KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN DAN
(%) Harga Rasa Daya Tahan Simpan Kandungan giz
5.1.4. Pendidikan Terakhir
Pendidikan merupakan variabel yang cukup berpengaruh dalam keputusan pembelian konsumen. Pendidikan terkait dengan pengetahuan konsumen dalam mengemukakan pendapat dan proses pengambilan keputusan dalam pembelian
produk bakery. Tabel 27 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden cukup beragam mulai dari SMP hingga perguruan tinggi. Hal ini dapat menunjukkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang beragam terkait dengan keputusan pembelian. Jumlah responden terbanyak berpendidikan sarjana, yaitu sebesar 43 persen. Selanjutnya responden berpendidikan SMA menempati urutan kedua sebesar 33 persen dan responden dengan pendidikan diploma berada di urutan ketiga sebesar 18 persen.
Tabel 27. Sebaran Pendidikan Terakhir Responden.
Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) %
SMA 33 33,00
Diploma 19 19,00
Sarjana (S1) 43 43,00
Pascasarjana (S2 & S3) 5 5,00
Total 100 100,00
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hubungan antara pendidikan dengan frekuensi pembelian rata-rata produk
bakery per bulan disajikan pada Tabel 28. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam frekuensi pembelian. Untuk konsumen dengan pendidikan SMA frekuensi pembelian yang terjadi sebagian besar yaitu satu atau dua kali dalam satu bulan.
Tabel 28. Hubungan Antara Pendidikan Dengan Frekuensi Pembelian Rata- rata Per Bulan.
Pendidikan Rata-rata Frekuensi Pembelian Per B ulan (%) Total (%) 1 Kali 2 Kali 3 Kali 4 Kali = 5 Kali
SMP 1 0 0 0 0 1 SMA 9 9 8 4 3 33 Diploma 3 7 3 1 4 18 Sarjana 1 6 27 6 3 43 Pascasarjana 0 1 2 0 2 5 Total 14 23 40 11 12 100
Konsumen dengan pendidikan Diploma sebagian besar melakukan pembelian rata-rata sebanyak dua kali dalam satu bulan. Sementara untuk konsumen dengan pendidikan Sarjana dan Pascasarjana memiliki frekuensi pembelian rata-rata tiga kali dalam satu bulan.
Hubungan antara pendidikan dengan motivasi pembelian produk bakery
disajikan pada Tabel 29. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan motivasi pembelian pada berbagai tingkat pendidikan. Sebagian besar konsumen pada berbagai tingkat pendidikan menyatakan motivasi pembelian mereka adalah karena kepraktisan. Produk bakery merupakan produk yang praktis dan siap disajikan setiap waktu.
Tabel 29. Hubungan Antara Pendidikan Dengan Motivasi Pembelian Produk Bakery.
Pendidikan
Motivasi Pembelian Produk Bakery (%)
Total (%) Praktis Melihat Orang
Lain Membeli Hanya Mencoba Alasan Lain
SMP 1 0 0 0 1 SMA 27 0 5 1 33 Diploma 10 2 3 3 18 Sarjana 29 6 3 5 43 Pascasarjana 4 0 1 0 5 Total 71 8 12 9 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hasil tabulasi silang antara pendidikan dengan manfaat produk yang dicari menunjukkan tidak ada perbedaan. Konsumen pada berbagai tingkat pendidikan sebagian besar menyatakan mereka membeli produk bakery karena dijadikan sebagai makanan selingan (kudapan). Hubungan antara pendidikan dengan manfaat produk yang dicari oleh konsumen disajikan pada Tabel 30.
Tabel 30. Hubungan Antara Pendidikan Dengan Manfaat Produk Bakery. Pendidikan
Manfaat Produk Bakery (%)
Total (%) Sebagai Makanan
Selingan (Kudapan)
Simbol Status
Sosial Alasan Lain
SMP 1 0 0 1 SMA 29 2 2 33 Diploma 14 1 3 18 Sarjana 41 1 1 43 Pascasarjana 4 1 0 5 Total 89 5 6 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hasil tabulasi silang antara pendidikan dengan pertimbangan atribut produk dalam pembelian produk bakery menunjukkan tidak ada perbedaan pada setiap tingkat pendidikan. Sebagian besar responden menyatakan pertimbangan utama mereka adalah rasa. Namun untuk responden dengan pendidikan SMP mempertimbangkan harga produk. Hubungan antara pendidikan dengan pertimbangan atribut produk disajikan pada Tabel 31.
