BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
2.2.2 Pendidikan
Untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan Sumber Daya Manusia dapat
diawali dengan peningkatan pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal
maupun non formal. Konsep pengembangan Sumber Daya Manusia melalui dua
dari pendidikan TK sampai pada perguruan tinggi. Jalur ini menyediakan
pengetahuan dasar yang bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan lain di
dalam kehidupan sehari-hari, baik di sektor formal maupun informal.
Bagi mereka yang hanya menamatkan pendidikan rendah banyak mengalami
kesulitan bekerja, tetapi tidak demikian untuk lulusan di pendidikan tinggi. Di
tingkat yang lebih tinggi proses pendidikan diberikan pada pengembangan aspek
kognisi atau kemampuan berpikir konseptual. Untuk tingkat ini peserta
pendidikan dapat berasal dari karyawan, organisasi tertentu, yang memperoleh
beasiswa. Setelah lulus diharapkan dapat memiliki bekal yang lebih baik untuk
menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi di tempat bekerja (organisasi).
Kedua adalah jalur pendidikan non formal yaitu melalui pelatihan yang dapat
mengembangkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) dalam bekerja untuk mengembangkan usaha taninya.
Latihan pada umumnya cenderung lebih menitikberatkan pada pembiasaan
gerakan koordinasi motorik daripada pemahaman teoritis. Mereka yang telah
menempuh pelatihan penguasaan keahlian tertentu yang dapat mempermudah
menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pengembangan pertanian maupun
memasuki dunia kerja dengan pendapatan yang lebih baik. Tentu hal ini akan
meningkatkan kemampuan ekonomi yang pada gilirannya memperbesar peluang
Gambar 1. Bagan pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan sistem ekonomi terdapat hubungan dua arah. Dalam masyarakat
yang memiliki taraf kehidupan ekonomi yang baik, potensi pengembangan
pendidikan itu lebih besar karena orang-orang telah lebih siap dan lebih banyak
dana tersedia. Pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan merupakan komponen-
komponen utama dari definisi operasional dari status kelas sosial atau status sosial
ekonomi dan bahwa terdapat suatu korelasi tinggi diantara mereka (Miflen, 1986).
Pendidikan Pendidikan Sekolah Pendidikan Formal Tingkat TK s/d Perguruan Tinggi Pendidikan Informal Pendidikan Luar Sekolah Tidak Terorganisisasi Pendidikan Keluarga Pendidikan Non Formal Terorganisasi/ Pelatihan Pekerjaan Sosial Pembangunan Masyarakat Pendidikan Sosial Pendidkan
Masyarakat Pendidikan
2.2.3 Sumber Pangan
Pangan adalah makanan sehari-hari untuk pertumbuhan dan kesehatan
jasmaniah/rohaniah dalam membentuk keluarga yang sehat, cerdas dan kuat.
Makanan sehari-hari yang sehat, murah, dan bergizi serta pengolahan yang sesuai
dengan kegunaannya, sangat penting.
Kecukupan pangan merupakan salah satu syarat mutlak dalam menjamin
terdapatnya gizi yang cukup. Gizi merupakan modal pokok yang memiliki
dampak ekonomi maupun sosial yang luas, dalam pelaksanaan pembangunan
nasional. Kekurangan sumber pangan tenaga dalam makanan (nasi, jagung, sagu,
ketela, dan sebagainya) akan langsung menyebabkan menurunnya daya kerja
seseorang. Dengan mendapatkan sumber tenaga yang cukup, seorang buruh atau
petani dengan wajar dapat bekerja 8 jam sehari dengan baik. Kekurangan sumber
tenaga dan sumber protein dalam jangka waktu yang lama, lebih-lebih apabila hal
ini terjadi pada janin yang masih dalam kandungan, jika bayi itu lahir kecerdasan
dan aktivitas otak akan menurun dari yang seharusnya dimiliki oleh bayi itu.
Kemampuan otak dalam menyerap hal-hal baru/teknologi baru menjadi lamban.
Memperkenalkan cara kerja yang baru, harus beberapa kali dijelaskan, ajakan
untuk mengubah sesuatu yang telah terbiasa dikerjakan, harus beberapa kali
dicontohkan, dan sebagainya (Sudjana, 2005).
2.2.4 Perumahan
Rumah adalah bagian yang utuh dari permukiman, dan bukan hasil fisik semata,
melainkan merupakan suatu proses yang terus berkembang dan terkait dengan
dari rumah adalah dampak terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya
(Turner, 1972).
Menurut Turner (1972), terdapat tiga fungsi yang terkandung dalam rumah, yaitu:
1) Rumah sebagai penunjang identitas keluarga, yang diwujudkan dalam
kualitas hunian atau perlindungan yang diberikan rumah. Kebutuhan tempat
tinggal dimaksudkan agar penghuni mempunyai tepat tinggal atau berteduh
secukupnya untuk melindungi keluarga dari iklim setempat.
2) Rumah sebagai penunjang kesempatan keluarga untuk berkembang dalam
kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi atau fungsi pengembangan keluarga.
