• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan sebagai Proses Pemberdayaan

Dalam dokumen Thesis Detia Tri Yunandar (Halaman 42-49)

A. Tinjauan Pustaka

3. Pendidikan sebagai Proses Pemberdayaan

Berakar dari bahasa Latin ’educare’, pendidikan dapat diartikan sebagai pembimbingan secara berkelanjutan (to lead forth). Suhartono (2008:43-50) mengartikan pendidikan dari sudut pandang yang luas dan sempit.

Menurut sudut pandang yang luas, pendidikan adalah segala jenis pengalaman kehidupan yang mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan kemudian bisa mengerjakan sesuatu hal yang telah diketahui itu. Keadaan seperti itu berlangsung di dalam segala jenis dan bentuk lingkungan sosial sepanjang kehidupan. Selanjutnya, setiap jenis dan bentuk lingkungan itu mempengaruhi pertumbuhan individu dalam hal potensi-potensi fisik, spiritual, individual, sosial, dan religius, sehingga menjadi manusia seutuhnya, manusia yang menyatu dengan jenis dan sifat khusus lingkungan setempat.

Menurut pendekatan dari sudut sempit, pendidikan merupakan seluruh kegiatan yang direncanakan serta dilaksanakan secara teratur dan terarah di lembaga pendidikan sekolah. Pendidikan diartikan sebagai sistem persekolahan. Dalam hal ini, pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana yang diselenggarakan oleh institusi persekolahan (school education) untuk membimbing dan melatih peserta didik agar tumbuh kesadaran tentang eksistensi dan kemampuan menyelesaikan setiap persoalan kehidupan yang muncul.

Berdasarkan arti pendidikan, baik menurut sudut pandang yang luas maupun sempit tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan kegiatan simultan di seluruh aspek kehidupan manusia, yang berlangsung di

segala lingkungan di mana ia berada, di segala waktu, dan merupakan hak dan kewajiban bagi siapa pun, serta terlepas dari diskriminasi apa pun.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sa’ud dan Makmun (2006:6-8) mengemukakan bahwa pendidikan merupakan upaya yang dapat mempercepat pengembangan potensi manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan padanya. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosional, moral, serta keimanan dan ketakwaan manusia. Menurut Suryono (2008:16-17), pendidikan dikatakan sebagai proses sadar pengembangan kecakapan manusia. Dalam pengertian ini pendidikan berfungsi untuk mengembangkan semua potensi manusia yang dimilikinya secara individual.

Pendidikan merupakan aktivitas dan usaha manusia guna meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi pribadinya yaitu jasmani dan rohani. Pendidikan dapat berarti juga lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita pendidikan, isi, sistem dan organisasi pendidikan (Sudargono, 2003:15). Selanjutnya van den Ban dan Hawkins (1999:340) mengatakan bahwa pendidikan biasanya merupakan suatu proses belajar di dalam struktur lembaga sosial yang formal, yang khusus diusahakan untuk tujuan ini,

misalnya sekolah. Ada definisi yang lebih luas dan mencakup pendidikan non formal atau proses belajar di luar struktur kelembagaan tersebut misalnya dari program radio.

Pendidikan dapat dinyatakan sebagai suatu sistem dengan komponen yang saling berhubungan dan mempengaruhi, minimal sebagai berikut (Sa’ud dan Makmun, 2006:6-8):

- Individu peserta didik yang memiliki potensi dan kemauan untuk berkembang dan dikembangkan semaksimal mungkin.

- Individu peserta didik yang mewakili unsur upaya sengaja, terencana, efektif, efisien, produktif, dan kreatif.

- Hubungan antara pendidik dan peserta didik yang dapat dinyatakan sebagai situasi pendidikan yang menjadi landasan tempat berpijak, tindakan yang dapat digolongkan sebagai tindakan pendidikan.

- Struktur sosiokultural yang mewakili lingkungan (environment), di antaranya berupa norma yang bersumber dari alam, budaya atau religi.

- Tujuan yang disepakati bersama yang mengejawantah karena hubungan antara pendidik dan peserta didik dan tidak bertentangan dengan tuntutan normatif sosiokultural masyarakat.

b. Ruang Lingkup Pendidikan

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan ruang lingkup pendidikan berdasarkan jalur, jenjang, dan jenisnya. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan

tujuan pendidikan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.