Tabel 31. Hubungan Antara Pendidikan Dengan Pertimbangan Atribut Produk Bakery.
Pendidikan Pertimbangan Atribut Produk (%) Total
(%) Harga Rasa Daya Tahan Simpan Kandungan gizi
SMP 1 0 0 0 1 SMA 10 15 1 7 33 Diploma 4 11 1 2 18 Sarjana 8 32 1 2 43 Pascasarjana 1 4 0 0 5 Total 24 62 3 11 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hubungan antara pendidikan dengan cara memutuskan pembelian produk
bakery disajikan pada Tabel 32. Hasil tabulasi silang menunjukkan tidak terdapat perbedaan dalam cara memutuskan pembelian produk bakery. Pada setiap tingkat pendidikan, sebagian besar responden menyatakan pembelian produk yang mereka lakukan adalah secara mendadak. Namun pada tingkat pendidikan SMA
dan pascasarjana, selain memutuskan secara mendadak mereka juga memutuskan pembelian secara terencana.
Tabel 32. Hubungan Antara Pendidikan Dengan Cara Memutuskan Pembelian Produk Bakery.
Pendidikan
Cara Memutuskan Pembelian (%)
Total (%) Tergantung Situasi (Saat Produk Habis) Terencana Mendadak (Ketika Timbul Keinginan) Alasan Lain SMP 0 0 1 0 1 SMA 5 14 14 0 33 Diploma 4 3 10 1 18 Sarjana 4 13 26 0 43 Pascasarjana 1 2 2 0 5 Total 14 32 53 1 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
5.1.5. Pekerjaan
Pekerjaan berkaitan dengan penghasilan seseorang. Penghasilan akan menentukan daya beli konsumen untuk melakukan pembelian produk. Sementara itu pekerjaan juga akan terkait dengan sumber daya waktu yang dimiliki oleh konsumen. Pada akhirnya pekerjaan akan turut berperan dalam pembelian makanan siap saji yang praktis seperti produk bakery.
Tabel 33. Sebaran Pekerjaan Responden.
Pekerjaan Jumlah (Orang) %
Pegawai negeri 31 31,00
Pegawai swasta 29 29,00
Pelajar/mahasiswa 18 18,00
Ibu rumah tangga 22 22,00
Total 100 100,00
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Tabel 33 menunjukkan bahwa pekerjaan responden sangat beragam. Pekerjaan responden yang terbanyak adalah sebagai pegawai negeri yaitu 31 persen. Konsumen yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri pada umumnya memiliki penghasilan yang pasti dan daya beli yang cukup baik.
Responden yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 29 orang (29 persen). Konsumen yang bekerja sebagai pegawai swasta pada umumnya memiliki waktu yang sangat terbatas. Akibatnya kelompok pegawai swasta memiliki kecenderungan untuk melakukan pembelian produk-produk makanan yang praktis dan siap saji.
Hubungan antara pekerjaan dengan frekuensi pembelian rata-rata produk
bakery per bulan disajikan pada Tabel 34. Hasil tabulasi silang menunjukkan adanya perbedaan dalam frekuensi pembelian. Responden yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta sebagian besar melakukan pembelian produk bakery rata-rata tiga kali dalam satu bulan. Pelajar dan mahasiswa rata-rata melakukan pembelian produk bakery sebanyak satu kali dalam satu bulan. Sementara ibu rumah tangga sebagian besar melakukan pembelian rata-rata sebesar dua kali per bulan.
Tabel 34. Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Frekuensi Pembelian Rata- rata Per Bulan.