Fungsi ini diwujudkan dalam lokasi tempat rumah itu didirikan. Kebutuhan
berupa akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan
kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber penghasilan.
3) Rumah sebagai penunjang rasa aman dalam arti terjaminnya kehidupan
keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah, jaminan keamanan
lingkungan perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan berupa
kepemilikan rumah dan lahan. Rumah sebagai kebutuhan dasar manusia,
perwujudannya bervariasi menurut siapa penghuni atau pemiliknya.
Saat bencana Merapi setidaknya ada tiga faktor utama yang dihadapi petani, yaitu
kondisi tempat tinggal yang rusak, lahan usaha yang rusak dan tidak berproduksi
dan berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga dan kelembagaan usaha tidak
Kerusakan atau kerugian yang dialami petani menimbulkan berbagai
permasalahan yang penting segera ditangani, terutama perubahan ekonomi, pola
hidup berubah sehingga penanganan dan pendekatan bukan saja secara akademik
tetapi secara kultural dalam relokasi korban/berpindah pemukiman maupun
peralihan sistem usahatani, dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan
(Tan, 2010).
2.2.5 Kepemilikan Lahan
Dengan lahan yang sempit produksi pertanian akan tidak mampu untuk
mencukupi biaya hidup keluarga tani. Tanah yang sempit menyebabkan biaya
produksi terlalu tinggi (high cost) dibanding dengan per satuan tanah yang luas, baik ditinjau dari segi tenaga kerja, penggunaan bibit, pemupukan, biaya
penanggulangan hama dan penyakit maupun biaya peralatan dengan daya manfaat
rendah.
Tanah yang sempit menyebabkan efisiensi penggunaan mekanisasi pengolahan
tanah tidak efektif. Banyaknya pematang, salah satu faktor mengurangi lahan
efektif. Dapat dibayangkan dengan luasan 1000 m2, dengan lebar pematang 40 cm, kali panjang luasan tanah 1000 m2 dengan pematang dapat mencapai 240 m Sehingga luas tanah untuk pematang mencapai 96 m2 sendiri yang tidak berfungsi sebagai lahan penghasil produk pertanian.
Selain tersebut diatas kehilangan produksi dapat mencapai 20% sehingga biaya
produksi bila dikurangi dengan hasil panen yang dicapai rata-rata 4,53 ton/Ha,
2.3 Kerangka Pemikiran
Erupsi Gunung Sinabung memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap
kehidupan masyarakat di Kabupaten Karo, terutama para masyarakat yang
menggantungkan hidupnya pada Sumber Daya Alam (SDA) yaitu petani. Desa
Gurukinayan adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Payung yang
potensi terbesarnya adalah usaha tani kopi. Usaha tani kopi sangat dipengaruhi
oleh lahan, tenaga kerja, pupuk, dan alat mesin pertanian guna menghasilkan
produktivitas dan pendapatan yang tinggi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup
petani kopi dan keluarganya. Erupsi Gunung Sinabung sangat mempengaruhi
faktor-faktor usaha tani kopi sehingga menyebabkan adanya perubahanyang nyata
terhadap pendapatan petani kopi dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Perubahan lain yang akan diteliti adalah bagaimana orientasi nilai budaya dan
sikap mental petani kopi terhadap hakekat pendidikan, sumber pangan,
perumahan, dan kepemilikan lahan.
Sebagai akhir dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana dampak erupsi
Gunung Sinabung terhadap pendapatan dan perubahan orientasi nilai budaya dan
sikap mental petani kopi di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, Kabupaten
Secara sistematis berikut ini digambarkan skema kerangka pemikiran sebagai
berikut:
Gambar 2. Kerangka Pemikiran
Keterangan : : Menyatakan Pengaruh : Menyatakan Hubungan Kepemilikan Lahan Perumahan Sumber Pangan Pendidikan
Erupsi Gunung Sinabung
Petani Kopi Desa Gurukinayan
Sosial Ekonomi Keluarga Orientasi Nilai Budaya
dan Sikap Mental
Sebelum Erupsi Sesudah Erupsi
Pendapatan dan Sumber Pendapatan
2.4Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori yang sudah diuraikan, maka diajukan hipotesis untuk
diuji sebagai berikut :
1) Terdapat perbedaan yang nyata pendapatan usahatani kopi petani kopi
sebelum dan sesudah erupsia Gunung Sinabung.
2) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental
keluarga petani kopi terhadaphakekatpendidikan sebelum dan sesudah erupsi
Gunung Sinabung.
3) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan
sikapmentalkeluarga petani kopi terhadaphakekat sumber pangan sebelum
dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.
4) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental
keluarga petani kopi terhadaphakekat perumahan sebelum dan sesudah erupsi
Gunung Sinabung.
5) Terdapat perbedaan yang nyataorientasi nilai budaya dan sikap mental nyata
keluarga petani kopi terhadaphakekat kepemilikan lahan sebelum dan sesudah