Jalur pendidikan non-formal merupakan salah satu kajian penting dalam studi pemberdayaan masyarakat. Bentuk pendidikan non-formal dapat meliputi (Triyadi, 2006:5):

- Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) - Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) - Pendidikan Keaksaraan

- Pendidikan Kesetaraan

- Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja - Pendidikan Pemberdayaan Perempuan

- Pendidikan Kepemudaan

Salah satu kajian utama pendidikan non-formal adalah pelatihan (training). Berdasarkan bentuknya, pelatihan dapat meliputi on-job service training, in- service training, dan pre-service training. On-job service training yaitu pelatihan bagi orang yang sudah bekerja, berkaitan dengan pekerjaan orang yang bersangkutan saat ini. In-service training yaitu pelatihan bagi orang yang sudah bekerja, berkaitan dengan pengayaan pengetahuan dan keterampilan orang yang bersangkutan untuk mendukung pekerjaannya saat ini. Sedangkan pre-service training yaitu pelatihan bagi calon pekerja, pelatih, penyuluh, dan sejenisnya. McKay et al. (1998:1-2) mengemukakan pengertian in-service training dan pre- service training dalam konteks pelatihan di perusahaan, yaitu bahwa in-service training adalah pelatihan yang diberikan kepada anggota pada saat mereka berada dalam masa kerja. Sedangkan pre-service training adalah pelatihan yang diberikan sebelum anggota memulai pekerjaan mereka, atau pelatihan yang diberikan kepada anggota pada awal mereka bekerja.

c. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan

Pemberdayaan berarti menyediakan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat, untuk meningkatkan kemampuan mereka, dalam menentukan masa depannya sendiri dan dalam berpartisipasi serta mempengaruhi kehidupan masyarakatnya (Ife, 2002:208).

Pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga strategi, yaitu perencanaan dan kebijakan, aksi sosial dan politik, pendidikan dan penumbuhan kesadaran.

Pemberdayaan melalui perencanaan dan kebijakan dilaksanakan dengan membangun atau mengubah struktur dan lembaga agar dapat memberikan akses yang lebih baik kepada masyarakat dalam hal sumber daya, pelayanan, dan kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Pemberdayaan melalui aksi sosial dan politik dilakukan dengan perjuangan politik dan gerakan dalam rangka membangun kekuasaan yang efektif. Sedangkan pemberdayaan melalui pendidikan dan penumbuhan kesadaran dilakukan dengan proses pendidikan dalam berbagai aspek yang cukup luas. Strategi pemberdayaan melalui pendidikan dan penumbuhan kesadaran menekankan pentingnya proses pendidikan untuk mempersiapkan masyarakat agar mampu meningkatkan keberdayaannya (Ife, 2002:60; Zubaedi, 2007:45).

Kartasasmita (1996), dalam Zubaedi (2007:103), menyatakan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat harus dilakukan melalui tiga arah. Pertama, menciptakan suasana iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering). Dan ketiga, melindungi masyarakat (protection). Pemberdayaan melalui upaya memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering strategy), mengandung arti bahwa langkah pemberdayaan harus diupayakan melalui aksi-aksi nyata, seperti pendidikan.

Berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat petani, Fatah (2006:430) mengemukakan bahwa kerangka pemikiran upaya pemberdayaan petani secara konseptual harus memperhatikan setidaknya 6 (enam) faktor atau komponen yang meliputi : (i) akses sumber daya (lahan); (ii) modernisasi pertanian; (iii) sistem

usaha pertanian; (iv) pembiayaan pertanian; (v) pengembangan lembaga keuangan pedesaan; dan (vi) investasi dan pembentukan model pertanian. Dari kerangka pemikiran ini, salah satu faktornya, yaitu modernisasi pertanian, mencakup komponen SDM, yang berarti bahwa proses pemberdayaan tidak dapat terlepas dari pengembangan SDM. Selanjutnya dikatakan pula bahwa salah satu upaya pengembangan SDM adalah melalui pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu cara yang penting dalam upaya pengembangan SDM untuk peningkatan kualitas SDM. Dalam hal ini, upaya pengembangan SDM menjangkau dimensi yang lebih luas dari sekedar membentuk manusia profesional dan terampil yang sesuai dengan kebutuhan sistem untuk dapat memberikan kontribusinya di dalam proses pembangunan, tetapi lebih menekankan pentingnya pemampuan (empowerment) manusia, termasuk kemampuan untuk mengaktualisasikan segala potensinya sebagai manusia (Tjokrowinoto, 1996:29, dalam Soetomo, 2006:13). Menurut Suryono (2008:55), pendidikan dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan penting dalam pengembangan SDM, baik dalam arti pengembangan kualitas manusia secara individual maupun pemberdayaan masyarakat secara makro sebagai bentuk dimensi dan pendekatan sosialistis dari institusi pendidikan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pemberdayaan, yaitu penguatan potensi atau daya masyarakat melalui pengembangan kualitas SDM-nya.

4. Peranan Pendidikan dalam Pemberdayaan Masyarakat Petani Melalui

Dalam dokumen Thesis Detia Tri Yunandar (Halaman 42-49)

Dokumen terkait