BAB II TINJAUAN TEORETIK
C. Pendidikan Sistem Ganda
Berikut akan diuraikan mengenai PSG secara lebih detail yaitu : 1. Pengertian Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
PSG adalah pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama-sama antara SMK dengan industri/asosiasi profesi sebagai institusi pasangan (IP), mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap evaluasi dan sertifikasi yang merupakan satu kesatuan program dengan menggunakan berbagai bentuk alternatif pelaksanaan, seperti day release, block release, dsb (Depdiknas, 2004:11). Menurut kurikulum 1994 (Jati, 2008:9), PSG adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesi yang memadukan secara sistematik dan sinkronisasi antara program pendidikan sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di perusahaan. Pakpahan (Widiastuti, 2005:8) menyatakan bahwa PSG adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung pada bidang
pekerjaan yang relevan terarah untuk mencapai penguasaan kemampuan keahlian tertentu.
2. Tujuan Pendidikan Sistem Ganda
Menurut panduan pelaksanaan pendidikan sistem ganda bagi siswa SMK kelompok bisnis dan manajemen (Jati, 2008:9):
a. Tamatan dapat menampilkan dirinya sebagai manusia yang beriman takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
b. Memiliki kemampuan dan keterampilan praktis sesuai dengan program studinya masing-masing.
3. Isi Pendidikan Sistem Ganda
Isi pendidikan sistem ganda mempunyai lima komponen, yaitu sebagai berikut (Jati, 2008:10) :
a. Komponen pendidikan umum (normatif) dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara dan Bangsa Indonesia.
b. Komponen pendidikan dasar menunjang bagi penguasaan keahlian profesi dan bekal kemampuan untuk mengikuti perkembangan iptek.
c. Komponen teori kejuruan, dimaksudkan untuk membekali pengetahuan teknis dasar keahlian kejuruan.
d. Komponen praktik dasar profesi yaitu berupa latihan kerja untuk menguasai teknik bekerja secara baik dan benar sesuai dengan tuntutan prasyarat keahlian profesi.
e. Komponen keahlian profesi yaitu berupa kegiatan bekerja secara terprogram dalam situasi sebenarnya untuk mencapai tingkat keahlian dan sikap profesional.
4. Model Penyelenggaraan PSG
Model penyelenggaraan PSG sebagaimana dinyatakan oleh Made Wena (Widiastuti, 2005:12-13) adalah sebagai berikut :
18
a. Model Day Release
Dimana dari 6 hari waktu belajar dalam satu minggu, beberapa hari di industri atau perusahaan dan beberapa hari lagi di sekolah.
b. Model Block Release
Waktu belajar disepakati bersama perbulan/caturwulan/semester di industri/perusahaan dan perbulan/caturwulan/semester di sekolah.
c. Model Hours Release
Dimana disepakati jam-jam belajar haurs dilepas dan dilaksanakan di industri.
Realisasi penerapan PSG di SMK diwujudkan dalam program praktik kerja industri (prakerin). Menurut Mufari (2008:2), prakerin didefinisikan sebagai kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia usaha atau dunia industri, yang masih relevan dengan kompetensi siswa. Sedangkan menurut Sirodjuddin (2008:1), prakerin merupakan bagian dari PSG yang merupakan inovasi pada program SMK dimana peserta didik melakukan praktik kerja (magang) di perusahaan atau industri yang merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK.
Mufari (2008:3) menyatakan bahwa prakerin memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Mengimplementasikan materi yang selama ini didapat di sekolah. 2. Membentuk pola pikir yang konstruktif bagi siswa.
3. Melatih siswa untuk bisa berkomunikasi/berinteraksi secara profesional di tempat kerja.
4. Membentuk etos kerja yang baik bagi siswa.
A
Addaappuunn ppeellaakkssaannaaaann pprraakkeerriinn mmeemmiilliikkii kkeennddaallaa--kkeennddaallaa sseebbaaggaaii bbeerriikkuutt ((MMuuffaarrii,, 2
2000088::44))::
2. Kurang relevannya bidang kerja yang ada di DU/DI dengan kompetensi siswa. 3. Lokasi DU/DI yang cukup jauh, sehingga memerlukan biaya tambahan yang
cukup besar.
4. Waktu prakerin yang terlalu cepat atau terlalu lambat.
Berbagai kendala yang dihadapi menyebabkan permasalahan sering terjadi dalam pelaksanaan prakerin. Permasalahan-permasalahan yang sering timbul tersebut adalah sebagai berikut (Mufari, 2008:4):
1. Pihak DU/DI kurang proaktif. 2. Siswa yang sering tidak masuk.
3. Siswa yang terlambat datang (tidak tepat waktu). 4. Siswa yang tidak mematuhi instruksi di tempat kerja.
5. Kurangnya komunikasi yang baik antara pihak DU/DI dan siswa.
6. Siswa tidak menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan di tempat kerja. 7. Siswa merusakkan atau menghilangkan barang / data di tempat kerja. 8. Kurangnya kontrol dari pihak sekolah.
Dalam rangka meminimalisasi permasalahan yang mungkin terjadi, maka tahap persiapan prakerin menjadi hal yang penting. Persiapan prakerin dibagi dalam dua tahap yaitu (Winarsih, 2005:18-19) :
1. Pembekalan kemampuan secara umum, yaitu pembekalan di tingkat sekolah meliputi penjelasan umum tentang latar belakang, tujuan dan manfaat.
2. Pembekalan khusus, yaitu pembekalan di tingkat kejuruan meliputi penjelasan program praktik dasar dan praktik keahlian produktif yang akan dilaksanakan, informasi lingkungan kerja di industri pasangan/dunia usaha, hak dan kewajiban siswa.
Sesudah mengikuti tahap persiapan maka siswa diperbolehkan untuk melaksanakan prakerin. Dengan terlibat langsung dalam dunia industri/perusahaan, siswa akan memperoleh keahlian profesi, pengalaman, etos kerja dan disiplin kerja. Semuanya itu tidak terlepas dari pembimbingan yang dilakukan oleh pihak sekolah dan industri/perusahaan kepada siswa secara terus-menerus. Tahap terakhir yang
20
harus diikuti oleh siswa adalah penilaian dan sertifikasi. Menurut Winarsih (2005:21-22), penilaian prakerin dibedakan menjadi : (1) penilaian kegiatan belajar mengajar di institusi pasangan mencakup komponen praktik keahlian yang dilakukan di industri pasangan; dan (2) penilaian keahlian.
Penilaian keahlian sendiri meliputi ujian kompetensi yang merupakan penilaian di suatu paket pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu dan ujian profesi yang merupakan penilaian terakhir di suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh suatu jabatan profesi tertentu.
Penilaian prakerin didasarkan atas penilaian teknis dan non teknis. Penilaian teknis meliputi keterampilan teknis kejuruan sedangkan non teknis meliputi pengorganisasian, implementasi kerja, komunikasi dan kerjasama, penerapan teknik belajar dan metode kerja, kemandirian dan tanggung jawab, disiplin, kerajinan, inisiatif, dan prestasi kerja (Winarsih, 2005:57).