Pekerjaan Rata-rata Frekuensi Pembelian Per Bulan (%) Total (%) 1 Kali 2 Kali 3 Kali 4 Kali = 5 Kali
Pegawai Negeri 2 8 15 3 3 31
Pegawai Swasta 1 4 16 3 5 29
Pelajar/Mahasiswa 7 2 6 2 1 18
Ibu Rumah Tangga 4 9 3 3 3 22
Total 14 23 40 11 12 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hasil tabulasi silang antara pekerjaan dengan motivasi pembelian produk
bakery menunjukkan tidak terdapat perbedaan motivasi pembelian pada berbagai jenis pekerjaan. Sebagian besar responden dengan berbagai jenis pekerjaan menyatakan bahwa motivasi mereka dalam pembelian produk bakery adalah
kepraktisan. Hubungan antara pekerjaan dengan motivasi pembelian produk
bakery disajikan pada Tabel 35.
Tabel 35. Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Motivasi Pembelian Produk Bakery.
Pekerjaan
Motivasi Pembelian Produk Bakery (%)
Total (%) Praktis Melihat Orang
Lain Membeli Hanya Mencoba Alasan Lain Pegawai Negeri 22 4 3 2 31 Pegawai Swasta 20 3 2 4 29 Pelajar/Mahasiswa 14 1 3 0 18
Ibu Rumah Tangga 15 0 4 3 22
Total 71 8 12 9 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hasil tabulasi silang antara pekerjaan dengan manfaat produk bakery yang dicari menunjukkan tidak ada perbedaan pada berbagai jenis pekerjaan. Sebagian besar responden dengan pekerjaan sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, pelajar/mahasiswa, maupun ibu rumah tangga menyatakan bahwa manfaat produk yang mereka cari adalah sebagai makanan selingan (kudapan). Hubungan antara pekerjaan dengan manfaat produk disajikan pada Tabel 36.
Tabel 36. Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Manfaat Produk Bakery. Pekerjaan
Manfaat Produk Bakery (%)
Total (%) Sebagai Makanan
Selingan (Kudapan)
Simbol
Status Sosial Alasan Lain
Pegawai Negeri 29 0 2 31
Pegawai Swasta 26 2 1 29
Pelajar/Mahasiswa 16 2 0 18
Ibu Rumah Tangga 18 1 3 22
Total 89 5 6 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hubungan antara pekerjaan dengan pertimbangan atribut produk bakery
disajikan pada tabel 37. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pertimbangan atribut produk pada berbagai jenis pekerjaan. Sebagian
besar responden menyatakan bahwa atribut yang mereka pertimbangkan dalam pembelian produk bakery adalah atribut rasa.
Tabel 37. Hubungan Antara Pe kerjaan Dengan Pertimbangan Atribut Produk Bakery.
Pekerjaan
Pertimbangan Atribut Produk (%)
Total (%) Harga Rasa Daya Tahan
Simpan Kandungan gizi Pegawai Negeri 8 20 0 3 31 Pegawai Swasta 4 22 1 2 29 Pelajar/Mahasiswa 5 12 1 0 18
Ibu Rumah Tangga 7 8 1 6 22
Total 24 62 3 11 100
Sumber : Data Primer. Bandung, Mei 2006. Diolah
Hubungan antara pekerjaan dengan cara memutuskan pembelian produk
bakery disajikan pada Tabel 38. Hasil tabulasi silang menunjukkan tidak terdapat perbedaan cara memutuskan pembelian pada berbagai pekerjaan. Sebagian besar responden menyatakan mereka melakukan pembelian secara mendadak. Namun pada responden dengan pekerjaan sebagai pegawai negeri, selain memutuskan pembelian secara mendadak, mereka juga memutuskan pembelian secara terencana.
Tabel 38. Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Cara Memutuskan Pembelian Produk Bakery.
Pekerjaan
Cara Memutuskan Pembelian (%)
Total (%) Tergantung Situasi (Saat Produk Habis) Terencana Mendadak (Ketika Timbul Keinginan) Alasan Lain Pegawai Negeri 5 13 13 0 31 Pegawai Swasta 3 8 18 0 29 Pelajar/Mahasiswa 5 12 1 0 18
Ibu Rumah Tangga 7 8 1 6 22
Total 14 32 53 1 100