

a. Indeks Kesehatan

Indeks kesehatan ini diperoleh dari angka harapan hidup seseorang sejak dilahirkan. Angka harapan hidup ini sering digunakan sebagai proxy terhadap keadaan dan sistem pelayanan kesehatan suatu masyarakat. Hal itu dapat dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari upaya peningkatan taraf kesehatan secara makro.

Indeks kesehatan yang diwakili oleh Angka Harapan Hidup (eo) diharapkan dapat mencerminkan pembangunan manusia dibidang kesehatan. Pada tahun 2013 angka harapan hidup Kota Parepare tercatat sekitar 75,04 tahun, meningkat dibanding tahun 2012 yang besarnya sekitar 74,71 tahun. Hal ini dapat diartikan bahwa kondisi kesehatan masyarakat Kota Parepare semakin baik dalam kurun waktu 2012-2013. Indeks kesehatan Kota Parepare tahun 2013 sebesar 83,4 masih lebih tinggi dibandingkan dengan Sulawesi Selatan yang hanya sebesar 76 persen. Walaupun indeks kesehatan di daerah ini, relatif membaik atau sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata Sulawesi Selatan, tetapi perhatian di bidang ini harus terus ditingkatkan.

Untuk lebih lengkapnya lagi mengenai indeks kesehatan dan turunannya, dapat dilihat pada tabel yang ada di lampiran.

b. Indeks Pendidikan

Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa indeks pendidikan terdiri dari dua unsur yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, komponen angka melek huruf pada tahun 2013 mengalami sedikit peningkatan dari 97,33 persen menjadi 97,36 persen. Begitu juga, rata-rata lama sekolah pada tahun 2013 meningkat menjadi 9,91 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar 9,88 persen. Angka ini lebih tinggi daripada angka Sulawesi Selatan yang hanya sekitar 8,01 persen.

Untuk lebih lengkapnya lagi mengenai indeks pendidikan dan turunannya, dapat dilihat pada tabel yang ada di lampiran.

c. Indeks Paritas Daya Beli

Komponen PPP (Purchasing Power Parity) atau dikenal sebagai komponen kemampuan daya beli atau standar hidup layak, dalam laporan ini digunakan PDRB riil perkapita. Penggunaan PDRB riil perkapita ini karena data yang ideal (modul konsumsi susenas) belum sampai estimasi kabupaten/kota. Namun dengan asumsi bahwa PDRB Kota Parepare dapat dinikmati oleh sebagian besar penduduk, maka dianggap masih relevan dengan tingkat pendapatan sebagai indikator standar hidup layak. Daya beli penduduk Kota Parepare pada tahun 2013 sekitar 648,80 ribu

rupiah, sedangkan pada tahun 2012 sekitar 646,40 ribu rupiah. Sementara itu, rata-rata daya beli penduduk Sulawesi Selatan pada tahun 2013 sekitar 646,71 ribu rupiah , mengalami sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 643,59 ribu rupiah.

4.2 IPM KOTA PAREPARE

Manusia sebagai subjek dan sekaligus objek pembangunan harus

Dokumen terkait